Cinta Manis Sang Presdir

Cinta Manis Sang Presdir
Jealous nya Mars.


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


"Ada apa kau kesini Tuan?" Ayana memincingkan matanya curiga.


"Tidak. Jangan lupa besok kau harus masuk bekerja." Ujar Mars memalingkan wajahnya menahan jantungnya yang berdebar kencang.


"Yakin hanya itu?" Sudut bibir Ayana tertarik. Suka sekali menggoda pria ini "Bukan karena merindukanku kan?" Dia melipat bibir nya menahan tawa.


"Cihhh, kau pikir bagian mana dari dirimu yang akan membuatku rindu?" Kilah Mars menyembunyikan kegugupan jika Ayana tahu dia gugup bisa diledek lagi dia oleh gadis itu.


"Ayo ikut." Mars menarik tangan gadis itu.


"Mau kemana? Jangan tarik-tarik." Protes Ayana


"Diam." Hardik Mars.


Ayana mencebik kesal. Dia mengerecutkan bibirnya. Kenapa pertemuannya dengan Mars selalu saja dibumbui dengan pertengkaran? Dan Ayana sudah membayangkan jika dia menjadi sekretaris Mars pasti mereka akan berdebat terus setiap hari.


"Kalian mau kemana?"


Galvin, Ranti dan Ivan keluar hendak mencari Mars karena pria itu tiba-tiba menghilang begitu saja.


"Van, mana kunci mobil. Bawa Ranti pulang?"


"Ini Tuan." Ivan menyerahkan kunci mobil nya pada Mars.


"Mau kemana?" Tanya Galvin sekali lagi dia melihat tangan Mars yang menggandeng tangan Ayana


"Bukan urusan mu." Mars menatap Galvin tidak suka.


"Menjadi urusan saya karena anda kasar pada Ayana." Galvin menarik tangan kiri Ayana.


"Apa urusanmu? Ayana bukan siapa-siapa mu! Bahkan kau baru mengenalnya." Sentak Mars matanya memerah. Dia tidak tahu kenapa dia bisa marah dan tak bisa menahan emosi nya.


"Dia akan menjadi seseorang yang berarti bagiku." Ucap Galvin menatap Mars tajam.


Jadilah mereka saling tarik-menarik tangan Ayana. Gadis itu sampai kelimpungan sendiri ketika dirinya diperebutkan oleh orang lain.


Sedangkan Ranti pipinya sudah panas menahan air mata yang hendak jatuh disana. Kenapa begitu sakit? Kenapa? Dia pikir Galvin menyukainya, tapi kenapa malah pria itu tampak menyukai Ayana yang baru dia kenal beberapa jam yang lalu?


Ivan juga hanya diam sambil menikmati keributan didepannya. Tak menyangka dua pria itu menyukai gadis yang sama.

__ADS_1


Namun Ivan juga kasihan pada Ranti yang tampak benar-benar patah hati. Bahkan gadis itu menunduk mungkin tak mau melihat adengan didepannya. Ivan paham, karena itu juga yang sedang dia rasakan.


Tanpa sadar pria itu menggenggam tangan Ranti. Ranti mengangkat kepalanya dan menatap Ivan yang malah tersenyum seolah mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Ranti mengangguk dan ikut mengenggam tangan Ivan.


"Stop... Stop...."


Ayana menarik kedua tangannya dengan kasar. Kedua pria ini benar-benar membuatnya pusing.


"Tuan Galvin, kenapa anda bicara begitu?" Ayana menatap Galvin penuh selidik "Sudahlah." Gadis itu membuang nafas nya kasar.


"Ayo Tuan." Ayana menarik tangan Mars dan melengang pergi.


"Ayana." Panggil Galvin.


Galvin mengusap wajahnya kasar. Dia saja bingung kenapa dia bisa bicara begitu? Padahal mereka juga baru kenal beberapa jam yang lalu. Dan tadi dia benar-benar tidak suka melihat Mars yang menggenggam tangan Ayana.


Galvin menatap kearah Ranti dan Ivan yang melihatnya dari tadi.


"Ranti, Kakak pamit."


Pria itu melenggang tanpa melihat wajah Ranti yang tengah menangis karena dirinya.


