
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
"Kak Ivan." Seru Ranti sudah menyetorkan wajah ceria didepan Ivan.
Pria itu mengangkat kepalanya lalu kembali fokus pada berkas ditangannya.
"Kak Ivan." Ranti tersenyum kesem-kesem
"Ada apa?" Tanya Ivan dingin.
"Ehem, menurut Kakak bagaimana den_."
"Ranti." Mars keluar dari ruangan nya "Ivan, ayo makan siang." Ajak Mars menghampiri meja asistennya itu.
"Baik Tuan." Ivan membereskan meja berkas-berkas ditangannya.
"Cieee ciee, semangat sekali Kak. Mau makan di N2 Food ya?" Goda Ranti.
Mars hanya memutar bola matanya malas lalu melengang duluan.
"Kak." Rantai bergelayut manja dilengan Mars
"Ada apa?" Tanya Mars ketus.
"Ehem, bagaimana dengan gadis kampung itu Kak? Apakah dia mau menjadi sekretaris Kakak?" Ranti menutup mulut menahan tawa sambil memeluk lengan kekar Mars. Dia paling suka bermanja-manja dengan Kakak nya yang super duper judes itu.
"Jangan bahas dia." Judes Mars
Sedangkan Ivan berjalan dengan tatapan kosong. Mengingat kedekatan Ranti dan Galvin membuat nya malas dan juga kesal. Kenapa dia kesal? Karena dia cemburu.
Ketiga nya masuk kedalam mobil. Sejak restourant Nathan dan Nandira menjadi salah satu restourant favorite membuat Mars ingin selalu makan siang disana tentu saja karena ada seseorang yang selalu membuatnya kesal tapi nyaman.
Ivan masih selalu diam dan mendengarkan Ranti dan Mars yang masih berdebat. Apalagi Ranti masih berbicara sambil tertawa lebar padahal tidak lucu, dia tertawa sendiri seperti orang gila.
"Kak." Ranti bersandar di lengan Mars "Menurut Kakak, Kak Galvin itu bagaimana?" Sambil menatap Mars.
"Apanya yang bagaimana?" Tanya Mars tak suka. Dia memang tidak terlalu akrab dengan pria yang dijodohkan dengan Ranti itu.
"Apakah menurut Kakak dia tampan dan baik?" Ranti tersenyum ketika membayangkan wajah Galvin.
B
"Biasa saja." Ketus Mars.
Ranti mencebik kesal "Kakak aku itu butuh pendapat bukan ketusan dari Kakak." Gerutu Ranti.
"Kan Kakak sudah berikan pendapat bahwa dia biasa saja." Ujar Mars.
__ADS_1
"Ck, biasa dari mana sih Kak? Dia itu tampan dan bikin klepek-klepek." Sambil menutup wajahnya malu.
Mars malah menatap Ivan yang terdiam sambil menyetir. Mars bisa lihat jika Ivan begitu kuat mencengkram stir mobilnya.
"Kau menyukainya?" Mars menatap adiknya serius.
Ranti mengangguk dengan antusias "Iya Kak. Lagian dia dijodohkan kok sama aku." Seru Ranti semangat "Lumayan ubah keturunan." Celetuknya sambil cekikikan pelan.
"Kenapa rasanya sakit sekali?" Ivan begitu kuat mencengkram stir mobil.
Drt drt drt drt drt
Ponsel Ranti berdering dengan cepat gadis itu menggeser tombol hijau disana.
"Hallo Kak Galvin." Sapanya semangat
Mars melirik adiknya. Dalam hati mencibir pria bernama Galvin itu. Mungkin Ranti lebih cocok dengan Ivan dari pada Galvin.
"Iya Kak, boleh. Di N2 Food. Restourant baru itu lho Kak." Jelasnya dengan semangat dan senyum menggembang.
"Baik Kak. Aku tunggu." Ranti mematikan ponselnya.
"Siapa?" Mars melirik adiknya
"Kak Galvin ingin makan siang dengan kita Kak." Sahut Ranti sambil mengotak-atik ponselnya tanpa melihat Mars.
Mobil Ivan terparkir didepan restourant yang bertulisankan N2 Food.
Ranti turun dengan sumringah bahkan Mars dan Ivan saja belum turun.
"Kak Galvin."
"Ranti."
Ranti berhambur kearah Galvin. Galvin memang pria penyayang, sifatnya juga lembur dan ramah. Jika dibandingkan dengan Ivan memang jauh berbeda. Ivan terlalu dingin dan kaku.
