Cinta Manis Sang Presdir

Cinta Manis Sang Presdir
Mundur alon-alon


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Ivan masih berkutat dengan berkas-berkas dimejanya. Dia harus memastikan bahwa berkas ini sesuai dengan kemauan Mars. Jika tidak, dia bisa disemprot habis-habisan oleh Tuan-nya itu.


Ranti berjalan dengan sumringah sambil memeluk berkas ditangannya. Semua orang sudah tahu jika dia adalah adik dari pemilik perusahaan ini.


"Kak Ivan." Serunya berhambur ke arah meja Ivan.


Pria itu mengangkat kepalanya menaikan satu alisnya bingung melihat Ranti yang memasang wajah bahagia pagi ini.


"Ada apa?" Sambil memeriksa berkas ditangannya tanpa melihat kearah Ranti.


"Kak." Renggek Ranti sambil menarik-narik lengan baju Ivan "Kakak kenapa pergi semalam sebelum acara selesai. Padahal aku ingin mengucapkan banyak terima kasih untuk Kakak. Kakak juga tidak memberiku kado?" Bibir Ranti menggerecut kesal.


Ivan terdiam. Dia menatap Ranti dan menghela nafas panjang. Pria itu mengambil sesuatu dibawah mejanya.


"Ini." Dia meletakkan paper bag berisi kotak besar "Selamat ulang tahun." Ucapnya dingin lalu kembali pada berkasnya.


Ranti mencebik "Kak, kalau kasih itu yang ikhlas dan romantis kek, kenapa dingin sekali seperti Kak Mars." Gerutunya.


Ivan hanya mengangkat bahunya dan cuek-cuek saja seolah tak mau mendengar ucapan Ranti.


Ranti membuka paper bag itu dan mengeluarkan kotak besar didalam. Dengan tak sabar gadis itu membuka bungkusan kertas kado yang melekat disana.


Mata Ranti langsung berbinar seperti dapat lotre dan undian berhadiah.


"Wahhhh Teddy Bear." Serunya memeluk boneka itu dengan sayang dan mencium kepala boneka.


Ivan tak menanggapi dia malah tetap asyik dengan berkas diatas mejanya.


"Terima kasih Kak Ivan."


Tubuh Ivan seketika menegang ketika Ranti memeluknya. Jantung nya berdegup tak karuan mungkin sudah berdisko didalam sana.


"Kakak baik dehh. Cup."


Pipi Ivan langsung memerah. Rohnya seolah terlepas dari dalam raganya. Dia mematung sambil menatap Ranti yang memeluk boneka Teddy Bear pemberian nya.


"Kak, titip ini buat Kak Mars ya. Jangan lupa di taken dan periksa dulu. Sekali lagi terima kasih hadiahnya Kak." Seru Ranti

__ADS_1


Ranti mellengang pergi dengan wajah girang dan sumringah sambil memeluk boneka pemberian Ivan. Dia tak merasa bersalah sama sekali setelah membuat Ivan salah tingkah seolah tak terjadi sesuatu.


Ivan memegang pipinya bekas ciuman Ranti. Semalam, dia memang pergi begitu saja dengan alasan tiba-tiba ada klien yang ingin bertemu malam-malam. Padahal dia hanya ingin menghindari Ranti dan tidak mau melihat gadis itu bermesraan dengan Galvin.


"Ranti." Tanpa sadar sudut bibir pria itu tertarik.


Ivan tersenyum membayangkan Ranti yang mencium pipi nya. Tak bisa Ivan pungkiri jika Ranti adalah salah satu gadis yang memiliki daya tarik tersendiri. Meski manja dan keras kepala tapi dia sesungguhnya gadis baik-baik.


"Kenapa aku bisa sesenang ini?" Gumam Ivan masih memegang pipinya "Tidak. Tidak. Sadar Van. Sadar. Kau itu hanya remahan. Sedangkan Ranti adalah Tuan Putri. Jangan bermimpi untuk bisa bersanding dengan nya. Lebih baik segera sadar diri." Ujarnya menepis segala perasaan yang menghantui pikiran nya.


Ivan mengambil berkas yang diberikan Ranti dan masuk kedalam ruangan Mars.


"Selamat pagi Tuan."


"Pagi Van."


Ivan menghampiri meja Mars dengan berkas ditangannya.


"Ini laporan pengeluaran dari divisi keuangan Tuan." Ucap Ivan.


"Letakkan saja. Nanti aku periksa." Tanpa melihat Ivan.


