
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Aris berkutat dengan banyak berkas dimeja nya. Belum lagi dia menghandle semua pekerjaan Nathan. Nathan tidak memiliki Sekretaris karena dia tidak suka bekerja dengan sekretaris yang suka genat-genit tidak jelas seperti cacing kepanasan.
"Resiko memiliki Boss yang tengah kasmaran ya begini." Ucap Aris menghela nafas panjang.
"Pagi Tuan Aris, ini ada laporan keuangan bulan lalu."
"Letakkan saja." Tanpa melihat lawan bicaranya.
"Ohh ya Tuan, untuk meeting bersama klien dari luar negeri dimohon kehadiran Tuan Nathan karena mereka ingin bertemu dengan Tuan Nathan." Sambungnya lagi.
"Baik persiapkan semuanya." Tintah Aris.
Aris bernafas panjang. Pria itu menyenderkan punggung dikursi milik nya. Ahhh banyak sekali pekerjaan yang harus dia handle hari ini.
"Makan siang nanti aku ajak Anara saja." Wajahnya langsung tersenyum ketika mengingat wajah gadis yang sudah membuat hatinya goyah itu.
Aris menyelesaikan pekerjaan nya tepat waktu. Semua harus beres. Jika tidak dia bisa disemprot habis-habisan oleh Nathan yang tengah bucin itu. Bisa dipecat dia.
"Akhirnya selesai juga." Pria meretak-retakkan tangannya dan menghembuskan nafas kasar.
Aris beranjak dari mejanya. Pria itu berjalan menuju lift. Jam makan siang, dia ingin mengajak Anara.
"Ehem, kenapa tatapan Ayana aneh sekali padaku? Jangan-jangan benar kata Anara jika Ayana menyukaiku?." Pria itu menggeleng mengenyahkan segala pikiran buruk dikepalanya.
"Aku sama sekali tidak menyukainya. Aku harus pengertian."
Setelah lift terbuka dia berjalan keluar dari lift.
Aris melajukan mobilnya. Sampai direstourant, pria itu langsung turun. Sejak Anara dan Ayana bekerja disana dia lebih sering makan dan menghabiskan waktu dengan kedua gadis kembar itu.
"Nara."
"Aris." Balas Anara juga tersenyum "Mau makan siang?." Tebaknya.
"Iya. Berdua denganmu." Goda Aris terkekeh pelan.
"Jangan bicara sembarangan nanti Ayana salah paham lagi." Gadis itu menggeleng sambil tersenyum "Ayo." Berjalan duluan didepan Aris.
__ADS_1
Aris mengikuti gadis itu. Mereka selalu makan siang bersama diruangan Anara dan biasa Ayana juga ikut hanya saja sejak insiden kejadian antara dirinya dan Mars membuat Ayana sedikit menjauh dan seperti nya memang sengaja menghindari Aris dan Anara.
"Mau pesan apa Ris?." Sambil membuka menu makanan itu.
"Seperti biasa." Sahut Aris tersenyum lebar
Anara mengangguk lalu dia memesan makanan mereka berdua. Anara memang memang menyukai segala hal yang privasi termasuk makanan dan ruangan seperti ini. Selama bekerja disini dia tidak pernah makan dimeja luar dan selalu makan didalam ruangan.
"Bagaimana dengan Ayana?." Tanya Aris. Aris tahu jika kedua saudara kembar itu sedang tidak baik-baik saja.
Anara menghela nafas "Aku sudah bicara padanya. Dan seperti yang aku katakan kemarin, adikku itu menyukaimu Ris. Dekatilah dia." Ujar Anara menatap Aris penuh harap agar mau mendekati adiknya itu.
Aris menggeleng "Tidak bisa Ra. Kau tahu aku sama sekali tidak menyukai adikku. Bagaimana bisa aku mendekati nya?." Jelas Aris.
"Tapi setidaknya hiburlah dia. Aku tidak mau dia salah paham." Tungkas Anara masih memaksa Aris dan berharap pria ini mau membantunya membujuk sang adik yang tengah merajuk dan salah paham itu.
"Tidak bisa Ra. Aku tidak bisa berpura-pura. Ayana harus dewasa dan dia harus paham. Dia tidak bisa menyimpan perasaan nya untuk orang yang tidak menyukai nya. Aku tidak bisa." Tolak Aris tegas.
