Cinta Manis Sang Presdir

Cinta Manis Sang Presdir
Bab 14. Mars & Ayana


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Mars menyeka air matanya. Dia segera keluar menyusul Ayana. Dia tidak mau Ayana mendinginkannya seperti ini. Dia tidak bisa jika tidak berdebat dengan Ayana. Dunianya bisa sepi jika tak ada Ayana.


"Ayana."


Namun Mars tak mendapati kekasihnya itu di meja kerjanya.


"Dimana dia?"


Mars mengambil ponselnya lalu menghubungi Ayana berulang kali.


"Ayana ayo angkat Sayang. Jangan membuatku takut. Apapun yang terjadi aku takkan melepaskan mu karena kau hanya milikku." Gumam Mars berulang kali mengotak-atik ponselnya sambil mondar-mandir tidak tenang.


"Arghhh brengsekkkk." Pekik Mars.


"Awas kau Rayana. Aku akan menghabisi mu jika sampai terjadi sesuatu pada Ayana. Aku takkan membiarkanmu hidup karena sudah mencoba menghancurkan ku." Mars mengepalkan tangannya kuat.


Pria itu memasukkan ponsel kedalam saku celana nya dan berjalan menuju lift. Wajahnya merah padam menahan amarah. Dia tidak apa-apa Ayana marah asal jangan menghilang. Dia panik. Dia takut Ayana pergi meninggalkan nya sendirian. Dia benar-benar tak bisa hidup tanpa gadis itu. Dia sudah terbiasa. Dan takkan biasa hidup tanpa Ayana. Baginya, Ayana bukan hanya sebagai sekretaris dan kekasih. Tapi Ayana adalah sosok yang membuat jiwa nya hidup kembali.


"Ayana, kau dimana Ayana? Kumohon jangan pergi. Maafkan aku." Mars mengusap wajahnya kasar.


Mars menuju restourant. Siapa tahu kekasihnya itu ada disana untuk berkunjung menemui Kakak nya, Anara


"Selamat siang Tuan Mars ada yang bisa saya bantu?" Tanya salah satu waiters yang sudah mengenal Mars


"Apakah Tuan Aris dan Anara ada?" Dia celingak-celinguk mencari keberadaan Ayana.


"Maaf Tuan, Nyonya Anara sedang masuk rumah sakit karena sebentar lagi dia akan melahirkan."


'Apa mungkin Ayana disana?' Batin Mars


Mars tak mengucapkan apapun, dia melenggang pergi dan kembali menuju mobilnya. Dia sangat yakin jika Ayana ada disana.


"Maafkan aku Ayana. Aku takkan melepaskan mu. Tidak ada akan pernah. Hanya aku yang boleh memiliki mu. Kau itu tercipta untukku. Maafkan aku yang sudah menyakiti perasaan mu. Aku berjanji setelah ini takkan membuatmu menangis lagi." Ucap Mars bersender sambil memegang kepalanya.


Sampai dirumah sakit, dia segera keluar dan berjalan tergesa-gesa menyusuri koridor rumah sakit.


Mars melihat Ayana yang terduduk dikursi tunggu sambil menyenderkan punggungnya. Tatapan gadis itu begitu sendu. Air mata masih menetes dipipi nya yang cantik.


"Ayana."


Ayana langsung melihat kearah Mars yang berjalan kearahnya dengan langkah pelan dan tatapan sendu. Gadis itu menyeka air matanya.


Dia berdiri namun air matanya tetap menangis. Dia cenggeng. Sangat cenggeng. Sebenarnya wanita kuat tapi dihadapkan dengan kenyataan seperti ini hatinya sakit lagi.


Gleppppppppp

__ADS_1


Ayana berhambur memeluk Mars. Dia benar-benar rapuh saat ini dia butuh pelukkan sangat butuh pelukkan.


"Hiks hiks hiks hiks hiks." Tangisnya pecah.


Mars memeluk gadis itu erat. Dia lega. Ayana masih mau mengadu padanya. Menyesal sudah karena sudah membuat gadis ini rapuh.


"Tuan hiks hiks Kak Nara, Kak Nara Tuan." Adunya sambil menangis.


"Dia saudara ku satu-satunya. Hanya dia yang aku miliki."


"Tenanglah. Kau masih memiliki ku. Aku ada disini. Aku takkan meninggalkan mu."


Ayana masih menangis didalam pelukkan Mars. Dia seolah lupa dengan hatinya yang sedang sakit dan patah karena pertengkaran mereka tadi.


