Cinta Manis Sang Presdir

Cinta Manis Sang Presdir
Test


__ADS_3

Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Nandira dengan senyum sumringgah menyiapkan diri untuk menjalani test masuk fakultas kedokteran. Sebenarnya dia sedikit pesimis dengan ucapan sang suami tapi dia yakin bahwa dia bisa lulus nantinya dengan nilai yang memuaskan.


“Sayang.” Nathan memeluk wanita hamil itu dari belakang “Apa aku boleh menemanimu nanti? Tidak apa-apa aku tunggu diluar ruangan saja.”. Ujarnya


Nandira membalikkan tubuhnya dan menatap sang suami sambil menggeleng lalu memperbaiki dasi suami nya yang sedikit berantakkan akibat memeluknya dari belakang.


“Mas kau ini bagaimana sih? Kalau kau ikut denganku yang ada nanti tidak ada yang ikut test semua malah melihatmu.” Seru Nandira


“Kau cemburu?” Goda Nathan sambil memeluk pinggang istrinya dengan agresif.


“Tentu saja aku cemburu. Aku tidak rela jika wajah suamiku ini dinikmati oleh banyak wanita.” Celetuk Nandira sambil menoel dagu suaminya.


Nathan terkekeh gemes “Jangan menggodaku sayang, jika kau tak mau bertanggung jawab karena sudah membuatnya terbangun.” Sergah Nathan dengan suara seraknya. Dia menarik wanita hamil itu kedalam pelukkannya “Jangan pergi ya, apapun yang terjadi tetaplah berada disisiku.” Entah kenapa Nathan sedikit paranoid takut jika suatu saat nanti Nandira malah meninggalkan jika sudah mencapai semua impiannya.


Nandira tersenyum hangat sambil membalas pelukkan pria itu dan mengelus punggung Nathan.


“Tidak akan Mas. Ayah bilang, harus bersama suami selamanya sampai maut memisahkan kita.” Nandira melepaskan pelukannya “Sudah ayo, sebentar lagi aku akan masuk test.” Dia melepaskan diri dan meraba tasnya.


Nathan menghela nafas panjang. Sungguh dia keberatan membiarkan istrinya test hari ini. Dia ingin menemani Nandira tapi dia tidak mau membuat istrinya itu merasa tak nyaman. Apalagi dia dikenal banyak orang pasti banyak yang akan histeris nanti melihatnya.


Untung Nandira tidak kuat mengidam paling hanya sesekali mual dan ingin makan sesuatu. Namun Nathan sudah biasa dan malah dia sangat senang karena direpotkan oleh istrinya sendiri. Dan Nathan sebenarnya tak rela Nandira bertemu dengan lelaki lain. Bagaimana jika nanti ada lelaki yang suka pada istrinya itu. Maklum sejak hamil Nandira kecantikkan nya melewati batas.


Sampai dikampus Nathan turun duluan membuka pintu untuk sang istri. Dia tidak memberi Aris izin membuka pintu untuk sang istri.


“Sayang, hati-hati jika sudah selesai segera hubungi aku.” Sambil mengecup kening istrinya.

__ADS_1


“Iya Mas.” Nandira mencium punggung tangan suaminya.


“Sayang, aku antar sampai kelas saja bagaimana?” Nathan melirik sudah berdatangan beberapa calon mahasiswa yang akan ikut test bersama istrinya “Ramai sekali sayang?” Pria itu mencebik kesal apalagi melihat beberapa lelaki muda yang seusia dengan istrinya.


“Tidak usah Mas. Mas berangkat saja.” Sahut Nandira, mereka menjadi pusat perhatian. Bagaimana kalau Nathan sampai mengantarnya didepan kelas bisa heboh satu kampus.


Nathan menghela nafas panjang. Mereka masih berdiri disamping mobil dengan satu tangan Nathan yang mengenggam tangan istrinya. Rasanya tak ikhlas dan tak rela tapi apa boleh buat.


“Baiklah sayang.” Nathan menyelipkan anak rambut Nandira “Kalian berdua hati-hati yaaaa?” Dia mengusap perut rata Nandira “Jika ada apa-apa, katakan saja.” Ucapnya kemudian


“Iya Mas, aku masuk yaaaa? Sepertinya sebentar lagi testnya dimulai.”