"Van." Mars menutup berkas ditangannya.


"Iya Tuan?" Ivan kembali berbalik "Ada yang bisa saya bantu?"


Mars tampak ragu tapi dia butuh saran Ivan. Meski dia tahu Ivan tak memiliki pengalaman tentang hal ini.


"Ehem, menurutmu bagaimana gadis menyebalkan itu?" Kembali menyibukkan diri dengan berkas diatas mejanya seolah tak menganggap penting obrolan nya padahal dia tidak mau dilihat gugup oleh Ivan


"Nona Ayana, Tuan?" Tebak Ivan.


Mars mengangguk "Menurutmu dia bagaimana?" Tanya Mars sekali lagi.


Ivan tampak berpikir "Nona Ayana cantik. Cerdas dan baik hati. Hanya saja dia masih kurang dewasa Tuan." Jelas Ivan mengungkapkan penilaian nya terhadap Ayana.


"Kau benar Van, dia memang belum dewasa. Tapi tidak jauh beda dengan Dira, bukan?"


Ivan menggeleng "Kalau Dira polos Tuan." Jawab Ivan "Polos dan belum dewasa itu berbeda. Dira kalau dibimbing baik-baik dia bisa menyesuaikan keadaan. Tapi kalau Nona Ayana butuh kesabaran untuk membuatnya paham dan mengerti pada kondisi dan keadaan." Imbuhnya kemudian.

__ADS_1


Mars manggut-manggut paham. Mungkin yang Ivan katakan benar.


"Baik. Siapkan meja kerja untuk nya. Mulai besok dia akan bekerja menggantikan Dira." Tintah Ivan.


"Baik Tuan. Kalau begitu saya permisi." Ivan lagi membungkuk hormat.


"Van." Panggil Mars sekali lagi.


"Iya Tuan?" Ivan kembali menatap Mars "Apa ada lagi yang ingin anda katakan atau saya lakukan?" Tanyanya.


Mars menggeleng "Apa kau baik-baik saja?"


Ivan terdiam. Apa maksudnya baik-baik saja?


"Maksud anda Tuan?" Tanya Ivan tak mengerti.


"Aku juga laki-laki, aku paham perasaan mu. Tapi jika kau bersungguh-sungguh mencintai Ranti, aku menyetujui nya." Mars tersenyum menatap wajah Ivan yang memerah


"Tapi Tuan_."


"Galvin memang dijodohkan sejak kecil dengan Ranti. Tapi aku rasa Ranti tidak menyukainya dia hanya menganggap pria itu Kakak nya karena Daddy dan Mommy pun mendukung hubungan mereka." Jelas Mars "Jika kau mencintai Ranti perjuangkan dia. Yakinkan Daddy dan Mommy bahwa kau pantas menjadi menantunya." Tuturnya lagi. Sebagai laki-laki tentu Mars paham perasaan Ivan.


"Tapi Tuan saya hanya remahan. Saya tidak pantas dengan Ranti." Ivan sudah pesimis duluan. Galvin adalah seorang dokter yang memiliki gelar tinggi.


"Jangan katakan hal seperti itu. Daddy dan Mommy tidak memandang dari status. Aku yakin mereka akan setuju jika kau sungguh-sungguh menjaga Ranti." Mars sangat mendukung Ivan dengan adiknya Ranti. Mars yakin jika Ivan bisa membuat adiknya itu dewasa nantinya.


"Saya permisi Tuan."


Ivan keluar dari ruangan Mars. Dia tidak mau berekspektasi terlalu tinggi. Dia hanya asisten Mars. Meski kedua orangtuanya bersahabat baik dengan keluarga Mars tetap saja Ivan hanyalah remahan.


Ivan sadar bahwa Ranti adalah gadis sempurna yang memiliki segalanya. Tidak hanya cantik dan kaya tapi juga terhormat dan memiliki pendidikan yang tinggi. Untuk bisa bersanding dengan Ranti, Ivan harus memantaskan diri. Dia tak mau harga dirinya di injak-injak nantinya.


Ivan berjalan menuju ruangan Ranti. Entah kenapa dia jadi ingin melihat gadis itu.


Langkah Ivan terhenti ketika melihat ada Galvin di ruangan gadis itu.


"Apa yang dia lakukan disini? Apa ada pasiennya di kantor ini?" Batin Ivan setengah kesal.


Dia memutar arah dan kembali ke meja kerjanya.

__ADS_1


Bersambung.......


__ADS_2