Cinta Manis Sang Presdir

Cinta Manis Sang Presdir
Pasangan serasi


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


"Mas, aku dengar-dengar Mas Aris dan Kak Nara sebentar lagi menikah. Kira-kira kita mau kasih kado apa ya Mas?" Nandira tampak berpikir keras.


"Kado apa saja boleh sayang." Nathan memeluk istrinya dari belakang.


Nandira mengetuk-ngetuk pelipisnya sambil berpikir kado apa yang kira-kira bagus diberikan pada Aris dan Anara.


"Ehem, bagaimana kalau kita kasih Boneka Teddy Bear saja Mas?" Saran Nandira


Nathan tersendak "Sayang, mereka bukan mau ulang tahun kenapa harus dikasih boneka?" Nathan geleng-geleng kepala tak habis pikir.


"Kan boneka itu bisa untuk anak mereka nanti Mas. Pasti mereka kalau sudah menikah melakukan seperti kita. Ya kan Mas?" Seru Nandira


Nathan menelan salivanya susah payah. Tak kalanya Nandira salah bicara didepan Tio dan Mey, alhasil di diledek habis-habisan oleh adik semata wayang nya itu.


"Sayang jangan berpikir begitu terus." Sergah Nathan berusaha menahan hasrat nya. Membicarakan hal begitu membuat jakun nya naik turun.


"Memangnya kenapa Mas? Kau kan begitu setiap malam minta-minta terus." Sindir Nandira "Tidak cukup satu ronde lagi, kau tahu Mas tulangku rasanya mau patah gara-gara kau yang tak pernah puas itu." Ujar Nandira kesal. Kalau sudah masalah ranjang suaminya itu seperti hewan buas saat menerkam nya.


"Sudah jangan dibicarakan lagi." Sergah Nathan bisa-bisa dia tidak berangkat ke kantor gara-gara istrinya ini.


"Sayang kita belum bulan madu, kapan kira-kira kau siap aku bawa keluar negeri?" Dari kemarin Nathan menanyakan tentang bulan madu mereka.


Bulan madu biasanya dilakukan setelah menikah sedangkan mereka sudah beberapa bulan menikah belum juga bulan madu.


"Mas aku takut naik pesawat." Ujar Nandira "Bagaimana kalau besi terbang itu nanti jatuh, kita bisa mati berdua?" Celetuk Nandira. Dia paling takut pesawat dan seumur hidup dia belum pernah naik besi terbang itu.


"Kau tenang saja sayang. Kan ada aku. Pesawat nya tidak akan jatuh." Jawab Nathan "Jadi kapan sayang?" Tanya Nathan sekali lagi.


"Setelah lahiran saja Mas. Nanti kan bisa ajak Baby kita." Serunya sambil mengusap perutnya yang hampir membesar itu.


Wajah Nathan ditekuk kesal "Nanti dia menganggu kita bagaimana sayang?" Nathan tidak mau waktu bersama istrinya nanti diganggu oleh kecebongnya sendiri.


"Memangnya kenapa Mas? Kan dia anak kita! Kau ini bagaimana sih?" Sahut Nandira memutar bola matanya malas.


"Sini Mas, aku pasangkan dasinya."


Nathan menunduk agar wanita itu bisa mencapai lehernya. Mungkin kodratnya, wanita pendek berpasangan dengan lelaki jakung dan tinggi. Contohnya Nathan dan Nandira. Nathan tinggi seperti tiang listrik sedangkan Nandira pendek seperti tiang jemuran.


"Sayang hari ini kan kau tidak masuk kuliah bagaimana kalau ikut aku ke kantor saja?" Ajak Nathan. Pasti seru jika ada sang istri nanti menemaninya disana.


"Nanti siang saja Mas. Sekalian aku bawa makan siang. Aku juga mau selesaikan beberapa tugas kuliah." Jawab

__ADS_1


"Ya sudah sayang, nanti pergi dengan Paman Sam ya. Aku menunggumu dikantor." Nathan mengecup kening istrinya


"Iya Mas." Sahut Nandira membalas dengan ciuman ditangan suaminya.


"Ayo sayang." Nathan menggandeng tangan istrinya "Biar aku saja yang bawa. Kau tidak boleh lelah." Senyumnya manis sekali seperti kecap.


Nandira mengangguk dan patuh saja. Pokoknya wanita ini selalu menurut saja pada apa yang dikatakan suaminya. Kecuali ketika dia mengidam kemarin karena bawaan kehamilan nya membuatnya sedikit keras kepala.


.


.


.


.


Nandira baru selesai mengerjakan beberapa tugas kuliahnya. Setelah melakukan beberapa test ilmu kedokteran akhir nya Ibu hamil itu bisa lulus juga tanpa embel-embel suaminya.


Nandira sebenarnya pintar bahkan dia selalu juara umum saat duduk dibangku sekolah menengah tapi karena kepolosannya membuat dia terlihat seperti gadis bodoh.


