Cinta Manis Sang Presdir

Cinta Manis Sang Presdir
Pasangan bahagia


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


"Selamat ya Nak. Semoga anak-anak mu sehat sampai lahiran nanti." Hellena memeluk putri sulungnya itu.


"Iya Bunda. Terima kasih Bunda. Bunda dapat cucu sekali empat." Nandira melepaskan pelukan Ibunya "Suami Dira bekerja keras setiap malam Bunda, sampai-sampai Dira kadang tidak sempat istirahat karena Mas Nathan terus minta katanya biar cepat punya Baby dan ternyata benar Bunda setiap malam melakukan nya bisa dapat Baby cepat dan banyak lagi." Seru Nandira menjelaskan dengan mengelus perut nya.


Wajah Nathan sudah merah merona. Sedangkan Tio dan Mey melipat bibir menahan tawa begitu juga dengan Aris dan Anara bahkan ada yang menelan salivanya susah payah.


"Ehem." Hellena berdehem putrinya kalau bicara memang asal keluar begitu saja "Ohh begitu ya Nak." Hellena garuk-garuk kepala.


Namsin kesem-kesem saja. Memaklumi karena putrinya ini memang sebelumnya tidak mengerti apa-apa masalah hal-hal yang bersangkutan dengan hubungan suami istri.


"Iya Bunda. Mas Nathan_."


"Sayang, Ayah ingin mengucapkan selamat padamu. Ayo salimi Ayah." Potong Nathan sebelum istrinya berbicara yang lebih baik vulgar lagi.


"Ohhh iya. Ayah." Seketika wanita itu menurut.


Lagi-lagi Aris dan Tio menahan tawa. Nathan si pria dewasa harus memiliki istri sepolos Nandira. Istrinya calon dokter lagi, semoga nanti kepolosan Nandira hilang seiring berjalannya waktu.


"Selamat ya Nak." Namsin memeluk putrinya itu "Jaga mereka baik-baik. Jaga cucu Ayah." Dia mengecup kening putri sulungnya itu.


Mata Nathan berkaca-kaca. Seandainya kedua orangtuanya masih ada pasti mereka akan ikut merasakan kebahagiaan saat ini. Diam-diam Nathan menyeka air matanya. Faktanya sesukses apapun kehidupan jika tidak ada orangtua tetap rasanya adalah kehampaan.


"Terima kasih sayang." Nandira menyeka air matanya "Maafkan Dira yang belum bisa menjadi anak yang baik untuk Ayah." Ucapnya sendu.


Namsin menggeleng "Kau sudah menjadi anak yang Ayah banggakan. Jadilah istri dan Ibu yang baik untuk suami dan anak-anak mu nanti." Ucap Namsin kembali memeluk putrinya itu.


Anara juga menyeka air matanya. Dia bahkan sudah lama kehilangan figure seorang Ayah, sudah lama sekali. Sehingga Anara saja tidak tahu seperti apa wajah sang Ayah. Karena Ayahnya meninggal usia mereka masih sangat kecil sehingga tak sempat mengenai wajah sang Ayah.


Ucapan selamat dan kado-kado dari para teman-teman dan saudara nya didapat oleh Nathan dan Nandira.


"Ra."


"Kak Zahra." Nandira tersenyum hangat pada wanita berhijab itu "Terima kasih Kak sudah datang."


"Sama-sama Ra. Selamat ya. Semoga mereka sehat-sehat disana." Zahra adalah sahabat baik Nandira.

__ADS_1


Zahra, gadis itu tulus bersahabat dengan istri dari pria ternama itu. Tak ada niat untuk memanfaatkan Nandira. Bahkan Zahra adalah gadis yang selalu melindungi Nandira ketika wanita itu di manfaatkan oleh yang lainnya.


"Ini untukmu." Sambil memberikan kotak yang dibungkus kertas kado.


"Terima kasih Kak." Seru Nandira.


Tak ketinggalan Anara dan Ayana pun ikut memberikan kado dan ucapan selamat untuk acara tujuh bulanan keempat bayi Nandira.


"Selamat ya Ra." Ayana memeluk wanita hamil itu "Luar biasa, sekali keluar empat. Nanti kira-kira Kakak keluarkan berapa ya? Lima saja lah, biar lebih banyak darimu." Ayana ngakak.


"Mamang Kakak sudah menikah?" Tanya Nandira polos.


Sontak tawa Ayana terhenti. Sedangkan Anara menutup mulut menahan tawa.