"Hai Kak Mars. Kak Ivan." Sapanya ramah. Usia pria itu tidak jauh beda dengan Ranti. Hanya beda beberapa tahun saja dia baru menyelesaikan spesialis jantung lalu kembali ke Indonesia.
Mars merespon dengan anggukan. Sementara Ivan hanya diam dan menatap Ranti yang berdiri disebelah Galvin sambil menatap pria itu dengan damba.
Mereka masuk kedalam restoraurant. Tampak Ranti dan Galvin berjalan dibelakang sedangkan Mars dan Ivan berada didepan.
"Sadar Van. Sadar. Kau memang tidak pantas dengan Ranti. Salah sendiri yang terbawa perasaan. Padahal dia hanya bercanda kenapa kau malah serius." Batin Ivan mengepalkan tangannya
"Ehem, dimana gadis aneh itu ya? Tumben dia tidak ada?" Diam-diam Mars mencari Ayana dengan ekor matanya melirik kesana-kemari takut ada yang lihat kalau dia sedang mencari gadis menyebalkan itu.
Mereka duduk dimeja VVIP, sebelum nya Ivan memang sudah menyewa meja ini. Karena Mars tidak suka makan diganggu. Pria itu selalu makan dalam diam.
__ADS_1
"Ran, Kakak ke toilet sebentar ya." Galvin menggulung ujung kemejanya.
"Iya Kak. Hati-hati." Ranti kesem-kesem. Ahh pria ini benar-benar tampan diluar batas negara.
Galvin berjalan kearah toilet. Dia ingin merapikan pakaian nya yang setengah berantakkan karena pria ini seorang dokter dan paling menjaga yang namanya kebersihan.
Brakkkkkkkkkkk
"Awwwwwww."
"Maaf-maaf apa kau tidak apa-apa?" Galvin berjongkok melihat gadis yang terjatuh dilantai akibat menabraknya.
"Tidak apa-apa bagaimana? Bagaimana kalau aku terluka? Memangnya kau mau membawaku ke dokter?" Gerutu gadis itu
"Ayo pegang tanganku." Galvin mengulurkan tangannya dan dia belum melihat wajah gadis yang mengomel akibat ditabrak oleh dirinya itu.
"Tidak perlu." Ketus nya berdiri lututnya sedikit luka.
"Maa_."
Galvin langsung terdiam menatap wajah cantik gadis yang berdiri didepannya ini. Gadis ini sedang mengomel dan marah-marah tapi kenapa justru terlihat begitu menarik dan imut.
"Maa apa?" Dia menatap pria itu malah.
"Maaf biar aku obati saja bagaimana?" Tawarnya tapi matanya menatap lekat gadis ini. Kenapa jantungnya berdebar kuat?
"Tidak perlu, aku bisa sendiri." Tolaknya "Awwww." Dia merintih saat melangkahkan kakinya, kakinya memang sedikit tergores.
"Kau baik-baik saja." Galvin langsung menangkap tubuh gadis itu saat hendak terjatuh.
"Aku baik-baik saja. Jangan pegang-pegang." Ketusnya menepis tangan Galvin agar menjauh darinya.
Dia melangkah dengan menyeret kakinya sambil langkahnya yang tertatih. Dalam hati dia sudah mengumpat dengan kasar pria itu. Hari ini dia kesal semakin kesal bertemu pria itu.
"Kenapa semua pria didunia ini menyebalkan? Tuan Planet dan si pria sok perhatian itu. Apakah laki-laki diciptakan hanya untuk membuatku kesal?" Gerutunya.
Sedangkan Galvin menatap punggung gadis itu. Dia melipat kedua tangannya didada sambil tersenyum tipis sangat tipis tapi jika ada seorang wanita yang melihatnya pasti salah tingkah.
"Dia benar-benar menggemaskan dan lucu. Seperti nya dia gadis yang unik? Siapa namanya ya?" Gumamnya.
Galvin kembali melangkah masuk kedalam toilet untuk merapikan pakaiannya. Entah kenapa bayangan gadis yang dia tabrak tadi. Sesekali pria itu tersenyum ketika mengingat gadis itu mengomel bak rel kereta api.
"Dia cantik dan sederhana. Kenapa bayangan'nya tak bisa lepas dari pandangan ku." Dia geleng-geleng kepala smahil tersenyum gemes.
**Bersambung.....
Hai guysssssssssss
__ADS_1
Maaf kemarin tidak update karena kesibukan yang luar biasa banyak**.....