
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
"Sayang." Mars mengenggam tangan Ayana.
"Mas." Ayana menatap kekasihnya itu "Bagaimana ini Mas, aku tidak mau menikah dengan Mas Aris Mas. Aku mencintai mu?" Mata gadis itu berkaca-kaca. Dia benar-benar tidak bisa menikahi pria lain.
Mars mencoba tersenyum kuat. Jangan kan Ayana. Dia juga tidak bisa. Tapi adakah pilihan lain? Mars takut jika pernikahan ini nanti justru membuat Aris jatuh cinta pada Ayana.
"Tenanglah semua. Akan baik-baik saja." Tangan Mars mengusap kepala kekasihnya itu.
"Tidurlah. Kau lelah. Nanti aku akan bangunkan jika sudah sampai ke Apartement." Ucapnya
"Iya Mas."
Ayana menyenderkan kepala nya dilengan kekar Mars. Hari ini dia cukup merasa lelah. Ke pemakaman tadi cukup menguras emosi. Setelah itu dia bahkan harus diminta menikah dengan Kakak iparnya sendiri.
Mars menatap wajah Ayana yang tidur. Sudut bibir nya tertarik saat Ayana memangilnya Mas, dia senang bukan main. Panggilan sederhana yang begitu manis didengar telinga nya.
"Kau tetap milikku Sayang. Jangan takut. Kita takkan terpisah. Kita akan selalu bersama. Aku akan menikahimu. Kita akan bahagia selamanya." Lirih Mars dengan suara parau nya.
Pria itu kembali fokus menyetir. Perbincangan dan perdebatan nya dengan Aris tadi, sungguh membuat emosinya membuncah. Bagaimana bisa dia merelakan kekasihnya menikah dengan pria lain? Apa yang harus lakukan?
Mengingat permintaan dan permohonan Aris membuat Mars kembali dilema. Pria itu menghela nafas panjang dan berat.
Sampai di Apartement Ayana. Mars turun dan mengitari mobil, dia membuka pintu mobil dan mengeluarkan kekasihnya dari dalam sana.
Mars menggendong gadis itu masuk kedalam Apartement. Tatapan Mars terlihat dingin. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan untuk menolak permintaan Aris agar tidak menikahi kekasihnya itu.
Mars meletakkan Ayana dengan pelan diatas kasur. Dia menyelimuti gadis pemilik hatinya itu.
Mars menatap lama wajah Ayana. Gadis bar-bar. Gadis keras kepala. Teman nya berdebat setiap hari dan gadis yang begitu dia cintai. Semoga takdir berpihak padanya untuk segera mempersunting Ayana. Tapi bagaimana dengan Aris.
Mars membuka jas nya. Dia naik keatas ranjang. Dia menyimak selimut Ayana lalu menarik gadis itu kedalam pelukannya. Memeluk Ayana dengan erat dan seerat-seeratnya.
__ADS_1
"Tuhan bolehkah ku tolak takdir? Kumohon jangan pisahkan aku dengan Ayana. Apapun alasannya. Aku tidak sanggup tanpanya. Dia jantung hatiku."
Mars mengecup kening Ayana lama sekali. Tampaknya kekasihnya ini kelelahan hari ini. Terlalu banyak emosi yang Ayana keluarkan. Terlalu banyak pikiran yang tak seharusnya dia pikirkan.
Mars ikut terlelap dengan memeluk Ayana. Dia selalu tenang bila tidur memeluk wanita nya ini. Mars tak sabar untuk menjadikan Ayana sebagai milik nya. Tapi bagaimana dengan Aris?
.
.
.
.
"Ada Tuan Mars, tumben kau datang kesini?" Tanya Nathan sambil ikut duduk. Tak biasanya Mars datang ke Mansion mewahnya.
"Ada yang ingin aku bicarakan padamu Tuan." Mars menghela nafas panjang.
"Katakanlah." Sahut Nathan
"Ini masalah Tuan Aris." Jawab Mars.
"Ada apa dengan Aris?" Kening Nathan berkerut heran "Apa Aris membuat masalah?" Sambung Nathan lagi.
"Tentang permintaan terakhir Anara." Ujar Mars "Anara meminta Ayana menikah dengan Tuan Aris."
"Apa?" Pekik Nathan terkejut "Meminta Ayana menikah dengan Aris? Bagaimana ceritanya?" Tanya Nathan tak mengerti. Ini seperti cerita film saja.
"Iya Tuan. Anara ingin Ayana merawat anaknya bersama Tuan Aris." Jawab Mars berat "Aku ingin meminta pendapat mu apa yang harus aku lakukan? Aku tidak bisa melepaskan Ayana, aku mencintainya. Aku tidak rela dia menikah dengan pria lain. Aku, aku ingin menikahi nya." Sambung Mars sendu.
