Cinta Manis Sang Presdir

Cinta Manis Sang Presdir
Kau milikku


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Mars makan dengan kesal sambil mulut yang komat-kamit seperti dukun baca mantra. Apalagi hari ini Ayana sangat cantik. Tadi dia meminta perias untuk merias gadis itu dan mengganti pakaian Ayana dengan yang baru.


"Kau bekerja disini?" Tanya Galvin. Karena kemarin pertama dia bertemu Ayana gadis itu memakai baju pelayan seperti yang lainnya.


Ayana mengangguk "Tapi kemarin, sekarang aku bekerja dengan Tuan Planet ehh salah maksudku bekerja dengan Tuan Mars." Ayana menepuk bibirnya yang salah ucap.


"Bekerja apa?" Galvin sungguh penasaran.


"Sekretaris Tuan." Jawab Ayana sambil makan.


"Jangan panggil Tuan. Panggil saja Galvin." Ucap dokter itu tersenyum menampilkan lesung pipinya hingga membuat pesonanya semakin menarik.


"Hem, aku panggil Mas Galvin saja bagaimana?"


"Kenapa harus panggil Mas?" Sarkas Mars yang dari tadi terdiam. Nafasnya memburu menahan cemburu.


Galvin dan Ayana sontak melihat kearah Mars. Kedua orang itu bingung melihat Mars yang tiba-tiba menyambung padahal tadi pria itu tampak diam dan makan dengan lahap.


"Memang kenapa?" Kedua alis Ayana berkerut heran.


"Bahkan kau tidak pernah memanggilku dengan panggilan itu!" Ucap Mars. Nada suaranya terdengar kecewa.


Ayana semakin bingung dengan sikap Mars ini "Kau kan Tuan ku, kenapa panggil Mas?" Tanya Ayana bingung. Begitu juga dengan Galvin yang mendengarkan


"Ralat aku kekasihmu." Ucap Mars penuh penekanan.


"Kekasih?" Beo Ayana "Sejak kapan aku menjadi kekasih mu Tuan?" Gadis itu menggaruk tengkuknya. Kenapa Mars ini makin aneh-aneh saja?


"Sejak kau mencuri ciuman ku." Tegasnya. Dengan cepat Ayana menutup mulut Mars karena pria itu berbicara sangat keras.


"Tidak usah didengar Mas. Dia kalau bicara suka benar?" Ayana nyengir kuda sambil mencubit pinggang Mars dengan gemes.


"Lepaskan!" Hardik Mars menyingkirkan tangan gadis itu dengan paksa dari mulutnya "Kenapa tanganmu bau sekali?" Mars mencium mengusap mulut nya dengan kasar karena kesal.


"Heheh maaf Tuan tadi saya habis pegang terasi." Ayana cenggesan sambil menampilkan rentetan gigi putihnya.


"Kau......."


Galvin terdiam. Dia menatap Mars dan Ayana secara bergantian. Dia yakin jika kedua orang ini memiliki hubungan yang khusus lebih dari Boss dan sekretaris.


"Ayo Mas lanjut makan." Ajak Ayana tak enak hati karena Galvin harus menyaksikan perdebatan mereka berdua.


"Iya." Galvin memaksakan senyum


"Mas-Mas." Ledek Mars dengan mulut komat-kamit tidak jelas.


Ayana menyenggol lengan Mars yang bicara terlalu keras.


"Apa?" Ketus Mars "Cepat makan, kita mau kembali ke kantor." Ujarnya.


Galvin menatap tak suka. Dari dulu hubungan nya dengan Mars memang tak pernah baik. Apalagi Galvin tahu jika Mars tidak menyukai hubungan nya dengan Ranti.


"Na."

__ADS_1


"Iya Mas?" Ayana tersenyum simpul. Galvin memang tampan dan baik hati. Bicara saja lembut.


"Jangan senyam-senyum padanya. Kau itu milikku!" Bisik Mars ditelinga Ayana.


Ayana melihat Mars malas. Pria ini sesuka hatinya mengecap orang menjadi miliknya. Sejak kapan dia jadi milik Mars? Aneh sekali pria ini!


"Ehem, kalau ada waktu aku ingin mengajakmu makan malam berdua." Ajak Galvin. Dia menatap Ayana penuh harap.


"Bo_."


"Tidak boleh. Aku kekasihnya. Aku takkan membiarkan gadis ku pergi dengan pria lain." Sarkas Mars


"Ayo." Dia menarik tangan Ayana agar berdiri.


