Cinta Manis Sang Presdir

Cinta Manis Sang Presdir
Mencintai dalam diam


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Ivan melirik Ranti yang tampak lebih banyak diam. Sejak kejadian direstourant kemarin, gadis ceria itu berubah menjadi dingin dan jarang bicara.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Ivan. Agak aneh melihat Ranti yang biasanya bicara ceplas-ceplos malah banyak diam seperti ini.


Ranti mengangguk "Aku baik-baik saja Kak." Masih merebahkan kepalanya dan menatap kearah jendela mobil.


"Memikirkan Galvin?" Tebak Ivan.


Ranti terdiam sejenak lalu dia menoleh kearah Ivan dengan tatapan sendu. Memang dia sedang patah hati hebat. Lelaki yang dijodohkan dengannya malah jatuh cinta pada gadis lain.


"Semalam Kak Galvin menemui Daddy dan Mommy untuk membatalkan perjodohan kami." Sahut Ranti dengan wajah sedihnya.


Ivan terkejut "Membatalkan perjodohan?" Tanya Ivan memastikan.


Ranti mengangguk "Kak Galvin bilang kami tidak cocok dan dia menganggap aku adiknya dari dulu. Aku yang salah terbawa perasaan." Jawab Ranti sendu, dia memalingkan wajahnya saat butiran bening itu lolos.


Ivan tak menanggapi dia masih serius menyetir untuk mengalihkan pikiran nya. Melihat Ranti yang patah hati seperti ini membuatnya merasakan sakit juga. Dia mencintai gadis disampingnya ini dari dulu. Dan ketika melihat Ranti disakiti Ivan pun ikut merasakan sakit hatinya.


"Sakit ya Kak mencintai orang yang tidak mencintai kita." Ranti menyeka air matanya. Dia bukan gadis yang cenggeng tapi jika berbicara tentang perasaan dia sangat sensitif.


Ivan menoleh dan menatap gadis yang melihat kearah lain itu. Sama seperti diri yang juga sakit saat mencintai Ranti namun gadis itu malah tak mencintainya sama sekali.


"Jangan dipikirkan lagi." Tangan kirinya terulur mengusap kepala Ranti.


"Kak, aku boleh peluk tangan Kakak? Aku lelah Kak!" Tatapannya sendu.


Ivan mengangguk dan menyedorkan lengan kekarnya agar dipeluk nyaman oleh Ranti.


Ranti memeluk lengan Ivan dengan nyaman sambil memejamkan matanya. Ivan memang seperti Kakaknya sendiri. Dia selalu suka menggoda pria dingin itu karena Ranti menyukai wajah Ivan yang kesal dan mengomel padanya.


Mars meminta Ivan untuk menghibur Ranti. Meski Ivan sempat menolak tapi jika perintah Tuan-nya dia takkan bisa melawan.


"Kak lengan mu nyaman sekali Kak." Lirih Ranti.


Ivan menatap kepala Ranti yang bersandar dilengan nya. Tangan kirinya tetap fokus menyetir. Jantung nya berdebar-debar. Mungkin begitu rasanya jika dekat orang yang dicintai.

__ADS_1


"Ayo jalan-jalan." Ajak Ivan.


Ranti bangkit dan menatap wajah assisten Kakaknya itu.


"Jalan-jalan kemana Kak?" Tanyanya. Wajahnya langsung sumringah. Gadis ini paling suka yang namanya jalan-jalan.


"Kemana saja kau mau?" Senyum Ivan.


"Kak teman kan aku shopping ya. Kebetulan keperluan aku sudah habis." Ucap Ranti senang, entah kemana air matanya tadi? Saat mendengar jalan-jalan kesedihan nya malah hilang.


"Tapi......" Gadis itu bernafas lemah.


"Tapi apa?" Kening Ivan berkerut sambil melirik Ranti.


"Kartu kredit ku disita Kak Mars." Gadis itu merebahkan kepalanya lemah.


"Ini." Ivan menyedorkan Blackcard pada Ranti.


"Kakak." Ranti terkejut sambil menutup mulut tak percaya.


"Pakailah." Suruh Ivan.


Ivan memutar bola matanya malas. Meski dia asisten tapi gajinya besar dan selalu dia tabung dan simpan unt menyiapkan masa depannya.


"Itu hasil jual perusahaan Tuan Mars." Jawab Ivan kesal sambil wajahnya masam mendengar tudingan Ranti.


"Kakak, kau serius?" Ranti masih belum puas dia mengambil Blackcard itu.


"Jangan banyak bertanya Ranti, pakai saja." Ucap Ivan mulai jenggah.


