
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Ayana mengeliat dibalik selimut tebalnya. Dia merasa aneh, kenapa perutnya serasa berat. Gadis itu membuka matanya. Dia terkejut ketika melihat wajah Mars yang masih terlelap.
Sejenak gadis itu terdiam sambil menatap wajah polos kekasihnya yang terpejam. Akhir-akhir ini sangat banyak masalah yang mereka berdua hadapi. Mulai dari kedatangan mantan kekasih Mars sampai masalah permintaan terakhir Anara.
'Aku tidak mau menikah dengan pria lain. Aku hanya ingin menikah denganmu. Aku mencintai mu Mas. Tolong aku, jangan lepaskan aku. Laki-laki yang kuinginkan hanya dirimu.' Batin Ayana mengelus wajah mulus Mars yang tertidur.
'Teman debat. Boss menyebalkan. Tuan Planet. Sekarang dia adalah tempat yang nyaman untukku pulang. Semoga kita berjodoh Mas. Aku bahagia memiliki mu. Teman rusuhku.' Batin nya lagi terkekeh dalam hati.
"Selamat pagi." Sapa Mars dengan mata terpejam sambil tersenyum.
Sontak Ayana menjauhkan tangannya dari wajah Mars. Dia malu karena ketahuan mengangumi wajah kekasihnya itu.
"Morning kiss dulu."
Cup cup cup cup cup cup
"Hahha Mas geli Mas. Geli." Gadis itu tertawa lebar saat bibir Mars menempel dibagian wajahnya.
"Balas dong." Mars memejamkan matanya dengan mulut yang munyung.
Ayana geleng-geleng kepala gemes. Dia membalas ciuman Mars dipipi dan kening. Namun pria itu malah menahan tengguk Ayana dan menyambar bibirnya.
Mars ******* bibir Ayana dengan lembut tanpa menuntut. Dia menyesap rasa manis dibibir ranum. Manis sekali bibir kekasihnya ini.
Mars melepaskan panggutannya saat merasa pasokkan udara didalam paru-paru mereka berdua mulai menipis.
"Kau ingin membunuhku Mas?" Gerutu Ayana mengusap bibir basah nya "Kalau aku mati duluan kau yang rugi." Omelnya kesal.
Mars terkekeh gemes. Dia menarik gadis itu kedalam pelukannya dan memeluk Ayana dengan nakal hingga membuat gadis itu kesal.
"Mas." Ayana merenggut kesal "Aku mau bangun, mau masak." Ujarnya
Mars melepaskan pelukannya. Dia menatap Ayana penuh cinta. Bagaimana bisa dia melepaskan gadis pemilik hatinya ini? Biar bertarung nyawa, Mars akan memperjuangkan Ayana agar wanita nya itu tak menjadi milik orang lain.
"Mandilah, biar aku yang masak." Mars turun dari ranjang. Dia masih memakai kemeja berwarna putih.
__ADS_1
Kening Ayana berkerut heran "Kau mau masak Mas?" Tanyanya ragu.
"Iya. Sudah mandi sana." Mars menarik gadis itu dengan pelan agar turun dari ranjang.
"Yakin Mas mau masak?" Ayana masih belum percaya "Awas mengotori dapurku." Ancamnya
Mars tersenyum simpul "Sudah mandi sana. Jangan meremehkan kemampuan ku." Dia mengangkat tubuh Ayana menuju kamar mandi.
"Mas." Sontak saja Ayana memeluk leher pria itu.
"Mandilah." Tak lupa kecupan singkat dia daratkan dikening gadis itu.
Mars melenggang keluar dari kamar mandi dan menuju dapur untuk masak sarapan pagi mereka berdua. Jangan salah, meski orang kaya tapi Mars cukup pandai memasak hanya untuk sekedar mengisi perut nya.
Sedangkan Ayana tersenyum sambil menyentuh dahi nya. Lalu gadis itu memegang bibirnya. Meski bukan pertama kali dia dicium oleh lelaki itu, tapi tetap saja jantungnya berdegup setiap kali Mars menciumnya.
"Mas Mars. Kenapa tiba-tiba aku panggil dia Mas?" Ayana terkekeh sendiri. Panggilan itu refleks keluar dari mulutnya.
Namun tiba-tiba senyumnya memudar saat mengingat permasalahan mereka. Ayana menghela nafas panjang, berat. Rasanya dia tak bisa mengabulkan permintaan Kakak nya itu.
