
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
"Kakak Ipar."
"Kak Mey." Kedua wanita itu saling berpelukan melepas rindu.
"Ra, bagaimana dengan kandungan mu? Sudah berapa bulan?" Mey mengusap perut rata Nandira "Jangan lupa jaga pola makan dan minum vitamin serta susu Ibu hamil." Celoteh Mey.
"Masuk dua bulan Kak. Iya Kak, terima kasih. Mas Nathan selalu buatkan susu setiap malam sebelum tidur Kak." Jawabnya tersenyum hangat.
Sedangkan Nathan dan Tio berbincang-bincang berdua. Biasalah kalau pria yang dibicarakan tidak lain adalah bisnis. Selain dokter, Tio juga merambat kedua bisnis pembuatan obat-obat di Amerika dan cukup berkembang pesat.
"Ini aku bawakan vitamin dan susu hamil buat mu." Mey memberikan paper bag pada Nandira.
"Terima kasih Kak." Senyum Nandira.
Sebenarnya Nathan ingin mengadakan pesta untuk menyambut kehamilan sang istri. Namun Nandira malah melarang, dia ingin membuat acara tujuh bulanan saja nanti.
"Ayo kita kesana." Mey menggandeng tangan Nandira.
Sejak hamil, Nandira semakin cantik dan wajahnya sangat ayu dan lembut. Serta bersih dan terawat.
"Sayang." Nathan berdiri dan menyambut istrinya.
"Iya Mas." Nandira mengikuti suaminya untuk duduk.
Mey geleng-geleng kepala. Jiwa posessif Nathan ini luar biasa sekali. Maklum pria baru pertama jatuh cinta.
"Bagaimana dengan kandungan Dira?" Tanya Tio. Mey ikut duduk disampin suaminya.
Sedangkan Alex dan Aurel sedang bermain ditaman bersama para pelayan dan pengasuh yang sudah biasa merawat kedua bocah itu.
"Istri ku sehat." Jawab Nathan mengusap rambut panjang istrinya.
Pesona Ibu hamil yang satu ini selalu membuat Nathan tak berkedip. Seolah dunianya hanya berpusat pada Nandira.
__ADS_1
Mey memutar bola matanya malas melihat kemesraan Nathan dan Nandira.
"Hem." Mey berdehem "Ingat kalau disini ada kami. Jangan merasa dunia milik berdua. Ingat, dunia ini milik bersama." Sindir Mey melipat kedua tangannya didada.
"Memangnya dunia milik siapa Kak?" Tanya Nandira heran.
"Ya milik kalian berdua." Ketus Mey.
"Bukan kok Kak, dunia ini milik Tuhan Kak. Kita hanya dipercayakan untuk hidup didalamnya." Celetuk Nandira.
Mey mengertakan giginya gemes. Nandira ini kenapa polos seklian sih? Sedangkan Nathan dan Tio melipat bibir menahan tawa.
Bahkan Nathan geleng-geleng kepala. Istrinya memang kalau bicara suka tidak nyambung. Mungkin efek kehamilan juga.
"Sudah ah." Mey merajuk "Istri Kakak itu aneh." Tuturnya cemberut kesal.
"Karena aneh lah maka Kakak mencintai nya." Nathan menyelipkan anak rambut Nandira, dia saja gemes apalagi Mey.
Tio mendengarkan saja sambil tersenyum hangat. Nathan memang jauh berubah sejak mengenal dan menikah dengan Nandira. Perubahan Nathan luar biasa jauh. Biasanya pria itu hanya menampilkan wajah datar tanpa ekspresi dan terlihat seperti selalu marah walau sebenarnya dia tidak marah karena ekspresi wajahnya itu.
"Kenapa Kakak cemberut?" Tanya Nandira lagi heran saat melihat Mey yang ngambek.
"Pelan-pelan Mey." Tegur Nathan
"Iya. Aku akan jaga dengan sepenuh hati permata Kakak ini. Takkan kubiarkan dia lecet sedikit pun." Ujar Mey cukup emosi. Seperti nya bukan hanya Nandira yang aneh tapi Nathan juga aneh.
"Ayo Ra."
"Iya Kak." Nandira mengikuti Mey.
"Bagaimana test Dira?" Tanya Tio sesekali menyesap teh hangat yang dibuat oleh pelayan.
Nathan menghela nafas panjang "Belum keluar hasilnya." Sahut Nathan
"Kau tampak cemas Tan?" Tio bisa menebak wajah Nathan karena memang mereka dari kecil bersama hingga sekarang Nathan menjadi Kakak ipar Tio.