Nathan mengangguk, sebelum mengizinkan Nandira masuk dia memeluk lagi wanita hamil itu. Jantungnya rasanya ingin lepas membiarkan istrinya masuk sendirian.


Nandira masuk sambil menoleh dan melambaikan tangan kearah sang suami yang masih berdiri disamping mobil. Semua menatap wanita itu dengan damba. Tak hanya cantik dan menarik tapi dia juga diantar oleh seorang pria tampan yang tentunya dikenal oleh banyak orang.


.


.


.


.


Nathan menatap serius layar yang diletakkan diatas pangkuannya. Pria itu duduk tenang dengan kedua tangan yang terlipat didada sedangkan kakinya saling menumpu satu sama lain.


“Ehem, awas saja jika ada pembinor yang berani melirik istriku, akan kubatalkan ujian test ini.” Geram Nathan.

__ADS_1


Aris yang duduk dibangku kemudi, hanya menghela nafas panjang. Nathan membatalkan semua jadwal meeting dan peninjuan proyek baru hanya demi mengawasi istrinya. Mobil Aris masih terparkir nyaman didepan kampus tempat Nandira test. Nathan meminta Aris untuk memasang kamera CCTV tanpa sepengetahuan Nandira.


Tentu saja Nathan tak rela jika ada yang berani genit-genit pada istrinya. Jadi dia harus memantau.


“Berapa jumlah mahasiswa yang ikut test Ris?” Tanya Nathan, dia masih menatap lekat wajah istrinya yang tercetak jelas dilayar laptop miliknya


“Sekitar seratus lima puluh orang Tuan.” Jawab Aris.


“Berapa orang laki-laki?” Tanyanya lagi


“Sekitar seratus lebih Tuan dan sisanya wanita.” Jawab Aris jujur.


“Ck, kenapa banyak sekali Ris? Bagaimana kalau yang seratus orang itu lolos, pasti mereka semua akan bertemu istriku dan menikmati wajah cantiknya.” Sergah Nathan sudah mulai lagi kambuh penyakitnya “Kenapa kau tidak bilang dari awal, kalau saja dari awal aku tahu akan banyak lelaki yang ikut test, lebih baik istriku test di universitas lain saja?” Gerutu Nathan


“Maaf Tuan, saya salah!” Aris kikuk melihat wajah Nathan yang merah karena marah.


“Apa saja kerjamu Ris? Pasti yang ada dipikiranmu itu hanya Nara dan Nara, makanya sampai lupa pada tugasmu.” Ujar Nathan kesal. Dia tidak tahu kenapa suka sekali mengomel jika hal yang bersangkutan dengan istri kecilnya, seolah segala sesuatu yang bersangkutan dengan Nandira adalah hal luar biasa yang tidak bisa dia remehkan.


“Sekali lagi saya minta maaf Tuan.” Ucap Aris pelan.


Nathan hanya mencebik sambil masih menonton wajah istrinya yang tengah masih serius mengikuti test bersama yang lainnya. Hati Nathan selalu hangat ketika melihat wajah teduh membuat nya merasa begitu bersyukur memiliki istri yang tak pernah menuntut apapun padanya. Nandira yang polos dana sederhana. Nandira yang selalu menurut apapun yang dia katakan. Nathan menyukai segala hal yang bersangkutan dengan sang istri.


Sedangkan Aris menggelengkan kepalanya salut. Dia juga mencintai Anara tapi dia tidak sebucin Nathan dan Aris benar-benar lupa mengatakan tentang berapa banyak yang ikut test dan ada berapa orang laki-laki disana.


Nathan mengusap layar laptopnya dimana disana ada wajah sang istri. Satu detik saja tak bersama istrinya membuatnya seperti mati rasa. Jika Nandira hilang, Nathan tak bisa bayangkan akan seperti apa hidupnya. Mungkin dia juga akan hilang dari peradaban dunia ini. Karena hanya Nandira harta paling berharga dalam hidupnya. Kehadiran Nandira mengubah jalan hidup Nathan dan dia berharap bisa selamanya bersama Nandira.


Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2