Ayana mengguyur tubuhnya dibawah aliran air shower. Berharap air itu bisa mengikis segala perasaan yang saat ini menjalar dihatinya. Berharap segala lelah yang menghantam jiwanya bisa segera menghilang begitu saja.
Ayana keluar dari kamar mandi dengan handuk yang terlilit untuk menutupi dada dan bagian bawahnya serta handuk yang menggulung rambut panjang.
"Hem." Mars berdehem. Dia melipat kedua tangannya didada.
"Mas." Mata Ayana membulat sempurna
"Aaaaaaaaaaaaaaa." Gadis itu berhambur kembali kearah kamar mandi. Bagaimana bisa dia keluar dalam keadaan telanjang dada seperti ini.
Sedangkan Mars ngakak sambil tertawa terbahak-bahak menertawakan kekasihnya itu. Dia suka sekali mengerjai Ayana.
"Mas, apa yang kau lakukan disitu?" Protes Ayana "Keluar Mas, aku ingin pakai baju." Kepalanya menyembur dibalik pintu kamar mandi
Mars geleng-geleng kepala. Dia menuju almari Ayana dan memilih pakaian untuk kekasihnya itu. Mars bersyukur Ayana menjaga diri dalam hal berpakaian. Dia memakai pakaian sederhana namun feminim dan tidak terbuka.
"Mas, kenapa kau buka lemariku? Kau mau apa? Kau mau merampok pakaian ku lalu kau jual? Siapa tahu uangmu sudah habis!" Tuding Ayana melihat Mars yang tampak memilih baju-baju didalam almari nya.
__ADS_1
"Ck, buang pikiran burukmu itu Sayang." Ketus Mars masih sempat-sempatnya dia melirik kearah Ayana yang menyemburkan kepala nya dibalik pintu.
"Aku tidak mau kau memakai pakaian terbuka. Biar aku yang pilih." Ujarnya.
Ayana mendengus kesal. Kekasih itu posessif luar batas. Belum juga menjadi kekasih tapi peraturan darinya sungguh membuat Ayana pusing kepala.
Mars mengambil stelan pakaian kerja didalam almari Ayana. Dia ingin melayani Ayana. Gadis itu selalu melayani nya sekarang biarkan dia yang melayani Ayana.
"Ini pakailah." Dia menyerahkan pakaian itu pada kekasihnya.
"Terima kasih Sayang." Ayana mengedipkan matanya jahil.
"Apa katamu tadi Sayang?"
Namun Ayana sudah menutup pintu sambil tertawa lebar.
"Sayang buka pintunya. Tadi kau panggil aku apa?" Dia menggedor-gedor pintu kamar mandi "Sayang ayo dong buka aku ingin mendengar nya sekali." Mars masih belum puas. Apakah dia salah dengar Ayana memangilnya dengan panggilan sayang?
Ayana keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap nya. Rambutnya dia keringkan dengan handuk ditangannya.
"Sayang tadi kau panggil aku apa?" Mars mengikuti langkah kaki Ayana. Dia masih menagih nama panggilan gadis itu tadi padanya.
"Aku panggil Mas." Jawab Ayana santai.
"Bukan." Mars mendengus kesal "Tadi kau panggil aku Sayang kan?" Hatinya berbunga-bunga saat Ayana memanggilnya sayang.
"Sayang?" Kening Ayana berkerut heran "Kapan aku panggil Mas Sayang. Perasaan aku panggil Mas deh?" Gadis itu seolah tengah berpikir keras mengingat kapan dia memanggil Mars dengan panggilan sayang.
"Tadi kau panggil aku sayang." Mars masih bersikeras agar Ayana mengaku.
"Kapan? Tidak ada." Gadis itu menempelkan foundation diwajah nya "Cepat mandi Mas, hari ini kita ada meeting pagi." Suruh Ayana.
Mars masuk kedalam kamar mandi dengan wajah kesalnya. Dia bahkan sampai menghentak-hentakkan kakinya dengan bibir mengerecut kesal.
Sedangkan Ayana tertawa merasa puas mengerjai lelaki itu. Anggap saja sebagai hiburan ditengah kekacauan pikiran nya. Bukankah tawa adalah cara untuk menutupi luka? Jadi tertawalah sepuasnya agar luka itu benar-benar tak terlihat.
Bersambung......
__ADS_1