
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hampir satu Minggu Nathan dan Nandira berada di kampung. Sebenarnya Nathan berencana mengadakan pesta pernikahan nya disini bersama Nandira. Namun waktunya terlalu singkat dan Namsin juga masih belum sehat.
Ayana dan Anara ikut ke kota bersama mereka. Nathan yang rewel bukan main itu, meminta Paman Sam menjemput nya. Sementara Aris bersama kedua saudara kembar itu.
Nathan adalah tipe pria berhati-hati. Takut saja jika ada niat jahat diantara kedua Kakak kembar Nandira. Pikirannya sudah berkelana kemana-mana. Dia tidak aku rumah tangga nya hancur apalagi sampai berpisah dengan istrinya. Janjinya adalah untuk menjaga gadis itu dan tidak akan pernah menyakiti nya apapun yang terjadi.
"Sayang". Sambil mengusap kepala Nandira yang bersender didadanya.
"Iya Mas?". Gadis itu mendongkrakkan kepalanya.
"Usiamu berapa?".
"20 tahun Mas". Jawabnya
"Apa kau ada keinginan untuk melanjutkan pendidikan? Kuliah contohnya?".
Nandira mengangguk "Aku sangat ingin kuliah Mas. Aku ingin jadi dokter. Dari kecil aku sudah bercita-cita menjadi Dokter. Tapi kasihan Ayah, tidak punya uang banyak. Kata Kak Nara kuliah kedokteran itu mahal, bisa habis uang ratusan juta". Sahut Nandira.
Nathan terkekeh "Jika kau mau kuliah, aku berencana untuk mendaftarkanmu".
Nandira sontak bangkit dari pelukan suaminya "Serius Mas? Mas mau aku kuliah?".
Nathan mengangguk dengan antusias. Melihat paham dan beberapa sertifikat lomba sains istrinya didalam kamar membuat hati pria itu tergerak. Toh pendidikan juga penting kan?
"Aku mau Mas. Mau banget malah". Ucapnya kesenangan.
"Ya sudah nanti, biar aku minta Aris yang urus semua ya?". Ucapnya sambil tersenyum hangat.
"Iya Mas. Aku sudah tidak sabar menjadi mahasiswa". Seru Nandira
"Tapi kau harus berhenti bekerja dengan Mars dan fokus kuliah saja ya?". Rayu Nathan. Salah satu tujuan dia meminta Nandira kuliah agar istrinya itu bisa terlepas dan berhenti dari perusahaan Mars.
"Tapi katanya aku dikontrak lima tahun Mas. Kalau aku berhenti, aku bisa didenda". Sahut Nandira.
"Tenang saja sayang. Aku yang akan bayar dendanya". Tersenyum hangat.
"Terima kasih Mas".
Sebagai pria yang juga berpendidikan tinggi tentu Nathan ingin yang terbaik untuk istrinya. Meski dalam hati sedikit was-was, apalagi Nandira dari kampung dan masih polos-polosan Nathan takut jika ada yang memanfaatkan kepolosan istrinya untuk sebuah keuntungan.
Ada hal berat dihati pria itu. Nandira cantik, pasti akan banyak pria yang menggoda nya nanti. Apalagi dia akan masuk kedokteran, dikampus mana pun anak-anak fakultas kedokteran itu selalu jadi incaran favorite mahasiswa dan dosen lainnya tidak hanya pintar tapi mereka juga cantik dan tampan, seperti sudah terpilih sebelumnya.
Paman Sam tersenyum hangat sambil menyetir mendengar percakapan kedua insan manusia yang tengah kasmaran itu. Memang jika dilihat sekilas Nathan seperti Paman-nya Nandira sedangkan Nandira seperti keponakan nya.
Perbedaan usia yang cukup jauh itu memang terlihat sangat mencolok. Namun cinta tak memandang usia bukan. Usia bukanlah tolak ukur untuk mengukir cinta. Semua orang berhak jatuh cinta pada siapapun. Termasuk Nathan dan Nandira.
__ADS_1
Karena kelelahan perjalanan jauh. Nathan dan Nandira tertidur didalam mobil. Keduanya tampak pulas sekali. Apalagi Nandira yang bersandar didada Nathan, dan tangan Nathan yang memeluk erat pinggang gadis itu menjadi kesan romantis tersendiri saat Paman Sam menatap keduanya.
