
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺 🌺🌺🌺🌺🌺
Mars masih celinggak-celingguk seperti mencari seseorang. Sebenarnya dalam hati pria itu sedikit panic jika gadis menyebalkan dan aneh itu sampai pergi.
Galvin kembali bergabung dimeja bersama yang lainnya. Wajah pria itu tampak tak biasa. Ada yang aneh dari raut wajahnya yaitu senyumnya yang sangat manis. Walau pun Galvin ini pria ramah tapi terlihat jika dia sedang bahagia atau sedang mendapatkan sesuatu yang luar biasa.
Tampak Ayana tengah membawa nampan ditangannya. Mulutnya komat-kamit seperti dukun baca mantra. Gadis itu memang suka mengomel, apalagi jika dia memang sedang kesal pasti dia akan terus mengomel sepanjang jalan kenangan.
Mars tersenyum sumringgah ketika melihat Ayana berjalan kearahnya dengan membawa nampan ditangannya. Tadi dia memang meminta pelayan agar Ayana yang mengantarkan makanan kemejanya.
“Silahkan dimakan Tuan.” Ayana meletakkan nampan diatas meja ada dua pelayan yang mengikutinya dengan membawa nampan yang sama tapi menu yang berbeda.
“Ehem.” Mars sengaja berdehem
Ayana melirik Mars dengan malas “Apa Tuan? Anda merindukan saya?” Ayana mengedipkan matanya jahil. Tadi dia rasanya ingin memasukkan pria itu kembali kedalam perut Ibunya karena Mars yang meminta dia langsung mengantarkan makanan.
“Cihhhh, siapa juga yang merindukan gadis aneh seperti mu.” Cibir Mars.
“Ya siapa tahu saja Tuan. Maklum, kata orang-orang saya itu suka bikin rindu.” Gadis itu tersenyum tanpa dosa dengan satu alisnya yang terangkat, dia suka sekali menggoda pria planet ini.
Mars memutar bola matanya, kenapa setiap kali bertemu gadis aneh ini dia selalu dibuat kesal dan suka mengomel? Mereka bagaikan air dan api yang tak bisa menyatu tapi selalu berdampingan.
“Ehem.” Ranti berdehem. Dia mulai jenggah dengan perdebatan kedua orang ini. Sebenarnya mereka ini punya masalah apa?
“Apa?” Keduanya menatap Ranti kompak
“Cie cie cie yang kompak. Memang kalau yang namanya jodoh itu selalu memiliki kemiripan.” Ranti tersenyum sambil menampilkan rentetan gigi putih.
“Jodoh? Ogah!” Lagi-lagi keduanya menjawab dengan kompak. Ketika menyadari jawaban mereka sama, keduanya membuang muka.
Ranti ngakak dan tertawa lebar apalagi keduanya tampak salah tingkah. Ivan juga geleng-geleng kepala, terhibur sekaligus gemes dengan kedua orang itu.
Dan Galvin menatap Ayana tak berkedip. Tak menyangka takdir justru mempertemukan mereka disini. Dari tadi Galvin berharap bertemu dengan Ayana dan jantungnya seolah berdegup dengan kencang ketika melihat Ayana yang berdebat dengan Mars.
“Hai.”
__ADS_1
Sapaan Galvin membuat tawa Ranti dan Ivan terhenti. Semuanya melihat kearah Galvin yang sudah berdiri sambil menatap Ayana tak berkedip.
Alis Ayana berkerut heran, dia menatap pria yang berdiri dengan tegap disampingnya. Tampak gadis itu berpikir, karena laki-laki ini tidak asing dimatanya.
“Masih ingat?” Tanya nya sambil tersenyum hangat “Laki-laki yang menabrakmu ditoilet tadi?” Tuturnya kemudian.
“Ohhhh kau pria tadi?” Seru Ayana.
Galvin menganngguk dengan antusias, kenapa hatinya senang saat Ayana mengingatnya. Ahh gadis ini benar-benar menarik, terkesan tomboy tapi cantik dan sederhana.
“Galvin.” Dia menyedorkan tangannya pada Ayana.
Ayana melirik uluran tangan Galvin, kenapa tatapan pria ini seperti tak biasa padanya.
“Ayana.” Dia menerima uluran tangan Galvin, namun secepatnya gadis itu menarik tangannya.
Ranti menatap kedua orang itu dengan tercenggang. Bahkan dia menatap Ayana dan Galvin secara bergantian. Dalam hati dia bertanya, ada hubungan apa keduanya?
