Cinta Manis Sang Presdir

Cinta Manis Sang Presdir
Galvin Wijaya


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Galvin berdiri duduk dibangku. Dia baru saja selesai melakukan beberapa operasi pasiennya.


Galvin seorang dokter spesialis bedah usianya 27 tahun. Pria tampan ini dulunya mengambil spesialis diluar negeri. Setelah menyelesaikan pendidikannya dia kembali ke Indonesia setelah mendapat beberapa tawaran untuk bergabung dengan rumah sakit ternama di kota ini.


Drt drt drt drt drt drt drt


"Iya Mom?" Dia paling malas kalau sang Ibu sudah menelpon.


"Galvin, kau ini ya? Kenapa kau batalkan pertunangan mu dengan Ranti. Kau mau Mommy masukkan kembali kedalam perut Mommy?" Pekik suara diseberang sana.


Galvin mengelus dadanya terkejut sambil menjauhkan ponsel itu dari telinganya. Ibu nya ini memang paling suka berteriak. Dia tinggal sendirian di Apartement, sedangkan kedua orangtuanya tinggal dirumah mewah dan hanya berdua saja. Karena Galvin anak tunggal.


"Dari mana Mommy tahu?" Sambil membuka jas berwarna putih itu.


"Dari mana Mommy tahu itu tidak penting. Mommy tidak mau tahu kau harus menikah dengan Ranti." Tegasnya "Kau ini seenaknya saja membatalkan perjodohan yang sudah Mommy rencanakan sejak kalian kecil." Omelnya


"Mom, come on. Dari dulu aku sudah menolak perjodohan ini. Aku menganggap Ranti sebagai adikku saja." Galvin mendesah pelan.


"Galvin Wijaya, jika kau tidak menyukainya kenapa kau mendekati nya? Hah?" Galvin lagi-lagi mengelus dadanya. Kalau saja dia bertemu Ibu nya itu sudah pasti dia akan dijewer habis-habisan.


"Mom, kau mendekatinya bulan berarti aku menyukainya aku hanya ingin berteman. Ayolah mengerti. Lagian aku sudah menemukan gadis yang kusukai." Sambil tersenyum membayangkan wajah Ayana.


"Kau........"


Dengan cepat Galvin mematikan sambungan telponnya sebelum sang Ibu mengomel panjang lebar.


"Hufffhhh bagaimana bisa kau memiliki Ibu yang rewel seperti Mommy?" Pria itu geleng-geleng kepala sambil meletakkan ponselnya diatas meja.


"Permisi Dokter."


"Masuk."


Seorang perawat masuk dengan membawa berkas ditangannya.


"Dok, ini data pasien yang akan melakukan konsul ulang." Sambil meletakkan berkas itu diatas meja.


"Baik." Sahut Galvin.


Galvin berdiri dari duduknya. Dia membiarkan saja jas nya tergantung dikursi kebesaran nya. Dokter tampan itu mengulung kemejanya hingga sampai siku. Dasinya sedikit dia longgarkan karena terasa mencekik lehernya.


"Kira-kira Ayana ada tidak ya direstourant Tuan Nathan?" Gumamnya.

__ADS_1


Dia mengambil dompet dan kunci mobil serta ponselnya yang dia masukkan kedalam saku celananya.


Dokter itu berjalan keluar dari ruangannya. Dia termasuk dokter muda dirumah sakit ini. Pesona nya juga membuat para perawat dan dokter wanita klepek-klepek.


Galvin melakukan mobilnya meninggalkan rumah sakit. Senyum nya mengembang. Setelah membatalkan perjodohan nya dengan Ranti, perasaan nya tenang karena tidak perlu berpura-pura untuk mencintai gadis itu lagi.


Chitttttttttttttttttttt


Jantung Galvin serasa ingin terlepas ketika dia hendak menabrak wanita yang akan menyebrang. Hampir saja.


Tin tin tin tin


Dia memukul stir mobil kuat. Bagaimana kalau dia sampai menabrak wanita itu, bisa berabes urusannnya, apalagi berurusan dengan polisi adalah hal yang paling dibenci oleh Galvin.


Galvin keluar dari mobil sambil membanting pintu mobil dengan keras.


Tampak seorang wanita berhijab tengah terduduk sambil memegang kakinya yang sedikit berdarah akibat menghindari mobil yang hendak menabraknya.


"Apa anda baik-baik saja Nona?" Walaupun marah-marah tapi dia tetap ingin bertanggungjawab.


