
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
“Tunggu.”
Mars menyusul Ayana masuk kedalam lift saat mereka sudah sampai dikantore setelah makan siang.
“Ada apa Tuan?” Kening Ayana berkerut heran.
Ayana terkejut saat Mars menariknya keluar dari lift dan terus menarik tangannya dengan paksa.
“Tuan, apa-apaan sih? Kau ini kenapa?” Ayana berusaha melepaskan cengkraman tangan Mars ditangannya.
Namun pria itu seperti menulikan telingannya seolah tak peduli dengan penolakkan gadis itu. Tak peduli juga mereka yang jadi pusat perhatian. Meski banyak yang berbisik-bisik namun Mars masih tetap tak peduli.
“Tuan lepaskan!” Hardik Ayana.
Mars membawa Ayana masuk kedalam ruangannya dan dia mengunci pintu takut ada orang yang masuk. Meski dia sudah membuat aturan tidak ada yang boleh masuk kedalam ruangannya selain Ayana dan dia. Mars tak suka ada orang lain diantara mereka berdua.
“Tuan.” Ayana mundur saat Mars berjalan kearahnya dan menatapnya tajam.
“Tuan kau kenapa?” keberanian Ayana langsung hilang saat melihat wajah merah Mars.
Gadis itu terpentok ke dinding dan tangan Mars langsung mengunci tubuh Ayana. Dia menatap wanita ini dengan kemarahan yang terpancar jelas dibola matanya.
“Sudah berapa kali aku katakan Ayana, kau itu milikku. Hanya milikku. Kau tidak boleh dekat dengan laki-laki lain selain aku.” Ucapnya penuh penekanan tangannya dia gunakan untuk menahan tubuhnya yang hampir menempel pada tubuh gadis yang hanya setinggi dada itu.
Ayana tertawa mengejek “Sejak kapan aku menjadi milikmu Tuan? Sejak aku menciummu?” Gadis itu tertawa sinis “Kau boleh dekat dengan siapa saja. Kenapa aku tidak boleh? Lagian kita tidak lebih dari Boss dan anak buah, kita bukan sepasang kekasih. Tidak ada ikatan diantara kita yang membuat kita harus memiliki aturan untuk tidak dekat dengan orang lain.
“Kau cemburu?”
Ayana malah tertawa lagi sambil menatap Mars dengan senyuman mengejeknya.
__ADS_1
“Untuk apa aku cemburu Tuan? Kau hanya Boss ku bukan kekasihku. Aku tak memiliki hak untuk cemburu. Lagian jika dibandingkan dengan aku, dia jelas jauh lebih cantik. Aku ingin hanya gadis kampung, reginggang kerupuk ditepi top_.”
Cuppppppppppp
Mars tak mau lagi mendengar ocehan gadis itu. Dia langsung menyambar bibir Ayana dengan lembut dan **********. Dia tidak suka Ayana yang selalu merendahkan dirinya. Bagi Mars siapapun Ayana, dia tidak mempermasalahkan itu. Yang terpenting Ayana harus tetap berada disisinya apapun yang terjadi dan tidak ada yang boleh menggantikan posisi gadis itu dihidupnya.
Mars melepaskan panggutannya, saat merasa bahwa Ayana hampir kehabisan nafas. Dia menyatukan keningnya dengan Ayana dengan nafas memburu.
“Kau milikku Ayana. Kau milikku. Aku tidak suka Galvin menyentuh bibir ini, hanya aku yang boleh menyentuhnya. Hanya aku yang boleh memegangnya, tidak boleh orang lain.” Mars mengusap bibir Ayana yang basah akibat ciuman mereka. Sementara keningnya tetap menyatu dengan Ayana.
Ayana menatap dalam bola mata Mars. Sesungguhnya hatinya sungguh merasa nyaman dengan perasaanya terhadap Mars, hanya saja dia takut lelaki ini akan meninggalkannya nanti, dia belum siap patah hati. Sudah cukup dulu, dia menangis karena mencintai Aris dalam diam dan Ayana tak ingin itu terulang kembali.
Air mata Ayana menetes dipipinya. Dia juga cemburu melihat Mars dekat dengan wanita lain. Dia terlalu takut mencoba menerima Mars, takut hatinya akan teriris oleh luka yang paling dia hindari.
