Cinta Manis Sang Presdir

Cinta Manis Sang Presdir
Patah hati


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


"Ada hubungan apa kau dan Tuan Nathan?". Tanya Mars sekali lagi.


"Mas Nathan, maksudnya Tuan?". Ujar Nandira.


Mars mengangguk. Sumpah demi apapun dia benar-benar penasaran hubungan Nathan dan Nandira.


"Mas Nathan itu suami ku Tuan". Jawab Nandira jujur sambil menampilkan senyum manisnya.


Deg


Mars seolah kesadaran sejenak. Benarkah Nandira istri Nathan? Sejak kapan mereka menikah kenapa tidak ada pemberitahuan.


"Sejak kapan?". Mars memalingkan wajahnya. Entah kenapa rasanya wajahnya panas.


"Lima bulan yang lalu Tuan". Jawab Nandira "Kalau begitu saya permisi Tuan". Nandira mellengang pergi dari sana.


Hancur lebur. Berantakan. Baru saja Mars merasa terbang tinggi diudara tapi dalam sekejap dihempaskan dan terjatuh begitu saja.


Mars memejamkan matanya sejenak. Air mata seolah menganak. Ingin membanjiri pipi tampannya.


"Kenapa sakit sekali?". Pria itu memukul dadanya berulang kali.


Mars memalingkan wajahnya dan kembali menatap keluar jendela. Satu tetesan bening lolos begitu saja.


"Aku pikir kau gadis yang akan membantuku bangkit. Ternyata kau malah menghempaskan ku dan menyadarkanku bahwa bermimpi terlalu tinggi tidak baik". Gumamnya.


Entah sejak kapan perasaan itu muncul. Nandira sosok gadis kampung yang menjadi sekretaris nya seolah berhasil memberikan bayang-bayang-bayang cinta yang semu. Hingga dia jatuh dan tergeletak tak menentu. Entah sejak kapan dia mulai menganggumi sosok gadis kampung itu. Gadis polos dan sederhana. Hingga tanpa dia sadari perasaan yang seharusnya terbalas kini malah terhempas. Hancur. Berantakkan bersama kepingan luka.


Mars pria mati rasa. Setelah dikhianati oleh sang kekasih, dia hampir tak mempercayainya adanya cinta sejak. Namun, kehadiran sosok gadis kampung itu mampu memporak-porandakan hatinya. Mengaduk-aduk naluri nya dan dan menyadarkannya dari mimpi yang panjang.


Mars duduk dikursi kebesaran nya. Pria itu menyeka air matanya dengan kasar. Jika ada yang melihatnya menangis dan selemah ini, pasti dia akan diejek habis-habisan. Apalagi jika Ranti yang melihat pasti dirinya akan terus diejek oleh adiknya itu.


Mars menyibukkan dirinya. Berusaha menepis bayangan Nandira. Seminggu tak melihat gadis itu dia bagai kehilangan arah. Dan setelah gadis itu terlihat justru ada sosok baru yang berdiri disampingnya sambil mengenggam tangannya. Seolah memberitahu Mars bahwa Nandira takkan bisa digenggam.


"Tidak. Tidak. Kau tidak boleh memikirkan nya terus Mars. Ingat dia adalah wanita beristri. Sadar Mars. Sadar". Dia menggelengkan kepala nya berusaha mengenyahkan bayangan Nandira didalam pikiran nya.

__ADS_1


Bagaimana pun, jika berbicara tentang perasaan tidak ada orang yang baik-baik saja. Tidak ada hal yang sepele jika menyangkut hati. Sakitnya bisa membuat seluruh tulang mu patah.


"Kenapa ini lebih sakit? Saat Rayana berhianat aku tak pernah merasakan luka sedalam ini. Tapi kenapa saat mengetahui Nandira istri Nathan rasanya bagaikan ditusuk ribuan pisau". Gumamnya lagi.


Mars sama sekali tidak konsentrasi. Dia tak bisa menepis bayangan Nandira. Bayangan saat gadis itu tersenyum. Bayangan ketika mendengar celotehahan polos Nandira, kenapa terus terngiang. Kenapa tidak bisa pergi? Mars bisa gila jika terus begini.


.


.


.


.


"Kau mau kemana Ra?". Tanya Mars melihat Nandira yang merapikan atas mejanya.


"Aku ingin makan siang Mas". Jawab Nandira sambil tersenyum.


