
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Semua orang disibukkan dengan segala persiapan yang sudah direncanakan. Semua mengambil bagian tanpa terkecuali.
Malam ini adalah penyambutan tujuh bulanan keempat bayi kembar didalam kandungan Nandira. Nathan mengadakan acara syukuran bersama keluarga besarnya. Hanya keluarga besar dan teman-teman dekat Nandira saja.
Tampak Namsin dan Hellena turut ikut ambil andil untuk menyambut cucu pertama mereka. Senyum mengembang diwajah kedua pasangan paruh baya itu. Kebahagiaan terpancar jelas disana.
Nando, Anara, Aris, dan Ayana menyusun segala dekorasi yang dibutuhkan untuk persiapan nanti malam.
Sedangkan Mey dan Hellena sibuk menyiapkan makanan. Mereka masak sendiri dan dibantu oleh semua pelayan yang bekerj di Mansion mewah milik Nathan.
Tak ketinggalan, Tio sebagai adik ipar Nathan turun ambil bagian untuk segala persiapan itu. Sebagai seorang sahabat dan adik ipar dia turut merasakan kebahagiaan yang dirasakan Nathan apalagi menyambut sekaligus empat bayi yang akan melengkapi kebahagiaan Nathan dan Nandira.
Nathan tengah mengikat rambut panjang istrinya. Mereka memakai pakaian dengan warna yang sama malam ini.
"Mas." Panggil Nandira tersenyum didepan kaca.
"Iya sayang kenapa?" Pria itu menghadap kearah istrinya "Apa perutmu sakit?" Tanya nya.
Kandungan Nandira memang sangat besar mungkin karena diisi oleh empat bayi sekaligus didalam nya.
"Terima kasih ya Mas. Aku bahagia." Mata Nandira berkaca-kaca tak menyangka jika akhirnya kebahagiaan menghampiri hidup.
"Heii! Don't crying honey." Pria itu mengusap pipi lembut sang istri "Mas juga bahagia. Bahagia memiliki mu dan mereka." Sambil mengusap perut buncit Nandira.
"Mas aku tak menyangka kita bisa sebahagia ini." Lirih Nandira. Air mata bahagia nya tak bisa berhenti menetes.
"Mas juga tidak menyangka." Nathan merengkuh tubuh wanita itu kedalam pelukan nya "Kau tahu sayang, sebelum kau hadir hidupku benar-benar hampa. Setiap hari bagiku adalah kematian. Aku seperti pria mati rasa. Kehilangan membuat ku menyadari bahwa tak ada kebersamaan yang abadi. Tapi sejak kau hadir, kau merubah segala nya sayang dan aku benar-benar merasakan yang namanya kebahagiaan. Aku berharap semua ini takkan pernah berakhir sampai kapanpun. Aku berjanji akan menjaga kalian berlima. Kalian adalah jantung hatiku." Air mata dipeluk mata Nathan pun ikut berderai. Air mata kebahagiaan.
"Mas..." Nandira semakin erat memeluk suaminya.
Kedua calon orangtua itu saling berpelukan dan menangis dalam bahagia. Kebahagiaan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Kebahagiaan yang seolah membawa mereka kedalam kehidupan yang jauh lebih baik.
__ADS_1
Nathan yang selalu merutuki Tuhan karena hidupnya yang berbeda. Dia kehilangan orang tua nya dan harus berjuang sendiri untuk membuat hidupnya jauh lebih baik. Kehadiran Nandira, gadis polos dari kampung itu berhasil mengangkat hati dan hidupnya menuju kebahagiaan yang sesungguhnya.
Nandira, gadis polos yang mengadu nasib ke Jakarta untuk memenuhi kehidupan orangtuanya serta menghindari perjodohan dengan anak kepala desa yang sama sekali tidak dia cintai. Jebakkan dari teman-temannya, membuatnya terikat dalam pernikahan kesalahanpaham yang membuatnya bertemu dengan pria nomor satu di kota ini. Berawal dari ucapannya yang polos berhasil memporak-porandakan hati suaminya hingga mereka berdua jatuh cinta dan saling mencintai begitu dalam.
"Sudah, ayo sayang. Mereka pasti sudah menunggu kita." Nathan mengusap pipi istrinya yang basah.
"Iya Mas." Nandira mengangguk.
"Ayo sayang." Nathan mengulurkan tangannya agar wanita hamil itu menyambut uluran tangan sang suami.
"Iya Mas." Nandira menyambut uluran tangan Nathan.
