Cinta Manis Sang Presdir

Cinta Manis Sang Presdir
Bab 4. Mars & Ayana


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


"Istirahat lah. Aku akan menemani mu." Mars menaikkan selimut gadis itu.


"T-tidak perlu Tuan. Sa-saya tidak apa-apa." Tolak Ayana.


Mars menghela nafas panjang dan menatap gadis yang terbaring di ranjang itu.


"Menurut Ayana." Geram Mars "Aku akan menunggu mu disini sambil mengerjakan pekerjaan ku." Ucap Mars berdiri "Aku pinjam laptop mu."


"Ambil saja diatas meja Tuan." Sahut Ayana dia menutup tubuhnya dengan selimut karena malu.


Ayana melirik Mars yang tampak serius sambil memangku laptop disoffa. Pria itu tampak sibuk.


'Ternyata dia baik juga. Apakah dia meninggalkan meetingnya demi aku? Astaga, kalau begitu dosaku akan bertambah karena sudah mengerjai Boss.' Ayana menutup wajahnya.


Tak ada niat membohongi Mars dia hanya ingin lepas sehari saja dari pria ini. Ingin bisa menghirup udara segar tanpa dikekang oleh perintah Mars yang bejibun itu.


'Kira-kira aku masuk neraka tidak ya? Karena sudah mengerjai Boss sendiri?' Batin Ayana sesekali melirik Mars yang masih serius.


Kelamaan berbaring apalagi AC yang hidup membuat mata Ayana mengantuk dan akhirnya gadis itu terlelap dengan sendirinya. Terlalu lama membantin sendiri akhirnya gadis itu lelah dengan sendirinya.


Mars melirik Ayana yang tertidur. Pria itu tersenyum simpul setidaknya hatinya tenang ketika Ayana tidak apa-apa. Jantungnya rasanya hampir berpindah tempat ketika melihat pesan gadis itu bahwa dia sakit.


Drt drt drt drt


Mars meronggoh ponselnya. Keningnya berkerut heran saat melihat nomor baru yang masuk kedalam ponselnya.


"Siapa?" Gumamnya.


Mars menggeser tombol hijau yang tertera dilayar ponselnya.


"Halo Sayang, apa kabarmu?"


Tubuh Mars membeku. Tanpa ditanya pun dia tahu siapa pemilik suara. Suara yang sudah mematahkan hati dan hidupnya.


"Rayana." Lirih Mars tangannya terkepal kuat.


"Hem, kau masih mengingatku Sayang! Kau pasti rindu aku bukan?"

__ADS_1


Mars langsung mematikan sambungan telponnya. Dia mencengkram dengan kuat benda pipih ditangannya itu. Rahang nya mengeras kuat ketika mengingat penghianatan mantan tunangan nya. Hal itu lah yang membuat Mars seperti mati rasa.


Mars menatap Ayana yang terpejam dan seketika emosinya mereda saat melihat wajah polos seorang gadis kampung yang berhasil meruntuhkan pertahanan nya.


Mars menutup laptopnya dan meletakkan nya diatas meja. Dia membuka jas ditubuh nya dan melemparnya begitu saja.


Mars berjalan kearah Ayana lalu duduk dibibir ranjang.


"Jangan sakiti aku seperti dia. Aku takut tidak bisa jatuh cinta lagi jika kau pun melakukan hal yang sama padaku." Lirih Mars "Ayana, aku mencintaimu. Tetaplah disisi ku meski hanya sebagai sekretaris. Aku takkan bisa kehilangan mu sampai kapanpun." Dia mengecup kening Ayana lambat meresapi setiap perasaan yang menggebu-gebu didalam dadanya.


Mars naik keatas ranjang, dia menyimak selimut yang menutupi tubuh Ayana lalu menarik gadis yang terlelap itu kedalam pelukannya.


Mars memeluk Ayana dalam dia sambil membelai wajah gadis ini. Meski keras kepala dan menyebalkan tapi dia sungguh nyaman dengan Ayana. Gadis kampung yang sudah berhasil membuka hatinya.


"Kaulah alasanku untuk tetap berjuang disini. Selamat tidur gadis kecilku." Dia mengecup kening gadis itu hingga ikut terlelap bersama Ayana dikasur yang sama dan selimut yang sama.


.


.


.


.


