
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
"Kenapa kau membawaku kesini Tuan?" Protes Ayana sambil memutar bola matanya malas.
"Jangan terus bertanya. Sebaiknya kau diam saja." Ketus Mars.
Ayana mencebik kesal. Dan lagi kenapa Ranti meminta nya untuk menjadi sekretaris Mars, pria menyebalkan yang pernah dia kenal dalam hidupnya. Pria yang sudah mencuri ciuman pertamanya.
Ayana memegang bibirnya ketika mengingat ciuman mereka kemarin. Seperti sebuah film yang direka ulang.
"Hiks bibirku sudah tidak perawan lagi, hiks bagaimana ini? Apa ada laki-laki yang mau dengan gadis yang sudah tidak perawan bibirnya hiks hiks Ibu maafkan Ayana." Batinnya merenggek dalam hati.
Mars melirik Ayana yang membuang muka kearah jendela sambil memegang bibirnya. Pria itu menelan salivanya ketika melihat bibir ranum merah muda itu.
Dalam bayangan pria itu sudah mengkhayal bagaimana manisnya bila dia mengecup bibir itu dengan lembut.
"Sial. Apa yang aku pikirkan?" Tanpa sadar pria itu memukul stir mobil.
Ayana terkejut dan melirik Mars yang sudah memerah wajahnya.
"Kau kenapa Tuan?" Tanya gadis itu heran.
"Tidak." Ketus Mars.
Ayana tidak tahu saja jika Mars sedang melamunkan dirinya. Namun gengsi Mars yang terlalu tinggi seperti bintang di langit mana berani dia mengaku tentang perasaan nya.
Sampai di salon langganan nya Mars turun duluan dan tidak peduli dengan pertanyaan Ayana.
"Tuan kita mau apa kesini?" Tanya Ayana kesal sambil menutup pintu mobil dengan kasar.
Mars menatap Ayana tajam "Kau mau merusak mobilku?" Tudingnya.
"Ck, untuk apa aku merusaknya memang nya kau pikir aku mampu apa untuk menggantinya?" Celetuk Ayana "Lagian kita mau apa kesini Tuan?" Tanya Ayana sekali lagi sambil berjalan mengekor Mars.
"Makan." Jawab nya asal. Lama-lama dia bisa gila jika terus bersama Ayana.
"Makan? Kenapa makan disalon?" Gumam Ayana pelan tapi suaranya masih didengar dengan jelas oleh Mars.
Mars berhenti. Hingga Ayana terkejut dan menabrak dada laki-laki itu.
"Astaga Tuan. Ampun dehhh kalau mau berhenti itu bilang-bilang biar tidak ketabrak, itu dada apa batu ampun dehhh kenapa keras sekali?" Sambil mengusap jidatnya "Atau kau sengaja berhenti supaya aku mencium dadamu?" Tuduh Ayana memincingkan matanya sambil tangannya mengusap keningnya.
Takkkkkkkkkkkk
Mars menjitak kening gadis itu dengan gemes. Kenapa Ayana ini tidak bisa diam? Benar-benar sebelas dua belas dengan Ranti.
"Awww, Tuan. Kejam." Rintihnya.
__ADS_1
"Makanya kalau bicara itu disaring sedikit. Lagian aku tidak akan sudi jika kau mencium dada seksiku ini." Seru Mars sambil mendorong kening Ayana. Dia seperti tidak puas melihat gadis ini kesal.
"Ihhh Tuan, jangan dorong-dorong, kau pikir aku gerobak." Gerutu Ayana menyingkirkan tangan Mars dikeningnya.
"Makanya diam." Sergah Mars kembali berbalik dan melanjutkan langkah kakinya.
Ayana mencebik kesal. Gadis itu menyusul Mars dengan menghentak-hentakkan kakinya sambil mengumpat berbagai macam umpatan.
"Dasar Planet Pluto, menyebalkan. Menyebalkan. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah jatuh cinta pada kulkas itu." Gerutu Ayana dengan mulut komat-kamit seperti dukun baca mantra.
Kedatangan Mars dan Ayana disambut hangat oleh pemilik butik. Tidak heran jika mereka mengenal Mars karena Mars sering menemani Ranti dan juga Ibu nya ke butik langganan mereka ini.
"Selamat datang Tuan Mars." Mereka membungkuk hormat.
Mars menarik Ayana dan merangkul bahu gadis itu.
"Tolong renovasi dia secantik mungkin." Tintah Mars.
"Make over Tuan, bulan renovasi. Aku bukan gedung yang harus direnovasi." Protes Ayana tak terima.
"Alah, aku tidak peduli." Pria itu tanpa sadar merangkul bahu Ayana "Dandani dia dengan cantik jangan terlalu menor dan pipihkan gaun yang paling bagus dibutik ini." Mendorong Ayana dengan pelan.
