
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Ayana masuk kedalam lift dia menekan-nekan tombol lift dengan paksa. Nafasnya sudah memburu. Emosinya seolah ingin pecah. Begitulah dia kalau sudah marah, tidak ada yang bisa menghentikannya. Sehingga tak heran jika dia disebut preman kampung
Pintu lift terbuka. Segera gadis itu keluar dari lift. Langkah Ayana terhenti saat melihat Aris yang tengah asyik menjelaskan berkas ditangannya kepada tiga orang yang berdiri didekat mejanya. Mungkin sedang menjelaskan laporan ditangannya.
Gadis itu menghampiri meja Aris. Matanya melihat Aris dengan nyalang seolah hendak melahap pria yang ada didepannya itu.
Mars dan empat orang satpam menyusul dan baru keluar dari lift. Beberapa kali Mars berteriak memanggil Ayana. Namun gadis itu seperti kerasukan setan yang tak peduli pada panggilan Mars.
Mendengar teriakkan Mars, Aris yang tengah asyik dengan beberapa orang yang berada didekat mejanya mengangkat pandangan. Kening Aris berkerut heran melihat Ayana yang berjalan kearahnya dengan wajah marah. Sedangkan dibelakangnya Mars dipapah oleh dua orang satpam. Aneh, dalam pikiran Aris.
Ayana merampas berkas itu dari tangan Aris lalu memukul pria itu dengan berkas ditangannya. Semua terkejut termasuk Aris dan juga Mars serta mereka yang ada disana.
“Kau….”
Ayana menarik kerah baju Aris agar berdiri. Dia menatap pria ini dengan benci. Sangat benci. Menyesal dulu pernah begitu menyukai pria ini hingga tergila-gila sangat gila
Bugh bugh bugh bugh bugh bugh
Mars, satpam serta beberapa orang yang ada disana tercenggang melihat Ayana yang memukul Aris tanpa memberi Aris kesempatan untuk melawan.
“Ini hukuman untuk pria bajingan yang tidak tahu terima kasih sepertimu. Pria munafik. Pria brengsekkkkk.” Ucapnya sambil memaki-maki.
Bugh bugh bugh bugh bugh bugh
Pukulan Ayana mengenai wajah perut dan kaki Aris. Aris benar-benar tak sempaat melawan, saat dia hendak membalas dan melepaskan diri namun Ayana terus memukulnya.
Nathan yang berada didalam ruangannya terkejut mendengar suara berisik.
__ADS_1
“Ada apa?” Gumam pria itu.
Nathan meletakkan berkasnya dan berdiri dari duduknya. Bunyi orang berkelahi itu semakin terdengar jelas.
Nathan keluar dari ruangannya “Ada ap_.” Mata pria itu membulat sempurna ketika melihat asistennya yang sudah babak belur dipukul Ayana. Sedangkan Ayana masih terus memukul Aris. Yang lain masih tercenggang tak percaya.
“Hentikan dia!” Tintah Nathan
Ketiga satpam itu baru tersadar dan segera memasung Ayana yang masih mengamuk sambil memakai Aris.
Aris tersungkur dilantai dengan wajah lebam dan babak belur. Entah makan apa gadis itu kenapa tenagannya kuat sekali? Aris tidak tahu saja, jika Ayana ini adalah pelatih pencak silat waktu dikampungnya.
“Lepaskan aku!” Ayana memberontak “Dasar pria tidak tahu diri. Pria pengecut. Sini kau, aku akan habisi wajah jelekmu itu.” Teriak Ayana memberontak. Namun dia tak bisa melawan ketiga satpam yang tenaganya lebih kuat darinya. Padahal ketiga satpam itu kewalahan menyaingi tenaga Ayana yang begitu kuat.
Ketiga karyawan yang lainnya membantu Aris berdiri. Kondisi Aris memprihatinkan. Aris memegang perutnya yang nyeri akibat pukulan Ayana.
Sedangkan Nathan dan Mars seolah-oleh mati berdiri melihat Ayana yang memukul Aris. Mulut keduanya terbuka saking tidak percaya nya.
Nathan dan Mars menelan salivanya mendengar ucapan Ayana yang terkesan blak-blakan dan vulgar. Bahkan tanpa sadar Mars memegang juniornya membayangkan Ayana memotong asset berharganya itu.