"Kak." Ranti memeluk Ivan dan menangis didada bidang Ivan "Hiks hiks Kak. Kenapa sakit sekali." Adunya "Srottttt sretttttt." Gadis itu menggelap ingusnya dengan jas mahal Ivan.


"Sudah-sudah jangan menangis." Sambil menepuk-nepuk punggung Ranti.


'Begitu juga aku Ran, aku sakit saat melihatmu mencintai pria lain.' Batin Ivan


.


.


.


.


Ayana menggerutu sepanjang jalan. Kesal. Geram dan juga malu dia menjadi tontonan banyak orang gara-gara dia orang pria yang sama sekali tidak dia sukai.


"Kau senang kan diperebutkan seperti tadi?" Tuding Mars melirik Ayana yang komat-kamit seperti dukun baca mantra.


"Aku senang atau tidak itu bukan urusanmu. Tapi yang pasti kau itu cemburu." Di tengah kekesalannya gadis itu masih sempat-sempatnya meledek Mars.

__ADS_1


"Cihh percaya diri." Padahal dia memang cemburu "Memang nya ada hubungan apa kau dengan pria itu?" Tanya Mars sekali lagi. Dia benar-benar penasaran dan ingin tahu.


"Ehem mau nya ada hubungan apa?" Seru Ayana tampak berpikir "Tadi Tuan Galvin bilang sebentar lagi aku akan jadi orang berarti untuknya. Jadi kira-kira dia menyukaiku tidak ya? Jika dia menyukaiku aku akan dengan senang hati menerima cintanya." Ujar Ayana dengan wajah sumringah nya.


Ayana terkejut ketika Mars tiba-tiba menghentikan mobilnya.


"Ada apa Tuan?" Tanya Ayana dia bergidik ngeri melihat tatapan Mars.


Mars menurunkan bangku tempat duduk Ayana. Hingga membuat gadis itu terkejut bukan main.


"Tu-tuan."


Jantung Ayana berdegup kencang ketika Mars mendekatinya dan berada didepannya. Dia menelan salivanya susah payah. Kenapa pria ini jadi menyeramkan seperti ini?


"Dengarkan aku gadis kecil. Kau itu milikku jadi tidak akan ada Galvin diantara kita dan aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi." Ucap Mars mengelus wajah cantik Ayana dia sampai melepaskan sealbeat nya


"Ck, milikmu? Bagaimana bisa aku milik mu Tuan. Jangan ngadi-ngadi." Ayana memalingkan wajahnya. Tak bisa dipungkiri jika dilihat dari jarak dekat Mars begitu tampan.


"Tentu saja kau milikku. Sejak kau mencium ku waktu itu kau sudah sah menjadi milik ku dan ingat itu. Jadi jangan coba-coba mendekati laki-laki lain termasuk Galvin." Ucap Mars.


Ayana malah tertawa dia kembali menatap pria yang berada diatas nya itu.


"Anda tidak bisa mencap seseorang menjadi milik anda Tuan. Aku bukan milikmu dan kita_."


Mata Ayana membulat sempurna ketika Mars membungkam bibirnya dengan ciuman hangat.


Gadis itu terdiam. Tidak menolak namun tidak juga membalas, dia malah menatap mata Mars yang terpejam sambil ******* bibirnya. Kenapa jantungnya seolah ingin terlepas dan berpindah tempat?


Merasakan Ayana yang hanya terdiam, Mars mengigit bibir bawah gadis itu hingga terbuka dan hal itu tak sia-sia kan oleh Mars dia mengakses rongga mulut Ayana hingga menghisap bibir manis itu. Dan bibir ini adalah milik nya tidak ada yang boleh menikmati nya selain dirinya.


Ayana pun memejamkan matanya dan membalas ciuman Mars. Tangannya menempel didada bidang Mars sebagai tumpuan dan kekuatan agar pria itu tidak sampai menyentuh kedua bukit kembarnya.


Keduanya larut berciuman. Ini kedua kalinya Ayana berciuman selama dia hidup dan pria yang merebut ciumannya itu adalah pria yang paling menyebalkan didunia.


**Bersambung....


Cie cie cie cie


Bagaimana kah tanggapan Ayana tentang perasaan Mars?


Apakah cinta Mars akan ditolak dan cinta Ayana justru berlabuh pada Galvin?.

__ADS_1


Yuk ikutin terus jangan lupa like dan komennya Guys**.


__ADS_2