
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Perasaan Ayana sudah ketar-ketir. Ketika Mars mengatakan bahwa Aris ingin bertemu mereka berdua. Apa yang akan Aris bicarakan dengan mereka berdua? Apa Aris akan mendesak nya agar menikah dengan Aris?
"Tenanglah Sayang. Semua akan baik-baik saja." Mars mengenggam tangan Ayana berusaha menguatkan wanita itu.
"Mas, aku takut." Mata Ayana berkaca-kaca "Aku benar-benar tidak mau menikah dengan Mas Aris. Apa aku salah yang tidak mau mengabulkan permintaan Kak Nara? Apa aku egois Mas? Apa aku mementingkan perasaan sendiri?"
"Sttttt." Mars meletakkan jari telunjuk nya dibibir Ayana agar gadis itu berhenti mengoceh.
"Tidak Sayang, kau tidak egois kau berhak menolak permintaan Aris. Jangan takut ya. Aku bersamamu. Aku takkan biarkan siapapun memisahkan kita. Kau hanya boleh menikah dengan ku. Begitu juga aku hanya akan menikahi mu." Mars tersenyum simpul.
"Terima kasih Mas, aku mencintaimu. Terima kasih karena Mas tidak pernah meninggalkan ku. Mas selalu menjadi tempat paling nyaman untuk aku pulang." Ayana menyenderkan kepalanya dilengan kekar Mars.
"Sama-sama Sayang, aku juga mencintaimu." Mars mengecup ujung kepala gadis itu.
Mars tak menyangka dirinya bisa sebucin ini pada gadis yang selalu membuatnya kesal dan menyebalkan setiap hari. Perjuangan nya untuk mempertahankan Ayana tidak mudah, dia harus berperang antara kasihan dan perasaan. Dia bersyukur karena Ayana tak terpengaruh sama sekali dengan permintaan Anara. Mars tak bisa bayangkan jika Ayana menerima permintaan Aris untuk menikah dengannya.
Sampai direstourant kedua orang itu turun dari sana.
"Genggam tanganku Sayang." Mars menyatukan tangannya dan Ayana.
"Mas aku takut." Wajah Ayana tampak sendu. Dia benar-benar takut.
"Jangan takut. Genggam tanganku saja ya. Semua akan baik-baik saja." Masih sempat-sempatnya pria itu mengecup kening kekasihnya.
"Mas, malu banyak orang." Wajah Ayana sudah merah seperti tomat.
Mars terkekeh "Tidak akan ada yang marah kalau aku mencium kekasihku." Sahutnya "Ya sudah ayo."
Tangan keduanya saling mengenggam untuk saling menguatkan satu sama lain. Telapak tangan Ayana dingin. Dia tak mau jika genggaman tangan Mars terlepas darinya. Dia benar-benar tak mau kehilangan pria ini. Dia sudah terlalu dan terlanjur mencintai Mars dengan sepenuh hatinya.
Disana tampak Aris sudah menunggu dengan tenang tak lupa secangkir kopi menemaninya.
"Tuan Aris."
Aris melihat kearah dia orang yang berjalan kearahnya. Bagaimana bisa dia memisahkan Mars dan Ayana hanya karena ingin mengabulkan permintaan orang yang sudah meninggal? Lihatlah, betapa kedua orang ini saling mencintai. Tangan mereka saja saling mengenggam seolah tak ingin terlepas dan terpisah.
__ADS_1
"Silahkan duduk Tuan Mars. Ayana." Aris berdiri menyambut kedatangan dua orang itu.
"Terima kasih Tuan." Kedua orang itu duduk. Tangannya masih saling mengenggam.
"Mau pesan minum?" Aris menatap kedua orang itu saling tersenyum.
"Tidak usah Tuan." Tolak Mars.
Aris melirik Ayana yang tampak menunduk. Benar kata Nathan mustahil bila dia tak jatuh cinta pada Ayana jika mereka menjadi pasangan suami istri. Melihat senyum Ayana saja dia bisa salah.
"Ehem." Mars berdehem ketika Aris melihat Ayana tak berkedip "Apa yang ingin anda bicarakan Tuan?" Tanya Mars tanpa basa-basi.
"Mas." Bisik Ayana.
Mars mengeratkan genggaman tangannya. Sekarang dia tahu dan paham bahwa Ayana benar-benar mencintainya dan menjaga perasaan nya. Sampai kapan pun Mars takkan melepaskan gadis yang sudah menjadi jantung hatinya ini.
"Ada yang ingin saya bicarakan. Ini masalah permintaan Anara untuk menikahi Ayana."
