
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Aris masuk kedalam kamar mandi dan membanting pintu dengan kasar. Beberapa kali pria itu mengusap wajahnya frustasi. Tidak tahu kenapa dia bisa kecewa setelah mengetahui istrinya tidak perawan dan kenapa Anara tidak jujur dari awal masalah dirinya. Jika saja Anara jujur sejak mereka dekat mungkin Aris akan paham dan ini istrinya itu mengatakannya dimalam pertama mereka.
Anara duduk dibibir ranjang sambil menangis segugukan. Dia juga menyesal karena tidak mengatakannya dari awal. Dia takut kehilangan Aris. Dia sudah terlanjur mencintai pria itu. Pria itu berhasil membuatnya bangkit dari patah hati.
“Maafkan aku Ris.” Lirih Anara menatap pintu kamar mandi dimana suara gemercikan suaminya yang mandi masih terlihat disana.
“Aku takut kehilanganmu.” Ucapnya lagi “Aku memang wanita yang tidak pantas untuk diicintai.” Gumamnya sambil menyeka air matanya.
Aris keluar dari kamar mandi dengan handuk yang terlilit dipinggannya. Dia keluar dengan wajah datar sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil ditanganya. Dia butuh waktu untuk bisa menerima keadaan istrinya saat inilah. Percayalah tidak mudah menerima wanita yang sudah tidak perawan.
“Ris.” Panggil Anara. Namun Aris tak menjawab dia mengambil baju dalam almarinya.
Hati Anara teriris sakit tak pernah Aris bersikap seperti itu padanya. Kenapa rasanya begitu sakit melihat laki-laki yang biasanya bucin kini malah dingin?
Anara menyeka air mata nya. Wanita itu berdiri dengan susah payah sambil mengangkat ujung gaunnya yang kepanjangan. Wanita itu menuju meja rias untuk melepaskan riasanya diwajah nya serta melepaskan bebepa jepit rambut yang digunakan untuk menjepit rambutnya.
Acara yang berlangsung seharian itu cukup menguras tenaga dan energy. Dengan lelehan bening wanita itu melepaskan riasan dirambutnya. Malam yang harusnya menjadi malam pertama untuk mereka kini malah menjadi malam kelabu bahkan sang suami enggan melihatnya hanya karena dia sudah tidak perawan lagi.
Setelah melepaskan riasannya. Anara bergegas masuk kedalam kamar mandi. Didalam kamar mandi wanita itu menangis dengan hebat didalam kamar mandi sambil berguyur dibawah guyuran shower.
“Maafkan aku Aris.” Lirihnya
Anara menggosok tubuhnya dengan kasar berharap noda kotor ditubuhnya bisa menghilang agar suaminya mau menerima dirinya. Perbuatannya dimasa lalu karena terlalu cinta dengan mantan tunangannya sehingga Anara memberikan mahkota paling berharga dalam hidupnya tanpa berpikir panjang bahwa ada akibat dari kehilafannya itu.
Itulah sebabnya kenapa Anara begitu sulit membuka hati untuk pria lain karena dia yakin hanya sedikit laki-laki yang mau menerima wanita yang sudah tidak perawan. Hingga Aris datang membawa sejuta keyakinan untuk Anara sampai gadis itu berani membuka hati untuk Aris dan yakin jika pria itu nanti mampu menerima kondisi dirinya. Namun lihatlah sekarang pria itu malah kecewa dan enggan melihatnya.
__ADS_1
Anara keluar dari kamar mandi dengan kimono ditubuhnya dan dikepalanya ada handuk yang tergulung untuk mengeringkan rambut basahnya.
Anara melihat suaminya yang sudah berbaring dengan memunggungi bagian tempat tidurnya. Lagi-lagi air mata leleh dipipi wanita itu. Menyesal pun tidak ada gunanya semua takkan bisa mengembalikan kepercayaan suaminya padanya.
Anara memakai piyama tidurnya. Dia menatap sedih kamar penggantin yang sudah didesain sedemikian rupa hanya menjadi pajangan saja. Faktanya malam pertama mereka hanyalah malam kelabu.
Anara mengambil selimut dan berbaring sofa. Dia tidak mau membuat suaminya tercemar karena dia sudah kotor. Biarkan seperti air mengalir saja. Jika memang Tuhan masih berbaik hati padanya, maka Aris akan menerima kondisinya tapi jika pun tidak Anara tak ingin merutuki takdir hidupnya. Bukankah semua orang pernah bersalah dimasa lalu.