Begitulah Ayana, dia bukan gadis pendendam. Dia gadis yang memiliki hati lembut dan mudah memaafkan. Jika berhubungan dengan hati dia akan benar-benar rapuh.


.


.


.


.


"A-ris." Lirih Anara.


"Iya Sayang, aku disini." Aris mengusap kepala Anara.


"Ari-s."


"Iya Sayang, kenapa? Hem!" Tanya nya lembut. Demi Tuhan, Aris lebih rela kehilangan calon bayi mereka dari pada kehilangan Anara.


"K-kalau m-misalnya ak-ku pergi. Ak-ku titip putri kita." Ucapnya.


Aris menggeleng "Kau tidak boleh pergi. Jangan bicara begitu. Aku takkan sanggup hidup tanpa mu. Takkan bisa Sayang. Kumohon jangan katakan itu berulang kali." Lirih Aris.


Anara memaksakan senyum. Air mata pun menetes dipipi cantik nya. Dia juga tidak mau pergi tapi sepertinya takdir memang akan menghilangkan nya dari dunia ini. Takdir akan menyeretnya dan memaksa nya untuk pergi dari kehidupan yang harus dia tinggalkan ini.


"A-aris aku lelah. Aku tidak sanggup dengan rasa sakit ini. Sakit Aris." Adunya.


Air mata Aris kembali luruh. Hatinya seperti dicabik-cabik oleh ucapan Anara. Istrinya menyembunyikan rasa sakit ini sendirian. Dia merasa bersalah yang tidak pernah bisa menjadi suami yang baik.


"Aku ingin menyerah. Tubuh ku lelah Ada." Adunya.


Aris menyatukan keningnya dengan Anara. Memejamkan matanya dan meresapi cinta yang menyerayap didalam hatinya.


"Dok, pasien kekurangan banyak darah."

__ADS_1


"Segera lakukan transfusi darah." .


"Baik Dok."


Galvin dan beberapa dokter lainnya sedang berjuang menyelamatkan Ibu dan anak itu. Sesuai dengan permintaan Ayana untuk menyelamatkan kedua orang ini. Meski pada kenyataannya harus memilih antara keduanya.


"Cepat keluar kan bayi nya."


"Baik Dok."


"Owe.... Owe..... Owe..."


Tangisan bayi munggil yang masih berlumuran darah itu terdengar menggema diruang operasi. Segera beberapa perawat mengunting tali pusarnya dan mengeluarkan sarang didalam sana.


Operasi kembali dilanjutkan. Sedangkan bayi munggil itu sedang di bersihkan oleh beberapa perawat.


"Dok." Dokter kandungan menggeleng


Galvin menghela nafas panjang. Kita tidak bisa melawan takdir dan kematian. Mungkin jalan yang dikehendaki sang penguasa berbeda dengan keinginan hati manusia.


"Pasien kekurangan banyak darah. Darah yang di transfusi tidak mau masuk kedalam tubuhnya. Seperti nya beberapa sel dalam tubuhnya sudah tidak berfungsi Dok. Akibat sel kanker yang menyebar dari dalam." Jelas dokter spesialis kanker.


Galvin pun tak bisa berkata apa-apa. Dia bukan Tuhan yang bisa melawan takdir. Dia hanya tak sanggup bagaimana reaksi Ayana melihat kondisi Kakaknya.


"Tuan, Nyonya. Selamat bayi anda berjenis kelamin perempuan." Ucap dokter memberikan bayi munggil itu pada Aris dan Anara.


Mata Aris berkaca-kaca. Dia mengambil bayi munggil itu.


"Owe.... Owe... Owe...."


"Selamat datang putri Ayah." Dia memberikan ciuman pada bayi munggil itu.


"Sayang putri kita." Ucap Aris.


"Pu-putri kita?" Raut wajah Anara sudah berubah. Wajahnya begitu pucat.


"Iya Sayang. Kau ingin menggendong nya?"


"I-iya."


Tubuh Anara bergetar hebat. Tak menyangka jika Tuhan masih memberi nya kesempatan untuk melihat bayi munggil dan cantik ini.


"H-hai p-putri Bunda." Dia meletakkan bayi itu diatas dadanya.


"Apa kau sudah siapkan nama untuknya?" Tanya Aris.


Anara mengangguk. Jauh-jauh hari dia sudah menyiapkan nama untuk putri tercinta dan tersayang nya.

__ADS_1


"Anaya Putri."


Bersambung........


__ADS_2