"Aku masak untuk Mas Nathan saja."


Wanita hamil itu menuju dapur untuk menyiapkan makan siang suaminya. Kasihan suaminya itu pasti lapar menunggunya disana.


"Iya Kak?" Nandira menoleh pada adik iparnya itu


"Masak untuk Kak Nathan?" Tebaknya.


"Iya Kak." Wanita itu mengangguk sambil tersenyum.


"Apakah sudah minum vitamin mu?" Sebagai seorang dokter Mey tak henti-hentinya mengingatkan Nandira untuk minum vitamin dan susu Ibu hamil.


"Sudah Kak." Jawabnya.


Mey senang melihat Nandira yang peduli dan perhatian pada Nathan. Namun dia jenggah ketika melihat Kakaknya yang posesif luar biasa itu.


Setelah masakkan nya siap dan dimasukkan kedalam rantang nasinya, dia pun mengantar makanan untuk suaminya. Suami tercinta dan suami bucin nya.


Sampai digedung pencakar langit, wanita hamil itu turun dari sana. Semua mata menatapnya kagum. Wanita cantik dengan perut yang maju ke depan, pakaian yang dipakainya pas ditubuhnya dan membuatnya tampak ikut dan menggemaskan.


"Sayang."


Nathan sudah menunggu di lobby. Dia tidak mau kejadian seperti yang lalu-lalu, istrinya dianggap kurir makanan. Semua orang harus tahu jika Nandira adalah istrinya. Istri kecilnya.

__ADS_1


Lelaki itu langsung memeluk istrinya dengan rindu. Rasanya dia tidak mau jauh dari Nandira tapi karena tuntutan pekerjaan dan pendidikan Nandira, membuat Nathan harus ikhlas untuk tidak bersama istrinya setiap detik.


"Kau lelah tidak?" Tanyanya.


"Biar Aris yang bawa." Nathan mengambil rantang nasi itu pada Aris yang berdiri dibelakang nya sambil menyaksikan kebucinan dua manusia yang tidak kenal tempat itu.


"Maaf ya Mas, aku pasti terlambat! Apa kau sudah lapar?" Nandira merasa bersalah "Tadi tugas kuliahku banyak Mas." Dia menghela nafas panjang.


"Tidak sayang. Aku belum lapar." Kilah Nathan


Krukkkkkkkkkk


Nathan rasanya ingin mengutuk perutnya. Kenapa harus berbunyi disaat mulut nya berbicara tak jujur?


"Itu kan Mas pasti sangat lapar. Maafkan aku ya Mas?" Wanita itu menatap suaminya dengan perasaan bersalah dan mata yang berkaca-kaca.


"Tidak sayang tidak. Sudah ayo masuk." Jangan sampai penyakit aneh Nandira kambuh lagi, dia bisa menangis tiba-tiba hanya karena perasaan sensitif nya.


"Tapi Mas kan sudah lapar." Dia menyeka air matanya.


"Tidak sayang." Nathan mengusap pipinya.


"Aku gendong ya! Ruanganku paling atas kau pasti kelelahan jika berjalan." Ujarnya. Padahal hanya akal-akalnya saja supaya bisa menggendong istrinya.


"Tapi tidak jauh kok Mas kan bisa pakai lift."


"Kan sekarang kau lagi hamil sayang. Tidak boleh lelah." Ujar Nathan. Dia gemes sendiri, kenapa istrinya tidak bilang saja.


"Ohh iya aku lupa Mas." Gadis itu menampilkan rentetan gigi putihnya dan tersenyum tanpa dosa.


"Ayo sayang sini." Nathan mengangkat tubuh istrinya didalam gendongannya.


Nandira melingkarkan tangannya dileher Nathan seperti anak kecil yang menurut saja. Sedangkan Nathan tersenyum penuh kemenangan, keuntungan memiliki istri polos. Padahal Nathan ingin membuktikan pada orang-orang dikantor bahwa Nandira adalah istrinya.


Aris dan Paman Sam geleng-geleng kepala saja. Dimana pun berada pasangan serasi itu selalu saja mengumbar kemesraan nya didepan banyak orang.


"Terima kasih Paman, Paman langsung pulang saja. Biar nanti Nona pulang dengan Tuan." Aris membungkuk hormat pada pria paruh baya yang sudah dia anggap seperti orangtuanya sendiri.


"Iya Tuan. Kalau begitu saya permisi." Jawab Paman Sam.


Aris menyusul Nathan dan Nandira sambil menenteng rantang nasi Ditangannya. Dan seperti biasa, Nandira juga akan menyiapkan untuk Aris. Dia tidak pernah pilih-pilih dan membedakan. Padahal Aris hanya seorang asisten saja.


Para karyawan membungkuk hormat sambil menyambut pasangan serasi itu. Siapapun akan iri melihat kemesraan dua manusia ini! Nathan terlihat begitu manis saat tersenyum. Senyum Nathan itu mahal hanya orang-orang tertentu yang bisa melihat senyumnya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2