Cinta Manis Sang Presdir

Cinta Manis Sang Presdir
Bab 2. Mars & Ayana


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Mars turun dari mobil dengan tergesa-gesa. Dia masih saja mengomeli keleletan Ayana yang membuatnya sampai terlambat. Sedangkan Ayana tersenyum penuh kemenangan. Dia sudah bersiap-siap dipecat dan dikeluarkan dari perusahaan, akhirnya dia akan terlepas dari jeratan Boss killernya itu.


“Dimana kliennya?” Mars duduk sambil memperbaiki jas nya “Dimana Tuan David?” Tanyanya pada sekretaris David


“Sebelumnya saya minta maaf Tuan, sepertinya meeting hari ini dibatalkan karena Tuan David sedang menjengguk Ibu nya dirumah sakit. Sekali lagi saya mohon maaf atas ketidaknyamanan ini Tuan.” Ucap sang sekretaris “Dan saya minta maaf karena terlambat memberitahu anda karena jalanan macet dan tadi terjadi kecelakaan hingga menyebabkan macet panjang.” Jelasnya kemudian merasa tak enak hati.


Mars sedikit tercenggang mendengar cerita asisten dari kliennya tersebut. Dia pikir dia yang akan terlambat.


“Ohhh tidak apa-apa.” Jawab Mars “Kita bisa bahas nanti.” Sahutnya “Kebetulan sekretaris saya juga mengatakan bahwa jalanan disana macet hingga kami lewat jalan pintas.” Ucapnya. Asisten kliennya mangut-manggut paham.


Sedangkan Ayana menunduk lemas. Habis sudah impiannya untuk dipecat Mars. Ini kebetulan atau memang takdirnya untuk selalu berada disamping Mars.


‘Jangan menyerah Ayana kau masih memiliki banyak kesempatan untuk lepas dari Tuan Planet ini. Tenang saja, kau kan cerdas jika masalah membuat rencana.’ Batin Ayana


“Kalau begitu saya permisi Tuan, sekali lagi saya minta maaf.” Ucapnya


“Baik.”


Mars menatap Ayana, wajah gadis itu tampak ditekuk kesal. Ada apa? Kenapa Ayana terlihat kesal seperti itu?


“Apa kau akan terus berdiri seperti itu?” Singgung Mars “Duduklah.” Perintahnya


“Iya Tuan.” Ayana duduk dikursi depan Mars. Sumpah demi apapun dia benar-benar kesal hari ini.


“Good Job Ayana.” Mars bertepuk tangan memberikan apresiasi pada sekretarisnya “Kau hebat juga, seperti bisa melihat masa depan.” Ujarnya sambil terkekeh.


“Iya Tuan.” Gadis itu menghela nafas panjang.


“Anda ingin pesan ap_.”


Mars mengambil buku menu ditangan Ayana “Karena hari ini kau sudah menyelamatkan aku, jadi biar aku yang melayanimu.” Ucap Mars “Kau pesan apa?” Sambil membuka buku menu ditangannya.


Ayana menatap Mars penuh selidik. Ini sebagai apresiasi atau memang ada niat lain, mencurigakan, gumamnya.


Ayana menyebut semua makanan kesukaannya. Dia akan makan sepuasnya. Rejeki anak sholeh tidak boleh ditolak. Apalagi Boss nya sedang berbaik hati, jadi tidak boleh di sia-siakan kesempatan berharga ini. Siapa tahu besok tidak ada lagi, bisa rugi si Ayana-nya.

__ADS_1


“Kau serius pesan makanan sebanyak itu?” Tanya Mars setengah tak percaya


“Yup. Saya lapar sekali Tuan.” Ayana tersenyum manis.


‘Ayo marah Tuan Planet. Bilang aku rakus. Bilang aku tak ada akhlak. Terus pecat. Dan aku bisa bebas.’ Batin Ayana.


Namun harapan Ayana malah gagal. Mars biasa-biasa saja. Tidak masalah Ayana mau makan sebanyak-banyaknya. Malah dia senang.


“Hem, Tuan tidak marah?” Ayana mengintip wajah Mars yang tampak santai-santai saja dengan ponsel ditangannya.


Ayana mengangkat pandangannya “Marah kenapa?” Keningnya berkerut.


“Ohhh tidak.”


Ayana mengusap lehernya, gadis itu tampak berpikir keras. Dia menyesal telah menerima tawaran Ranti untuk menjadi sekretaris Mars. Mars benar-benar mengurungnya dalam pekerjaan. Tidak ada hari libur, bahkan hari minggu pun dia harus menemani pria itu ke gereja dan ibadah bersama. Hampir dua puluh empat jam bersama. Rasanya Ayana bosan, dunianya hanya Mars tidak ada yang lain.