.
.
.
.
Ayana melipat kedua tangannya. Dia masih mengomel tanpa henti. Dia masih belum puas memukul Aris bahkan bila perlu dia ingin memindahkan Aris ke Matahari, biar dia kepanasan dan terbakar serta hangus jadi abu.
__ADS_1
Sedangkan Aris sedang ditangani oleh Galvin yang mengobati luka diwajah pria itu. Beberapa kali Aris meringgis kesakitan saat Galvin membersihkan luka nya dengan alcohol.
“Ayana ini ada apa sebenarnya?” Tanya Nathan melirik Kakak iparnya itu. untung istrinya tidak seperti Ayana, polos saja sudah cukup jangan ditambah bar-bar, gumam Nathan.
“Mas, asistenmu ini keterlaluan. Dia menjadikan Kak Nara pajangan hanya karena Kak Nara tidak perawan lagi. Dia tidak menganggap Kakak ku ada. Dia pikir dia manusia suci yang tidak berdosa? Harusnya dia bersyukur Mas, Kak Nara mau menikah dengannya, pria tua sepertinya memang tidak pantas dicintai.” Ayana menatap Aris benci yang sedang diobati oleh Galvin. Saat ini mereka sedang berada diruangan Nathan untuk mengintrogasi Ayana dan Aris.
“Kalau dia memang mencintai Kakak dengan tulus dia tidak akan mempermasalahkan masa lalu Kakak. Semua orang pernah bersalah Mas. Semua orang selalu punya kesempatan untuk memperbaiki diri. Termasuk Kak Nara. Harusnya dia bersyukur dari sekian banyak laki-laki yang mendekati Kakak, Kak Nara malah memilihnya.”
“Dan kalau pun dia butuh waktu untuk menerima Kakak harusnya dia bicara agar Kakak tidak sedih bukannya malah mendiamkan Kak Nara dan membuat Kak Nara merasa tidak di inginkan.”
“Kalau memang tidak bisa terima masa lalu Kakak, tinggal bicara saja baik-baik dan minta pisah.”
Deg
Semuanya menatap kearah Ayana saat gadis itu menyebut nama pisah didepan mereka semua termasuk Galvin dan Mars.
“Apa maksudmu?” Aris menatap Ayana yang malah santai-santai saja seperti tak mengucapkan kata apapun.
“Tuan Aris yang terhormat, saya adalah adik dari istri anda. Saya meminta jika anda tidak bisa menerima masa lalu Kakak saya, sebaiknya ceraikan dia. Berhenti menyakitinya. Dia berharga untuk saya. Jika anda merasa diri anda lebih baik, carilah wanita yang belum pernah tersentuh yang sama seperti diri anda.” Ayana berdiri dari duduknya.
Ayana kembali menatap Aris yang terdiam “Cinta anda palsu. Cinta anda semu. Sekali lagi anda menyakiti Kakak saya, anda akan mendapatkan lebih dari ini.” Ucap Ayana tegas.
“Mas Nathan, maaf sudah menganggu. Maaf sudah memukul asissten Mas. Saya hanya ingin dia merasakan apa yang Kakak saya rasakan. Ini hanya peringatan. Sekali lagi saya melihat Kakak saya menangis karena dia, saya akan pindahkan dia ke matahari.”
Setelah berkata seperti itu Ayana melengang pergi. Dia sudah mengeluarkan semua emosinya. Jadi dia bisa tenang kembali.
Sedangkan Aris merasa hatinya hancur berkeping-keping. Seluruh badannya melemah. Benar kata Ayana jika dia mencintai Anara harusnya dia menerima masa lalu istrinya itu. Dan dia tidak mau menceraikan Anara, dia mencintai wanita itu. Dia hanya kecewa karena Anara tidak menceritakan masa lalunya diawal hubungan mereka. Jika saja Anara cerita sejak awal, mungkin Aris takkan merasakan kekecewaan seperti ini.
Seburuk-buruknya lelaki dia ingin wanita baik-baik untuk menjadi istri dan Ibu dari anak-anaknya. Dia butuh waktu menerima Anara. Hatinya sakit membayangkan wanita yang dia cintai sudah dijamah oleh pria lain.
__ADS_1
Bersambung......