.
.
.
.
“Kenapa aku bisa ada disini? Bukannya semalam aku tiduran disoffa?” Wanita itu tampak berpikir keras “Tidak mungkin Aris yang memindahkanku”. Wanita itu menyimak selimutnya lalu merapikan tempat tidur.
Anara mendengar percikan air dari kamar mandi, pasti suaminya sedang mandi.
“Aku siapkan pakaian untuknya saja.” Wanita itu mengambil dan menyiapkan pakaian suaminya didalam almari.
Tidak lama kemudian Aris keluar dari kamar mandi. Wajahnya masih sama apalagi ketika melihat sang istri yang menyambutnya dengan kecewa. Jujur Aris cemburu.
“Ris, aku sudah disiapkan pakaian untukmu.” Sambil menyerahkan setelan jas ditangannya dengan senyuman menggembang.
“Tidak perlu.” Sahut Aris dingin, lalu pria itu mengambil pakaian nya sendiri didalam almari “Bereskan barang-barangmu hari ini kita akan pindah ke rumah baru dan jangan sentuh barang-barangku.” Dia menatap istrinya dingin.
__ADS_1
Seluruh tubuh Anara serasa melemah. Sebegitu kotorkah dirinya, hingga suami tidak sudi jika dia menyentuh barang-barang pria itu?
Anara mengangguk dan menunduk lalu meletakkan pakaian suaminya diatas ranjang. Dia menyembunyikan air matanya yang hendak leleh disana.
Aris memakai pakainnya dengan cepat dan rapih lalu mengambil tas kerja dan keluar dengan cepat dari kamar. Saat ini mereka masih dirumah Nathan. Aris sudah membeli rumah baru untuknya dan Anara. Bayangan kebahagiaan itu terencanakan dengan matang namun lenyap dalam sekejap ketika dia tahu bahwa istrinya sudah tidak perawan lagi. Semuanya hancur dan terjatuh berkeping-keping.
Anara duduk dibibir ranjang sambil menekuk kedua lututnya dan menangis disana dengan hebat. Untung saja kamar itu kedap suara hingga tak mendengar tangisannya. Paginya disambut dengan air mata. Hari pertama dia menjadi seorang istri justru disambut dengan tatapan dingin suaminya.
“Mas Harsan. Mas, apa yang harus aku lakukan Mas? Suamiku menolakku Mas. Mas..” Anara memukul dadanya berulang kali “Hanya dirimu yang menerimaku apa ada nya Mas. Harusnya dari awal aku sadar Mas bahwa setelah kepergianmu, tidak ada cinta yang benar-benar sjeati selain cintamu Mas.” Lirihnya. Anara masih membenamkan wajahnya dilututnya sambil menangis.
Kedua kali dalam hidupnya Anara merasakan patah hati yang begitu hebat. Sakit sekali rasanya. Dia seperti tak berharga dimata suaminya. Jika boleh menyesal dia sangat menyesal.
“Sebaiknya aku meminta Aris menceraikanku saja. Dia pria baik tidak pantas mendapatkan gadis bekas sepertiku.” Wanita itu menyeka air mata “Lucu, baru menikah aku akan bergelar janda. Dulu setelah tunangan Mas Harsan meninggal dan sekarang setelah menikah aku akan jadi janda dalam hitungan sehari.” Dia beberapa kali menyeka air matanya sambil memasukkan barang-barangnya kedalam koper.
Setelah ini Anara, akan benar-benar mati rasa. Dia takkan percaya lagi pada cinta sejati. Biarlah dia kembali menutup hati, dia takkan mau lagi menerima siapapun yang mendekatinya dan setelah ini dia akan berpisah dengan Aris. Impiannya menjadi seorang Ibu takkan pernah terwujud sebab dia wanita yang tidak suci lagi.
Bersambung...
Noted; Pesan untuk para wanita yang masih suci terkhusus yang belum menikah. Jagalah mahkota kalian dengan baik. Sebab tidak semua laki-laki siap menerima wanita yang sudah tidak perawan. Ada pun hanya satu diantara seribu lelaki dunia. Mereka akan menerima serta akan terus diungkit setiap kali bertengkar...
Jaga diri kalian dengan baik
Jaga mahkota kalian....
Sama author juga...
Berikan hak yang seharusnya suami kalian terima.. Jangan mau dibodohin hanya karena cinta... Cinta itu semu dan sesaat. Jika salah pembawaan maka akan mengundang kecewa.....
__ADS_1