
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Ranti dan Ayana makan berdua. Kedua gadis itu seperti saling berlomba menghabiskan makanan diatas meja.
Ranti memang memesan banyak makanan, selain rasanya enak ada harga promo yang tentunya membuat senyum mengembang.
Meski kaya Ranti sangat suka barang-barang yang memiliki diskon. Lumayan uangnya untuk beli yang lain.
"Kau lapar juga?". Sindir Ranti yang melihat Ayana makan dengan lahap.
"Tentu, kau tahu gara-gara pria tadi otakku sampai blong dan dia akan fresh kembali kalau diisi dengan makanan". Celetuk Ayana "Ciuman pertamaku hikssss". Gadis itu menyeka air matanya yang tidak jatuh sama sekali.
Rasanya Ayana ingin melompat ke jurang menyembunyikan wajahnya. Bagaimana bisa dia mencium pria yang sama sekali tidak dia kenal? Pasti dia dianggap wanita penggoda dan wanita tidak baik oleh pria tadi. Terlihat sekali wajah marah dari pria yang dia cium tadi.
"Ciuman pertamamu?". Tanya Ranti sumringah.
Ayana mengangguk "Iya Nona. Dan kau tahu aku sungguh malu. Bagaimana jika nanti aku bertemu lagi dengan laki-laki itu, pasti dia akan menatapku jijik. Apalagi dia horang kaya lah aku hanya pelayan restourant biasa". Ujarnya segugukan sambil menyantap makanannya.
Ranti menepuk bahu Ayana "Sudah jangan dipikirkan. Laki-laki tadi Kakakku".
"Apa Kakak mu Nona?". Ayana menutup mulut tak percaya "Dia sungguh-sungguh Kakakmu?". Tanyanya sekali lagi
Ranti mengangguk "Iya dia Kakakku. Kakak kandung ku". Jawab Ranti "Jangan takut. Dia baik kok orangnya meski kadang memang lebih kebanyakkan menyebalkan". Seru Ranti.
Ayana terdiam sambil memainkan sendok ditangan. Kenapa sekarang makanan didepannya serasa hambar saat tahu jika Mars adalah Kakak dari gadis yang makan dengannya ini.
Ranti bersandar sambil mengelus perutnya. Dia melirik arloji ditangannya. Karena kebanyakan drama hari ini tidak terasa sudah sore dan dia tidak akan kembali ke kantor. Lagian itu kantor Kakaknya tidak masuk juga tetap digaji, namanya juga adik Boss.
"Kenyangnya". Sambil mengelus perut nya yang setengah membuncit.
Ayana juga menyudahi makanannya. Gadis itu kenyangnya bukan main. Ini sebagai persiapan mental menghadapi amukkan Anara, gadis itu kalau sudah marah bisa memasukkan nya kedalam perut bumi. Jadi sebelum di dihajar habis-habisan lebih baik siapkan energi dulu.
"Kau sudah lama bekerja disini?". Tanya Ranti sambil menyeruput jus nya
"Baru hari pertama Nona".
"Jangan panggil Nona. Panggil Ranti saja". Sambil meletakkan gelas itu kembali.
"Kau tinggal dimana?". Ranti mulai tertarik pada Ayana. Seperti nya dia memiliki ide untuk Kakaknya.
"Aku berasal dari kampung. Kakak sepupu Nandira". Sahut Ayana tersenyum sebenarnya sudah tak nyaman ada orang yang mempertanyakan identitas nya.
"Sepupu Nandira?". Ulang Ranti terkejut.
Ayana mengangguk "Yang tadi Kak Nara, Kakak kembar ku. Kami berdua ikut Nandira dan suaminya ke Jakarta untuk mengadu nasib". Tuturnya
"Suami? Nandira sudah menikah?". Ranti benar-benar penasaran.
__ADS_1
"Iya. Suaminya Tuan Nathan. Pemilik restorant ini". Jelas Ayana.
"Apa?". Lagi-lagi Ranti menutup mulut tak percaya "Jadi Tuan Nathan dan Nandira sudah menikah?". Ayana mengangguk.
"Iya". Sahut Ayana.
Ranti sungguh tak percaya. Bagaimana bisa Nathan si pria kaya itu menikahi Nandira gadis kampung.
Ranti menatap Ayana dengan senyuman licik. Dia akan menggunakan gadis ini untuk melakukan sesuatu.
"Kenapa menatapku begitu?". Ayana bergidik ngeri.
"Ehem, karena kau sudah mencium Kakak ku secara paksa_".
"Bukan paksa tapi tidak sengaja". Ralat Ayana tak terima dituduh mencium Mars dengan paksa.
