
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Anara menatap pantulan dirinya didepan cermin. Gaun mewah dan mahal yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari itu terlihat pas membungkus tubuh rampingnya. Senyumanya mengembang dan terpancar kebahagiaan disana.
Sejenak gadis cantik itu menghela nafas panjang. Dia menunduk seketika.
“Seandainya Ayah dan Ibu masih ada. Pasti mereka akan bahagia melihat aku memakai gaun ini. Dipersunting oleh lelaki yang akan menjadi suami dan Ayah dari anak-anakku nanti. Namun mereka telah pergi untuk selamanya dan aku harus ikhlas dengan takdir hidupku.” Anara mengusap air mata yang jatuh setetes dipelupuk matanya. Jangan sampai make up nya luntur.
“Kakak.”
Ayana masuk dengan kebaya yang membelut tubuhnya. Dia juga tampak cantik hari ini. Ayana berlapang dada menerima kenyataan bahwa lelaki yang pernah singgah dihati nya itu kini akan menjadi Kakak iparnya dan dia akan bahagia jika sang Kakak bahagia.
“Na.” Anara menatap adiknya
Ayana tersenyum hangat dan berjongkok menyamakan tinggi Anara yang duduk didepan cermin. Dia baru saja selesai dirias oleh MUA yang disewa oleh Aris.
“Kakak cantik sekali.” Puji Ayana menatap Kakaknya.
“Na.” Anara memeluk adiknya.
Kecantikan mereka sama. Hanya saja gaya berpakain saja yang berbeda. Anara feminim dan kalem serta irit bicara. Sedangkan Ayana terkesan tomboy dan bar-bar.
“Selamat ya Kak. Aku akan bahagia jika Kakak bahagia. Aku yakin Mas Aris akan menjadi suami yang baik untuk Kakak.” Lirih Ayana mengelus punggung Kakaknya. Hatinya tergores sakit saat mengucapkan kata itu.
Anara melepaskan pelukkannya “Kau juga harus bahagia ya. Kakak yakin suatu saat nanti, kau juga akan menemukan kebahagiaanmu.” Ucap Anara
“Iya Kak.” Ayana memaksakan senyum. Pura-pura bahagia itu tak gampang butuh hati yang kuat agar tetap terlihat baik-baik saja. Begitu juga dengan Ayana.
“Ayo Kak, semua sudah menunggu.” Ayana mengulurkan tangannya kepada sang Kakak.
__ADS_1
Anara menyambut uluran tangan adiknya. Dia sangat gugup. Sebentar lagi status nya akan berubah. Dia akan menjadi istri dari seorang pria. Dan dia akan jadi Ibu dari anak-anaknya nanti. Semua akan perlahan berubah. Dia akan menghabiskan semasa hidupnya untuk bersama suami dan anak-anaknya nanti.
“Kakak gugup ya?” Bisik Ayana setengah menggoda
“Iya Na.” Anara menarik nafas dalam.
Pernikahan digelar di Mansion kediaman Nathan dan Nandira. Meski awalnya Aris menolak karena Nathan sudah terlalu banyak membantunya. Namun Nathan pria itu tak menerima penolakkan dia tidak suka ditolak. Dalam hidupnya tidak ada yang berani menolaknya.
Anara dan Ayana berjalan menuju altar pernikahan. Disana sudah ada Aris dan seorang pendeta yang sudah menunggu kedatangan Anara.
Tampak Nathan dan Nandira juga disana. Nathan menjadi saksi dari Aris, karena Aris sudah tak memiliki orangtua sama seperti dirinya. Sedangkan wali dari Anara adalah Namsin. Karena Anara juga sudah tak memiliki orangtua sama seperti Aris.
Semua mata menatap kedua gadis kembar itu. Senyum mengembang diwajah keduanya. Jika tidak kenal bisa-bisa keliru membedakan yang mana Anara dan yang mana Ayana.
Harusnya Anara menggandeng tangan sang Ayah yang membawanya kepada calon suaminya. Namun Anara tak mau bersedih memikirkan nasib hidupnya. Dia yakin jika Ayah dan Ibu nya sudah bahagia disana. Semua orang akan kembali disana hanya beda waktu dan tempatnya saja. Dimana ada pertemuan pasti disitu juga aka nada perpisahan.
