
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
"Ada apa Mas?" Ayana duduk direstourant biasa.
Dia langsung melenggang kesini saat mendapat kabar dari lelaki itu. Meski sempat melalu perdebatan sengit dan perjanjian tertulis dengan Mars akhirnya dia berhasil membujuk kekasihnya itu agar mengijinkannya bertemu dengan Galvin.
"Na." Galvin menghela nafas panjang "Ada yang ingin aku bicarakan denganmu." Ucapnya lagi.
"Bicara apa Mas?" Kening Ayana berkerut heran.
"Tapi aku harap, apapun yang aku bicarakan. Aku tak ingin kau marah." Galvin tersenyum.
Galvi mengenggam tangan Ayana yang terletak diatas meja. Secepatnya gadis itu menarik tangannya.
"Maaf Mas. Jangan pegang-pegang." Tegas Ayana. Dia tidak mau salah paham. Nanti kalau Mars tahu dan melihatnya bisa terjadi perang dunia ketiga lagi. Pria itu sangat posessif diluar batas Negara
"Maaf." Galvin merasa malu.
"Mas mau bicara apa?" Ayana ini tipikal gadis yang tidak suka basa-basi.
"Na." Galvin menghela nafas sambil menatap gadis itu "Aku...." Dia terdiam sejenak dan menatap Ayana "Aku menyukaimu Ayana. Aku jatuh cinta padamu sejak kita bertemu disini. Aku ingin menjadi bagian terpenting dalam hidupku."
"Aku harap kau takkan menolak Ayana. Aku tidak bermaksud memaksamu menerima cintaku. Hanya dengan ini yang bisa membuat kedua orangtuaku membatalkan perjodohan ku. Aku akan mengatakan pada mereka bahwa aku sudah memiliki gadis yang aku cintai yaitu dirimu." Galvin menatap Ayana penuh harap.
"Aku benar-benar mencintaimu Ayana. Kau berhasil membuatku membuka hatiku." Ucap Galvin lagi.
Untuk sejenak Ayana terdiam. Dia seperti kehilangan kesadaran saat mendengar ucapan Galvin. Dulu iya, dia menyukai pria itu tapi sekarang bahkan dia hanya menganggap Galvin sebagai teman nya saja.
"Na."
"Mas maaf." Ayana menatap Galvin "Aku sudah memiliki orang yang mencintai ku dan aku juga mencintainya. Aku menolak ungkapan cintamu karena aku juga tidak menyukaimu Mas, aku menganggapmu sebagai Kakak ku. Maafkan aku." Ucapnya lagi
Tubuh Galvin serasa melemas semuanya. Padahal semalam dia sudah menyusun rencana agar bisa membawa Ayana dan mengenalkan gadis itu pada kedua orangtuanya. Tapi sepertinya angan-angan itu tak kan terealisasikan.
"Sekali lagi aku minta maaf Mas. Maaf jika aku menyakiti hati Mas. Tapi aku tidak bisa memaksa diriku mencintai lelaki yang tidak aku cintai." Ayana menatap Galvin dan berusaha memberi pengertian agar pria ini tidak sakit.
"Carilah wanita lain Mas. Diluar sana banyak wanita yang mau mencintai dan menerima Mas dengan tulus Mas." Ucap nya lagi.
Ayana menyambar tasnya. Dia tak mau berlama-lama disini. Hatinya merasa tidak nyaman karena ungkapan cinta Galvin. Tak menyangka jika dokter setampan Galvin bisa jatuh cinta pada Upik abu seperti dirinya.
"Aku permisi Mas."
__ADS_1
Galvin tak bisa mencegah. Dia masih terdiam sambil menatap punggung Ayana yang menjauhi nya. Hatinya teriris sakit ketika menerima penolakkan Ayana. Dia tak pernah ditolak oleh siapapun, Ayana adalah gadis pertama yang menolaknya.
Galvin menyenderkan punggungnya sambil menarik nafas dalam. Sesakit ini ternyata ditolak. Dia pikir Ayana juga menyukainya karena melihat Ayana yang tampak humble jadi dia salah membawa perasaan nya sendiri.