__ADS_1
"Aku hanya takut saat Dira menjadi dokter dan dia sukses dia akan melupakan ku. Aku sadar bahwa aku ini sudah tua sedangkan dia masih begitu muda. Apalagi diluar sana banyak pria muda yang memiliki banyak uang." Ungkap Nathan. Tio memang sahabat curhatnya dari dulu. Apa-apa saja dia selalu curhat pada sahabat nya itu.
Tio menepuk pundak Nathan "Dira itu gadis baik-baik dan tulus. Jangan berpikiran aneh-aneh tentangnya. Aku rasa dia tidak akan seperti itu nantinya. Kau pernah bilang bukan bahwa Mars menyukainya dan bahkan hingga kini Dira tidak tahu. Jangan khawatir, istrimu itu gadis unik. Dia hanya akan mencintai mu. Percaya padaku." Ucapnya menenangkan Nathan "Satu lagi Tan, Dira bukan wanita yang gila harta. Apa pernah dia meminta sesuatu padamu selama kalian menikah? Bahkan aku yakin sama sekali dia tidak memikirkan uang." Tio terkekeh pelan sambil mencengkram bahu Nathan berusaha menyalurkan kekuatan untuk sahabat nya itu.
Nathan terdiam mencerna kata-kata Tio. Memang benar jika istrinya itu gadis unik. Nathan masih ingat saat dia mengajak Nandira jalan-jalan untuk belanja gadis itu malah minta es cream dan tidak meminta apapun.
"Apa Dira masih mengidam?" Tanya Tio sekali lagi.
Nathan mengangguk "Masih tapi dia tidak lagi meminta yang aneh. Hanya saja dia makin manja. Tapi aku suka." Nathan tersenyum saat mengingat Nandira yang selalu meminta peluk disaat dirinya tidur.
Tio ngakak. Nathan ini memang tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita lain. Jadi wajar saja jika bucin seperti anak remaja yang baru jatuh cinta.
"Aku tidak percaya jika pria kaku seperti mu bisa jatuh cinta juga. Aku pikir kau akan menjomblo selama nya." Ujar Tio sambil tertawa-tawa lebar. Selama mereka berteman sejak kecil Nathan memang terkesan tertutup terhadap lawan jenis bahkan dulu saat di bangku sekolah menengah atas banyak yang mendekatinya, namun dia sama sekali tidak tertarik
Nathan tersimpul "Dia membuatku percaya pada cinta Yo. Dia mengubah segalanya dalam sekejap. Dia menyakinkan ku bahwa cinta sejati itu masih ada." Ungkap Nathan sambil membayangkan setiap moment bersama Nandira.
"Ya ya dan sekarang aku tahu bahwa kau sedang bucin." Sindir Nathan
Bukannya tersinggung atau marah pria itu malah senyam-senyum tidak jelas. Meman pengaruh jatuh cinta ini luar biasa sekali. Bahkan kulkas empat pintu seperti Nathan bisa diluluhkan oleh gadis polos dari kampung.
Tampak Nandira dan Mey menghampiri suami mereka.
"Sayang." Mey menarik lengan suaminya "Ayo makan."
"Mas, ayo." Nandira juga menarik tangan Nathan
"Pelan-pelan sayang nanti kalau kau terjatuh bagaimana?" Tegur Nathan.
"Iya Mas. Aku sudah lapar. Ayo."
Mereka berjalan kearah meja makan. Tio dan Mey benar-benar salut dengan keposessifan Nathan yang berada diluar batas negara.
Nathan memapah tangan istrinya. Bahkan sebenarnya dia mau menggendong tubuh wanita hamil itu namun Nandira menolak.
'Aku senang Kak Nathan telah bertemu cinta sejatinya. Setidaknya aku tenang membiarkan Kak Nathan tinggal di Indonesia. Semoga mereka selalu bahagia hingga maut memisahkan.' Batin Mey bersandar dibahu suaminya.
__ADS_1
Sebagai seorang adik tentu Mey bahagia melihat sang Kakak yang sudah menemukan cinta sejatinya. Bahkan Mey sempat berpikir jika Kakaknya itu impoten. Oleh sebab itu tak jarang dia menjodohkan Nathan dengan teman sesama dokternya. Namun mana mau Kakaknya itu sekalipun artis Korea yang dijodohkan dengannya mungkin dia takkan tertarik. Hanya Nandira yang berhasil membuat beruang kutub itu jatuh cinta.
Bersambung.....