
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
"Kakak." Akhirnya Ranti berhasil menepis tangan Ivan yang menggandeng tangannya.
"Kakak kenapa sih? Kasihan Kak Verritha sendirian Kak." Nafas gadis itu memburu kesal.
Ivan malah menatap gadis itu dengan tatapan sulit diartikan.
"Ranti apa maksud mu membawa dia kembali di kehidupan ku? Kau tahu kan dia adalah orang yang sangat tidak ingin aku lihat?" Ucap Ivan kecewa dengan nada emosi.
"Kak, aku membawa Kak Verritha kembali karena aku tahu Kakak sangat mencintainya! Apa yang salah Kak?" Ujar Ranti menatap Ivan.
"Ranti kau harus paham kedatangan nya sama saja dengan kau melukaiku. Aku sudah tidak mencintainya lagi. Saat melihat wajahnya aku justru merasa semakin terluka mengingat semua yang telah terjadi." Ivan memegang bahu Ranti "Ranti, aku hanya mencintaimu. Hanya mencintaimu Ranti." Ucap Ivan penuh penekanan.
Ranti terkejut. Dia menatap Ivan dan mencari kebohongan di mata dan wajah pria itu namun yang saja temukan adalah ketulusan dan kebenaran.
"Kak." Mata Ranti berkaca-kaca.
Sontak tangan Ivan terlepas dari bahu gadis itu. Dia sedikit mundur melihat air mata Ranti yang menetes disana.
"Ada apa Ranti? Apa aku menyakiti mu? Apa kau terluka karena tahu jika yang mencintai mu itu hanya pria biasa dan miskin seperti ku?" Cecar Ivan.
"Kakak." Air mata Ranti masih luruh.
Ivan berbalik dan tak mau melihat air mata Ranti. Dia merasa bersalah dan air mata itu seolah membuat jantungnya semakin sakit.
"Aku mencintaimu Ranti. Kau membuatku percaya akan kata cinta. Setelah aku dipatahkan dan dihancurkan. Aku benci cinta. Tapi kehadiran mu memberikan pandangan berbeda padaku."
"Aku tahu, aku tidak kaya seperti Galvin. Aku terlahir dari keluarga sederhana yang jauh dari kata kaya. Tapi aku mencintaimu."
"Namun aku sadar aku sama sekali tidak pantas menjadi pria mu. Bersanding denganmu terlalu beresiko padaku, aku harus memantaskan diri."
"Aku akan melepaskan mu untuk kebahagiaan yang lain. Aku takkan memaksamu untuk mencintai ku. Kau berhak bahagia tanpa aku. Kau berhak menemukan laki-laki yang tepat untukmu. Mungkin bukan aku." Ivan menyeka air matanya.
"Aku memang tidak pantas dicintai. Hahaha. Aku pria miskin.. aku pria miskin...." Ivan memukul dadanya dan tertawa sambil menangis.
Seketika tubuh pria itu menegang saat Ranti memeluknya dari belakang.
"Hiks hiks Kakak." Ranti membenamkan wajahnya dipunggung pria itu "Aku juga mencintaimu Kak. Aku pikir kau tidak mencintai ku. Aku pikir kau mencintai Kak Verritha. Dan Kakak sudah membuatku melupakan Kak Galvin. Aku mencintaimu Kak. Aku mencintaimu." Ucapnya sambil terisak dibelakang pria itu.
__ADS_1
Ivan membalikkan badannya. Dia memeluk Ranti dengan erat.
"Benarkah kau mencintaiku?" Ranti mengangguk.
"Benarkah kau menerimaku apa adanya?" Lagi-lagi Ranti mengangguk
"Dan mau kah kau menikah denganku? Dan bersama hingga menua?" Gadis itu masih mengangguk dengan antusias.
"Terima kasih." Ivan memeluk Ranti kembali.
Keduanya saling berpelukan. Melepaskan segala perasaan yang membuncah disana. Sama-sama mencintai dalam diam. Terlalu takut mengungkapkan perasaan.
Ivan awalnya dia menganggap Ranti sebagai adiknya. Namun gadis itu terusik mengusik perasaan nya hingga membuatnya jatuh hati dan dimilik oleh gadis itu. Hingga Ivan pun bisa melupakan wanita yang sudah menyakiti hatinya.
Ivan melepaskan pelukannya dan mengusap pipi Ranti. Ranti juga sangat pendek mungkin Ivan yang terlalu tinggi.
