
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Mars melepaskan pelukkannya dan mengusap pipi basah Ayana. Gadis itu adalah miliknya sampai kapanpun dia takkan rela ada lelaki lain yang mendekati Ayana. Dia takkan membiarkan kehilangan kedua kali membuatnya patah lagi.
“Aku lapar ayo kita makan.” Ajak pria itu.
“Tuan bukankah tadi kau sudah makan?” Tanya Ayana heran.
“Aku tadi tidak makan, aku hanya pura-pura makan.” Ketus Mars “Sudah ayo, pulang ke rumahku saja. Mommy ingin bertemu denganmu.” Mars menarik tangan Ayana keluar.
Ayana tampak berpikir. Dia sungguh gugup bertemu dengan orangtua Mars. Meskipun mereka orang baik tapi tetap Ayana tak enak hati.
“Kenapa?” Mars menatap Ayana saat gadis itu menahan tangannya.
“Tuan, aku malu.”
“Malu kenapa?” Kening Mars berkerut heran.
“Aku_.”
“Sudah ayo.”
Tanpa malu dilihat oleh para karyawan Mars menggandeng tangan Ayana. Dia tidak peduli dengan para karyawan nya yang menggosipkan mereka. Dia ingin memberitahu dunia bahwa Ayana adalah miliknya.
“Tuan, bisa lepaskan tanganmu tidak? Aku malu.” Bisik Ayana
“Tidak bisa.” Sergah Mars.
Ayana mencebik kesal. Baru saja hatinya berbunga-bunga tapi dia sudah dibuat kesal oleh pria inil. Benar-benar keterlaluan, masa dikantor harus bermesraan seperti ini. Nanti dia malah dituduh menggoda Mars lagi. Dia tak pernah menggoda pria ini. Pria ini lah yang selalu menggodanya setiap hari.
“Masuklah, biar aku yang menyetir.” Mars mengambil alih membuka pintu mobil saat Ayana hendak membukanya.
“Tapi_.”
“Masuklah.” Ayana menurut. Meski dia sedikit merasa aneh melihat Mars yang tiba-tiba baik seperti ini.
Mars mengitari mobil dan masuk kedalamnya lalu duduk dibangku kemudi. Mars menjalankan mobilnya sambil terus tersenyum seperti sedang mendapat undian berhadiah.
“Kau baik-baik saja Tuan?” Ayana menempelkan punggung tangannya dikening Mars lalu menempelkan juga di pantat nya “Tidak panas.” Ucap gadis itu.
Wajah Mars langsung berubah masam “Kau keterlaluan sekali.” Hardik Mars “Kenapa aku disamakan dengan pantatmu?” Ucapnya tidak terima
__ADS_1
Ayana tertawa lebar “Habisnya kau tersenyum seperti orang gila saja Tuan.” Seru Ayana masih tertawa lebar “Dan aku seperti ratu hari ini, kapan lagi coba di supirin Boss sendiri?” Dia tersenyum jahil.
Mars malah terkekeh sambil melirik Ayana yang tertawa. Dia tidak tahu kenapa hatinya bisa sampai terpaut pada Ayana? Gadis kampung ini sudah berhasil membuka hatinya yang sudah lama tertutup.
“Kau tidak ingin bertanya siapa wanita direstourant yang bersama denganku tadi?” Mars melirik Ayana sambil menyetir.
Ayana menggeleng “Aku tidak perlu tahu dan tidak mau tahu.” Jawab Ayana. Karena tidak ingin tahu itu lebih membuat hati aman dari pada tahu segalanya pada akhirnya menyakitkan.
“Apa kau cemburu?” Mars melirik lagi kearah Ayana sambil masih menyetir dan kali ini dia benar-benar berharap kalau Ayana cemburu.
Ayana tampak terdiam dia melihat kearah Mars yang tampak tak sabar menanti jawabannya. Lalu gadis itu menggeleng.
“Kau tidak cemburu?” Tanya Mars kecewa. Jika Ayana tidak cemburu artinya gadis itu tidak mencintainya.
Ayana menahan senyumnya melihat wajah kecewa Mars “Mustahil aku tidak cemburu Tuan. Saat kau mengabaikanku saja aku merasa ada yang hilang. Apalagi kau duduk bersama wanita yang jauh lebih cantik dari aku. Aku tidak hanya cemburu tapi aku merasa hatiku sakit.”
