
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹 🌹🌹
Ayana masuk kedalam mobil dengan wajah ditekuk kesal.
"Sadar Ayana. Sadar. Kau harus bisa melepaskan Tuan Aris. Ingat dia bukan untukmu. Dia hanya untuk Kak Nara." Ucapnya komat-kamit sendiri.
Ayana menyenderkan punggungnya meras lelah dan sakit hati. Tak bisa dihilangkan. Aris adalah pria pertama yang membuat nya jatuh cinta.
Gadis itu bersandar di jendela mobil sambil melihat kosong kearah jendela mobil.
Gadis itu seperti patah hati hebat. Harus nya dia bersiap-siap untuk mempersiapkan diri masuk dihari pertama bekerja. Namun justru dia yang sedang patah hati membuat jiwanya remuk redam.
"Benar kata orang-orang cinta itu tidak harus memiliki." Ayana menghela nafas panjang "Kenapa kau harus terjerat dengan Tuan Planet itu?" Gumamnya mengeluh
Ciuman mereka kemarin membuat Ayana salah tingkah dan mengomel pada Mars. Dan pria itu sesuka hati mengecap dia sebagai miliknya. Kapan dia menjadi milik Mars? Dia saja tidak tahu kapan dia menjadi milik pria itu.
"Hem, Tuan Planet tidak buruk-buruk amat. Ahhh apa yang aku pikirkan?" Gadis itu menggeleng "Dia lelaki paling buruk dan menyebalkan." Ucapnya.
Taksi yang ditumpangi oleh Ayana berhenti sebuah gedung pencakar langit. Mulut Ayana menggangga melihat bangunan mewah yang hanya pernah dia lihat didunia film saja.
Setelah membayar ongkos dia turun dari mobil. Gadis itu berdecak kagum melihat kemewahan gedung pencakar langit ini.
"Serius ini kantornya? Besar sekali?" Dia geleng-geleng kepala. Seperti orang kampung karena dia memang orang kampung.
Ayana melangkah masuk. Dia masih celingak-celinguk seperti orang gila.
Para karyawan menatap Ayana aneh. Apalagi gadis itu hanya memakai celana jeans dan baju kemeja warna merah. Bukan terlihat mau bekerja malah terlihat seperti orang mau jalan-jalan.
Mars turun dari mobil. Seperti biasa dia akan jadi pusat perhatian. Wajah tampan itu selalu mampu menyihir dan menumbangkan banyak wanita. Setelah patah hati dia sama sekali tidak tertarik dengan wanita namun ketika bertemu dengan Ayana hati Mars terbuka lebar.
Mars berjalan masuk. Langkah kakinya terhenti ketika melihat gadis yang diam-diam dia rindukan itu ada disana tengah celingak-celinguk bingung seperti orang bodoh.
"Van."
"Iya Tuan?" Ivan maju satu langkah.
"Bawa gadis itu kesini!"
"Baik Tuan."
Mars berdiri didepan pintu lift dengan tangan yang berdiam nyaman disaku celananya. Mars menggeleng dengan gemes melihat Ayana yang ditarik oleh Ivan agar ikut dengannya. Sudah pasti gadis itu menolak. Ayana kan memang keras kepala.
"Tuan Ivan mau kemana?" Ayana heran saat Ivan menarik tangannya.
__ADS_1
"Ikut saja Nona." Ucap Ivan
"Hem." Mars berdehem.
"Apa sih Tuan dehem-dehem?" Ayana memutar bola matanya malas.
Mars melirik penampilan sekretaris barunya itu dari ujung kaki sampai ujung rambut. Sudut bibirnya tertarik, entah kenapa melihat Ayana mengingatkan nya pada pertemuan pertama nya dengan Nandira.
"Kau mau bekerja apa mau jalan-jalan?" Mars geleng-geleng kepala.
"Mau tiduran Tuan." Jawabnya asal "Sudah tahu orang mau bekerja kenapa masih bertanya?" Ketus gadis itu.
Semua karyawan menatap tak percaya pada Ayana yang begitu akrab dengan Mars. Bahkan gadis itu sama sekali tidak takut saat berdebat dengan Mars.
"Van urus semuanya."
"Baik Tuan."
Mars merangkul bahu Ayana. Gadis ini pendek dan imut-imut apalagi jika mengomel membuatnya ingin memiliki Ayana seutuhnya.
"Kau ikut aku."
Jangan tanya bagaimana terkejut nya para karyawan melihat Mars merangkul bahu Ayana. Siapa Ayana? Kenapa Tuan dingin itu bisa perhatian dengan gadis kampung seperti Ayana? Jika dilihat dari sisi mana pun mustahil jika Ayana adalah kekasih Mars.