"Jangan dorong-dorong Tuan." Ketus Ayana kesal sambil menepis tangan Mars dibahunya.
"Makanya kau itu jangan lelet." Mars lagi-lagi mendorong kening Ayana.
Sang pemilik butik hanya tersenyum kesem-kesem. Romantis sekali kedua pasangan ini, meski terlihat rusuh tapi terlihat sangat manis.
"Mari Nona ikut saya." Dia menarik tangan Ayana dengan lembut.
"Tuan." Ayana melirik Mars.
"Sudah sana. Jangan lama-lama, nanti kita terlambat." Ucap Mars sambil duduk disoffa dan menunggu gadis itu.
Mars menghela nafas panjang. Akibat Ranti yang ember seperti baskom itu dia malah disuruh membawa Ayana keacara ulang tahun Ranti.
"Hufffhh." Mars menarik nafas nya dalam sambil meronggoh ponselnya.
Drt drt drt drt drt drt
Pria menghembuskan nafasnya kasar saat melihat telpon nya berbunyi dan nama yang tertera dilayar ponselnya adalah nama yang tidak bisa dia tolak permintaan nya.
"Iya Mom?" Sapanya terdengar malah.
"Kau dimana Mars? Jangan lupa bawa Ayana. Jangan lama-lama, Mommy tidak bertemu calon istrimu itu." Cerocos suara diseberang sana.
Mars mengusap telinganya dan menjauhkan telpon itu lalu menggeleng kepala saja. Kenapa setiap wanita didunia ini selalu berisik bicara saja tidak ada titik dan komanya.
__ADS_1
"Mars kau dengar Mommy kan?" Suara kesal diseberang sana.
"Iya Mom aku dengar. Aku lagi di salon mau renovasi gadis itu." Jawabnya lemas tak bersemangat.
"Oke Mommy tunggu, awas jangan macam-macam sama anak orang. Jangan pegang-pegang dulu, belum sah." Tegas suara disebrang sana lalu menutupnya tanpa menunggu jawaban Mars.
Mars menatap layar ponselnya dengan kesal Ibunya memang selalu begitu.
Mars menyimpan kembali ponselnya. Hal yang paling dia benci dalam hidup nya adalah menunggu. Menunggu itu hal yang membosankan apalagi menunggu gadis menyebalkan seperti Ayana.
Mars melirik arloji ditangannya. Pria memijit-mijit pelipisnya yang terasa berdenyut, mau marah percuma juga. Ini semua gara-gara Ranti, lihat saja nanti dia akan memberikan pelajaran pada adiknya itu.
"Tuan, sudah selesai." Ucap pelayan salon disana.
Mars mengangguk dan menunggu Ayana menghampiri nya. Pria itu melihat langkah kaki gadis menyebalkan yang membuatnya kesal tengah melangkah dengan gaun panjang hingga mata kaki.
Tak tak tak tak tak tak
Langkah kaki Ayana terdengar menggema bersama dentingan jarum jam dilengan Mars.
Mars menatap Ayana dari ujung kaki sampai ujung rambut dan Mars menatap gadis Ayana tak berkedip.
"Dia cantik sekali. Aku bahkan hampir lupa jika dia gadis menyebalkan itu." Batin Mars dengan mulut terbuka lebar
"Ehem, sudah terpesona nya?" Goda Ayana sambil tersenyum smirk.
Mars tersadar sambil menggeleng. Dia menatap gadis itu dengan tajam.
"Jangan ge-er." Hardiknya.
"Bulan ge-er kan memang begitu Tuan." Gadis itu tetap percaya diri sambil meletakkan kedua tangannya dipinggang "Bagaimana Tuan apakah kekasihmu ini sudah cantik." Bergaya lenggak-lenggok seperti model diatas karpet merah.
"Biasa saja." Ketusnya memalingkan wajah. Padahal hatinya mengakui bahwa Ayana memang cantik.
"Memang terkadang jujur itu menyakitkan Tuan." Dia tersenyum santai sambil setengah meledek.
"Apa maksudmu?" Tatap Mars tajam.
"Maksudku, Tuan Planet kapan kita berangkat?" Ayana mendekat sambil mengelus lengan pria itu dengan senyuman menggoda "Ayo sayang, aku tidak sabar bertemu calon mertua." Rayu nya.
"Kau......"
"Sudahlah, ayo Tuan jangan marah-marah terus." Sergah Ayana memeluk lengan pria itu.
Dan Mars tak bisa marah dia malah merasa seperti tersenyum sengatan listrik saat Ayana memeluk lengannya. Lidahnya serasa kelu saat ingin marah dan malah terasa hangat.
Bersambung....
__ADS_1