Cinta Manis Sang Presdir

Cinta Manis Sang Presdir
Merayu


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


"Ranti buka pintunya Ranti." Mars masih mengetuk pintu kamar adiknya.


"Tidak. Kakak jahat." Gadis itu meski sudah berusia dewasa tapi dia sangat manja seperti gadis remaja.


"Maafkan Kakak. Kakak tidak bermaksud membentakmu. Apa yang harus Kakak lakukan agar kau memaafkan Kakak?."


Tidak lama kemudian pintu kamar terbuka. Gadis itu memasang wajah juteknya.


"Apa benar Kakak akan melakukan apa saja agar aku memaafkan Kakak?."


Mars mengangguk sambil memaksakan senyum "Bagaimana.?" Tangannya terulur mengusap kepala yakin.


"Aku akan memaafkan Kakak. Tapi bawalah kekasih saat aku ulang tahun nanti, anggap saja sebagai kado ulangtahun ku." Pinta Ranti manja.


"Ranti, bagaimana bisa Kakak bawa kekasih. Kakak saja tidak memiliki kekasih?." Mars geleng-geleng kepala salut menghadapi sifat adiknya ini.


Ranti tersenyum jahil. Gadis itu melipat kedua tangannya didada sambil tersenyum devil.


"Kakak tenang saja. Aku yang akan Carikan pacar untuk Kakak." Serunya dengan semangat.


"Ck, jangan aneh-aneh Ranti." Geram Mars. Dikasih hati minta ginjal.


"Ya sudah kalau Kakak tidak mau." Ranti cemberut lagi


Mars memejamkan matanya menahan emosi. Rasanya rambutnya sudah berdiri mengajaknya untuk menyerang Ranti dan memarahi adiknya itu. Namun Mars ingat jika mereka baru berbaikan tidak baik jika bertengkar lagi.


"Baiklah. Baiklah." Mars mengalah dari pada menghadapi sifat adiknya.


"Yessssssss." Ranti bersorak ria.


"Ingat Ranti jangan carikan Kakak wanita kurang jadi, Kakak akan dengan tegas menolak." Ucap Mars memeringati adiknya.


"Iya Kak. Tidak akan. Swear." Sambil membentuk dua jarinya menjadi huruf v.


"Ya sudah mandi sana. Kakak tunggu dimeja makan." Tangan Mars kembali mengacak rambut gadis itu.


"Kakak." Merenggek manja.


Mars hanya terkekeh pelan. Meski mereka berdebat setiap hari tapi sumpah Ranti adalah adik yang menemani masa-masa rapuh Mars ketika ditinggalkan kekasihnya. Adiknya itu tak kehilangan cara untuk menghibur nya hingga dia bisa melupakan segala rasa sakit yang sempat menghantam dadanya.


.


.

__ADS_1


.


.


"Kak." Ayana mengintip wajah dingin Kakak nya "Maafkan aku Kak." Gadis menunduk merasa bersalah "Aku tidak sengaja." Sambil mengigit bibir bawahnya.


Anara memalingkan wajahnya. Dia berusaha tidak marah harus tahan emosi. Ayana memang suka berulah dari dulu dan adiknya itu selalu membuatnya dalam masalah.


"Ayana, kau tahu kan kita masih baru di Jakarta. Jadi Kakak mohon Ayana bekerja lah dengan serius. Kita mendapat kepercayaan yang tidak gratis, tentu ada harga yang harus kita bayar untuk semua yang kita dapatkan." Anara mendesah frustasi "Dan kau membuat ulah. Kakak sudah berapa kali katakan fokus pada pekerjaan. Jangan campurkan masalah pribadi dengan pekerjaan." Paparnya lagi berusaha sabar.


"Jika kau marah pada Kakak karena Aris, Kakak minta maaf dan kau harus tahu Ayana bahwa Kakak sama sekali tidak menyukai dia. Kakak menganggap nya sebagai Kakak kandung jadi jangan karena hal ini kita berdua saling menyakiti. Kau adalah saudara kembar ku. Kau sebagain dari jiwaku. Apa yang kau rasakan aku juga bisa merasakannya." Anara mellengang pergi setelah mengucapkan rasa kekecewaan nya.


"Kak." Ayana menatap kepergian Kakaknya


Ayana menghela nafas panjang. Anara kalau marah pasti susah dibujuk. Kakak nya itu bisa marah berhari-hari, setelah kepergian kekasihnya Anara memang sensitif terhadap sekitarnya. Mudah marah dan terbawa perasaan sendiri.


Anara melangkah masuk kedalam kamarnya. Gadis cantik itu mengunci kamarnya agar sang adik tidak lagi menganggunya dia sedang ingin sendiri dan tak ingin berbicara dengan siapapun.


Anara berjalan pelan kearah ranjang tidurnya. Gadis itu duduk dibibir ranjang dengan helaan nafas panjang. Lelah tentu saja.