Tok tok tok tok


"Masuk."


Moodnya benar-benar kacau. Dan sudah beberapa Minggu terakhir dia tidak bertemu Ayana. Gadis itu selalu sibuk dengan pekerjaan nya.


"Maaf Dok, ini ada mahasiswa praktek yang ingin menemui anda." Ucap sang asisten dokter.


"Suruh masuk." Sahut Galvin memperbaiki posisi duduknya.


"Selamat siang Dokter." Sapa wanita berhijab itu. Dia bertemu lagi dengan lelaki yang menabrak nya kematian.


"Siang." Jawab Galvin judes "Silahkan duduk." Gadis berhijab itu duduk.


"Ada yang bisa saya bantu?" Galvin membuka laptop diatas mejanya

__ADS_1


"Sebelum nya saya ingin memperkenalkan diri Dok." Gadis itu membungkuk hormat "Perkenalkan nama saya Zahra Putri Aulia, saya biasa di panggil Ara. Saya mahasiswi kedokteran semester satu. Tujuan saya datang kesini ingin melakukan beberapa riset tentang pasien pengindap penyakit dalam." Jelasnya


Galvin mengangguk "Baik nanti saya akan berikan buku panduan referensi nya." Galvin malah sibuk dengan laptop nya.


Gadis itu mengintip wajah Galvin. Sungguh tampan sekali pria ini. Tampak berwibawa dan meski sedikit dingin namun mampu menggetarkan hati wanita berhijab itu.


"Ini yang perlu kau pelajari. Baca saja buku ini."


Zahra menelan salivanya ketika melihat buku setebal Al-Qur'an didepannya. Entah apa isinya kenapa bisa setebal ini? Berapa lama waktu yang diperlukan oleh sang penulis untuk menyelesaikan buku setebal itu?


"Baik Dok. Terima kasih." Zahra mengambil buku itu. Dia sampai bingung mau mulai baca dari mana.


"Kalau begitu saya permisi Dok."


Galvin hanya mengangguk tanpa melihat kearah Zahra dan malah sibuk dengan laptop didepannya. Entah apa yang dia kerjakan.


Galvin masih belum menerima tawaran Nathan yang memintanya menjadi direktur rumah sakit ini. Akan besar tanggung jawab nya jika dia menjadi direktur disini. Selain itu dia juga masih sangatlah muda. Masih banyak dokter berpengalaman yang bisa diangkat jadi direktur. Tapi entah kenapa Nathan malah memintanya untuk menduduki posisi tersebut.


"Ck, kenapa aku bodoh sekali tidak meminta nomor ponsel Ayana." Pria itu menepuk keningnya "Aku takkan biarkan Kak Mars mendapatkan hati Ayana. Dia tidak pantas untuk Ayana karena terlalu tua kalau aku dan Ayana kan cocok sama-sama masih muda." Pria itu sedikit terkekeh dengan ucapannya.


Mengingat Mars yang selalu menghalangi nya mendekati Ayana membuatnya kesal bukan main. Pokoknya dia tak memiliki kesempatan untuk sekedar berbincang-bincang dengan Ayana jika ada Mars. Dan anehnya kenapa, dimana Ayana berada disitu juga Mars ada. Mereka berdua bagai paku lekat dipapan meski harus ditemani dengan perdebatan.


.


.


.


.


Zahra menghela nafas panjang. Kenapa setiap kali melihat Galvin jantungnya selalu berdebar dengan kencang.


"Ayolah Zahra jangan gugup begini. Ingat kau harus kuliah dan membahagiakan Bapak. Jangan memikirkan pacaran dulu." Ucapnya mengingatkan dirinya.


Dia berjalan sambil memeluk buku yang diberikan oleh Galvin. Gadis berhijab ini memiliki lesung pipi yang menarik saat dia tersenyum maka lesung pipi itu akan tercetak jelas dan membuat kecantikan nya berlipat-lipat kali ganda.


Zahra mahasiswi kedokteran semester satu usianya 21 tahun. Dia sudah tiga tahun lulus sekolah menengah dan menganggur beberapa tahun untuk mengumpulkan uang agar bisa kuliah, keuntungan berpihak padanya. Dia mendapat beasiswa penuh dari kampus setelah ikut program beasiswa dikampus tempat dia mengemban ilmu.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2