Mars duduk dengan gelisah tapi apapun keputusan Aris dia takkan melepaskan Ayana apalagi merelakan kekasihnya itu untuk orang lain.
"Apa?" Tanya Mars. Keringat dingin membahasi pipinya. Kali ini Mars tak ingin gagal lagi dalam sebuah hubungan.
"Sebelum nya saya ingin meminta maaf pada kalian berdua karena sudah membuat kalian sama situasi seperti ini." Aris menarik nafas dalam "Saya memutuskan untuk....."
Ayana semakin erat mengenggam tangan Mars yang berada dibawah meja. Keringat dingin mengucur didahinya. Tuhan dia hanya ingin menikah dengan Mars, tidak ada pria lain lagi dalam hidupnya selain Mars.
"Saya tidak akan menikahi Ayana."
Kedua orang itu kompak menatap Aris lalu saling melihat satu sama lain.
"Maksud Mas?" Ayana yang tadinya terdiam, kini mulai bicara.
Aris tersenyum "Maafkan Mas Ayana, Mas terlalu egois. Mas tidak akan memaksa mu menikah dengan Mas. Memang seharusnya ini salah. Kau bisa menjadi Ibu Anaya tanpa harus menikah dengan Mas. Bahagia lah bersama Tuan Mars, Mas merestui hubungan kalian. Mulai sekarang kau adalah adik Mas." Senyum Aris. Tapi ada luka yang dia tutupi.
"An-nda serius Tuan?" Tanya Mars masih belum percaya.
"Iya Tuan Mars. Jagalah Ayana dengan baik. Saya melepas nya untuk anda. Jangan pernah menyakiti nya. Jika anda tak ingin menyesal seperti saya."
__ADS_1
.
.
.
.
"Mas." Ayana bergelayut manja dilengan Mars.
"Senang?" Mars tersenyum gemes.
"Senang. Senang." Seru Ayana "Tidak menyangka Mas, doa kita dijawab secepat ini oleh Tuhan. Aku bahagia sekali Mas." Gadis itu tersenyum sumringah.
Mars menangkup wajah Ayana saat ini mereka sudah berada didepan mobil. Senyum pria itu menggembang kebahagiaan nya tak bisa diukur atau diungkapkan dengan kata-kata.
Mars mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya. Pria itu mengeluarkan kotak beludru berwarna merah, lalu dia berjongkok dan membuka kotak itu.
"Ayana Putri, mau kah menikah dengan ku? Mau kah kau hidup bahagia bersamaku? Mau kah kau membangun bahtera rumah tangga denganku? Maukah kau menjadi Ibu dari anak-anak ku?." Ucap Mars sambil berjongkok dan menyedorkan kotak beludru nya.
Ayana menutup mulut tak percaya. Apalagi melihat sebuah cincin permata yang begitu indah menarik. Pria menyebalkan yang selalu membuat nya kesal setiap hari melamarnya?
"Will you marry me, Ayana?"
Ayana hanya mengangguk lidahnya terasa kelu untuk menjawab. Saking bahagianya gadis itu sampai menangis.
Mars berdiri dan memasukkan cincin itu ke jari manis Ayana. Sangat pas di jari manis Ayana. Sudah jauh-jauh hari menyiapkan cincin ini.
"Terima kasih Sayang." Pria itu mengecup punggung tangan kekasihnya.
"Mas."
Keduanya saling berpelukan bahagia. Tak menyangka akan sebahagia ini. Perjuangan panjang yang menguras emosi dan air mata kini telah berbuat manis.
Teman debat dan teman rusuh kini akan menjadi teman hidup selamanya. Mars, adalah pria kaku yang mati rasa namun setelah pertemuan nya dengan Ayana mampu menggetarkan hati pria itu. Apalagi Ayana mencium bibir nya dengan tak sengaja.
Sedangkan Ayana gadis kampung yang belum pernah pacaran, pertama kali jatuh cinta pada lelaki kalem bernama Aris. Namun sayang lelaki itu justru menyukai Kakaknya meski dia dan sang Kakak sempat mengalami problema panjang namun Ayana berusaha untuk melepaskan sesuatu yang bukan miliknya. Hingga dia menjatuhkan hatinya pada Boss menyebalkan, Tuan Planet dan si Pemaksa itu. Cinta tumbuh mekar dan bersemi dihatinya. Meski setelah nya perdebatan, kecemburuan hingga masalah mengabulkan permintaan orang yang sudah mati. Kini Ayana bisa memeluk pria sepuasnya dan pria ini akan menjadi kekasih halal nya hingga nanti.
__ADS_1
Bersambung.....