‘Ayo Ayana, cari cara supaya bisa bebas dari singa ini. Kau harus membuatnya ilfeel. Kau harus membuatnya marah. Harus itu harus. Kalau dia marah kan emosi nya meletup-letup. Hem, ide bagus Ayana.’ Batinnya tersenyum licik.


Pesanan mereka datang dibawa oleh beberapa waiters karena Ayana memesan sangat banyak makanan. Gadis itu melihat begitu banyak makanan diatas meja mereka, bahkan dia menelan salivanya dengan susah payah. Sekarang dia bingung bagaimana cara menghabiskannya.


“Ayana.” Sapa Rangga


“Kau bisa saja. Kau juga semakin cantik sejak jadi orang kantoran.” Balas Rangga.


“Ahhh masa.” Ayana tersipu malu


Mars mencebik tak suka. Apalagi melihat Ayana yang tersenyum seperti itu pada Rangga. Membuat hatinya panas saja. Sepertinya gadis ini perlu dikasih label sebagai tanda bahwa Ayana miliknya.


“Ehem.” Pria itu berdehem.


Alhasil obrolan Rangga dan Ayana terbuyarkan. Keduanya kompak melihat kearah Mars.


“Cepat makan.” Suruh Mars menatap sekretarisnya tajam


“Iya Tuan.” Ayana kikuk, kenapa singa ini kalau cemburu terlihat menyeramkan.


“Na, Kakak kembali ke dapur dulu.” Pamit Rangga “Mari Tuan.” Pamit nya juga pada Mars. Mars hanya mengangguk.

__ADS_1


“Iya Kak.” Balas Ayana.


“Mata itu dijaga, kalau lihat pria tampan sedikit seperti sedang dapat lotre.” Singgung Mars sambil memasukkan makanan kedalam mulutnya dengan kesal.


“Ehem, apakah Ayang cemburu?” Ayana mengedipkan matanya jahil.


“Jangan ge-er, aku tidak cemburu, aku hanya tidak suka melihat senyum jelekmu itu.” Kilah Mars yang masih gengsi mengakui perasaannya.


“Syukurlah kalau tidak cemburu.” Sahut Ayana. Mars semakin kesal gadis ini tidak peka sama sekali.


Ayana makan dengan lahap. Sebenarnya dia tidak terlalu kuat makan tapi karena niat liciknya agar Mars jenggah padanya, akhirnya dia memesan banyak makanan dan alhasil dia bingung bagaimana menghabiskan makanan yang hampir penuh meja itu.


Mars melipat kedua tangannya didada. Dia menatap Ayana yang makan pelan sepertinya gadis itu sudah kekenyangan tapi masih memaksa dirinya untuk menghabiskan makanan nya.


“Kalau sampai tidak habis kau menginap dirumahku malam ini.” Mars tersenyum devil.


Mata Ayana membulat sempurna mendengar ucapan pria menyebalkan itu. Dia makan semakin cepat. Ancaman Mars ini tak main-main. Apa yang lelaki itu katakan harus dituruti. Dari pada menginap dirumah Mars lebih baik Ayana habiskan saja makanan itu.


“Hahaha.” Tawa Mars pecah saat melihat Ayana makan dengan blepotan seperti itu “Sudah jangan dipaksa. Buang saja sisanya, minumlah.” Mars menyedorkan gelasnya


“Terima kasih Tuan.” Ayana mengambil dengan cepat gelas dari tangan Mars.


Perut Ayana serasa mau pecah akibat makanan yang masuk kedalam perutnya. Ini sama saja seperti senjata makan Tuan.


“Tuan bungkus saja ya? Sayang.” Ucap Ayana.


“Terserah.” Sahut Mars cuek dan judes “Mau kemana?” Tanya Mars saat melihat gadis itu berdiri.


“Mau panggil pelayan Tuan, sekalian mau suruh bungkus sisanya.” Jawab Ayana.


“Bukan akal-akalan mu ingin bertemu serangga itu kan?” Tuding Mars.


“Rangga Tuan, bukan serangga.” Ralat Ayana.


“Alah aku tidak peduli siapa namanya. Cepat duduk, panggil dari sini saja. Jangan genit.” Sindir nya menatap gadis itu malas.


Ayana mengerucutkan bibirnya kesal. Padahal niat hati ingin bertemu Kakak nya disana sekali berbincang-bincang dengan si Tampan Rangga. Rangga adalah kepala koki di restaurant ini.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2