Nathan tampak berpikir. Jika berada diposisi Mars juga dia tidak akan rela jika istrinya menikah dengan pria lain. Takkan rela, siapa yang rela?
"Apakah permintaan itu harus dikabulkan? Ini permintaan orang yang berada diujung kematian. Tidak seharusnya permintaan ini dikabulkan." Ujar Nathan.
__ADS_1
"Aku tidak tahu. Tapi Tuan Aris sangat ingin mengabulkan permintaan istrinya. Aku tidak bisa menolak. Sedangkan Ayana juga tidak bisa. Lalu apa yang harus aku lakukan?" Mars memejamkan matanya sejenak berusaha menahan gejolak dalam dadanya.
"Tuan Aris bilang, Ayana akan menjadi istrinya namun tetap menjadi milikku. Aku tidak bisa Tuan, Ayana bukan barang yang bisa dipindah tangankan begitu saja. Hatinya akan hancur jika berada diposisi yang sulit." Sambung Mars.
Nathan mengangguk paham "Kalau begitu putuskan bersama Ayana dan Aris. Kalian cari jalan keluar nya. Tapi jika aku berada diposisi mu. Aku akan menolak dengan sangat. Aku tidak peduli itu permintaan terakhir. Milikku tidak boleh disentuh orang lain. Cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu. Saat Aris dan Ayana menikah, mustahil bila Aris tidak memiliki rasa pada Ayana. Apalagi Ayana adalah duplikat wajah dari almarhum istrinya."
"Pikirkan baik-baik Tuan. Jangan mengambil keputusan dengan tergesa-gesa. Seperti katamu tadi, Ayana bukan barang yang bisa di oper sana sini. Jangan sampai kau menyesal ketika Ayana nanti malah mencintai Aris dari pada mencintaimu."
"Pertahankan milik mu. Aku tidak melarangmu mengabulkan permintaan Antara tapi ketahuilah sekali saja kau lepas apa yang sudah kau genggam. Kau akan sulit untuk mengenggam nya kembali. Dia takkan kembali dengan utuh kepadamu."
"Tapi jika kau sungguh ingin Ayana mengabulkan permintaan terakhir Antara, maka jalan satu-satunya adalah lepaskan Anara untuk Aris."
Deg
"Karena ketika mereka sudah menikah. Mereka adalah pasangan suami istri. Tidak ada istilah wanita memiliki pacar ketika sudah menikah kecuali perselingkuhan."
"Jangan mengorbankan perasaan mu demi orang lain. Baik itu boleh tapi terlalu baik jangan. Pikirkan resiko apa yang harus dipertanggungjawabkan."
"Aku paham perasaan Aris yang ingin mengabulkan permintaan terakhir istrinya, tapi dia harus tahu kondisi dan keadaan. Kecuali, Ayana belum memiliki kekasih dan Ayana dengan sukarela menerima Aris sebagai suaminya. Ini keadaan nya berbeda, ada hati yang akan terluka jika hal itu sampai terjadi."
Mars masuk kedalam mobilnya dengan tatapan kosong dan hampa. Perkataan Nathan tadi masih terngiang-ngiang dikepalanya.
Melepaskan Ayana? Sampai kapan pun dia takkan rela. Takkan rela. Bagaimana bisa dia melepaskan gadis yang sudah menjadi bagian dari jiwanya itu? Lalu bagaimana dengan permintaan terakhir Anara? Apakah permintaan itu hanya akan menjadi permintaan tanpa ada nya realisasi?
"Arggghhhhh."
Mars memukul stir mobilnya frustasi. Beberapa hari ini dia terus memikirkan masalah yang belum menemukan jalan nya ini.
"Ayana, kau itu milikku. Bagaimana bisa aku membiarkan Aris menikahimu? Aku takkan sanggup. Takkan pernah sanggup." Gumam Mars frustasi wajahnya sudah kusut dan berantakan.
Mars melakukan mobilnya. Didalam mobil, pria itu menangis. Ini lebih sakit dari patah hati. Lebih sakit dari pada dikhianati. Jalan mana yang harus dia pilih. Siapa yang harus dia pilih? Melepaskan Ayana dan mengabulkan permintaan Anara atau menolak dengan tegas permintaan Aris?
Dia seperti berada dijalan buntu yang tak memiliki jalan lain. Tidak bisa menyimpang agar menemukan jalan yang lebih mudah. Hatinya yang akan menjadi korban.
__ADS_1
Bersambung.......