Mata Mars berkaca-kaca. Apakah ini artinya, Ayana mencintainya dan sudah jatuh cinta padanya? Gadis menyebalkan dan gadis aneh yang sudah berani menciumnya, sudah jatuh cinta padanya?
Mars menepikan mobilnya. Lalu menatap Ayana dan menggenggam kedua tangan gadis itu.
“Apakah kau mencintaiku Ayana?” Pertanyaan yang dari dulu Mars pendam kini dia berani untuk mengungkapkan rasa penasarannya. Karena dia sudah mencintai Ayana sejak lama.
“Aku tidak tahu apakah aku mencintaimu Tuan? Yang aku takut kehilanganmu. Aku sudah nyaman berada didekatmu Tuan.” Ayana mengelus dada Mars “Jadi bisa jadi aku sudah jatuh cinta padamu Tuan Planet.” Ayana mengedipkan matanya jahil.
Mars menarik Ayana dalam pelukkannya. Tak pernah dia merasa sebahagia ini. Akhirnya perjuangan panjang yang dia lewati membuatnya bisa meraih cinta Ayana. Meski jalannya tidak mudah tapi kini gadis ini sudah menjadi miliknya.
Mars melepaskan pelukkannya. Dia menanangkup wajah Ayana dan tersenyum dengan mata yang sudah berkaca-kaca, air mata bahagia.
“Boleh kah aku menciummu?” Dia mengusap bibir ranum Ayana.
“Kenapa harus jujur, biasanya juga main sosor-sosor saja?” Celetuk Ayana.
Mars terkekeh, sekarang sudah berbeda. Biasanya dia mencium Ayana agar gadis itu berhenti protes tapi dia ingin mencium Ayana atas dasar keinginan keduanya bukan hanya nafsu Mars semata, dia tidak mau membuat gadis ini kabur hanya karena dirinya yang rakus dan suka main sosor-sosor sembarangan.
“Jadi bagaimana?”
Cuppppppppppp
Ayana langsung menempelkan bibir mereka berdua. Mars terkejut, matanya membulat sempurna saat melihat Ayana yang memejamkan matanya dengan bibir keduanya yang saling menempel satu sama lain.
.
__ADS_1
.
.
.
Galvin masuk kedalam ruangannya dengan senyuman menggembang. Hari ini dia begitu bahagia karena bisa makan siang hanya berdua saja dengan Ayana. Meski harus ada drama antara dirinya dan Mars seperti biasanya.
“Ayana. Ayana.” Dia menggeleng dengan gemes ketika mengingat Ayana yang makan dengan lahap.
Drt drt drt drt drt drt drt
Galvin mengambil ponselnya. Dia mencebik kesal saat melihat nama yang tertera disana.
“Iya Mom?” Pria itu mendengus kesal.
“Galvin pulang sekarang, ada yang ingin Mommy bicarakan denganmu.”
Galvin menghembuskan nafas nya kasar. Kalau sudah disuruh pulang seperti ini sudah pasti akan membicarakan pernikahan.
"Apa aku minta Ayana untuk jadi pacar pura-pura ku supaya Daddy dan Mommy tidak lagi mendesak ku menikah dan menjodohkanku dengan anak rekan bisnisnya?"
Galvin keluar dari ruangan nya dengan meneteng jas dokter kebanggaan nya.
Brakkkkkkkkkkk
"Ehhh, maaf Dok."
"Kau apa yang kau lakukan disini?" Galvin menatap dengan selidik wanita berhijab itu.
"Hem, membawa Ayah saya periksa Dok." Jawab Zahra sambil membungkuk hormat.
"Ohhh." Galvin beroh-ria.
Pria itu melenggang pergi meninggalkan Zahra. Sedangkan Zahra menatap punggung Galvin.
"Dia sangat tampan. Dia kaya. Apalah aku hanya gadis miskin yang jatuh cinta pada pria kaya. Sadar Zahra, kau tidak pantas jatuh cinta pada Dokter Galvin. Dia adalah bintang dilangit. Kau takkan bisa menggapainya, dia terlalu tinggi." Gadis itu menghela nafas panjang.
Sejak pertemuan pertama nya dengan Galvin. Dia sudah menaruh rasa. Apalagi pria itu direktur rumah sakit ini dan akan menjadi dokter pembimbing nya jika dia paktek disini nanti.
Bersambung.......
__ADS_1