Cinta Manis Sang Presdir

Cinta Manis Sang Presdir
Bab 3. Mars & Ayana


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Ayana berbaring santai di apartementnya. Hari ini dia berhasil lepas dari Mars dengan izin pura-pura sakit.


“Ahhhhh akhirnya aku bisa menikmati masa kebebasanku tanpa Tuan Planet itu.” Ayana tersenyum senang.


Hanya memakai celana pendek diatas lutut dan baju kaos. Setelah Anara menikah dia tinggal sendirian di Apartement ini. Jadi hidupnya bebas. Tidak ada yang mengatur. Mau makan, masak sendiri tidak ada peraturan.


“Hem, kapan aku bisa jalan dengan Mas Galvinb.” Gumamnya sambil selorohan di sofa sambil menonton televise, tak lupa cemilan sekantong besar yang sudah dia beli tadi malam.


“Mas Galvin benar-benar tampan. Baik hati. Dokter lagi. Pria kesayangan sejuta umat.” Ayana memeluk bantal sofa membayangkan wajah tampan Galvin.


“Tapi sayang, aku benar-benar tak punya kesempatan untuk dekat dengannya. Gara-gara Tuan Planet itu.” Ayana kembali mencebik kesal saat membayangkan wajah Mars yang sungguh menyebalkan itu.


“Sebenarnya dia tampan, kadang tiba-tiba baik dan sweat tapi kalau lagi kerasukkan dia bisa berubah jadi singa jantan.” Ayana bergidik ngeri “Dan dia seenaknya mencap aku sebagai miliknya. Aku saja belum ada label.” Ayana kesal sendiri kalau mengingat Mars


Gadis itu santai-santai dengan bungkus cemilan yang berserakkan dilantai. Sambil menonton drama Korea kesukaannya. Kapan lagi bisa menikmati masa-masa bebas seperti ini? Setiap hari bersama Mars membuatnya merasa bosana, apalagi setiap hari keduanya hanya rusuh dan bertengkar terus.


“Aku harus cari cara agar Tuan Planet memecatku. Cara yang kemarin gagal tapi tenang masih ada cara lain.” Dia tersenyum smirk sambil menikmati cemilan yang menemaninya menonton drama Korea kesukaannya.


Tin tong ting tong ting tong


“Siapa yang berkunjung siang-siang seperti ini?” Gumam Ayana


“Apa mungkin Kak Nara atau Ranti?” Dia meletakkan cemilannya begitu saja.


“Buka saja lah.”


Dia berdiri sambil bersenandung ria kesenangan. Semoga saja Anara atau Ranti jadi dia punya teman membuat rujak siang ini. Ayana punya persediaan buah-buahan dan asaman didalam kulkas untuk membuat rujak setiap pulang bekerja, dia suka sekali dengan jenis makanan yang satu itu.


Ting tong ting tong


Ayana mengintip dilubang pintu. Matanya membulat sempurna saat melihat pria yang dia hindari ada disana.

__ADS_1


“Ohhh my God.” Gadis itu menutup mulutnya tak percaya “Apa salah dan dosaku Tuhan? Kenapa manusia yang satu itu selalu menghantuiku?"


Ayana berhambur ke sofa membereskan bungkus cemilan yang berantakkan diatas meja. Bisa ketahuan dia jika dia pura-pura sakit. Bisa di omeli sepanjang jalan kenangan nanti oleh Boss killer itu.


Ayana berhambur ke kamar memakai piyama tidurnya dan tak lupa dia memakai make up supaya wajahnya pucat serta lipstick yang senada dengan warna kulitnya sehingga wajahnya pucat dan bisa menyakinkan Mars bahwa dia benar-benar sakit.


Ayana membuka pintu sambil memasang wajah memelas nya. Rambutnya dia gerai berantakkan dan pura-pura kedinginan.


“Tu-tuan.” Lirihnya memasang wajah memelasnya seolah kesakitan.


“Ayana.”


Tubuh Ayana membeku ketika Mars memeluknya. Dia seperti hilang kesadaran dan kenapa pelukkan pria ini sangat nyaman dan hangat.


“Kau tahu betapa khawatirnya aku?” Masih memeluk gadis itu dengan erat berharap rasa paniknya bisa hilang.


Ayana kikuk. Kenapa dia merasa bersalah telah membuat pria ini panic? Apa Mars sungguh-sungguh menyukainya? Tapi Ayana tidak percaya, dia tidak mau terlalu percaya diri. Ini bukan drama Korea dan dunia novel dimana pria kaya menyukai gadis miskin sepertinya.


