
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹 🌹🌹
"Mau tambah lagi?" Aris tersenyum gemes melihat Anara yang malu-malu.
"Tidak Ris. Aku sudah kenyang." Tolak Anara.
Setiap makan siang mereka berdua selalu ke tempat favorite yaitu bakso urat kesukaan Anara.
"Bagaimana persiapan syukuran kehamilan Dira?" Tanya Anara. Dia sudah mendapat kabar kalau Nandira hamil.
"Sudah aku persiapkan dengan matang dan besok aku akan menjemput kedua orang tua Nona dikampung." Jawab Aris "Mau menemaniku?" Sambil tersenyum penuh harap.
"Mau. Tapi kau tahu sendiri kan kalau aku tidak bisa meninggalkan restourant. Apalagi Ayana akan bekerja bersama Tuan Mars."
"Bekerja bersama Tuan Mars?." Ulang Aris. Dia belum tahu masalah itu.
Anara mengangguk "Iya, Nona Ranti meminta Ayana menjadi sekretaris Tuan Mars untuk menggantikan Dira." Jelasnya lagi "Makanya aku tidak bisa lagi bersantai-santai." Anara mendesah panjang.
"Sudah tidak usah dipikirkan. Aku akan bantu." Sambil menggenggam tangan kekasihnya itu.
Anara tidak terlalu suka tempat yang mewah dia ajak makan bakso seperti ini saja gadis itu sudah senang bukan main.
"Ayo." Aris berdiri dari duduknya.
Anara mengangguk. Setelah membayar pesanan mereka keduanya melengang pergi dari sana.
Kesibukan dalam pekerjaan membuat Aris tidak memiliki banyak waktu untuk kekasih nya itu. Namun Aris bersyukur Anara adalah gadis dewasa yang memahami kesibukan nya. Gadis itu tidak pernah marah saat dia tak ada waktu untuk memberi kabar dan malah Anara yang mencarinya duluan.
"Ohh ya Ris, kita diundang ke acara ulang tahun Nona Ranti. Ini undangan nya." Anara menujukkan surat undangan ulang tahun ditangannya.
"Kapan ini?" Aris melirik undangan itu karena tangannya sibuk menyetir.
"Malam ini Ris. Ikut tidak?" Anara kembali menyimpan kartu itu.
"Nanti aku izin Tuan Nathan dulu. Kau tahu sendirikan kalau pekerjaan ku sangat banyak." Aris mendesah pelan.
Anara menggenggam tangan kekasihnya "Tidak apa-apa, lelah dalam bekerja itu biasa tapi jangan sampai menyerah ya. Aku akan selalu menemanimu." Anara menyenderkan kepalanya dengan nyaman dibahu Aris.
"Terima kasih Ra, sudah memahami kesibukan ku. Aku berjanji akan meluangkan waktu malam ini untukmu. Maafkan aku yang selalu sibuknya." Ucapnya dengan perasaan bersalah sambil mengecup ujung kepala Anara.
"Sama-sama Ris." Anara tersenyum hangat
Dulu Anara berpikir bahwa dia tidak akan bisa bangkit dari patah hatinya. Dia merasa hatinya sudah mati dan cintanya juga ikut mati bersama segala perasaan nya yang hancur lebur karena keadaan.
"Ra, bagaimana kalau kita ke toko baju, aku ingin membelikan mu gaun untuk malam ini." Ajak Aris.
"Boleh."
__ADS_1
Mobil Aris terparkir didepan Mall. Sejak Nandira hamil Nathan jarang masuk kantor jadi Aris bisa curi-curi kesempatan untuk menghabiskan waktu nya bersama Anara.
"Ehem, yang ini bagaimana?"
"Ris, aku tidak suka. Ini baju apa?" Tolak Anara menggeleng melihat gaun itu yang aneh. Dia gadis kampung yang tidak pernah memakai baju bagus.
"Pakai dulu Ra. Kau ini belum juga dicoba." Aris geleng-geleng kepala. Meski Anara jarang memakai make up tapi gadis itu tetaplah cantik dan juga manis.
Anara terpaksa mengikuti kata Aris. Sedangkan Aris tersenyum simpul. Dia berharap hubungan nya dan Anara bisa sampai ke jenjang yang lebih serius. Apalagi mereka sudah sama-sama yatim piatu yang tidak memiliki satu orang tua pun.