"Mas." Anara memegang dadanya "Maafkan aku yang tidak bisa menahan emosi. Aku terlalu sensitif dan takut menyakiti Ayana. Aku merindukanmu Mas. Biasanya kau selalu bisa membuatku tenang saat aku terbawa emosi." Lirihnya memejamkan matanya meresapi segala rindu yang membelenggu.


"Aku rindu Mas." Gumamnya. Setetes butiran bening itu lolos dipelupuk mata Anara.


Lelehan bening itu kembali menetes dengan deras. Anara menangis segugukan dikehingan malam. Suara rintihan nya saling bersahutan dengan jarum jam yang berjalan setiap detik.


Percayalah rindu menyakitkan berat adalah merindukan seseorang yang telah tiada. Karena rindu itu takkan pernah menemukan titik temu sekali pun dunia terbalik lima ratus juta kali.


.


.


.


.


Ayana menatap kosong kearah pintu kamar Kakaknya. Dia benar-benar merasa bersalah. Meski Nathan dan Nandira tidak memarahi mereka atas kejadian itu namun tetap saja ada perasaan tidak nyaman karena hal itu


"Arghhh, aku juga bodoh sih. Kenapa aku bisa menabrak pria itu." Sesak Ayana "Dan...." Gadis itu memegang bibirnya "Pria itu mengambil ciuman pertamaku, hiks hiks aku benar-benar sudah tidak perawan. Maafkan aku Ayah Ibu sudah mengecewakan kalian." Jeritnya merasa begitu sangat bersalah.


Ayana masuk ke kamarnya dengan mengehentak-hentakkan kakinya kesal. Entah marah pada siapa, Ayana hanya ingin marah melampiaskan semua perasaan bersalahnya.


Ayana melempar tubuhnya diatas ranjang. Banyak hal yang harus dia syukuri dalam hidup. Datang ke Jakarta disediakan Apartement mewah dan diberikan pekerjaan yang nyaman tapi dia malah harus melakukan kesalahan yang membuat Kakak nya kesal.


Drt drt drt drt drt

__ADS_1


"Siapa sih menelepon malam-malam seperti ini?." Gadis itu bangkit meraba ponselnya yang masih tersimpan ditas kecil miliknya.


"Ranti." Gumam Ayana membaca nama yang tertera dilayar ponselnya.


"Hallo."


"Malam calon Kakak ipar." Pekik Ranti dengan suara sumringah nya diseberang sana.


Ayana menjauhkan ponselnya gadis itu mengusap telinganya, pekikkan dan lengkingan suara Ranti membuat gendang telinga nya serasa mau pecah.


"Ada apa menelpon ku malam-malam?." Cetus Ayana yang sebenarnya malas menerima telpon dari Ranti.


"Tentu saja aku merindukan calon Kakak iparku ini." Goda suara diseberang sana sambil dengan kekehan pelan.


Ayana rasanya ingin muntah ketika Ranti memangilnya Kakak ipar. Kapan dia menikah dengan Kakaknya Ranti sehingga gadis itu memanggilnya dengan panggilan Kakak ipar?


"Ada apa aku menelpon ku Ranti?." Ulang Ayana sekali lagi dengan bibir menggerecut kesal.


"Eittsss jangan ketus begitu Kakak ipar." Ranti ngakak seperti kuntilanak "Kau masih berhutang padaku karena sudah mencium Kakak ku. Kau ingatkan dengan bayarannya, kau harus menjadi kekasih Kakak ku." Ucap Ranti penuh penekanan.


Ayana memutar bola matanya malas. Dia sama sekali tidak tertarik dengan kulkas dingin seperti Mars


"Iya iya. Aku akan bertanggungjawab." Jawab Ayana jenggah.


"Kakak ipar terbaik." Puji Ranti dengan kekehan pelan.


"B saja." Ayana komat-kamit seperti dukun baca mantra.


"Besok aku jemput ya Kakak ipar, kita perawatan ke salon. Selamat malam Kakak ipar. Selamat beristirahat. Umchhhhh."


"Kau......".


Tut tut tut tut tut


Ayana rasanya ingin memuntahkan isi perutnya mendengar godaan Ranti.


"Membayangkan saja aku sudah bergidik ngeri. Bagaimana bisa aku menjadi kekasih dari pria kulkas itu?." Ayana menyimpan ponselnya "Memang hanya Tuan Aris yang menarik." Gadis itu kembali berbaring dan menatap langit-langit kamarnya sebelum akhirnya dia pun terlelap kealam mimpi.


Bersambung....


Mon maaf baru update seharian jalan sama Doi sekalian Imlek 🤭🤭🤭


Sehat-sehat terus kalian....


Yuk kita doain bareng jodohnya Mars apakah Ayana atau Anara?????

__ADS_1


__ADS_2