Ayana menyerahkan Kakaknya kepada Aris. Lelaki pertama yang membuatnya jatuh cinta. Namun lelaki pertama juga yang membuatnya patah hati dan terluka.
Aris mengangguk dan menerima uluran tangan calon istrinya itu. Matanya berkaca-kaca menatap Anara yang begitu cantik hari ini. Sangat cantik. Aris hampir tak mengenali wajah calon istrinya itu. Apa mungkin karena Anara jarang memakai make up sehingga terlihat begitu berbeda ketika didandani?
Acara pemberkatan dimulai. Tampak suasana haru biru ketika sang pendeta membahas orangtua. Apalagi saat meminta restu kepada orangtua untuk memulai hidup yang baru.
Sebagai orang yang sama-sama tak memiliki orangtua, Aris dan Anara berusaha saling menguatkan satu sama lain dan saling merangkul. Jika mereka tak sempat tumbuh dengan kasih sayang orangtua. Maka nanti mereka harus memastikan jika anak-anak mereka tumbuh dipenuhi dengan kasih sayang orangtua.
Tampak Nathan pun tak bisa menyembunyikan kesedihannya sendiri. Orangtuanya meninggal dalam tragedy kecelakaan pesawat beberapa puluh tahun yang lalu. Dia dibesarkan oleh Kakek dan Neneknya. Namun takdir juga berkehendak lain, kedua orang itu pun pergi untuk selamanya menghadap sang pencipta takdir.
Setelah acara pemberkatan selesai. Dilanjutkan dengan resepsi pernikahan. Beberapa rekan bisnis Nathan juga turut diundang. Karena mereka pun ikut mengnal assisten Nathan itu.
“Sayang, kenapa?” Nathan menggenggam tangan istrinya. Sedangkan untuk mewakili penyambutan tamu, diwakili oleh Tio karena Nathan tak bisa lama-lama jauh dari istrinya yang tengah hamil besar itu.
__ADS_1
Nandira menggeleng tapi wajahnya sedih. Entah kenapa dia sedih? Dia sendiri tidak tahu.
“Sayang, aku tahu kau tak baik-baik saja! Ayo katakan padaku.” Ucap Nathan. Tentu dia tahu siapa istrinya ini, bagaimana Nandira sedang bahagia dan sedih. Nathan tahu semua.
“Tidak Mas. Kemarin kita menikah tidak semewah ini, bahkan Ayah dan Bunda juga tidak hadir dipernikahan kita Mas. Aku hanya sedih saja.” Ucap Nandira.
Nathan terdiam. Hatinya sedikit terenyuh mendengar curahan istrinya. Pernikahan mereka kemarin karena kesalahpahaman, terjadi mendadak tanpa diduga bahkan tanpa cinta. Berbeda dengan Aris dan Anara yang memang saling mencintai satu sama lain dan hubungan mereka juga dimulai dengan pacaran, sedangkan Nathan dan Nandira bertemu langsung menikah tanpa proses pendekatan.
Setelah acara selesai. Aris segera membawa istrinya beristirahat. Acara cukup panjang, para tamu yang berdatangan juga terus bertambah. Hingga memakan waktu dan tenaga.
Aris menggendong wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu menuju kamar penggantin yang sudah disiapkan oleh Mey.
“Lelah?” Aris meletakkan wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu.
“Ris.” Anara mencengkram tangan Aris ketika suaminya hendak beranjak.
“Ada apa?” Aris menatap istrinya dengan senyum “Apa ada yang ingin kau katakan sayang?” Aris kasihan melihat istrinya yang tampak kelelahan karena acara yang panjang itu “Katankanlah sayang.” Ucapnya lembut.
“Ris.”
Mata Anara berkaca-kaca. Sebenarnya dia ingin mengatakan ini sejak pertama mereka pacaran tapi dia takut jika Aris tak mau padanya karena dia sudah terlanjur mencintai pria ini dan tidak mau kehilangan Aris
“Maafkan aku.” Dia menunduk.
“Hei, kau kenapa? Minta maaf kenapa?” Aris mengangkat dagu istrinya “Katakan padaku sayang, kau minta maaf kenapa?” Tanya Aris lembut.
Anara memejamkan matanya berusaha untuk mengatakan yang sebenarnya. Dia tidak mau suaminya tahu sendiri nanti tentang dirinya.
“Aku sudah tidak perawan.”
__ADS_1
Deg
Bersambung.....