"Ya sudah makan siang bersama yuk ke kantin". Tawar Ivan menghampiri meja Nandira.


"Mas Nathan?". Guamm Ivan


"Iya Mas. Aku duluan yaaa?". Gadis itu mellengang pergi dari sana.


Ivan menatap punggung Nandira. Masih seperti yang tadi dia penasaran ada hubungan apa Nathan dan Nandira.


"Dijemput Tuan Nathan. Sebenarnya ada hubungan apa Tuan Nathan dan Dira?". Gumam pria itu seolah sedang berpikir keras.


Mars keluar dari ruangan nya. Wajah pria itu tampak lemah lesu dan tak bergairah untuk hidup.


"Siang Tuan". Ivan membungkuk hormat saat melihat pria itu.


"Van, hari ini kita makan siang diluar. Ajak Ranti". Suruhnya.


Ivan sedikit terkejut. Biasa nya Mars makan siang di ruangan nya. Jarang sekali pria itu mau kan siang diluar karena Mars tidak suka makan diganggu oleh orang lain.


"Baik Tuan". Ivan mengekor dari belakang.

__ADS_1


Ivan masih bingung dengan perubahan Mars. Dan apa yang terjadi kenapa wajah pria itu sama sekali tak bersemangat? Dia seperti manusia yang tak memiliki jiwa.


Mars sengaja mengajak Ivan dan Ranti makan diluar. Setidaknya dengan ada kedua orang itu bisa sedikit membuatnya lupa akan hatinya yang patah.


"Wahhh tumben Kakak mengajakku makan? Lagi dapat undian ya Kak?". Seru Ranti masuk kedalam mobil dengan senyum mengembang. Sebab tidak pernah Kakak nya itu mau mengajaknya makan siang.


Mars memutar bola matanya malas sambil melipat kedua tangan didada.


"Kalau kau masih berisik Kakak akan turun kan kau disini". Menatap adiknya tajam


"Astaga Kak, begitu saja marah. Kau itu sensi sekali". Ketus Ranti kesal "Kak Ivan, bagaimana kalau kita makan direstourant N2 Food. Restourant baru buka. Aku dengar-dengar itu restorant baru Tuan Nathan. Ada harga promo. Lumayan Kak, restourant mahal khas internasional ada harga diskon nya lagi". Seru Ranti sambil mengotak-atik ponselnya "Kak lihat ini menu-menunya". Sambil menunjukkan gambar dilayar ponselnya.


Ivan mengangguk paham. Dia memang mendengar bahwa restourant itu sedang naik daun dikalangan para pencinta kuliner. Tak hanya makanan khas internasional tapi disana juga akan makanan-makanan lezat Indonesia. Pastilah akan menjadi incaran para pelanggan.


"Tuan, bagaimana?". Ivan melirik Mars melalui kaca mobil.


"Terserah". Sahut Mars dingin.


Mendengar nama Nathan entah kenapa dia malas? Apa lagi saat tahu jika pria itu adalah istri dari gadis yang diam-diam mencuri hatinya.


"Kak kau itu kenapa sih? Lagi putus cinta?". Tanya Ranti melihat wajah Kakak nya tampan dingin.


"Urus saja urusan mu. Jangan urus, urusan Kakak". Jawab Mars dingin.


"Yaellah Kak. Sama adik sendiri saja dingin. Pantasan tidak laku". Sindir Ranti "Kalau ada masalah itu cerita Kak. Mumpung aku lagi jomblo masih bisa bebas. Nanti kalau aku sudah menikah dengan Kak Ivan, Kakak pasti tidak bisa bebas bercerita padaku". Sambil tersenyum jahil dan mengedipkan matanya pada Ivan. Mata mereka bertemu dikaca mobil.


Ivan mendelik mendengar kepercayaan diri dari adik Tuan-nya itu. Percaya diri sekali gadis itu.


"Anak kecil seperti mu tidak akan paham". Mendorong kening adiknya agar menjauh.


"Awww Kak". Rintih Ranti "Aku bukan anak kecil lagi Kak. Aku bahkan sudah sarjana dan bekerja. Mana ada anak kecil yang bekerja?". Cemberut nya sambil mengusap dahinya.


"Makanya diam". Geram Mars kesal.


Namun Ranti, gadis itu tak berhenti menggoda Kakaknya. Kakaknya ini memang kalau sudah patah hati terlihat murung.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2