Cinta Manis Sang Presdir

Cinta Manis Sang Presdir
Perpisahan


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


"Kak Ranti."


"Dira." Ranti langsung tersenyum sumringah ketika melihat Nandira.


"Apa kabarmu Ra?." Tanya gadis itu tersenyum hangat. Ahh Nandira ini benar-benar cantik dan menggemaskan. Beruntung sekali Nathan memiliki istri seperti Nandira.


"Sehat Kak." Balasnya "Mas Ferry, Kak Viana."


"Haiiii Ra." Ferry dan Viana ikut nimbrung bersama Nandira.


"Tadi aku sudah bilang Mas Ivan. Karena hari ini hari terakhir aku masuk dikantor jadi aku ingin mengadakan acara perpisahan dengan makan-makan." Seru Nandira.


"Wahhh boleh tuhhh." Ranti langsung senang bukan main "Direstourant suamimu ya Ra, aku ingin makan kimchi." Tungkas Ranti.


"Iya ayo." Ajak Nandira "Sekalian ajak Tuan Mars." Tutur nya.


Mereka berenam pergi ke restourant mewah Nathan. Sebelum nya Nathan yang memberi ide pada istrinya agar mengadakan acara perpisahan singkat dengan teman-teman kantornya karena bagaimana pun mereka berperan penting dalam pembentukan karakter Nandira didalam dunia pekerjaan.


"Ra, Kakak baru tahu jika Tuan Nathan adalah suamimu. Kenapa tidak bilang dari awal?." Ucap Viana mereka bertiga satu mobil. Sedangkan Ranti satu mobil dengan Mars dan Ivan.


"Hehe ya mau bagaimana lagi Kak?." Wanita itu cenggesan.


Sampai direstourant mereka semua turun dengan tak sabar. Para waiters sudah menunggu dan menanti mereka.


Nathan berdiri didepan pintu masuk menunggu kekasih hatinya.


"Sayang." Merentangkan tangannya agar wanita itu memeluknya


"Mas." Nandira masuk kedalam pelukan hangat sang suami. Keduanya seolah tak malu lagi menunjukkan kesemesraan didepan umum seperti ini.


"Sudah lapar?." Sambil mengusap kepala wanita yang tingginya hanya sedada itu.


"Iya Mas sudah lapar."


Ranti dan Viana terbawa perasaan kedua gadis itu kesem-kesem dan membayangkan seandainya ada diposisi Nandira betapa beruntungnya memiliki suami sebaik dan seperhatian Nathan.


"Ya sudah ayo masuk." Nathan mengenggam tangan istrinya


"Ayo Kak semuanya masuk."


Ketika Nathan menyuruh istrinya mengadakan pesta perpisahan sederhana bukan berarti dia tidak ikut didalamnya. Dia takkan rela membiarkan istrinya bergaul dengan pria lain apalagi ada Mars disana.

__ADS_1


Mars ikut masuk dengan wajah datar dan dingin. Tangannya dimasukkan kedalam saku celana kanan dan kirinya. Jujur saja dia iri melihat kemesraan Nathan dan Nandira, sebagai manusia normal dia juga ingin bahagia seperti kedua pasutri itu.


Nathan menyiapkan ruangan VVIP khusus untuk menyambut kedatangan para sahabat istrinya. Sebagai pria yang cinta istri dia harus mendukung semua hal yang bersangkutan dengan kebahagiaan Nandira.


Ranti dan Viana tak berhenti berdecak kagum melihat interior ruangan yang disiapkan Nathan. Benar-benar kaya sekali pria ini. Lihat saja ruangan makan saja semewah ini lalu bagaimana mewahnya rumah Nathan?


"Silahkan duduk dan silahkan dinikmati." Ucap Nathan


"Ayo Kak. Jangan malu-malu." Celetuk Nandira "Kalian mau pesan apa saja. Silahkan." Tutur nya lagi


"Duduk sayang." Nathan menarik kursi agar istrinya duduk.


"Terima kasih Mas." Balas gadis itu.


"Sama-sama sayang." Mengecup kening istrinya.


Aris benar-benar jenggah dengan kebucinan Nathan dan Nandira. Bisakah kedua orang itu tidak bermesraan disaat banyak orang seperti ini?


"Silahkan dinikmati Tuan Mars." Ucap Nathan sopan dengan senyuman manis lebih tepatnya senyum ejekan akhirnya dia bisa tunjukkan pada Mars bahwa Nandira hanya miliknya.


"Terima kasih Tuan Nathan." Ucap Mars membalas senyuman Nathan meski sebenarnya lain dimulut lain dihati.