"Bolehkah aku mencium mu?" Ivan mengusap bibir ranum Ranti.
Wajah Ranti merah merona. Gadis itu malu-malu kucing dan menyembunyikan wajahnya didada Ivan.
"Tapi aku tidak pernah berciuman Kak." Ucapnya polos.
Ivan terkekeh pelan. Gemes. Lucu. Wajar saja. Ranti memang hanya dekat dengan Galvin saja, itu pun Galvin tidak tinggal di Indonesia karena melanjutkan studinya di luar negeri.
"Ck, Kakak seperti sudah berpengalaman." Sindir Ranti setengah kesal. Dia bukan ciuman pertama Ivan.
"Tentu saja. Aku bukan anak kecil seperti mu." Ivan ngakak. Padahal ini juga ciuman pertama nya.
"Kakak."
Ranti seketika diam ketika benda kenyal itu menempel dibibirnya. Dia menatap mata Ivan yang terpejam sambil ******* bibirnya dengan lembut. Akhirnya dia pun memejamkan mata.
Keduanya terhanyut dalam ciuman hangat dibawah bintang yang berkemerlapan dilangit yang hitam dan tinggi. Dibawah sinar rembulan seolah menjadi saksi menyatunya kedua insan berbeda jenis kelamin itu.
Tanpa mereka sadari, sedari tadi Verritha berdiri tidak jauh dari Ranti dan Ivan. Wanita itu terdiam dan syok tak menyangka pria yang dulu sempat menjadi budaknya kini bahkan enggan menatapnya gara-gara keegoisan nya.
Verritha menyeka air matanya. Mungkin ini adalah hukum karma untuknya karena meninggalkan yang terbaik demi yang baik.
"Maafkan aku Van." Lirihnya.
__ADS_1
Verritha berbalik dan pergi meninggalkan Ivan dan Ranti. Awalnya dia bahagia saat Ranti meminta nya datang untuk memberikan Ivan kejutan. Namun nyatanya dia adalah wanita yang tak diinginkan kehadiran nya.
.
.
.
.
Ivan melepaskan panggutannya setelah merasakan Ranti kehilangan nafas. Dia menyatukan kening mereka dan saling tersenyum bahagia.
"Ayo, aku akan mengajakmu membeli cincin." Ivan menggandeng tangan Ranti.
"Secepat itu Kak?" Ranti menahan tangan Ivan.
"Kenapa kau masih ragu? Tenanglah aku punya uang untuk pernikahan kita. Aku akan mewujudkan pernikahan impianmu." Ucap Ivan ragu.
"Bukan itu Kak! Apa tidak terlalu cepat? Maksudku Kak Mars saja belum masa aku duluan. Nanti kalau aku sudah punya anak masa anakku panggil Kak Mars dengan panggilan Pak Tua." Gadis itu ngakak. Dia suka sekali menggoda Kakaknya yang belum-belum juga bisa menaklukkan hati seorang gadis kampung seperti Ayana.
"Sudahlah ayo." Ivan menarik tangan Ranti dan masuk kedalam mobil.
Ranti tersenyum kesem-kesem dan malu-malu. Benarkah Ivan langsung mengajaknya menikah dan melamar nya rasanya seperti mimpi saja.
"Kak."
Ivan terus menciumi punggung tangan Ranti sembari tangan kanannya menyetir. Maklum baru jadian masih hangat-hangat nya seperti tai ayam.
"Iya Ran, kenapa?" Pria itu menatap kekasih nya dengan damba.
"Terima kasih ya Kak! Aku tidak menyangka Kakak romantis juga. Aku pikir Kakak itu kaku karena wajahnya seperti tembok yang datar." Ranti cekikian.
"Jangan salah sayang. Laki-laki dingin akan bucin parah jika bertemu pawangnya." Ivan terkekeh.
"Berarti Kakak sudah dapat pawang dong?" Goda Ranti menaik turunkan alisnya.
"Dan kau adalah pawangnya." Ivan mencubit hidung Ranti dengan gemes.
Ivan ngakak. Keduanya sambil mengobrol hangat dan tertawa lepas sambil merencanakan apa yang akan mereka lakukan kedepan setelah menikah? Mau punya anak berapa? Tinggal dimana? Masa depan anak apa? Bagaimana caranya menabung?
__ADS_1
Apalagi Ivan anak ekonomi akuntansi tentu masalah hitung-hitung tentang keuangan dia ahlinya.
Bersambung....