Cinta Manis Sang Presdir

Cinta Manis Sang Presdir
Fitting baju penggantin


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Aris dan Anara sedang mempersiapkan pernikahan mereka berdua. Sebagai anak yang sama-sama tidak memiliki orangtua tentu semua mereka yang siapakan.


Aris ingin mempersunting Anara sebagai wanita pertama dan terakhir dalam hidupnya dan berjanji untuk membuat calon istrinya itu bahagia dunia akhirat.


"Ris ini bagaimana menurut mu?" Anara memegang dan menatap kagum baju penggantin yang melekat pada manekin didepan mereka.


"Coba saja Ra. Seperti nya ini bagus." Senyum Aris.


"Iya Ris, seperti nya memang harus aku coba."


Aris memanggil pelayan butik agar membantu calon istrinya mencoba gaun penggantin itu.


"Mau aku temani?" Goda Aris.


"Tidak perlu aku bisa sendiri." Ketus Anara mengikuti pelayan yang berjalan didepannya "Kau tunggu saja disana. Aku tidak lama."


Aris tertawa lebar dia suka menggoda Anara yang malu-malu kucing. Anara ini berbeda. Dia cuek dan tidak banyak berbicara. Lemah lembut sifatnya memang keibuan dan penyanyang.


Aris memang membutuhkan sosok seperti Anara. Apalagi dia juga sudah lama kehilangan figure orangtua terutama seorang Ibu. Jadi dia butuh Anara untuk menjadi Ibu, saudara dan istri yang mengayomi nya ke jalan yang lebih baik lagi.


Aris bersyukur hidupnya berwarna sejak kehadiran Anara. Gadis sederhana yang lemah lembut tak pernah menuntut dan bekerja keras.


"Ris......"


Aris mengangkat kepalanya dan melihat kearah calon istrinya.


Sontak pria itu berdiri dengan mulut terbuk saking kagumnya dengan kecantikan Anara. Gadis kampung memang cantik-cantik, Nandira dan Ayana contohnya.


"Cantik." Seru pria tersenyum.


Anara juga tersenyum. Baju gaun ini memang pas ditubuhnya. Seperti memang tercipta untuk nya.


"Kau sangat cantik sayang." Aris menghampiri Anara sambil menyelipkan anak rambut calon istrinya.


"Tentu saja cantik masa iya aku tampan." Anara tersenyum menggoda.


"Tidak usah dilepas saja bagaimana? Kita langsung ke pelaminan!" Celetuk Aris


"Jangan ngadi-ngadi." Anara mencubit pinggang Aris.


"Sayang." Aris menghindar. Entah kenapa wanita itu kalau gemes pasti suka memukul atau mencubit pinggang?


"Ehem, sekarang cepat ganti baju. Kita tidak punya banyak waktu." Suruh Anara pada kekasihnya itu.


"Iya-iya bawel." Seru Aris dengan gemes mengecup bibir calon istrinya itu.


"Aris....." Wajah Anara sudah merah seperti udang rebus. Apalagi pegawai butik itu menatapnya dengan senyum malu-malu.


Aris ngakak dan bergantian untuk ganti baju. Pria itu masuk kedalam ruangan ganti.

__ADS_1


Tidak hanya fitting baju tapi keduanya juga melakukan foto prewedding. Semua nya Aris dan Anara yang siapkan.


Aris ingin menyewa hotel tapi Nathan meminta agar Aris melaksanakan pernikahan di Mansion mewah milik Nathan. Meski menolak namun Aris akhirnya mengikuti mana bisa dia menolak permintaan Nathan.


"Lelah." Aris mengusap kepala Anara setelah mereka sudah sampai di Apartement Anara.


"Lumayan." Anara bersandar didada Aris.


"Ayana belum pulang?" Tebak Aris karena memang tidak melihat calon adik iparnya itu.


Anara menggeleng "Seperti nya belum! Sejak jadi sekretaris Tuan Mars dia jarang pulang cepat." Jawab Anara menari-narikan jarinya didada bidang Aris.


"Kau lapar tidak?" Dia mendongkrakkan kepalanya menatap wajah Aris.


"Aku lapar ingin memakan mu." Bisik Aris dengan suara *******.


"Aris...." Gadis itu dengan gemes mencubit pinggang calon suaminya.


"Sayang..." Aris tertawa lebar melihat wajah merah Anara.


"Ya sudah aku masak dulu." Ayana berdiri


"Aku bantu." Aris ikutan berdiri.


"Ya sudah ayo."