“Kak Galvin kenal Ayana?” Tatap Ranti menyelidik. Kenapa dia terganggu dengan tatapan Galvin terhadap Ayana.
Mars memasang wajah dingin dan datar. Dia justru menatap wajah Ayana. Kenapa rasanya sakit ketika melihat kedua orang itu berkenalan sambil saling melemparkan senyuman manis?
“Kak, duduklah. Kita makan.” Ajak Ranti. Hatinya mencelos sakit, apakah kali ini hati Galvin sudah berpindah tempat?
“Iya Ti.” Galvin menurut dan duduk didekat Ranti.
“Apa kau akan terus berdiri disitu?” Mars menatap Ayana tajam “Persiapkan dirimu, mulai besok kau jadi sekretarisku.” Tukas Mars memalingkan wajah nya dari Ayana
Galvin menatap Mars. Dalam hati dia juga bertanya-tanya hubungan Mars dan Ayana. Kenapa keduanya selalu berdebat dari tadi.
Ayana menghela nafas panjang “Iya Tuan.” Jawab Ayana ketus sambil memeluk nampannya.
“Saya permisi Tuan.” Pamit Ayana
Meja makan tiba-tiba sunyi senyam. Ranti yang biasanya selalu berbicara dan berisik itu tiba-tiba malah diam dan makan dengan tenang tanpa suara.
__ADS_1
Mars yang memang dingin dan sulit ditebak itu, juga hanya diam dan focus pada makanannya. Dia harus cari tahu ada hubungan apa Galvin dan Ayana, tak mungkin tak ada hubungan. Melihat tatapan Galvin pada Ayana, membuat Mars semakin kesal dan terganggu.
Semua terdiam dan sibuk dengan perasaan masing-masing, begitu juga dengan Ivan. Kondisi hati Ivan memang sedang tidak baik jadi dia tidak mau ikut campur.
"Aku ke toilet sebentar." Mars berdiri.
Pria itu melangkah lebar. Dia mencari keberadaan Ayana. Dimana gadis itu? Dia harus bertanya pada Ayana ada hubungan apa, Ayana dan Galvin??
"Permisi Tuan Mars, ada yang bisa saya bantu?" Sapa Anara ramah yang kebetulan bertemu Mars
"Hem, dimana Ayana?" Tanyanya.
"Ayana sedang ada didapur Tuan, sedang memantau para koki memasak." Jawab Anara.
Mars mengangguk, tanpa bertanya lagi dia berjalan kearah dapur restourant. Langkah kakinya terhenti saat melihat Ayana dengan sabar dan telaten mengajari para kokinya memasak.
Pria itu memasukkan kedua tangan disaku celananya. Sambil melihat Ayana dari jauh. Sudut bibirnya terangkat. Meski berisik dan menyebalkan tapi sesungguhnya Ayana adalah gadis yang baik hati dan Mars akui jika Ayana memang cantik dan menarik.
Lama pria itu menatap gadis yang diam-diam masuk kedalam hatinya. Tak bisa Mars pungkiri jika perlahan perasaan terhadap Ayana mulai tumbuh. Namun masih ada ketakutan dan keraguan didalam hatinya. Apalagi dia pernah merasakan yang namanya patah hati dan dikhianati. Dia tidak mau terjatuh kedua kalinya.
Ayana terhenti ketika melihat Mars berdiri didepan pintu masuk dapur, pria itu tampak melamun sambil menatapnya.
Ayana berjalan kearah Mars. Mau apa lagi pria ini? Dan mulai besok seperti nya Ayana harus mulai menyimpan stok Kesabaran, sebab mulai besok Mars adalah Boss nya.
"Hem, cieee yang mengintip!" Ledek gadis itu melipat kedua bibirnya menahan tawa.
Mars langsung tersadar dari lamunannya. Dia menatap Ayana yang tersenyum tanpa dosa dengan wajah imutnya.
"Bisakah jangan membuatku kesal sehari saja?" Gerutu Mars, dia sebenarnya malu karena ketahuan menatap Ayana. Pasti gadis itu akan besar kepala lagi.
"Tidak bisa Tuan." Ayana ngakak "Ada apa kesini? Jangan bilang, kau merindukan ku?" Sambil memincingkan matanya curiga.
"Cihh, jangan ge-er. Tidak ada yang merindukan gadis aneh seperti mu." Sergahnya
Bersambung....
__ADS_1