
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
"Anara."
Aris berhambur masuk kedalam Apartement Anara dan Ayana, melihat kekasihnya itu tidak masuk hari ini membuatnya panik dan juga takut.
"Rissss." Lirih Anara meringkuk diatas soffa.
Anara demam tinggi, tadi pagi Ayana sudah memberikan obat penurun panas untuk Kakaknya itu. Namun belum juga turun-turun.
"Tuan Aris. Saya titip Kak Nara, soalnya hari ini saya masuk bekerja di perusahaan Tuan Mars. Mohon bantuannya Tuan." Ayana setengah membungkuk dan jujur saja hatinya masih sakit.
"Iya saya pasti mengurus nya." Ucap Aris.
Ayana mengangguk. Cinta tidak bisa dipaksa bulan? Bukankah cinta terbaik itu adalah merelakan orang yang dicintai bersama orang lain? Namun untuk bisa ikhlas dan melepas tak semudah yang dibayangkan, ada kerikil-kerikil yang harus dilewati dan singkirkan agar bisa sampai ke tahap melupakan terbaik.
"Kak, aku berangkat ya. Disini sudah ada Tuan Aris yang menjaga Kakak. Tadi aku sudah memasak bubur untuk Kakak, makanlah." Ucap Ayana menyalimi tangan Anara.
"Iya Na." Sahut Anara, suaranya tak tembus karena tubuhnya benar-benar panas dingin.
"Tuan Aris saya permisi." Tatapan Ayana pada Aris masih terlihat jelas jika gadis itu memiliki perasaan pada Aris.
Aris hanya mengangguk. Dia tahu gadis itu masih menyimpan rasa padanya. Namun dia tidak mau jika Ayana berharap banyak padanya.
"Ra." Aris membuka jasnya "Dimana yang sakit?" Tanyanya. Kasihan sekali kekasihnya ini.
"Di-dingin Ris." Keluh Anara mengeratkan selimut nya.
"Tunggu disini ya, aku ambil kompresan dulu."
Anara mengangguk dengan lemah karena memang tubuhnya pegal-pegal semua mungkin karena bekerja tak kenal waktu hingga membuat nya drop seperti ini.
Aris melengang pergi menuju dapur untuk mengambil baskom kecil dan air panas-panas kuku. Seperti nya Aris perlu mencari asisten rumah tangga untuk membantu membersihkan Apartement Nathan. Apartement ini memang besar dan mewah jika hanya satu orang yang membersihkan nya mungkin perlu waktu lama.
Pria itu masuk kedalam kamar dengan membawa baskom berisi air ditangannya.
"Ra, aku kompres nya." Dia meletakkan baskom kecil itu diatas nakas.
Aris dengan telaten mengopres kening Anara. Sesekali dia membilas nya dan menggantinya dengan yang baru.
"Apa kita perlu kerumah sakit?"
Anara menggeleng "Aku tidak suka rumah sakit." Mantan tunangan nya meninggal dirumah sakit saat itu jadi membuat Anara sedikit paranoid jika berhubungan dengan rumah sakit.
__ADS_1
"Tapi bagaimana kalau sakitmu parah?" Bagaimana tak panik wajah Anara sangat pucat seperti tak ada darah.
Anara tersenyum simpul. Pria ini terlihat begitu mencintainya dari cara Aris memperlakukan nya dan kepanikan diwajah Aris.
"Aku tidak apa-apa Ris. Aku sudah biasa demam begini." Sahut Anara.
Aris menghela nafas panjang. Aris akui Anara ini memang sedikit keras kepala meski jarang bicara seperti wanita pada umumnya.
"Makan dulu ya, setelah ini baru minum obat lagi?"
Anara mengangguk. Dia bersandar di dinding ranjangnya. Kepalanya pusing berdenyut-denyut. Setiap malam dia bergadang dan membuat laporan yang dia kirim pada Aris. Gadis ini jika masalah pekerjaan memang begitu serius.
'Entah kenapa aku belum bisa mencintai mu Ris. Maafkan aku. Aku akan berusaha untuk mencintai mu. Terima kasih sudah menyanyangi ku.' Batin Anara
"Ayo makan dulu."
Aris menyuapi gadis itu makan. Dia tersenyum simpul. Sangat. Sangat. Aris sangat menyanyangi gadis ini. Sifat Anara yang tenang dan kalem dan tidak berisik membuat daya tarik tersendiri dimata Aris.