Keduanya menuju dapur untuk makan sore karena ini masih jam empat sore.


Aris sudah sering datang kesini dan membantu Anara masak. Untung saja Nathan memberinya ruang dan waktu untuk menghabiskan waktu dengan Anara meski setelah ini, dia akan dibuat repot oleh perintah Nathan yang bejibun dan segunung itu.


"Kau tampak bahagia Van?" Sindir Mars saat sang asisten masuk kedalam ruangan nya dan membawa beberapa berkas yang harus dibubuhkan tanda tangan.


"Hem begitulah Tuan. Anda kapan menyusul?" Ivan melipat bibirnya menahan tawa. Keseringan melihat Ranti menggoda Mars dia pun jadi hobby menggoda Tuan-nya itu.


Mars memutar bola matanya malas "Cihh, baru melepas status jomblo saja kau sudah sombong Van. Ingat aku ini calon Kakak iparmu, restuku penentu hubungan mu dan Ranti." Sahut Mars. Harga dirinya terinjak-injak gara-gara Ayana yang tak juga menjawab ungkapan perasaan nya.


"Maaf Tuan." Ivan langsung kikuk. Mars ini tidak bisa diajak bercanda.


"Ya sudah keluar sana!" Usir Mars kesal.


"Baik Tuan. Saya permisi." Ivan melengang pergi dari ruangan Mars sebelum pria itu nanti mengamuk lagi.


Mars memijit pelipisnya. Susah sekali menghadapi sifat bar-bar Ayana.


"Cih gadis sombong. Sok jual mahal. Padahal mau. Awas saja jika dia berani dekat-dekat Galvin akan langsung aku bawa ke pelaminan." Kesal Mars melajutkan pekerjaan nya.


Tok tok tok tok tok


"Masuk!" Sahutnya.


Ayana masuk dengan membawa beberapa berkas ditangannya. Bekerja dengan Mars membuatnya sport jantung setiap hari. Tak ubahnya pria itu sering marah-marah tidak jelas.

__ADS_1


"Permisi Tuan." Ayana memaksakan senyum. Dalam pekerjaan harus profesional bukan?


"Ada apa?" Ketus Mars.


"Aku merindukanmu." Sahut Ayana asal.


"Apa?" Mars menatap gadis itu. Ayana malah menutup mulutnya menahan tawa.


"Ini Tuan berkas yang harus anda tandatangani." Ayana meletakkan beberapa berkas dimeja Mars.


"Letakkan saja disitu." Suruh nya


Ayana mengelus dadanya lega. Setidaknya Mars tidak menahannya seperti biasa.


"Kalau begitu saya permisi Tuan." Gadis itu membungkuk hormat.


"Siapa yang menyuruhmu pergi?" Mars menatap gadis itu tajam.


Ayana berbalik sambil mengelus dadanya sabar. Orang sabar itu pasti kesal.


"Apa ada yang perlu saya bantu Tuan?" Ucap Ayana penuh penekanan.


"Duduk." Tintah Mars.


"Baik Tuan." Gadis itu menurut dan duduk dikursi depan meja Mars.


Mars kembali melanjutkan pekerjaannya dan membiarkan saja Ayana duduk dengan gelisah karena lama menunggu.


Ayana mengumpat dalam hati. Sumpah serapahnya tak terdengar oleh Mars karena dia hanya berteriak dalam hati.


"Tuan sampai kapan saya duduk seperti orang gila seperti ini?" Tanya Ayana mulai jenggah. Dia hanya duduk seperti orang bodoh.


"Sampai kau mau menjadi kekasih ku." Jawab Mars Santi sambil menandatangani berkas ditangannya.


"Baiklah Tuan saya akan menunggu disini." Sahut Ayana.


Lebih baik menunggu lama dari pada menjawab perasaan Boss nya itu karena Mars tidak menyukai penolakkan, jika dijawab harus iya dan tidak menerima jawaban penolakkan.


Bersambung.......


Makasih udah mau ikutin kisah Nathan dan Nandira. Semoga kalian sehat-sehat teruss ya.....


Jangan lupa kewajiban nya hehe


Vote, like dan komen dari kalian adalah penyemangat buat author lebih giat lagi update tiap hari....... Bunga untuk author jangan lupa ya... Hehhee..


Follow juga akun author ntar author follow back... Mksih semua.. LoveU banyak2


Mas Mars.......😘😘😘😳


__ADS_1


Neng Ayana... Gambarnya agak buram gaeees



__ADS_2