
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Mars masuk kedalam restaurant tempat dia berjanji dengan seseorang untuk makan siang bersama. Sudah lama tidak bertemu ada banyak hal yang ingin dia ceritakan pada sahabatnya itu.
“Hei, Wulan.”
“Mars.”
Wanita cantik itu langsung menyambut Mars dan cepika-cepiki karena sudah lama tidak berjumpa.
“Kapan kau datang ke Indonesia?” Mars membalas pelukkan wanita cantik itu.
“Kemarin.” Wanita itu kembali duduk “Apa kabarmu? Kau makin tampan saja!” Godanya sambil terkekeh pelan.
“Ya seperti yang kau lihat.” Jawab Mars juga tersenyum sambil memasukkan ponsel kedalam saku celananya.
“Kau ingin makan apa Mars?” Wulan membolak-balik buku menu ditangannya.
“Aku pesan jus orange saja.” Jawab Mars
“Kau tidak pesan makan?” Tanya Wulan mengangkat pandangannya.
“Tidak. Aku makan dikantor saja. Tadi aku bawa bekal.” Sahutnya
Kening Wulan berkerut heran “Sejak kapan Presdir sepertimu membawa bekal dikantor?” Wulan terkekeh sambil tersenyum menggoda pria itu.
Mars tak menjawab dia hanya tersenyum simpul. Dalam hati berharap, semoga Ayana belum makan dan masih menunggunya untuk makan siang bersama. Dia menyesal tadi karena telah meminta gadis itu makan duluan.
“Baiklah. Sepertinya ada sesuatu yang baru?” Celetuk Wulan menutup buku menunya.
Mars lagi-lagi tak menjawab dia hanya menampilkan senyuman manisnya. Hingga tatapannya tak sengaja melihat Ayana dan Galvin yang terlihat mesra sambil mengobrol hangat dan jangan lupa mereka makan dengan lahap.
Tanpa sadar tangan Mars terkepa sangat kuat. Baru saja dia memberi Ayana kebebasan untuk tidak makan siang dengannya dan gadis itu sudah berani-beraninya mendekati laki-laki lain.
“Kau kenapa?” Tanya Wulan mengikuti tatapan mata Mars “Bukannya itu pria yang pernah dijodohkan dengan Ranti?” Sambung Wulan yang ikut melihat kearah Ayana dan Mars.
Mars tak menjawab dia malah berdiri dari duduknya dan berjalan kearah Ayana dan Galvin yang tengah asyik mengobrol itu.
__ADS_1
“Hem.”
Kedua orang itu langsung menoleh kearah Mars yang sudah berdiri disamping Ayana sambil menatap gadis itu tajam.
“Ada apa Tuan?” Kening Ayana berkerut heran.
“Mana bekal makan siangku?” Mars menengadahkan tangannya.
“Lho, tadi Tuan bilang ingin makan dengan teman Tuan?” Ucap Ayana heran.
Sedangkan Galvin makan saja tanpa memperdulikan kedatangan Mars. Mood nya selalu buruk jika bertemu Mars. Apalagi melihat Mars yang selalu posessif dengan Ayana.
Mars melihat kearah Galvin yang tampak lahap makan bekal makan siangnya. Pria semakin mengepalkan tangannya kuat. Rahangnya mengeras. Dia tidak suka ada orang yang makan masakkan Ayana selain dirinya.
“Tuan Galvin apa anda tahu, bekal yang anda makan itu adalah millik saya?” Ucap Mars datar dan dingin. Ingin sekali dia mengajak Galvin baku hantam.
“Tuan.” Ayana langsung berdiri. Jangan sampai Mars berulah.
Galvin mengangkat kepalanya dia meletakkan sendok makannya begitu saja dan membalas tatapan Mars yang begitu tajam padanya.
“Ini dari Ayana untuk saya. Ini bukan milik anda.” Sahut Galvin dengan senyuman mengejeknya.
“Dan ini sudah menjadi milik saya.” Sahut Galvin tak mau kalah. Ayana sudah memberikan makanan itu padanya dan tentu akan menjadi miliknya.
“Stop. Stop.” Sergah Ayana “Kalian ini kenapa sih?” Gadis itu geleng-geleng kepala “Tuan, tadi kau bilang ingin makan siang dengan temanmu, kenapa sekarang kau malah meminta bekalmu?” Ucap Ayana kesal
“Itu tadi. Tapi sekarang aku ingin makan bekalku.” Sahut Mars tak kalah kesal
Wulan yang penasaran menghampiri ketiga orang itu. Dia bingung dengan sikap Mars ini. Biasanya dia tidak peduli pada siapapun.