"Semoga kisahku dan Anara kekal hingga nanti. Aku berjanji akan menjaganya dengan sepenuh hati." Batin Aris yang melihat Anara masuk kedalam ruang ganti.
.
.
.
.
"Kak, menurut Kakak ini konsepnya bagaimana?" Ranti tengah memilih dekor untuk perayaan ulang tahunnya malam ini.
"Yang look klasik saja, lebih natural dan menarik." Saran Ivan.
"Tapi aku suka warna pink." Seru Ranti
"Ya sudah pilih warna pink saja." Ketus Ivan, sudah tahu tidak suka kenapa minta saran? Wanita memang begitu suka ribet.
Gadis itu tampak memilih dekorasi yang akan dia pakai untuk nanti malam. Pasti Ranti ingin pesta pernikahan yang mewah apalagi kedua orang tua nya akan ikut hadir disana. Ranti harus terlihat perfect dan bahagia agar kedua orangtuanya tidak memaksa dia tinggal diluar negeri bersamanya.
Diam-diam Ivan mengintip wajah Ranti. Dia dipercayakan oleh Mars untuk membantu Ranti menyiapkan semua perlengkapan ulang tahun nya malam nanti.
"Kak kue nya sudah dipesan?" Masih membolak-balik buku ditangannya.
"Sudah." Jawab Ivan singkat padat dan jelas.
"Ehem, oke Kak aku pilih ini saja." Seru Ranti.
Keduanya tampak sibuk mendekorasi ruangan yang akan menjadi tempat Ranti menyelenggarakan perayaan ulang tahunnya. Dibantu oleh beberapa pelayan dan orang-orang suruhan Ivan.
Ivan tersenyum gemes melihat Ranti yang mengatur para pekerja yang tengah sibuk memasang dekorasi. Suaranya yang cempreng dan berisik membuat Ivan gemes sendiri. Ranti memang berisik hingga tak heran jika gadis ini selalu bisa bergaul dengan siapapun.
"Ranti."
Ivan dan Ranti menoleh kearah suara yang memanggil mereka.
"Daddy. Mommy."
__ADS_1
"Ranti."
Gadis itu berhambur memeluk sang Ibu dia rindu sekali pada Ibunya ini.
"Apa kabarmu Nak?" Sambil mengelus kepala putrinya dengan sayang.
"Aku baik-baik saja Mom. Aku rindu Mommy." Renggeknya manja.
"Tuan." Ivan menyalimi Ayah Ranti.
"Van, apa kabarmu Nak?" Ivan sudah dianggap anak kandung mereka. Apalagi Ivan sudah lama bekerja dengan Mars.
"Saya baik Tuan. Anda apa kabar juga?" Balas Ivan tersenyum ramah
"Saya sehat juga." Pria paruh baya itu tersenyum "Bagaimana dengan bisnis kalian?" Sambil merangkul bahu Ivan dan duduk di soffa.
"Daddy." Ranti menghentak-hentakkan kakinya kesal "Daddy tidak peluk aku. Aku kan rindu Daddy." Renggek Ranti kesal.
Pria paruh baya itu terkekeh. Putri bungsunya ini memang manja sekali. Meski begitu Ranti tetap menurut saat orangtuanya memaksanya tinggal di Indonesia menemani sang Kakak.
"Sini." Dia merentangkan tangannya agar bisa memeluk putri nya itu.
Ranti berhambur memeluk Dennis Ayahnya yang berdarah Belgia itu.
"Rindu Daddy."
"Daddy juga rindu." Ucap Dennis mengecup ujung kepala Ranti.
Ivan tersenyum simpul, dia jadi ingat kedua orangtuanya yang juga menetap diluar negeri. Sejak bekerja dengan Mars dia mengabdikan dirinya hidup bersama Mars.
"Ranti." Ranti melepaskan pelukannya ketika mendengar panggilan dari arah pintu masuk.
Ranti menoleh dan melihat siapa lagi yang datang. Senyum nya mengembang senang.
"Kak Galvin."
Gadis itu berhambur memeluk pria tampan yang berdiri didepan pintu itu.
"Kak Galvin rindu." Dia memeluk dengan manja pria tampan ini.
"Kakak juga sangat rindu. Rindu sekali." Serunya.
Dennis dan Syentia tersenyum simpul. Sedangkan Ivan memasang wajah datar dan tak suka.
**Bersambung.....
Hayoo siapa Galvin....????
__ADS_1
Yuk ikutin terus guys jangan lupa like dan komen nya buat author.....
Love U love U**......