"Ck sama saja". Ketus Ranti "Jadi kau harus bertanggungjawab pada Kakaku".
"Kenapa harus bertanggungjawab? Memangnya aku menghamili Kakakmu!". Ayana melipat kedua tangannya didada dan kesal.
"Karena kau sudah mencium Kakakku". Ujar Ranti tersenyum menggoda "Ehem, bagaimana jika kau membantuku saja?". Tawar Ranti.
"Membantu apa?". Ayana menatap Ranti yang seperti memikirkan sesuatu.
"Sini". Ranti melambaikan tangan nya agar Ayana mendekat.
Ayana mendekat kearah Ranti dan gadis itu membisikkan sesuatu ke telinga Ayana. Entah apa yang dia bisikkan.
"Kakak". Ranti duduk disamping Mars yang tengah asyik dengan laptopnya diruang tamu.
"Ada apa?". Ketus pria itu memincingkan mata menatap adiknya.
"Ck, kau itu Kak. Tidak berubah sama sekali". Sahut Ranti kesal.
Mars tak menggubris pria itu kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Kak". Ucap Ranti pelan.
"Ada apa?". Dia menatap adiknya tajam
"Bulan depan kan ulang tahun ku Kak, aku ingin sekali di hari ulang tahun ku Kakak kasih kado paling spesial". Ucap Ranti sambil merebahkan kepalanya dibahu sang Kakak. Dia memang manja.
"Kado apa? Rumah? Mobil? Kapal? Jet pribadi? Sebut saja hadiah apa yang kau inginkan". Ucapnya dengan enteng dan santai
Ranti memutar bola matanya malas. Dia tidak butuh apapun.
"Aku tidak butuh itu Kak". Ranti mencebik kesal.
__ADS_1
"Lalu kau ingin apa?". Mars menatap adiknya curiga "Jangan minta yang aneh-aneh". Ketusnya
Sedangkan Ivan yang duduk disoffa bersama Mars hanya mendengarkan saja sambil menyembunyikan senyum gemesnya. Tak bisa Ivan bohongi jika Ranti adalah salah satu gadis yang menarik. Pintar. Baik hati dan juga kaya. Meski manja luar biasa tapi maklumi saja, selain terlahir dari keluarga kaya dia juga anak bungsu.
"Kak bawa kekasih Kakak". Seru Ranti tersenyum menggoda pria itu.
"Kekasih siapa? Kakak tidak punya kekasih". Ketusnya. Ada-ada saja si Ranti ini.
"Yang cium Kakak tadi siang".
Mars langsung menatap adiknya tajam. Mengingat ciuman itu membuatnya kembali membayangkan wajah Ayana.
"Jangan bahas itu lagi". Hardiknya kesal.
"Astaga Kak, kau itu kalau marah-marah besar sekali suara nya". Sambil meniup-niup tangannya lalu menyambungkannya dengan telinga.
Mars tak menanggapi, dia jenggah kalau berbicara dengan adiknya ini selalu saja membuat emosi. Tapi Mars sungguh menyanyangi Ranti adik bungsunya itu.
"Kak". Ranti menarik-narik baju Mars persis seperti anak kecil yang minta dibelikan mainan.
"Jangan ganggu Kakak Ranti. Kakak lagi kerja". Bentak Ranti.
Ranti terkejut mendengar teriakkan Mars. Sontak gadis itu menjauh dan menggeleng. Dia tidak suka dibentak.
"Ranti....". Mars meletakkan laptop nya "Maafkan Kakak, Kakak tidak termaksud membentakmu". Ujarnya merasa bersalah.
Ranti menggeleng. Air mata gadis itu meleleh begitu saja. Dia dibesarkan dengan kehangatan dan kasih sayang kedua orangtuanya. Dimanja dengan kemewahan dan dia tidak pernah dibentak seperti tadi.
Ranti melenggang pergi ke kamarnya dengan setengah berlari sambil menangis.
"Ranti....". Mars mengejar gadis itu. Namun Ranti sudah masuk kedalam kamarnya dan mengunci pintu kamarnya.
"Ranti maafkan Kakak Ranti". Sambil mengetuk pintu itu berulang kali.
"Arghhhhhhhhh". Mars mengusar wajahnya frustasi. Merasa bersalah karena sudah kasar pada adiknya.
Bersambung....
Hai guys ....
Siapa nih yang kangen kebucinan Nathan dan Nandira???
yuk ikuti terus yaaa...
jangan lupa buat dukungan nya juga yaa...
LoveUsemua...
__ADS_1