“Kau milikku. Kau dengar itu Ayana. Mulai sekarang dan selamanya.” Mars menarik Ayana kedalam pelukkannya.
Ayana membalas pelukkan Mars. Dia tak berucap sepatah kata pun. Yang pasti pelukkan ini selalu berhasil membuat rasa takutnya menghilang. Pelukkan ini selalu membuatnya merasa begitu tenang.
“Apapun yang terjadi jangan pernah pergi Ayana. Aku takkan sanggup jauh darimu. Aku jiwaku dan kau separuh dari jiwaku.”
Ayana tetap tak berbicara. Dia menikmati pelukkan nyaman ini. Lelaki yang sangat menyebalkan dan membuat emosinya naik ini adalah lelaki yang telah menjadi sandaran dan tempat ternyaman untuk dia pulang. Meski usia mereka terpaut jauh tapi itu bukan masalah untuk keduanya menjadi dua orang yang ingin tinggal dalam satu atap rumah yang nyaman.
.
.
.
.
Zahra menarik nafas dalam saat melihat saldo direkeningnya. Dia hanya hidup dengan sang Ayah, sementara sang Ibu sudah dipanggil pulang sejak usianya masih belia.
__ADS_1
“Aku harus cari pekerjaan. Belum lagi biaya berobat Bapak. Aku tidak mungkin membiarkan Ayah bekerja dalam keadaan sakit begini.” Gadis berhijab itu terlihat resah “Belum lagi biaya praktek, aku dapat uang dari mana untuk melunasinya.” Zahra mengusap wajahnya dengan kasar.
“Nak.” Seorang pria paruh baya keluar dari kamar sederhananya.
“Bapak.” Zahra langsung membantu sang Ayah duduk dikursi kayu dirumahnya.
“Terima kasih Nak.” Pria paruh baya itu tersenyum simpul kearah anak perempuannya yang lemah lembut ini.
“Bagaimana keadaan Bapak?” Zahra mengusap lengan Ayahnya “Apakah masih sakit?” Ayahnya penderita diabeters akut.
Sang Ayah menggeleng “Bapak baik-baik saja Nak.” Jawabnya. Pria paruh baya itu mengambil sesuatu disaku celananya “Nak pakailah ini untuk bayar uang praktekmu. Insyaallah, nanti Bapak bisa bekerja lagi untuk biaya hidup kita, uhuk uhuk uhuk.” Dia terbatuk-batuk
“Bapak.” Zahra menggengam tangan pria paruh baya itu “Ini untuk berobat Bapak saja. Ara mendapat beasiswa penuh, jadi uang prakteknya juga ditanggung kampus.” Ucap Zahra berbohong. Padahal beasiswa dari kampus hanya biaya semester saja, sedangkan biaya yang lain harus bayar sendiri.
“Jangan bohong Nak. Bapak tahu.” Senyum lembut pria paruh baya itu “Pakailah Nak untuk kebutuhanmu, nanti Allah akan berikan lagi rejeki untuk kita.” Dia meletakkan amplop berwarna coklat itu ditelapak tangan putrinya.
“Bapak.” Zahra memeluk Ayahnya.
Mereka hanya hidup berdua dirumah sederhana yang sudah menemani Zahra sejak kecil. Sedangkan sang Ayah bekerja sebagai kuli bangunan, namun sejak dirinya jatuh sakit dia lebih banyak absen sehingga tidak memiliki pemasukkan.
“Ara berjanji Bapak, Ara akan mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan kita. Bapak jangan kerja lagi biar Ara saja yang kerja.” Ucapnya memeluk erat pria paruh baya ini.
“Tidak perlu Nak. Bapak masih kuat.” Sambil mengusap kepala putri semata wayangnya itu.
Seorang Ayah bisa mengajari bagaimana caranya hidup, tapi seorang Ayah tak pernah mengajari bagaimana hidup tanpanya. Dan Zahra, adalah gadis yang takkan bisa hidup tanpa Ayahnya.
Bersambung.....
Hai guys Makasih buat yang selalu dukung cerita Mars dan Ayana...
Love kalian banyak-banyak.....
__ADS_1
Jangan lupa masukkin dirak favorit kalian biar selalu dapat notif terbaru jika author update....