"Yessss terima kasih Akak ku sayang." Dia memeluk lengan pria itu.


Dan lagi hati Ivan mencelos, Ranti hanya menganggapnya sebagai Kakak. Sungguh miris. Cintanya seolah tak bisa digapai dengan tangan.


"Kak, aku ingin melupakan Kak Galvin." Seru Ranti dengan semangat "Dangan belanja banyak-banyak aku pasti lupa." Gadis itu cekikikan.


Ranti hobby nya memang belanja dan jalan-jalan. Kebiasaan nya hidup dalam kemewahan terbawa-bawa. Dan baru-baru ini, Mars sengaja menyita kartu kredit adiknya itu ketika melihat pengeluaran Ranti yang melebihi gadis karyawan diperusahaan nya. Bulan takut bangkrut, tapi itu akan jadi kebiasaan nantinya. Mars setiap hari mengomeli adiknya itu agar jangan menghamburkan uang untuk hal-hal yang tidak penting. Tapi Ranti tidak peduli, apalagi kedua orangtuanya sangat memanjakan dirinya.

__ADS_1


"Yakin ingin melupakan Pak Dokter itu?" Goda Ivan terkekeh.


"Yakinlah Kak. Aku yakin suatu saat nanti aku bisa bertemu lelaki yang sungguh-sungguh mencintaiku Kak." Seru Ranti kesedihan nya hilang.


'Laki-laki itu adalah aku Ranti. Tapi aku sadar, kita berbeda. Untuk bisa bersanding denganmu adalah sesuatu yang terdengar mustahil.' Batin Ivan


Hari ini Ranti habiskan waktu nya untuk jalan-jalan. Makan jajanan di mall serta bermain diarea permainan. Dia juga belanja sesuka hatinya agar bisa melupakan segala rasa sakit nya.


Ranti pasti bisa melupakan Galvin. Mencintai orang yang tidak mencintai kita bukankah itu hal yang salah? Lantas untuk apa tetap memaksa hati pada orang yang sama sekali tidak mau melihat?


Begitu juga dengan Ranti, dia memutuskan untuk melepaskan Galvin dari hidupnya. Bukankah cinta sejati akan berpulang pada tempatnya? Ranti yakin suatu saat nanti akan ada laki-laki yang mencintai dan dicintai oleh nya. Laki-laki yang akan mencintai nya dan laki-laki yang akan menjadi Ayah dari anak-anak nya.


"Ranti jangan tarik-tarik." Kesal Ivan saat gadis itu menarik nya dengan tidak sabar.


"Kak, ayo cepat nanti es creamnya tutup."


Gadis itu berjalan tergesa-gesa. Dia adalah pencinta es cream vanilla. Mumpung sang Kakak tidak ada dia bisa bebas makan benda itu.


"Jangan banyak-banyak nanti Tuan Mars marah." Tegur Ivan. Mars memang tidak suka adiknya makan es cream terlalu banyak karena nanti gadis itu akan mengeluh sakit perut.


"Asal Kakak tidak bilang pada Kak Mars, Kak Mars pasti tidak akan marah." Sergah Ranti.


Ivan diam-diam tersenyum saat melihat Ranti makan es cream yang belepotan. Ranti memang membutuhkan lelaki yang bisa membimbing nya untuk menjadi gadis yang dewasa. Padahal usianya sudah dua puluh tiga tahun yang harus nya sudah memasuki usia dewasa tapi tingkahnya seperti anak sekolah menengah atas. Mungkin karena keterbiasaan hidup dalam kemewahan dan dimanjakan oleh kedua orangtuanya.


'Mencintaimu dalam diam saja aku sudah bahagia Ranti. Tidak penting memiliki mu. Melihatmu tersenyum sudah lebih dari cukup.' Batin Ivan


Ranti berbelanja banyak pakaian, sepatu, tas dan keperluan nya yang lain juga.


"Kak sini." Dia melambaikan tangan nya.


Ivan menghela nafas dan berjalan kearah gadis itu.


"Ini pas untuk Kakak." Sambil memanjang kemeja berwarna hitam pekat didepan Ivan.


"Aku ambil ya Kak? Buat Kakak! Anggap saja sebagai hadiah sebagai ucapan terima kasih karena Kakak sudah menemaniku jalan-jalan dan belanja." Celetuk Ranti sambil mengambil beberapa jas untuk Ivan.


Ivan mencebik kesal "Jangan lupa Ranti, itu uang ku." Singgung Nathan.

__ADS_1


"Hehhe iya aku lupa Kak." Gadis itu cenggesan sambil menggaruk tengkuknya.


Bersambung......


__ADS_2