
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Ayana menghentak-hentakkan kakinya kesal. Gadis itu duduk dengan mulut komat-kamit seperti dukun baca mantra.
"Kenapa Tuan Aris cuek padaku. Aku yang mengajaknya makan kenapa Kak Nara yang diajak?".Gerutunya protes.
"Permisi Nona Ayana, anda diminta untuk melayani meja VVIP". Ujar salah satu waiters sambil memberikan buku menu pada Ayana.
"Kenapa harus aku?". Ketusnya masih kesal.
"Ini perintah Tuan Aris Nona". Sambil membungkuk hormat sebab dia tahu bahwa Ayana Kakak sepupu Nandira.
"Diajak makan malah ajak orang lain. Tapi kenapa harus menyuruhku?". Meski menggerutu gadis itu tetap melaksanakan perintah Aris.
Ayah menghampiri pelanggan dengan wajah ditekuk kesal sambil membawa pena dan buku kecil ditangannya.
"Waiters".
"Sabar". Ketus gadis itu.
"Kau pesan apa?". Tanya nya judes dan cuek.
Kening Ranti berkerut heran melihat gadis itu yang tampak kesal dan menggerutu.
"Anda baik-baik saja Nona?". Ranti memincingkan mata pada Ayana.
"Saya sedang ingin makan orang". Sahutnya asal "Anda mau pesan apa silahkan sebutkan karena saya sedang tidak ingin banyak bicara". Ucapnya.
Mars menatap gadis itu dari ujung kaki sampai ujung rambut sambil melipat kedua tangannya didada. Dia melirik wajah gadis itu yang tampak kesal dan mengomel seperti sedang marah.
"Makanan apa yang banyak diminati pelanggan?". Tanya Mars menatap gadis itu.
"Semua makanan disini mereka suka Tuan". Sahut Ayana asal. Akibat mengomel dia sampai lupa makanan yang sering diminati direstourant ini.
"Biar aku saja yang pesan Kak".
Ranti dengan senyum sumringah membuka buku menu dan memilih-milih makanan yang akan mereka pesan.
"Nona bisa tidak anda bicara itu pelan sedikit?". Tegur Ayana kesal.
"Kau itu yang tidak konsentrasi. Makanya dengarkan aku bicara". Sahut Ranti tak mau kalah.
"Pesan saja Ranti, jangan banyak bicara". Ucap Mars "Ivan kau pesan apa?".
"Sama kan saja Tuan". Sahut Ivan hanya manggut-manggut dari tadi dia menyaksikan perdebatan Ranti dan Ayana.
Anara berjalan kearah meja mereka saat mendengar adiknya seperti berdebat dengan pelanggan. Ayana kalau sudah tidak mood memang kadang-kadang suka marah tidak jelas.
"Permisi". Anara mendekat dengan senyum
"Ada yang bisa saya bantu?".
__ADS_1
"Kak". Ayana mendesah "Maafkan aku Kak". Gadis itu menunduk.
"Kerjakan Ayana. Jangan lupa fokus. Ingat kita masih baru". Tegur Anara tegas pada adiknya.
"Iya Kak". Gadis itu melenggang sambil membawa catatan pesanan Ranti.
"Maafkan atas ketidaksopanan adik saya Tuan". Anara membungkuk hormat.
Ranti menghela nafas kasar "Nona lain kali tegur adik anda itu, seperti nya dia sedang bermasalah dengan kekasihnya". Ujar Ranti masih kesal.
"Maaf Nona, saya pastikan adik saya tidak akan seperti itu lagi". Anara membungkuk hormat.
Mars melirik Anara. Dalam hati pria itu sedikit bertanya-tanya, apakah Anara dan Ayana kembar? Kenapa wajah mereka mirip sekali? Hanya saja yang membedakan adalah cara berbicara Ayana yang terkesan bar-bar.
"Ada lagi yang ingin kalian pesan Nona, Tuan?". Tanya Anara sopan. Seperti nya dia perlu mengurui adiknya agar bisa menahan emosi.
"Tidak ada". Jawab Ranti.
"Kalau begitu dimohon menunggu sebentar Tuan. Pelayan kami akan mengantarkan pesanan anda".
Anara meninggalkan meja Ranti, Ivan dan Mars. Gadis itu bernafas panjang. Ayana benar-benar harus ditegur. Gadis itu memang keras kepala dan suka marah-marah tidak jelas.
"Na". Anara menatap adiknya yang tengah membantu yang lainnya menata makanan.
"Kenapa?". Ketusnya.
"Ada apa denganmu? Kenapa bicara begitu dengan pelanggan? Ingat Na kita baru hari pertama bekerja disini jangan aneh-aneh dan buat ulah. Disini kota bukan kampung". Omel Anara tak habis pikir dengan sifat adiknya itu.