“Mars ada apa ini?” Tanya wanita itu penasaran.
Mars, Ayana dan Galvin menoleh kearah Wulan. Wanita cantik dengan sejuta pesona. Body nya bak gitar spanyol.
Ayana melirik wanita itu dari ujung kaki sampai ujung rambut. Dilihat dari sisi mana pun, wanita itu jauh lebih cantik dari dirinya yang hanya regginang kerupuk ditepi toples. Ayana kikuk, kini dia sadar dia memang tidak pantas berdiri disamping Mars. Kasta mereka berbeda, Ayana hanya gadis kampong yang mendapat keuntungan bisa hidup dikota besar seperti Jakarta. Dia yatim piatu yang sudah tak memiliki orang tua kandung dan dia gadis miskin yang bermimpi dipersunting oleh lelaki kaya seperti Mars.
“Mars, ayo makan pesananmu sudah datang.” Wulan menarik tangan Mars kembali ke meja mereka.
__ADS_1
Ayana terduduk dengan wajah lemesnya. Harusnya dia senang karena artinya Mars tidak akan ketergantungan padanya. Tapi kenapa dia merasa ada yang hilang dari sebagain hatinya.
“Kau baik-baik saja?” Tanya Galvin menatap Ayana tersenyum “Ayo lanjut makan. Masakkan mu enak.” Sambungnya
“Iya Mas.”
Ayana kembali menyantap makanannya dan nafsu makan nya seketika menghilang ketika selesai bertengkar dengan Mars
Mars dan Ayana saling memandang dari jauh. Tatapan mereka berdua sulit dijelaskan. Galvin terus mengajak Ayana berbicara begitu juga dengan Wulan yang selalu membuka obrolan saat Mars diam saja.
“Mars sebenarnya dia siapa?” Tanya Wulan setengah berbisik sambil melihat kearah Ayana yang berbincang dengan Galvin
Mars hanya menggeleng. Lagi-lagi Wulan terheran, tak biasanya Mars diam seperti ini. Tadi saja ketika mereka baru bertemu pria itu tampak senang dan tidak kusut seperti ini.
Galvin menatap Ayana dengan cinta, apalagi gadis itu makan dengan lahap sambil mengomel tidak jelas seperti dukun yang tengah membaca mantranya.
“Pelan-pelan Na.” Galvin membersihkan sudut bibir Ayana yang tampak menempel makanan .
“Terima kasih Mas, aku bisa sendiri.” Ayana mengambil alih tissue ditangan Galvin. Entah kenapa dia selalu risih jika disentuh oleh pria. Tapi saat Mars menyentuh, memeluk dan menciumnya gadis itu malah merasakan hatinya berdebar tak karuan.
Galvin hanya tersenyum simpul sambil menatap Ayana yang makan. Dia takkan menyia-nyiakan kesempatan untuk mendekati Ayana. Dia akan menjadikan gadis ini sebagai miliknya. Bagi Galvin hanya Ayana yang membuatnya tertarik. Gadis tomboy yang berbicara ceplas-ceplos serta jago bela diri.
“Ohh ya weekend kemana?” Tanya Mars.
Ayana tampak berpikir “Tidak kemana-mana Mas. Paling di apartement saja.” Sahut Ayana “Kenapa Mas?”
“Bagaimana kalau kita nonton saja. Kebetulan aku punya dua tiket. Film favoriteku akan tayang.” Jelas Mars.
Ayana tampak berpikir. Sebenarnya dia ingin menolak tapi tak enak hati. Dia sekilas melirik kearah Mars yang juga tampak melihat nya.
“Boleh Mas.” Senyumnya
Galvin bersorak gembira. Satu langkah sudah maju. Perlahan dia akan bisa masuk kedalam hidup gadis itu dan menjadikan Ayana miliknya seutuhnya.
“Baik nanti aku jemput.” Ujar Galvin menahan senyum senang di pipinya.
“Iya Mas.”
__ADS_1
Setelah selesai makan siang, Ayana dan Galvin segera meninggalkan restaurant. Begitu juga dengan Mars yang tidak mau lama-lama. Dia takut Ayana satu mobil dengan Galvin, padahal Ayana juga membawa mobil.
Bersambung......