"Yang singgah belum tentu menetap. Aku terlalu berharap banyak. Padahal aku tahu Ayana hanya menyukai Tuan Mars. Tapi aku dengan bodohnya mengharapkan dia menjadi milikku. Aku tak bisa lagi mengelak dari perjodohan ini." Galvin mengusap wajahnya kasar.
.
.
.
.
Ayana masuk kedalam mobilnya. Gadis itu terlihat menghela nafas panjang. Sangat panjang.
"Hufffffh, aku tak menyangka jika Mas Galvin jatuh cinta padaku. Kupikir dia hanya menganggap ku sebagai teman saja." Gumam Ayana.
"Tapi lebih baik dia tahu bahwa aku tak memiliki perasaan apapun padanya. Dari pada aku menyakiti nya lebih baik aku jujur."
Ayana adalah gadis yang tidak suka berpura-pura baik jika dia memang tidak suka. Sikapnya yang keras dan tegas yang bicara juga selalu ceplas-ceplos tanpa memikirkan perasaan orang lain, justru membuat Mars tertarik pada gadis itu.
Sesungguhnya Ayana adalah gadis perasa yang hatinya mudah sekali tersentuh. Dia tipikal orang yang jujur tanpa suka menutupi sebuah kenyataan.
Ayana bukan Nandira yang polos dan selalu mengikuti kata suaminya. Gadis itu adalah gadis keras kepala yang hidupnya tidak suka diatur. Dia tahu batasan. Dia tahu harus bergaul dengan siapa saja.
"Selamat siang Nona Ayana." Sapa para karyawan yang berpapasan dengannya.
"Siang." Jawab gadis itu sambil memaksa senyum.
"Hem, Nona."
"Ada apa?" Kening Ayana berkerut heran
"Apakah Nona sudah makan siang?"
Ayana menatap curiga salah satu resepsionis yang terlihat gugup seperti menyembunyikan sesuatu. Ayana adalah gadis peka yang selalu curiga melihat gerak-gerik orang lain.
"Sudah." Ayana melenggang.
"Nona, tunggu." Sang resepsionis masih menahan Ayana.
__ADS_1
"Ada apa?"
"Bagaimana kalau saya buatkan Nona minum saja?" Tawarnya
"Saya sudah makan. Saya sudah minum. Yang belum itu tidur. Jadi stop jangan bertanya lagi." Ucap Ayana kesal.
Gadis itu masuk kedalam lift menuju ruangannya. Entah kenapa perasaan nya tidak enak? Apalagi melihat tatapan para karyawan yang terlihat malu dengannya. Ya Ayana tahu jika semua orang diperusahaan ini sudah mengetahui hubungan nya dengan Mars. Dan itu semua karena Mars yang selalu mengumbar kemesraan didepan umum.
Ayana keluar dari lift. Dia menuju meja kerjanya dan meletakkan tasnya begitu saja.
Dia langsung mengambil beberapa berkas yang harus ditandatangani oleh Mars.
"Tuan perm_."
Deg
Jantung Ayana terasa berdenyut sakit saat melihat permandangan didepannya.
"Awwwwwwww."
Mars sontak mendorong wanita yang masih menempelkan bibirnya ke bibir Mars.
"Ayana, jangan salah paham ini semua tidak seperti yang kau lihat." Mars panik dia langsung menghampiri Ayana.
Wanita itu berdiri dari lantai. Dia terjerembab akibat Mars yang mendorong nya dengan paksa.
"Kau keluar...." Usirnya
"Tapi Sayang_."
"Cepat keluar." Bentak Mars menatap wanita itu tajam.
Wanita itu keluar dengan mencebik kesal. Dia menghentak-hentakkan kakinya dan menatap Ayana tajam.
"Ayana dengarkan aku dulu. Jangan salah paham." Mars memegang kedua tangan gadis itu hingga berkas yang ada ditangan Ayana terlepas dan jatuh ke lantai.
Ayana masih diam. Dia benar-benar syok melihat permandangan didepannya. Rasanya dunianya runtuh dalam sekejap. Apa tadi ini yang membuat resepsionis tadi mencegahnya agar tidak masuk?
**Bersambung.....
Jangan lupa like komen dan vote nya buat author kece badai ini....
__ADS_1
Love kalian banyak-banyak**.....