"Kau marah pada Kakak?". Menatap adiknya dengan penuh selidik "Apa karena Aris?". Sambung Anara lagi
"Panggilan saja sudah pakai nama. Seakrab itu Kak?". Sindir Ayana malas.
Anara terdiam. Ternyata benar, adiknya ini cemburu. Anara tak ingin banyak masalah. Sudah cukup dia jungkirbalik melupakan masa lalunya jangan sampai hanya karena hal sepele seperti ini dia dan adiknya menjadi renggang.
"Permisi Kak". Gadis itu melenggang sambil membawa nampan berisi ditangannya
"Permisi Nona". Tiga waiters mengikuti langkah kaki Ayana.
Anara menyingkir dan memberi ruang kepada para waiters itu. Terdengar helaan nafas panjang dari mulut gadis itu.
Ayana melangkah dengan wajah yang masih ditekuk kesal. Dia suka Aris, kenapa Aris malah mengajak Kakak nya makan siang. Kenapa tidak dia saja? Dan lagi saat bersamanya pria itu malah dingin dan cuek-cuek bebek, memangnya dia manusia es apa?
Brakkkkkkkkkkk
Tak sengaja Ayana menabrak sebuah benda. Akibat tidak konsentrasi dan marah-marah dia tidak melihat siapa yang ada didepannya.
"Nona". Ketiga waiters itu hanya tercenggang.
"Tuan". Ivan sontak berdiri.
"Kak Mars".
__ADS_1
Tiba-tiba waktu seolah berhenti. Ayana tepat berada diatas tubuh Mars dengan bibir keduanya saling bertemu tak sengaja. Sementara disamping mereka makanan yang dibawa Ayana berhamburan dilantai.
Deg
Deg
Deg
"Ada apa?". Anara menghampiri adiknya. Gadis itu menutup mulut ketika melihat Ayana dan Mars begitu intim.
Sejenak kedua manusia yang menjadi tontonan itu terdiam dalam kebisuan. Bibir keduanya seolah menempel dengan permanen.
Jantung Mars berdegup kencang, sudah lama sekali seperti nya jantung nya itu tak berirama apalagi baru saja dipatahkan oleh kenyataan bahwa Nandira gadis pujaan hatinya telah bersuami.
Ayana bangkit dengan pelan dari atas tubuh Mars. Gadis itu ingin sekali menenggelamkan kepalanya disungai dalam.
"Maaf Tuan". Dia menunduk, apalagi melihat jas Mars sudah dipenuhi noda makanan yang dia bawa.
Mars bangun dengan wajah ditekuk kesal.
"Kau tahu... Arghhh". Pria itu mengepalkan tangannya kuat.
"Anda baik-baik saja Tuan?". Ivan dan Ranti berhambur kearah Mars.
"Kak". Ranti menyingkirkan noda makanan itu di jas Mars dengan tissue.
Mars menatap Ayana tajam seolah ingin memasukkan gadis itu kedalam perutnya. Kesal. Geram. Dan malu.
"Maaf Tuan saya sedang galau jadi tidak konsentrasi. Maaf_".
"Cukup!!! Aku bosan mendengar kata maafmu itu". Sentak Mars "Ivan pulang". Pria itu melenggang pergi meninggalkan kerumunan yang menonton mereka.
"Tuan maafkan saya. Saya tidak sengaja". Ucap Ayana pada Ivan.
"Maaf Nona. Saya permisi". Ivan malah menyusul Mars. Pasti Mars akan mengamuk lagi setelah ini.
"Nona". Ayana menatap Ranti dengan ucapan maaf.
"Sudahlah Nona. Jangan dipikiran. Ayo bawa makanannya kesini". Bukannya marah Ranti malah mengajak ketiga waiters itu membawa makanan pesanannya di atas meja.
Ayana hanya diam melihat dengan kasihan lobster yang berhamburan dilantai. Makanan mahal itu terbuang begitu saja. Kalau orang miskin seperti nya mungkin gaji satu bulan baru bisa makan makanan seperti itu.
"Nona mari temani aku makan. Aku sangat lapar". Ranti menarik tangan Ayana agar duduk.
"Tapi_".
"Jangan menolak. Aku tidak suka makan sendirian. Mereka kabur gara-gara dirimu. Jadi kau harus bertanggungjawab menemaniku". Ujar Ranti.
"Maaf Nona". Ayana menunduk. Dia melirik Anara yang berdiri tidak jauh dari meja mereka
"Kakak pasti marah besar. Maafkan aku Kak". Batin gadis itu menyesal karena kesal pada Kakak nya.
__ADS_1
Bersambung...