"Semoga anda selalu bahagia Tuan. Saya berharap tidak ada orang yang menganggu rumah tangga kalian. Saya bahagia jika anda bahagia. Kebahagiaan anda juga kebahagiaan saya". Batin Paman Sam.
.
.
.
.
"Tuan sudah sampai". Paman Sam membangunkan Nathan.
Nathan mengeliat. Terlalu nyaman tidur. Hingga dia lupa kalau sudah sampai di Mansion mewahnya.
"Iya Paman". Sahut Nathan.
Nathan melirik istrinya yang masih terlelap. Seperti nya istrinya ini benar-benar kelelahan.
Tak tega membangunkan istrinya. Pria itu menggendong Nandira. Tubuh kecil Nandira dengan mudah digendong Nathan.
Nathan tersenyum simpul apalagi mendengar dengkuran halus dari mulut istrinya. Tidur seperti kerbau yang tidak ingat apa-apa.
"Terima kasih Bik". Ucap Nathan saat Bik Yam membuka pintu untuknya.
"Sama-sama Tuan".
Nathan terpaku sejenak menatap wajah polos Nandira. Terlihat istrinya ini memang masih sangatlah muda.
Pria itu menyingkirkan anak rambut yang menutup wajah Nandira. Dengan jahil dia mengecup bibir ranum merah muda itu. Gemes sendiri.
"Aku mencintaimu istriku. Selamat tidur". Dia mengecup kening gadis itu dengan sayang.
Nathan menyelimuti istrinya. Mulai sekarang mereka akan satu kamar. Dia akan meminta pelayan untuk memindahkan pakaian istrinya kedalam kamarnya.
Nathan segera membersihkan diri kekamar mandi. Pria ini memang tidak bisa jika tidak mandi. Dia bisa tidak tidur semalaman jika tidak mandi.
Setelah mandi dan berpakaian pria itu menunju ruang kerjanya.
"Ahhh lelah". Dia duduk sambil menyenderkan punggungnya.
Satu Minggu berada di kampung sang istri banyak pekerjaan yang terlewatkan. Banyak laporan yang belum diselesaikan.
Nathan menghembuskannya nafasnya kasar sambil membuka laptop nya. Dia tidak akan bisa tidur jika tidak mengerjakan laporan nya lebih dulu. Sebelum tidur Nathan harus menyelesaikan segala perkerjaannya agar dia tenang. Pria gila kerja tersebut tak mau main-main jika berhubungan dengan pekerjaan.
.
__ADS_1
.
.
.
Nandira mengerhab-ngerjabkan matanya. Badannya pegal-pegal akibat perjalanan yang cukup jauh.
"Aku dimana?". Gadis itu duduk sambil mengucek matanya "Aku dikamar Mas Nathan". Gumamnya lagi.
"Mas Nathan dimana?". Dia mencari suami nya.
Gadis itu turun dari ranjang. Entah kenapa tiba-tiba dia tidak tidur setelah merasa memeluk bantal dan bukan suaminya.
Dia keluar dari kamar sang suami dan berjalan kearah dapur.
"Bik".
"Selamat malam Nona, kenapa anda bangun?". Tanya Bik Yam sopan.
"Mau minum Bik". Sambil menguap. Wajah bantalnya justru terlihat menggemaskan. Nandira belum mandi dan ganti baju.
"Sebentar Non, saya ambilkan".
Nandira duduk dikursi meja makan "Bik ini jam berapa?". Dia lupa memakai jam tangan nya.
"Jam dua belas malam Nona". Jawab Bik Yam "Ini minumnya Non".
"Terima kasih Bik". Sambil menunggak minuman itu.
"Mas Nathan kemana Bik?". Meletakan gelas kosong di atas meja.
"Diruang kerjanya Non". Jawab Bik Yam
"Diruang kerja?". Gumamnya "Ya sudah Bik, aku ingin membuatkan kopi untuk suamiku".
"Iya Nona".
Nandira membawa secangkir kopi dan menuju ruangan suaminya. Dia akan menemani pria itu.
"Mas".
Nathan yang tengah serius dengan laptop didepannya mendongkrakkan kepalanya.
"Sayang". Sontak pria itu berdiri "Kenapa kau bangun? Apa kau baik-baik saja? Apa badanmu terasa sakit?". Tanyanya bertubi-tubi.
"Minum Mas". Bukannya menjawab gadis itu malah meletakkan secangkir kopi diatas meja suaminya
__ADS_1
"Kenapa Mas belum tidur?".
Bersambung....