
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
"Mas ini baju nya". Meski Nandira buru-buru dia masih sempat melayani suaminya.
"Sayang, katanya buru-buru. Kenapa masih menyiapkan pakaian untukku? Tidak apa, biar aku sendiri saja". Ujar Nathan mengambil kemeja dari tangan istrinya.
"Kata Ayah sesibuk apapun pekerjaan jangan lupa melayani suami. Karena melayani suami adalah tugas seorang istri". Nathan tersenyum hangat mendengar ucapan istrinya.
"Pasang dasi Mas".
"Pasangkan". Pinta Nathan manja
Nandira tersimpul "Menunduk sedikit Mas. Leher mu panjang sekali". Nandira mengambil dasi suaminya
"Mas". Nathan mengangkat tubuh gadis itu dan mendudukkan nya diatas meja rias.
"Begini saja sayang. Bisa pegal leherku kalau menunduk". Ucapnya berasalan.
"Baiklah Mas". Nandira memasangkan dasi itu dileher suaminya.
"Seperti sudah biasa memasang dasi?".
"Iya Mas. Dulu waktu aku bekerja di hotel, aku sering memasangkan dasi Tuan David". Jawab Nandira jujur.
"Tuan David?". Gumam Nathan.
"Iya Mas. Pemilik hotel tempat aku bekerja kemarin". Sahut Nandira.
Wajah Nathan ditekuk kesal. Harusnya dia adalah orang pertama yang dipasangkan dasi nya kenapa malah orang lain.
"Apa Tuan David menyukaimu?". Terdengar nada tak suka sambil menatap istrinya yang serius memasang dasi dilehernya.
Nandira menggeleng "Tidak tahu Mas. Tuan David tidak pernah mengatakannya". Jawab Nandira dengan polosnya.
Nathan mencebik kesal. Istrinya ini benar-benar tidak tahu atau memang tidak mau mengatakan yang sebenarnya.
"Sudah rapih Mas. Aku mau turun". Nandira hendak turun.
"Jangan. Biar aku yang turunkan, takut kau terjatuh". Nathan mengangkat tubuh gadis itu dan mendirikan nya dengan pelan dilantai.
"Terima kasih Mas". Senyum Nandira manis sekali, semanis kecap Malika yang dirawat sepenuh hati.
"Sayang kau membuatku tak ingin bekerja". Nathan menarik gadis itu masuk kedalam pelukannya.
"Mas, sudah jangan peluk-peluk terus. Ayo berangkat". Bukan tak ingin dipeluk hari sudah siang nanti bisa terlambat ke kantor.
"Sayang, apa sebaiknya kau berhenti bekerja saja?". Nathan melepaskan pelukan istri kecilnya.
__ADS_1
Nandira menggeleng "Aku sudah dikontrak Mas. Nanti saja, kalau aku masuk kuliah baru berhenti bekerja". Sahut Nandira meraba tas suaminya.
"Biar aku yang bawa, kau tidak boleh lelah". Dengan cepat pria itu mengambil alih tas dari tangan istrinya.
"Iya Mas ayo".
"Peluk tanganku sayang. Aku takut kau terjatuh". Menujukkan lengannya agar Nandira memeluknya.
"Memangnya bisa aku terjatuh tanpa memeluk tanganmu Mas? Nanti juga saat aku dikantor Mas tidak ada, lalu aku harus peluk tangan siapa Mas?". Tanya gadis itu dengan polosnya sambil melingkarkan tangannya dilengan Nathan.
"Bukan begitu maksudnya sayang". Nathan bernafas berat "Sudahlah ayo". Ingin marah tapi sayang. Jangankan marah berwajah masam pada istrinya saja Nathan tidak bisa.
Awal nya Nathan pikir Nandira lah yang akan jatuh cinta duluan padanya. Sebab tak ada wanita yang bisa menolak pesona dirinya. Tidak hanya kaya tapi juga tampan dan berpengaruh. Memiliki segalanya. Namun kenapa justru dia yang lebih duluan jatuh cinta dan bahkan dia akan menjadi pengajar untuk istrinya tentang cinta.
"Pagi Tuan Muda. Pagi Nona Muda". Sapa Aris dan beberapa pelayan yang sudah berjejer rapih didepan meja makan.
"Pagi semua". Balas Nandira sumringah.
"Silahkan sarapan Tuan. Nona". Aris menarik dua kursi agar kedua orang itu duduk dengan nyaman.
"Mas Aris tidak sarapan?". Nandira mengolesi roti untuk suaminya.
"Saya sudah sarapan Nona". Jawab Aris.