"Jangan macam-macam ya Kak. Kata Ayah tidak boleh uh ah uh ah sebelum menikah. Dosa." Celetuk Nandira sambil mempraktekkan suara yang sering dia dan suami nya keluarkan saat melakukan hubungan.


Ayana mengaruk tengguknya "Kan tadi Kakak bilang kalau Kakak menikah Dira." Ayana mulai kesal. Bisa-bisa saja si Nandira ini.


"Kakak tidak bilang menikah, Kakak hanya bilang nanti. Nanti itu kan belum tentu Kakak menikah. Kakak saja tidak punya calon." Seru Nandira santai.


"Kau......" Ingin rasanya Ayana meremes mulut Nandira.


"Iya Kak. Kakak dan Mas Aris jangan lama-lama ya Kak. Kata Kak Mey nanti bisa ekspayet." Ujar Nandira melepaskan pelukan Anara.


Nathan menatap Mey tajam. Mey harus dikasih pelajaran. Sudah tahu istrinya masih polos tentang hal yang seperti itu tapi malah dikotori lagi pikirannya dengan kata-kata aneh. Mey menunjukkan jari v nya tanda damai, dia paling suka mengecoh Nandira karena Nathan pasti akan mengamuk. Kapan lagi bisa mengerjai Kakaknya itu?


"Ehem, tenang saja Ra. Kami sedang mempersiapkan semuanya." Sahut Anara. Dia bukan Ayana yang bar-y. Jadi dia harus memberi jawaban yang tepat untuk Nandira.


Tampak disana ada Ivan dan Ranti juga. Pasangan yang sebentar lagi akan menikah itu pun di undang Nathan ingin ikut hadir diacara tujuh bulanan istrinya, Nandira.


"Dira."


"Kak Ranti."


Ranti berjalan kearah Nandira sambil menenteng paper bag ditangannya. Langkah Ranti terhenti saat melihat ada Galvin yang tampak sedang berbincang-bincang dengan Tio. Galvin salah satu dokter yang bekeja dirumah sakit Nathan.


"Tidak usah diliat." Ivan langsung merangkul bahu kekasihnya itu "Nanti semakin sakit. Ingat sudah komitmen untuk saling menerima dan mencintai!" Bisiknya sambil membawa Ranti menghampiri Nandira.

__ADS_1


"Kakak, maafkan aku." Ranti menatap Ivan yang merangkulnya.


"Tidak apa-apa. Aku akan buktikan bahwa aku lebih dari dia." Ucap Ivan tersenyum hangat. Dia akan membuat Ranti lupa akan cintanya pada Galvin nantinya.


Ranti mengangguk "Terima kasih Kak selalu mengingatkan aku." Ucap Ranti tersenyum.


"Sama-sama sayang." Ivan mengedipkan matanya jahil.


Keduanya menghampiri Nathan dan Nandira. Tampak rona bahagia terpancar jelas dimata kedua pasangan berbahagia itu.


"Selama ya Ra." Ranti menyedorkan paper bag ditangannya.


"Terima kasih Kak Ranti." Seru Nandira.


"Selama ya Ra." Ivan juga menyalimi Nandira.


"Terima kasih Mas Ivan." Balas Nandira


Acara berlangsung dengan meriah. Meski hanya dihadiri oleh teman-teman dan keluarga besar saja. Rona bahagia diwajah Nathan dan Nandira tak bisa disembunyikan. Terpancar jelas diwajah keduanya.


Setelah acara selesai Nathan membawa istrinya kembali ke kamar. Takut nanti Nandira kelelahan karena lamanya acara yang berlangsung.


"Mas aku ganti baju dulu. Gaun ini gerah."


"Biar aku ganti ya sayang?" Pinta Nathan


Dan lagi wanita itu mengangguk patuh. Tanpa tahu niat selubung dan licik diwajah suaminya.


"Tunggu sebentar aku ambilkan pakaian mu di almari."


"Apa tidak merepotkan Mas?" Nandira tak enak hati sendiri.


"Kenapa harus merepotkan, aku adalah suami mu. Tenang ya sayang. Tunggu aku disini." Memberikan ciuman singkat dikening istrinya.


"Iya Mas."


Natha mengambil baju terusan yang berbentuk daster yang memang khusus untuk Ibu hamil. Awalnya dia tidak paham baju-baju seperti itu. Untung saja memiliki adik yang sudah berpengalaman dan sekaligus seorang dokter.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2