Ayana melepaskan pelukkan Mars, dia benar-benar bisa lihat jika pria ini mengkhawatirkan dirinya.


“Kau pucat sekali?” Pria ini benar-benar panic dia sambil menangkup wajah Ayana.


Seperti adengan sebuah film tatapan keduanya bertemu. Tatapan Mars yang khawatir membuat Ayana merasa bersalah karena sudah membohongi Boss nya sendiri. Sedangkan Mars terpesona dengan bola mata Ayana.


“Aku bawa kerumah sakit.” Ucapnya


“Tidak usah Tuan, saya baik-baik saja.” Ayana mencoba tersenyum. Sial ada apa dengan jantungnya.


“Aku bawa ke kamar.”


Ayana terkejut saat Mars menggendongnya. Untung saja dia sigap dan memeluk leher pria itu. Sekali lagi tatapan keduanya bertemu. Secepatnya Ayana memalingkan wajahnya, dia tidak mau terpesona dengan wajah Mars. Sadar diri lebih baik dari pada bermimpi yang tinggi.


Mars meletakkan Ayana dengan pelan ditempat tidurnya. Dia tadi benar-benar khawatir. Dia sampai membatalkan beberapa meeting bersama kliennya saat mendapat kabar bahwa sekretaris kesayangannya ini sakit.

__ADS_1


“Kau sudah makan?” Dia menyelipkan anak rambut Ayana. Alhasil gadis itu salah tingkah.


Ayana menggeleng sambil menatap Mars tak berkedip. Dia berusaha tak gugup. Nyatanya dia gugup saat Boss nya itu menyentuh wajahnya.


“Ya sudah kau tunggu disini, aku akan buatkan bubur untukmu. Cup.”


Tubuh Ayana menegang saat Mars mengecup keningnya dengan sayang. Apalagi pria itu mengusap kepalanya. Ketahuilah wanita benar-benar suka saat rambutnya dibelai begitu merasa sangat disayang oleh lelakinya.


Ayana masih membeku menatap punggung Mars yang keluar dari kamarnya. Dia bahkan sampai lupa berkedip beberapa kali.


“Ya Tuhan dia mencium ku lagi.” Gadis itu memegang keningnya bekas ciuman Mars “Kenapa rasanya nyaman sekali?” Tanpa sadar gadis itu tersenyum “Jantung ohh jantung tolong kerjasamanya.” Ayana memegang dadanya yang masih berdegup kencang.


“Tidak. Tidak. Ayana kau tidak boleh menyukai Tuan Planet. Ingat kau itu gadis kampung, kau hanya reginggang kerupuk di tepi toples. Kau tahu kan betapa tingginya planet Mars itu, jadi jangan bermimpi untuk bisa menggapainya.” Gadis itu menggeleng mengenyahkan perasaannya.


“Hufffhh, tenang Ayana. Tenang. Tarik nafas dalam-dalam. Lalu hembuskan perlahan.” Gadis itu menarik nafasnya lalu menghembuskan nya lagi.


“Tumben dia tidak menyebalkan hari ini?" Gumam Ayana terus menatap pintu kamarnya.


Mars masuk dengan nampan ditangannya. Ayana secepatnya menutup matanya dan berpura-pura tidur. Kebebasannya hanya berlaku beberapa jam saja dan sekarang dia harus terjebak lagi dengan pria itu.


Mars meletakkan nampannya diatas meja. Dia menatap lama wajah pucat Ayana yang tertidur lelap. Baru kali ini dia dibuat panic oleh seorang wanita setelah dirinya dipatahkan. Mars tidak tahu saja jika wajah pucat Ayana karena make up.


“Ayana.” Dia mengusap pipi gadis itu dengan lembut “Ayo bangun. Makan dan minum obat.” Ucapnya.


Ayana dengan cepat membuka matanya. Dia rishi saat Mars memegang wajahnya. Bukan jijik tapi jantungnya yang tidak sinkron.


“Tuan.” Gadis itu memasang wajah lemahnya.


“Makan ya biar aku suapi. Tadi aku sudah beli obat untukmu.” Ucapnya mengangkat mangkuk bubur yang dia buat tadi.


“Jangan Tuan, biar saya saja.” Tolak Ayana hendak mengambil alih mangkuk itu dari tangan Mars


“Jangan membangkang Ayana. Ayo cepat buka mulutmu.” Paksa Mars.

__ADS_1


Terpaksa Ayana menyambut suapan dari tangan Mars. Pria ini pintar juga memasak, bubur buatannya sangat pas dilidah Ayana. Sesekali dia membersihkan bibir Ayana yang blepotan.


Bersambung...


__ADS_2