"Tuan apa-apaan sihh?" Ayana berusaha memberontak.


"Diam." Hardiknya.


Pria itu malah menarik Ayana dengan paksa dia takkan membiarkan celah sedikitpun untuk Galvin mendekati Ayana.


"Mas Galvin aku duluan." Teriak nya dari jauh sambil melambaikan tangan nya.


"Iya Na." Balas Galvin.


Mars menarik Ayana masuk kedalam mobilnya dengan kasar.


"Tuan kau ini bisa tidak jangan kasar. Tanganku sakit."


"Maaf-maaf." Mars melepaskan tangan Ayana "Dimana yang sakit? Maafkan aku ya! Aku tidak bermaksud kasar." Ucapnya merasa bersalah sambil melihat tangan Ayana yang memang sedikit memerah akibat cengkraman nya.


"Sakit?" Renggek gadis itu manja sambil menunjukkan tangannya yang memerah.


Wajah Ayana merah merona dan gadis itu kesem-kesem seperti habis obat.


"Apa perlu kita bawa ke dokter?" Ujar Mars


Ayana memutar bola matanya malas dan menarik tangannya dengan paksa.


"Bawa ke dokter kandungan saja. Siapa tahu tangannya hamil karena dipegang oleh pria mesum." Gadis itu memasang sealbeat nya.


.


.


.


.


"Sayang, minum susu dulu." Nathan membawa segelas susu untuk istrinya


"Iya Mas." Nandira meletakkan pulpen dan bukunya.


"Apakah masih banyak tugasnya?" Tanya Nathan melirik meja belajar istrinya yang penuh dengan buku-buku.


"Sedikit lagi Mas." Nandira hendak mengambil gelas ditangan Nathan.

__ADS_1


"Biar aku bantu sayang."


Nandira mengangguk dan Nathan membantu wanita hamil itu untuk minum susu yang wajib setiap malam harus dia minum.


Nathan Nathan tak mau lenggah jika berbicara tentang kesehatan istri dan calon anaknya. Baginya kesehatan dua orang itu lebih penting dari apapun.


"Sayang, lanjut besok saja. Kita tidur lagi, ini sudah larut malam." Ucap Nathan.


"Iya Mas." Lagi-lagi wanita itu menurut saja


"Sayang, jangan. Biar Mas yang bereskan. Kau tunggulah disini." Cegah Nathan saat istrinya hendak merapikan buku-buku nya.


"Tapi Mas_."


"Mas bisa sayang." Dia tersenyum sambil menyusun rapih buku-buku nya diatas meja belajar nya belajar nya.


Nandira menunggu suaminya untuk merapikan kembali meja belajar nya. Wanita itu tersenyum bangga memiliki suami seperti Nathan. Benar kata orang-orang, wanita akan seperti ratu jika bertemu lelaki yang tepat.


"Ayo sayang."


Nathan menggendong Nandira menuju ranjang. Padahal jarang ranjang dan meja Nandira tidak jauh hanya selang sekitar dua meter saja. Namun Nathan yang posesif itu tak mau istrinya kelelahan nantinya.


"Pelan-pelan sayang." Pria itu membaringkan istrinya.


"Terima kasih Mas."


Nathan ikut berbaring disamping Nandira dengan menyamping. Perut Nandira sudah membesar, usia kehamilan nya memasuki bulan keenam. Jadi perut nya pun besar seperti usia kandungan nya.


Dia harus tidur menyamping karena kalau terlentang, sedikit susah dan sakit.


"Sayang." Nathan memandangi istrinya.


"Iya Mas." Nandira bergeser mendekat kearah suaminya dia harus dipeluk agar bisa tidur.


"Kau bahagia tidak hidup bersamaku?" Tangannya terulur membelai wajah wanita cantik itu.


Nandira mengangguk "Sangat. Sangat. Sangat bahagia. Aku memiliki suami sempurna seperti Mas Nathan. Suami paket konflit. Kaya dan tampan. Baik hati dan rajin menabung." Seru Nandira.


Nathan terkekeh. Rasanya terbang melayang ke udara saat mendengar seruan sang istri. Gemes sekali.


"Terima kasih sayang kau milikku." Dia mengecup kening wanita itu.


"Terima kasih juga Mas." Nandira memejamkan matanya meresapi ciuman Nathan.


"Tidur yuk." Dia memeluk sang istri


"Selamat tidur my little wife."


"Selamat tidur juga Mas."


Bersambung......


Mas Nathan........


__ADS_1


Neng Dira......



__ADS_2