"Tapi_."
"Aku menyukaimu Anara." Sambil mengenggam tangan gadis cantik itu.
"Ris_."
Anara terdiam. Dia menatap bola mata Aris berusaha mencari kebodohan namun yang Anara temukan adalah kebenaran dan keseriusan dari tatapan laki-laki didepannya ini.
"Ris_."
"Aku tahu kau masih belum bisa melupakannya. Aku tidak memaksa mu menjawab ungkapan ku sekarang. Aku akan setia menunggumu melupakan masa lalu mu dan aku akan membantumu untuk kembali percaya pada cinta." Aris menggenggam erat kedua tangan Anara sambil menatap wajah gadis cantik itu.
"Aku memang bukan dia. Aku tidak akan bisa seperti dia. Menggantikan posisinya dihatimu adalah hal yang mustahil. Tapi bolehkah izinkan aku membuktikan padamu bahwa aku bisa mengubah masa lalumu?." Ucap Aris sekali lagi.
Anara berkaca-kaca. Jujur selama ini dia lelah dengan perasaan kehilangan nya. Hatinya hampa dan kosong seolah tak ada ruang sedikit pun untuk kebahagiaan masuk kedalam hati nya.
Satu tetes butiran bening itu lolos dipelupuk mata Anara. Luka kehilangan itu begitu mendalam sehingga Anara begitu takut untuk memulai hubungan lagi dia tidak mau kehilangan untuk kesekian kalinya.
"Apakah kau berjanji Ris untuk membantuku?."
Aris mengangguk "Aku berjanji Ra." Sahut Aris yakin
__ADS_1
"Aku belum mencintaimu Ris. Maafkan aku. Mau kah kau memahami ku. Aku tidak menolak mu hanya beri aku waktu untuk sembuh dulu." Tutur Anara lagi.
Aris menyeka air mata Anara "Iya Ra. Aku akan menunggumu. Jangan takut. Dan izinkan juga aku menjadi penyembuh luka dihatimu." Ucapnya.
Anara mengangguk. Apakah dia salah memulai hubungan lagi? Dan Anara selalu berharap kematian jangan lagi menghalangi kebahagiaan nya. Izinkan dia bahagia walau hanya sejenak.
Tanpa Anara dan Aris sadari sedari tadi Ayana berdiri didepan pintu dan mendengarkan percakapan kedua orang didalam ruangan itu.
Ayana berjalan mundur. Hancur. Berantakan seluruh jiwanya. Laki-laki yang diam-diam mencuri hatinya dihari pertama pertemuan mereka ternyata menyukai Kakaknya.
Ayana menyeka air matanya dengan kasar. Gadis ini memang cenggeng dan mudah menangis hatinya lembut dan bila sedikit saja tersakiti dia akan merasa benar-benar sedih.
Ayana berbalik berusaha menahan tangisnya. Jangan sampai ada orang-orang yang melihatnya menangis.
"Permisi Nona." Panggil salah satu waiters.
"Ada apa?." Cetusnya sambil menyeka air matanya.
"Ada pesanan dimeja VVIP dan dia meminta anda untuk melayaninya."
"Kenapa harus aku? Kau tidak tahu kalau aku Ini sedang patah hati?." Ucapnya kesal
"Maaf Nona." Waiters itu hanya bisa menunduk. Ayana adalah Asisten manager mana berani dia menjawab ucapan gadis itu.
Ayana menghentak-hentakkan kakinya kesal. Wajahnya tampak sebal dan marah. Pertama kali putus cinta sebelum jadian ahhh seperti nya Ayana harus merelakan Aris untuk Kakaknya.
"Permisi Tuan anda ingin pes_." Ayana langsung membeku ketika siapa yang menunggunya tadi?
"Tuan." Ucap Ayana menatap pria itu lama.
"Sudah cukup menatapnya?." Sindir Mars sambil melipat kedua tangan didada.
"Maaf Tuan." Ayana menunduk dan malu ketika mengingat ciuman mereka kemarin.
"Duduk ada yang ingin aku bicarakan denganmu." Tintah Mars sambil menunjukkan kursi didepannya dengan jari telunjuk.
"Tapi Tuan_."
"Tapi apa?." Mars menatap Ayana ketus sebenarnya hanya berusaha agar tidak terlihat gugup didepan gadis itu.
__ADS_1
Bersambung....