Cinta Manis Sang Presdir

Cinta Manis Sang Presdir
Keterpesonaan Aris


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


"Tuan bagaimana dengan Nona Anara dan Nona Ayana?". Tanya Aris sambil menunggu Nathan menandatangani berkas yang dia berikan.


Nathan tidak memiliki Sekretaris, Aris merangkap menjadi sekretaris dan asisten sekaligus yang menghandle semua pekerjaan Nathan.


Nathan terdiam sejenak seolah berpikir keras.


"Apa sebaik nya kita terima saja mereka bekerja disini Tuan?". Saran Aris.


Natha menggeleng "Jangan". Tolak Nathan keras "Bagaimana dengan restorant cabang itu?". Beberapa bulan lalu Nathan membangun sebuah restorant mewah yang tidak jauh dari kantor nya.


"Mulai berkembang Tuan. Para pengunjung juga semakin hari semakin bertambah". Jelas Aris.


"Baik. Biarkan mereka berdua bekerja disana". Imbuhnya "Anara, angkat saja menjadi manager aku lihat gadis itu memiliki potensi dan keseriusan dalam bekerja". Tintah Nathan.


"Lalu Nona Ayana?".


"Jadikan dia asisten manager. Biar dia bisa belajar. Gadis itu bisa berbaur dengan siapapun. Aku yakin para pelanggan akan tertarik dengannya". Ucapnya.


"Baik Tuan". Aris tersenyum simpul.


Nathan menatap asistennya yang tersenyum tak biasa.


"Kau terlihat begitu senang Aris?". Sambil memincingkan matanya.


"Ohhh tidak Tuan". Aris berusaha menepis perasaannya.


Nathan kembali melanjutkan menandatangani berkas itu.


Bukan apa dia tidak mau menerima Anara dan Ayana bekerja diperusahaan. Nathan hanya merasa tidak nyaman dan Nathan tidak bisa jelaskan entah kenapa perasaan nya sedikit tak menyukai kedua gadis kembar itu.


Aris keluar dari ruangan Nathan setelah semua berkas-berkas ditandatangani.


"Aris".


"Iya Tuan?". Aris mendongkrakkan kepalanya melihat Nathan yang keluar dari ruangan nya.


"Bawa Anara dan Ayana ke restourant urus semua keperluan mereka. Pastikan mereka aman dan nyaman". Perintah Nathan.


"Baik Tuan". Aris membungkuk hormat.


"Bawa mobil yang satu. Aku akan menjemput istriku makan siang". Lalu mellengang dan meninggalkan Aris.

__ADS_1


Aris bersiap-siap untuk menjemput kedua gadis kembar itu dan membawa mereka bekerja direstourant.


Selain perusahaan yang bergerak di bidang furniture dan real estate serta pariwisata dan perhotelan. Nathan juga memiliki beberapa usaha lainnya seperti restourant dan mall. Usaha-usaha itu dijalankan oleh orang-orang kepercayaan Nathan. Dia akan memantau dan menerima laporan setiap sebulan sekali dari orang-orang bawahannya.


Aris masuk kedalam mobil nya dan menjalankan mobilnya meninggalkan gedung pencakar langit milik Nathan.


"Kenapa aku gugup ya?". Gumam pria itu bernafas kasar.


Tanpa sadar Aris tersenyum mengingat salah satu dari saudara kembar itu. Salah satu diantaranya sungguh menarik perhatian Aris. Entahlah, Aris menangkap sesuatu yang berbeda dari gadis itu.


Sampai di Apartement Nathan. Pria itu turun. Beberapa kali Aris menghembuskan nafas nya kasar untuk menetralisir kegugupannya.


"Selamat siang Tuan Aris". Ayana sudah menyetor senyum Pepsodent.


"Siang". Jawab Aris dingin.


"Ayo masuk Tuan". Ajak Ayana.


Mereka berdua masuk. Apartement itu memang mewah dan dilengkapi dengan beberapa fasilitas bak hotel bintang lima.


Apartement ini jarang Nathan tempati bahkan hampir tak pernah sejak lima tahun terakhir. Dia lebih banyak menghabiskan waktunya di kantor dan berkas-berkas yang menumpuk diatas mejanya.


"Silahkan duduk Tuan". Aris duduk diruang tamu apartemen itu.


"Tunggu sebentar Tuan saya akan buatkan minum".


Anara keluar dari kamarnya dengan celana pendek diatas lutut dan baju kaos oblong yang kedodoran, rambut nya dia kuncir kuda asal. Gadis ini memang terkesan tomboy dan cuek.


