Cinta Manis Sang Presdir

Cinta Manis Sang Presdir
Bab 6. Mars & Ayana


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹 🌹🌹🌹🌹


Setelah lengkap dengan pakaian kantornya, Ayana langsung keluar dari kamar. Dia memang bukan wanita ribet yang harus ini dan itu. Maklum gadis tomboy.


"Ayo Tuan saya sudah siap." Mars mengangguk.


Keduanya keluar dari Apartement. Mars terus menatap Ayana dengan senyuman. Mengingat dirinya yang tidur satu ranjang dengan gadis itu membuat jantungnya kembali berdetak. Dia benar-benar tak bisa lepas dari pesona gadis kampung yang satu ini. Ayana selalu membuat jantungnya berdebar-debar.


"Kenapa?" Kening Ayana berkerut ketika Mars terus menatapnya. Bukan salah tingkah dia hanya risih.


"Hem, tidak." Mars berdehem sambil memperbaiki dasinya.


Tangannya dengan nakal melingkar dipinggang gadis itu saat dilift. Dia senyum sendiri seperti orang gila.


"Tuan, bisa tidak jangan pegang-pegang sembarangan?" Ayana menatap Mars tajam


"Tidak bisa." Sahut pria itu santai.


"Lepaskan aku." Ayana berusaha menyingkirkan tangan Mars yang melingkar di pinggangnya.


"Diam! Atau kau mau aku cium lagi?" Ancamnya.


Sontak gadis itu terdiam. Dia memalingkan wajahnya gugup. Ciuman mereka tadi pagi saja membekas. Pikiran Ayana sudah berkelana kemana-mana membayangkan membelai roti-roti sobek milik Mars.


'Ck, ini akibat aku bergaul dengan orang mesum aku jadi mesum juga.' Batin Ayana menggeleng.


"Hem, apakah kau membayangkan mendesah dibawah ku?" Bisik Mars setengah menggoda.


Bughhhhhhhhhh


"Arghhhh." Rintih Mars saat Ayana menyiku pinggang nya.


"K-kau kejam sekali." Sambil memegang perutnya.


"Makanya jangan macam-macam." Tatap Ayana tajam "Sini biar aku elus." Kasihan juga melihat Boss nya yang kesakitan"Apakah sakit?" Ayana merasa bersalah. Dia tidak bermaksud menyiku perut Mars dia hanya refleks dan terkejut.


"Sakit." Rintih Mars manja. Kapan lagi coba diperhatikan oleh sekretaris cantik seperti Ayana.


"Dimana yang sakit? Maafkan aku ya." Sambil mengelus bagian perut Mars yang sakit.


Mars menikmati usapan lembut tangan Ayana diperutnya. Dia tersenyum geli dan lucu merasa berhasil mengerjai gadis itu.


"Sudah, kan?" Ayana secepatnya menjauhkan tangannya dari perut saat dia melihat senyuman tidak jelas diwajah pria itu. Senyum mesum.

__ADS_1


Mobil Ayana terparkir dilobby perusahaan. Seperti biasa, dia akan turun duluan dan membuka pintu sang Tuan Pemaksa itu.


"Ulurkan tanganmu untuk menyambutku!" Suruh Mars.


Ayana mencebik kesal. Namun tetap menuruti perintah lelaki itu. Sudah biasa. Kalau tidak dituruti Mars bisa mengancam nya nanti.


"Selamat pagi Tuan."


"Selamat pagi Nona." Sambut para karyawan.


Mereka sudah tak heran melihat keakraban Mars dan Ayana, sudah biasa kedua orang itu menempel seperti prangko. Kemana-mana selalu bersama.


Ayana duduk dimeja kerjanya. Dia menghela nafas panjang sambil menyiapkan tenaga untuk memulai pekerjaan nya.


"Pagi Neng Ayana." Sapa Ferry datang-datang langsung menyelonong dengan membawa berkas ditangannya.


"Pagi." Ketus Ayana sambil menghidupkan komputer nya.


"Cegah pagi ini Neng?" Ferry tersenyum menggoda "Dapat bonus dari Boss ya?" Celetuknya.


Ayana menatap Ferry jenggah. Tidak heran setiap hari dia selalu digoda oleh para karyawan karena terlalu dekat dengan Mars, menempel seperti prangko. Semua bukan keinginan Ayana, tapi pekerjaan yang mengharuskan dia dan Mars harus bersama hampir dua puluh empat jam.