Sebelumnya Nathan sudah memperingati Aris agar sarapan duluan dan jangan sarapan bersama dia dan Nandira. Nathan takkan rela jika Nandira mengambilkan makanan dan mengoles roti untuk Aris. Cukup dia saja jangan ada orang lain yang diperhatikan Nandira.
"Tapi bagaimana dengan Paman Sam, Mas. Dia tidak punya penumpang?". Celetuk Nandira sambil menyambut uluran tangan pria itu.
Nathan terkekeh "Tidak apa-apa. Paman Sam libur saja dulu hari ini". Sahut Nathan.
"Ayo Mas. Kata Ayah tidak boleh menolak permintaan suami". Seru Nandira menampilkan rentetan gigi putihnya.
Pasangan suami istri itu berjalan menuju pintu keluar.
"Silahkan masuk Tuan. Nona". Aris membuka pintu mobil.
"Masuk sayang". Tangan Nathan melindungi kepala gadis itu takut jika kepala Nandira tersandung kap mobil.
"Iya Mas". Nandira masuk.
Aris kembali membuka pintu mobil disebelah dan mempersilahkan Nathan masuk.
"Ris". Nathan menahan pintu mobil.
"Iya Tuan?". Aris membungkuk hormat
"Mulai sekarang jangan buka pintu lagi untuk istriku biar aku saja. Dan jangan menatap istri ku lama. Jaga matamu". Ancam Nathan ketus lalu masuk.
__ADS_1
Aris menelan salivanya susah payah. Beginilah kalau orang sudah bucin parah, pasti berakibat pada orang disekitarnya.
Aris masuk kedalam mobil dan menjalankan mobilnya.
"Pelan-pelan Ris. Istriku bisa tersandung nanti". Tegur Nathan kesal.
"Iya Tuan". Aris mengangguk sambil menelan ludah nya.
"Mas, kalau pelan-pelan kapan kita sampainya?". Ujar Nandira menatap suaminya.
"Tidak apa-apa lama sayang. Yang penting kau tidak apa-apa". Mengusap kepala gadis itu.
"Memangnya aku kenapa Mas? Kan aku tidak apa-apa". Jawab Nandira heran.
Nathan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Nandira ini susah sekali diajak romantis harus nya Nandira senang dan puji Nathan dengan ucapan terima kasih karena dia melarang Aris membawa mobil kencang-kencang takut Nandira tersandung dan ketakutan. Ini malah gadis itu bertanya heran.
"Tidak apa-apa sayang". Nathan menghembuskan nafasnya kasar.
Niat hati melarang Aris membawa mobil ke kencang-kencang agar waktunya bersama Nandira bisa lebih lama. Tapi ya begitulah susah dijelaskan.
Sampai digedung pencakar langit bertuliskan HPI Agro, mobil Aris terparkir.
Semua karyawan yang kebetulan baru berdatangan sontak menoleh kearah mobil mewah yang terparkir didepan lobby. Mobil yang harganya mencapai milyaran rupiah itu hanya mampu dibeli oleh pengusaha-pengusaha kaya serta artis papan atas.
Aris turun duluan membuka pintu untuk Nathan. Nathan keluar mengitari mobil dan membuka pintu untuk Nandira.
"Silahkan turun sayang". Nathan mengulurkan tangannya pada Nandira.
"Terima kasih Mas".
Mata para karyawan itu membulat saat melihat Nandira turun dari mobil. Apalagi Nathan langsung yang membuka pintu untuk gadis cantik itu.
"Sayang hati-hati kerjanya ya. Jam makan siang aku jemput kita makan siang bersama". Sambil mengecup kening gadis itu tanpa peduli dengan tatapan para karyawan Mars.
"Iya Mas. Mas juga semangat kerja nya". Nandira membalas ciuman Nathan dengan mencium punggung tangan pria tampan yang berstatus suami sah nya itu.
"Iya sayang. Masuk gihh. Aku tunggu sampai kau masuk. Aku takut kau kenapa-kenapa". Sambil mengusap kepala Nandira.
"Iya Mas. Aku masuk. Bye bye Mas". Sambil melambaikan tangan kearah Nathan dan masuk.
Nathan masih berdiri disamping mobil memastikan istrinya baik-baik saja. Dia tidak mau ada orang yang menyakiti istrinya. Apalagi Nandira masih begitu polos dengan mudah dimanfaatkan orang lain.
Nathan masuk kedalam mobil setelah tidak melihat istrinya lagi.
"Aris jalan". Wajah pria itu langusng ingin dan datar.
"Iya Tuan". Aris menjalankan mobilnya.
__ADS_1
Bersambung....