"Wahhh luar biasa." Seru Ranti sudah mengeluarkan liurnya melihat tatanan makanan mewah diatas meja.


Sementara Ferry, Ivan dan Aris hanya makan dalam diam saja sambil menyaksikan keberisikkan para wanita diatas meja.


Nathan sibuk menatap istrinya dan menganggumi kecantikan wanita itu. Dia seperti pengasuh yang menyuapi istrinya makan dan Nandira yang polos hanya menurut saja tanpa protes.


Berbeda dengan Mars dia merasa hampa dan kosong. Dari tadi dia menatap kearah pintu siapa tahu seseorang yang dia ingin lihat masuk dan ada disana?


"Permisi Tuan saya izin ke toilet sebentar." Ucap Mars pada Nathan sopan.


"Iya Tuan Mars."


Mars pergi ke toilet itu hanya sebagai alasan nya saja agar menghindari Nathan dan Nandira. Bukan iri atau tidak suka dia hanya ingin hatinya baik-baik saja. Apalagi sekarang dia sedang belajar untuk melupakan Nandira.


"Kemana gadis itu?." Gumam Mars celingak-celinguk mencari Ayana.


"Biasanya jam makan siang dia selalu stay dengan pelanggan." Gumamnya lagi sambil masih seperti mencari seseorang.


"Ehem. Ehem."


Mars berbalik ketika mendengar suara deheman dibelakang nya.

__ADS_1


"Ada ap_.?


"Mencari siapa Tuan? Apa anda mencari gadis bernama Ayana?." Goda Ayana sambil menaik turunkan alisnya.


Mars mencebik kesal. Wajah pria itu berubah masam dan sebenarnya berusaha untuk tidak terlihat gugup didepan Ayana apalagi ketahuan jika dia mencari gadis itu bisa turun gengsinya nanti.


"Cihhh siapa juga yang mencarimu?." Kilah Mars memalingkan wajahnya jangan sampai Ayana melihat wajah merahnya bisa tinggi hati gadis perusuh itu.


"Ehem, memang jujur itu menyakitkan Tuan." Sindir Ayana.


"Kau tidak lupa kan?." Mars mengalihkan pembicaraan.


Ayana mengangguk "Mana bisa kau lupa Tuan? Apalagi mengingat ciuman itu rasanya aku ingin mengulangnya." Goda Ayana tersenyum menggoda.


Mars bergidik ngeri. Gadis sungguh sama seperti Ranti yang bar-bar.


"Ulang saja dengan tembok." Cetus Mars duduk dikursi.


"Ehem. Apa kau ingin makan siang bersama ku Tuan? Kebetulan aku sedang istirahat jadi bisa menemanimu." Ucapnya cekikikan melihat tatapan horor Mars yang seperti ingin menerkamnya.


"Bagaimana Tuan?." Tawarnya sekali lagi.


Mars terdiam. Tidak ada salahnya dia menerima tawaran Ayana. Karena jujur saja dia malas jika harus masuk lagi dan bergabung dengan yang lainnya apalagi melihat kesemesraan Nathan dan Nandira yang membuatnya jenggah setengah mati.


"Ehem boleh." Sahutnya sedikit ketus dan duduk dengan tenang.


"Tunggu sebentar ya Ayang." Seru Ayana menutup mulutnya menahan tawa. Gadis ini memang jahil luar biasa.


Mars mendelik kearah gadis itu dia menatap Ayana tajam bukan marah hanya berusaha menetralisir kegugupan jantung nya. Ada yang tidak beres dengan jantungnya ketika mendengar nama panggilan dari Ayana.


Ayana membawa pesanan mereka berdua. Jika kemarin dia takut pada Mars karena wajah pria itu yang dingin seperti tembok tapi sekarang dia malah senang bisa berdebat dengan pria itu setidaknya dia bisa sedikit mengobati rasa patah hatinya karena aris.


"Ayo Ayang makan."


"Kenapa kau memanggil ku Ayang?." Hardik Mars tidak terima. Padahal hatinya senang, memang terkadang bibir itu lebih mudah berbohong.


"Astaga." Ayana mengelus dada nya "Ayang lupa kata Ayang aku ini pacar Ayang. Kenapa malah marah-marah Ayang?." Gadis itu masih cekikian


"Kau....." Mars mengepalkan tangannya kuat.


"Ayo Ayang makan jangan marah-marah terus nanti cepat tua." Celetuk Ayana.


Tak mau berdebat Mars malah makan dengan lahap. Tapi hatinya sudah berdebar-debar dengan panggilan dari Ayana.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2