"Tuan apa-apaan sihh jangan pegang-pegang." Ketus Ayana menyingkirkan tangan Mars dibahunya.
Ayana merenggut kesal. Pria ini kenapa selalu membuatnya kesal? Tidakkah ada pria yang bisa membuat nya tenang dan bahagia.
"Tuan jangan pegang-pegang."
"Diam!" Hardik Mars "Atau kau mau aku cium lagi?" Dia tersenyum devil.
Ayana menggeleng sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan nya. Sumpah demi apapun dia malu mengingat ciuman mereka kemarin.
"Hem, kau pintar juga berciuman!" Ledek Mars tertawa lebar.
"Tuan." Wajah Ayana sudah merah merona akibat godaan Mars.
"Hem kau suka atau kau mau lagi."
"Tidak." Dia menahan dada Mars.
Mars menghimpit gadis itu dan mengunci pinggang Ayana didinding lift.
__ADS_1
"T-tuan apa yang kau lakukan?" Ayana memalingkan wajahnya gugup.
Mars menarik dagu gadis itu akan melihat kearah nya. Menurut Mars Ayana tetap cantik walau tak memakai apapun dan walau hanya memakai pakaian kampung itu.
"Apa kau sudah memikirkannya ucapanku kemarin?" Jari-jari Mars menari diwajah Ayana. Ahh kenapa dia bisa segila ini dengan gadis kampung seperti Ayana?
"Ucapan apa Tuan?" Tanya Ayana heran.
"Ucapan yang memintamu menjadi kekasih ku!" Mars menatap bola mata Ayana.
Ayana menggeleng bahkan dia sampai lupa jika Mars berkata seperti itu tadi.
"Kenapa?"
"Ck, Tuan bisa tidak lepaskan aku dulu. Kenapa badanmu besar sekali?" Ayana berusaha menyingkirkan tubuh Mars dari nya.
"Tidak bisa. Sebelum kau jawab pertanyaan ku." Sergah Mars.
"Tuan jawaban nya adalah aku tidak menerima ku oleh sebab karena saya tidak memiliki perasaan apapun pada anda Tuan." Jawab Ayana jujur. Dia memang gadis yang bicara apa adanya.
Seketika wajah Mars berubah. Kenapa rasanya sakit saat Ayana berkata seperti itu.
"Kenapa?" Tanya nya melepaskan Ayana dari pelukkan nya "Apa kau masih memikirkan Aris atau kau menyukai Galvin?" Cecar Mars tanpa sadar tangan pria itu terkepal. Dalam hidupnya tak pernah ada yang bisa menolak pesona nya kecuali Nandira dan Ayana.
"Kau ingin tahu saja apa ingin tahu sekali Tuan?" Tanya Ayana sambil memperbaiki bajunya yang berantakkan akibat ulah Mars.
"Dua-duanya." Sudah kesal setengah mati gadis itu masih sempat-sempatnya mempermainkan dirinya.
"Dengarkan aku Tuan, aku masih menyukai Tuan Aris tapi aku sudah melepaskan nya karena dia milik Kak Nara. Kalau Tuan Galvin, jika dia menyukaiku aku rasa boleh dicoba menjalin hubungan dengannya." Ayana tersenyum simpul.
Mars menatap Ayana tajam. Dia menarik gadis itu kedalam pelukannya hingga Ayana membentur dada bidang Mars.
"Dengarkan sekali lagi gadis kecil. Kau itu milikku. Hanya milikku. Aku tidak peduli kau tidak suka padaku." Tegas Mars memeluk pinggang Ayana dengan agresif.
"Ck, Tuan lepaskan. Kau ini..." Ayana berusaha memberontak.
Pintu lift terbuka. Mars memanggul tubuh gadis itu seperti karung beras. Untung saja dibagian ruangannya tidak ada karyawan karena ruangan Mars berada paling atas.
"Tuan lepaskan aku." Ayana memberontak.
"Diam." Sentak Mars.
"Tuan Planet. Tuan Kulkas. Tuan menyebalkan. Cepat lepaskan aku." Dia masih memberontak
__ADS_1
Mars membawa gadis itu masuk kedalam ruangannya. Tak peduli dengan gadis itu yang memberontak. Ayana hanya miliknya. Untuk kali ini Mars akan perjuangkan Ayana. Apapun alasannya dan apapun tantangan nya Ayana harus jadi miliknya.
Bersambung....