"Lagi?"
Anara menggeleng "Aku sudah kenyang Ris." Tolaknya mendorong sendok ditangan Aris
"Ya sudah, minum obat dulu." Aris meletakkan mangkuknya diatas meja.
"Risss."
"Iya Ra?" Aris meletakkan gelasnya "Ada apa hem? Apa kau ingin sesuatu?" Sambil mengenggam tangan kekasihnya yang terasa hangat itu. Panas Anara belum juga turun.
"Kau tidak bekerja?"
"Aku sudah izin pada Tuan Nathan." Jawabnya menyelipkan anak rambut Anara
Anara menatap mata kekasihnya ini. Bisa dia lihat dimata Aris jika pria ini mencintainya dengan tulus. Anara merasa bersalah karena belum bisa mencintai Aris seperti Aris mencintainya. Dia merasa bahwa dirinya memang bersalah. Tak seharusnya dia mencintai pria yang telah tiada.
"Ris..." Tangan Anara terulur mengelus wajah tampan Aris "Terima kasih sudah mencintaiku dengan tulus. Maafkan aku."
Aris memegang tangan Anara diwajahnya. Dia tahu maksud kekasihnya ini.
"Tidak apa-apa Ra. Aku akan membuatmu mencintaiku. Aku yakin hatimu hanya untukku. Jangan merasa bersalah."
"Risss." Air mata Anara luruh dipipinya.
"Jangan menangis. Aku tidak suka air matamu. Percayalah sayang, kau hanya milikku."
__ADS_1
Aris merengkuh tubuh kekasihnya ini. Tak bisa di pungkiri bahwa dia merasakan hatinya berdenyut sakit saat Anara belum bisa mencintainya. Sakit sekali. Aris takkan bisa bersaing dengan orang mati.
Namun dia takkan memaksa kekasihnya untuk melupakan masa lalunya. Bagaimana pun Aris paham bahwa melupakan seseorang yang pernah ada itu takkan semudah yang dikatakan atau dibayangkan. Pasti butuh waktu dan proses.
Aris hanya yakin jika Anara tercipta untuknya dan akan menjadi cinta sejatinya nanti.
Aris melepaskan pelukannya dan menyeka air mata Anara yang membasahi pipi gadis cantiknya itu.
"Aku punya sesuatu untukmu."
"Apa?" Anara menghapus air mata nya.
Aris meronggoh saku celananya dan mengeluarkan sesuatu dari sana.
"Ris."
Aris membuka kotak beludru ditangannya yang berukuran kecil dengan bentuk love.
"Will you marry me?" Tatapnya penuh harap dan damba.
Anara menutup mulutnya tak percaya benarkah pria ini melamar? Pria setampan Aris melamar nya? Dia yang gadis kampung yang kebetulan tinggal dikota dan mendapat keberuntungan oleh kebaikan hati Nathan dan Nandira.
"Bagaimana Ra?" Aris masih menyedorkan cincin ditangannya.
Anara tak dapat berkata apa-apa dia hanya mampu mengangguk. Bibirnya bungkam karena saking senangnya.
Aris tersenyum hangat. Dia bersyukur karena Anara mau menerima dirinya.
Aris memasangkan cincin itu dijari manis Anara. Senyumnya mengembang.
"Terima kasih sayang."
Aris adalah kekasih baik hati yang sanggup menunggu nya kapan saja. Padahal Aris tahu jika hati Anara belum sepenuhnya milik Aris. Hati gadis itu masih tersangkut pada almarhum mantan tunangan nya.
"Terima kasih Ris. Aku akan belajar mencintai mu."
Aris melepaskan pelukan Anara dan menatap wajah kekasihnya itu dengan cinta.
Aris mengusap bibir ranum Anara lalu dia mengecup bibir manis itu. Anara membalas ciuman Aris. Keduanya tampak larut dalam ciuman hangat itu.
Aris berjanji akan menjaga Anara seperti Nathan menjadi Nandira. Menjadikan Anara satu-satunya wanita yang paling dia cintai. Aris yakin cinta sejati itu memang butuh perjuangan.
Aris melepaskan panggutan bibirnya. Lalu menyatukan keningnya dan kening Anara. Dia bahagia. Dia senang dan kebahagiaan ini adalah hal yang takkan bisa Aris jelaskan dengan kata-kata.
__ADS_1
Bersambung....