Nathan memapah istrinya keluar dari kamar dengan pelan. Nandira memang susah bergerak banyak gara-gara membawa perut besarnya itu.
"Atau aku gendong saja sayang." Nathan kasihan melihat istrinya yang tampak lelah dengan perut besar yang tampak berat itu.
"Tidak Mas. Aku kuat." Seru Nandira tersenyum.
Nathan tidak mengundang rekan bisnisnya selain Mars saja itu pun karena istrinya adalah mantan sekretaris pria itu. Nathan masih was-was takut jika Mars masih menyukai istri cantiknya.
Semua menatap pasangan itu dengan kagum. Tampan dan cantik benar-benar serasi. Entah nanti bagaimana anak mereka yang akan lahir itu, apakah setampan dan secantik kedua orangtuanya atau bisa lebih cantik dan tampan dari keduanya.
Anara dan Ayana tersenyum manis kearah Nandira. Tak menyangka jika gadis kecil yang dulu sering mereka rawat kini akan menjadi seorang Ibu.
'Semoga aku sebahagia Dira nanti. Bertemu pangeran impianku. Menikah dan bahagia selamanya.' Batin Ayana kesem-kesem seperti orang gila.
"Ehem, kau sudah habis obat?" Bisik Mars pada gadis itu, kebetulan dia berdiri disamping Ayana.
Ayana mendelik dan memutar bola matanya malas. Kemana pun Boss nya itu selalu saja menempel padanya seperti prangko dan lagi Mars masih menanyakan soal ungkapan perasaan nya. Ayana tidak boleh menjawab jika jawabannya adalah penolakkan dan alhasil gadis itu tak pernah sama sekali menjawab.
Ada teman-teman Nandira juga yang hadir. Teman-teman dekatnya dikampus. Nathan sengaja mengundang teman-teman istrinya biar mereka juga merasakan kebahagiaan yang tengah menyelimuti hatinya saat ini.
"Kakak Ipar." Seru Mey gemes. Ahh kenapa Nandira sangat muda? Sedangkan dia sudah hampir berkepala tiga.
__ADS_1
"Kak Mey..." Nandira tersenyum dan hendak memeluk adik iparnya itu
"Jangan sayang." Cegah Nathan saat kedua wanita berbeda usia itu ingin saling memeluk.
Sontak Nandira dan Mey melirik kearah Nathan. Kenapa pria itu malah melarangnya berpelukan? Memangnya kenapa?
"Kenapa Mas?" Tanya Nandira heran.
"Iya Kak. Kenapa?" Sambung Mey.
"Tidak apa-apa dan kau..." Nathan menatap adiknya tajam "Jangan peluk istriku." Ujar Nathan melindungi istrinya agar tidak dipeluk Mey.
"Kakak." Mey kesal sendiri "Dasar pelit." Cibirnya "Lihat saja nanti kalau kecebong Kakak itu sudah lahir, aku yakin Kakak tidak akan bisa berduaan dengan Kakak ipar dan semoga doa ku terkabul." Kesal Mey. Kakaknya itu cemburu tak ada tempatnya.
Nathan tak peduli. Pokok nya dia tidak suka ada yang menyentuh istrinya selain dirinya sekalipun itu Ibu mertuanya sendiri atau bahkan sahabat Nandira.
Tio dan Aris geleng-geleng kepala saja. Setiap hari kadang Mey dan Nathan berdebat. Mey yang ingin merawat Kakak iparnya itu serta mengatur segala pola makan wanita hamil itu. Namun Nathan tidak mau, harus Nathan karena Nandira istri Nathan bukan istri Mey jadi harus Nathan yang mengurus semua keperluan istrinya.
"Iya Uncle Nathan pelit." Celetuk Alex dan Aurel, anak Tio dan Mey.
"Lihat itu Uncle kalian. Kalau sudah besar nanti jangan ikuti gayanya." Ujar Mey yang masih kesal.
Nandira yang melihat perdebatan suami, adik dan keponakan suaminya itu terlihat bingung. Kenapa orang-orang ini selalu memperebutkan dirinya.
"Kalian kenapa?" Tanya Nandira melihat keempat orang itu secara bergantian termasuk suaminya.
Sontak Nathan dan Mey langsung melihat kearah Nandira. Perdebatan mereka terbuyarkan saat mendengar pertanyaan dari Nandira.
"Tidak apa-apa sayang." Kilah Nathan.
Mey mencebik kesal, coba kalau dia yang seperti itu pasti Nathan akan mengomelinya panjang lebar karena tidak nyambung saat berbicara.
Bersambung....
__ADS_1