"Ehhh Tuan Aris".


Anara langsung berjalan mundur dan masuk kembali kedalam kamarnya dia malu karena memakai celana sependek itu.


Aris membeku ditempatnya. Pria itu seperti hilang kesadaran saat melihat paha putih Anara.


"Sial". Umpatnya dalam hati dengan kasar.


Ayana keluar dengan membawa nampan berisi secangkir kopi manis.


"Diminum Tuan". Sambil meletakkan cangkir itu diatas meja.


"Terima kasih". Aris langsung menyesap kopi itu berharap jantungnya yang tadi berdegup bisa kembali normal.


Anara keluar dari kamar dengan pakaian rapih dan sopan. Gadis itu kalau dirumah memang sering memakai pakaian seksi.

__ADS_1


"Selamat siang Tuan Aris". Sambil duduk disamping Ayana.


"Siang Nona Anara". Balas Aris tersenyum simpul.


"Begini Nona, kedatangan saya kesini ingin mengajak anda untuk bekerja di restorant milik Tuan Nathan. Anda diminta untuk menjadi manager dan menggelola restourant tersebut". Jelas Aris.


"Menggelola?". Gumam Anara.


"Wahhh diangkat jadi Manager". Seru Ayana "Boleh sekali Tuan. Kak kau kan pintar, pasti bisa jadi manager". Ucap nya sumringah sambil memegang tangan adiknya.


Anara melirik adiknya yang tampak senang. Tapi tidak dengan dirinya, menggelola restourant tentu butuh resiko dia tidak memiliki pengalaman apapun dan dia hanya gadis kampung.


"Maaf Tuan kenapa saya harus jadi manager, kenapa tidak menjadi waiters saja?". Anara memang pintar dari adiknya


Aris tersenyum simpul "Karena Tuan melihat jika anda memiliki potensi Nona". Jawab Aris.


"Saya sama sekali tidak memiliki potensi Tuan. Mungkin Tuan anda salah lihat". Sahut Anara merendahkan diri. Dia sama sekali tidak tertarik.


"Kak tidak boleh begitu. Ayolah kita terima tawaran ini. Bukannya tujuan kita kesini bekerja dengan Tuan Nathan. Kakak coba dulu, aku yakin Kakak pasti bisa". Sambil memegang lengan Kakaknya dengan tatapan memohon.


Anara menghela nafas panjang. Jujur saja dia masih belum mood bertemu orang luar. Kehilangan itu membuatnya ingin terkurung didalam kamar saja.


"Baiklah". Sahut Anara mengalah "Mohon bimbingan nya Tuan. Saya belum berpengalaman sama sekali". Imbuhnya sambil membungkuk hormat.


"Baik Nona. Kalau begitu silahkan bersiap-siap. Saya akan langsung mengantar anda kesana". Ujar Aris.


Ketiganya keluar dari Apartement. Seperti biasa Ayana akan terus berceloteh dan Anara hanya diam saja sambil mendengarkan adiknya dengan gelengan kepala.


Aris juga salut sendiri dengan Ayana. Sungguh berisik dan membuat kepalanya pusing.


"Maaf Tuan, apa kami bisa bertemu Dira?". Sejak mereka ke kota Anara tidak pernah bertemu adiknya itu.


"Nanti saya akan atur waktu Nona". Bukan apa, Nathan tak mengizinkan orang bertemu istrinya tanpa seizin dari nya.


"Kenapa harus diatur Tuan. Dira itu adik kami?". Sambung Ayana.


"Bagaimana pun Nona Nandira sudah menikah, Nona. Prioritas nya sudah berbeda. Anda tidak bisa bertemu dengan dia tanpa seizin suaminya". Jawab Aris sedikit kesal.


Ayana mencebik "Ck, susah sekali bertemu istri sultan itu. Pasti Dira sibuk menghabiskan uang suaminya". Ayana sudah berimajinasi sendiri membayangkan Nandira belanja dan menghabiskan uang suaminya


Anara tak lagi menjawab. Dia malah fokus menatap jalanan. Ini pertama kalinya dia ke kota. Sebenarnya gak ada pengalaman. Tapi demi agar bisa menyambung hidup dan melupakan masa lalunya Anara akan membinasakan diri hidup disini.


Bersambung........

__ADS_1


Jangan lupa dukungan nya ya guys ...


Terima kasih buat yang sudah setia ikutin....


__ADS_2