"Mau apa?" Dia memincingkan matanya


Ayana mengusap kasar dagunya yang dicolek Ferry. Kenapa laki-laki selalu suka menggodanya padahal dia tidak tergoda sama sekali?


"Ini Neng, ada proyek 10 M, pembangunan hotel baru di Palembang. Tolong berikan pada Boss kalau bisa diloloskan hari ini. Soalnya aku akan buat proposal produk yang akan digunakan." Ferry menunjukkan berkas ditangannya


"Besar sekali 10 M?" Ayana mengambil berkas dari tangan Ferry


"Ya ini kan sekalian dengan pariwisata disekitar nya. Jadi dirangkup jadi satu saja. Karena proyek ini akan dikerjakan secara bersamaan." Jelas Ferry.


"Hem." Ayana tampak membolak-balikkan berkas ditangannya "Oke nanti aku hubungi kalau sudah d acc."Ayana menutup berkas itu


"Kamsiah Neng Ayana." Seru Ferry "Nanti siang makan siang bersama ya?" Ajaknya


"Hem." Ayana malah sibuk dengan komputer didepannya.


.


.


.

__ADS_1


.


"Pelan-pelan Sayang." Aris membantu istrinya duduk.


"Terima kasih Ris." Anara tersenyum manis "Kau tidak ke kantor hari ini?" Sambil duduk disoffa dengan mengelus perut besarnya.


"Tidak Sayang. Semua pekerjaan sudah selesai. Tuan Nathan juga sedang sibuk dengan istri dan anak-anaknya. Jadi untuk sementara samua proyek dipending dulu." Jawab Aris.


Aris menatap perut besar istrinya. Dia tak sabar menanti kedatangan putri sulungnya. Ya setelah melakukan ultrasonografi, ternyata bayi dalam kandungan istrinya berjenis kelamin perempuan. Aris begitu bahagia karena sebentar lagi dia akan menjadi seorang Ayah.


"Kau ingin makan sesuatu Sayang?" Sambil mengusap perut istrinya "Hai putri Ayah, apa kabarmu Nak? Sehat-sehat ya diperut Bunda." Lalu mengecup perut besar wanita itu.


Anara tersenyum simpul. Senang nya menjadi wanita hamil tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.


"Tidak Ris. Aku hanya ingin istirahat. Entah kenapa akhir-akhir ini, aku sering kelelahan?" Anara mengusap lehernya


"Biar aku pijit." Aris duduk disamping istrinya, dia langsung memijit leher wanita hamil besar itu.


"Terima kasih Suami." Goda Anara tersenyum simpul.


"Sama-sama Istri." Balas Aris juga.


Anara menikmati pijitan suaminya yang begit nyaman hingga membuat lelahnya terasa hilang.


Sejak hamil dia mudah kelelahan dan terlalu banyak minum karena dia selalu merasa tenggorokan nya terasa kering.


"Ris."


"Iya Sayang, kenapa?" Tangan Aris masih memijit-mijit tengkuk istrinya.


"Terima kasih ya, sudah mau menerimaku apa adanya?"


"Jangan bahas itu lagi Sayang. Aku tak ingin mengingat masa lalu. Sekarang kau dan dia adalah masa depanku." Sergah Aris, dia langsung membalikkan tubuh istrinya "Aku yang minta maaf dan harus mengucapkan banyak terima kasih karena kau sudah mau menerima suami tak sempurna seperti ku." Dia membelai wajah istrinya.


"Ris, entah kenapa aku merasa akan pergi jauh meninggalkan mu. Apakah ini hanya perasaan ku atau bawaan hamil ya?" Ucap Anara.


"Jangan berpikir aneh-aneh Sayang. Kau takkan pergi kemana pun dan aku takkan membiarkan mu pergi." Aris menarik wanita itu kedalam pelukannya.


"Iya Ris. Aku juga gak mau meninggalkan mu." Anara membalas pelukan suaminya.


Usia kandungan Anara memasuki bulan ketujuh jadi perutnya sudah cukup membesar. Namun ada yang aneh dengan kehamilan nya ini, dia tidak sensitif seperti wanita lainnya. Dia hanya mudah lelah dan ingin minum air banyak. Nafsu makan juga berkurang. Bahkan masa mengidam nya juga tidak lama. Hingga tubuh Anara terlihat begitu kurus.


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen serta vote dan rate 5 ya....


__ADS_2