Wanita itu mengangkat pandangan. Untuk sejenak dia seperti membeku dan terpesona dengan ketampanan Galvin. Wajahnya sangat mulus dan putih terawat. Secepatnya dia tersadar.


"Saya tidak apa-apa Tuan." Wanita itu hendak berdiri namun kakinya sakit sekali.


"Pelan-pelan." Galvin menangkap tubuh wanita itu dan membantunya berdiri.


"Biar say obati saja?" Tawar Galvin.


Wanita itu malah menggeleng "Tidak perlu Tuan. Saya bisa mengobatinya sendiri. Lagian ini hanya tergelincir saja." Dia menangkupkan kedua tangannya didada dan menolak dengan halus.


"Baiklah. Sekali lagi saya minta maaf." Ucap Galvin merasa bersalah.


"Tidak apa-apa Tuan. Kalau begitu saya permisi."


Galvin mengangguk dan kembali kedalam mobilnya lalu menjalankan mobilnya menuju restorant untuk makan siang.


Sedangkan wanita itu menatap mobil Galvin yang menjauh darinya.


"Dia tampan sekali! Kenapa jantungku berdebar?." Gumamnya "Sadar Zahra, jangan memikirkan hubungan asmara dulu. Fokus kuliah. Jadi dokter dan bahagiakan Bapak." Dia menggeleng sambil menepis perasaannya kagumnya pada pria yang menabraknya tadi.


Dia melanjutkan langkah kakinya dengan tertatih. Sesungguhnya goresan dikakinya memang cukup besar hingga mengeluarkan darah dan perih. Sebenarnya harus diobati dulu baru bisa berjalan normal.


.

__ADS_1


.


.


.


Galvin memarkir mobilnya didepan restourant Nathan dan Nandira.


Pria itu turun dengan senyuman sumringah. Tak lupa dia memperbaiki kemejanya yang sedikit berantakan.


Dia keluar dari mobil. Tubuh sicpack nya terlihat jelas didalam kemeja yang dia jelaskan. Tentu saja dokter tampan seperti nya sangat menjaga postur tubuhnya. Rajin berolahraga dan makan, makanan sehat serta lebih banyak makan sayuran dan buah.


Galvin masuk dengan langkah lebar dan tak sabar. Senyum diwajahnya seolah tak lekang oleh waktu. Dia dari semalam memikirkan Ayana. Ingin sekali bertemu gadis itu. Galvin menyesal karena tidak meminta nomor ponsel Ayana.


Langkah Galvin terhenti saat melihat Mars dan Ayana yang tengah berdebat dimeja makan sambil saling cuek-cuekkan.


Galvin menghampiri meja mereka. Dia tidak peduli ada Mars disana. Dia yakin jika Ayana dan Mars tidak memiliki hubungan apapun.


"Hai Nona Ayana."


Hingga makan kedua orang itu terhenti ketika mendengar nama Ayana dipanggil.


Mars dan Ayana kompak melihat kearah Galvin yang sudah menyedorkan senyum manisnya didepan Ayana.


Kening Ayana berkerut "Tuan Galvin?" Ujarnya.


"Iya Nona Ayana." Jawabnya tersenyum manis.


Mars mengerem kesal. Nafasnya memburu menahan marah. Entah kenapa dia selalu tak bisa menahan diri ketika melihat Ayana bicara dengan pria lain.


"Mau makan siang juga?" Tanya Ayana tersenyum. Ahhh Galvin ini benar-benar tampan, sudah tampan dan menarik.


"Iya. Apa boleh gabung?" Galvin juga membalas dengan senyum jantungnya sudah berdebar-debar.


"Bo_."


"Tidak boleh." Potong Mars ketus "Cari saja meja lain kan masih banyak?" Dia memasukkan makanan itu dengan kesal dimulutnya. Lucu sekali jika pria ini cemburu.


"Tuan." Ayana geleng-geleng kepala "Kau ini bagaimana sih biarkan saja Tuan Galvin ikut makan dengan kita." Ujar Ayana kesal. Dia jenggah jika harus bersama Mars terus karena mereka berdua pasti akan berdebat.


"Ayo Tuan Galvin silahkan duduk." Ajak Ayana ramah


"Terima kasih Nona." Tentu saja Galvin senang.

__ADS_1


Mars mengepalkan tangan nya kuat. Dan lagi kenapa saat berbicara dengan Galvin Ayana tersenyum malu-malu seperti anak perawan yang mau dilamar. Sedangkan jika berbicara dengannya selalu saja diawali dengan perdebatan dan diakhiri dengan perdebatan.


Bersambung....


__ADS_2