
Happy Reading, 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Nathan terus mengenggam tangan istrinya dan sesekali mengecup punggung tangan wanita hamil itu. Sedangkan Nandira bersandar dengan nyaman dilengan kekar suaminya. Akhir-akhir ini dia memang sering kelelahan apalagi perut nya yang semakin hari semakin membesar.
"Sayang, aku tidak sabar untuk mengetahui jenis kelamin anak kita." Ucap Nathan dengan perasaan menggebu-gebu "Tapi apapun jenis kelamin nya bagiku dia adalah anugerah terindah dari Tuhan sayang." Ucapnya kemudian.
Nandira mengangguk "Aku juga Mas, tidak masalah apapun jenis kelaminnya. Yang penting dia sehat dan baik-baik saja." Sahut Nandira menatap tangan suaminya yang mengusap perut buncitnya. Usia kehamilan nya memasuki bulan ketujuh.
Kadang Nandira kewalahan dengan kehamilan nya itu. Perutnya berat sekali. Belum lagi saat dia membawa perutnya itu ke kampus serta mengerjakan begitu banyak tugas-tugas kuliah. Apalagi dia mahasiswa baru tentu banyak tugas yang menumpuk setiap hari nya.
Tapi Nandira menikmati proses sebagai seorang Ibu. Apalagi kedua orang tuanya datang dari kampung untuk menemaninya dimasa-masa kehamilan serta sang suami yang selalu siaga dua puluh empat jam bersama Nandira.
Bersamaan dengan usia kehamilan Nandira yang semakin bertambah begitu juga dengan keposessifan Nathan yah semakin bertambah. Lelaki dingin yang bergelar bucin itu tak meninggalkan istrinya sendirian. Dia selalu memantau keadaan istrinya meski pun sedang rapat sekalipun bersama orang-orang penting. Bagi Nathan, Nandira adalah yang paling terpenting dari apapun didalam hidupnya.
Mobil yang dikendarai Aris berhenti dilobby rumah sakit. Seperti biasa mereka akan langsung disambut oleh para dokter disana. Karena sebelum nya Aris sudah memberitahu para dokter disini agar menyiapkan segalanya untuk menyambut Nathan dan Nandira.
"Mas kita belum turun?" Tanya Nandira heran saat suaminya itu malah diam saja sambil menatapnya dengan tersenyum.
"Sabar sayang Aris sedang mengambil kursi roda untukmu." Nathan menyelipkan anak rambut istrinya
Kening Nandira berkerut heran "Kursi roda untuk apa Mas?" Bahkan kedua alis wanita hamil itu saling bertautan heran.
"Untukmu sayang." Jawab Nathan "Sini biar Mas ikat rambut nya" Nandira menurut.
"Mas Kenapa harus pakai kursi roda kan aku masih mampu jalan?" Protes Nandira
"Kau tidak boleh lelah sayang. Aku takut kalian berdua nanti kelelahan dan aku bisa sakit. Aku ingin menggendong mu tapi aku takut menganggu dia didalam sana. Pasti dia sedang istirahat sayang." Celetuk Nathan sambil mengikat rambut panjang istrinya. Kasihan juga melihat Nandira yang tampak kepanasan itu.
"Mas kenapa tidak tunggu diluar saja sih? Disini panas kalau anak kita ikut kepanasan bagaimana?" Nandira merenggut kesal.
"Sabar sebentar sayang. Aku tidak mau mereka menatap mu terlalu lama nanti." Sahut Nathan "Sabar ya sayang Daddy." Sambil mengelus perut sang istri "Sebentar lagi ya Nak. Kau tidak kepanasan kan?" Sambil mengibas-ngibaskan tangannya diperut sang istri
Tidak lama kemudian Aris datang dengan membawa kursi roda atas perintah Nathan karena Nathan meminta kursi roda paling bagus siap tidak mau kursi roda yang jelek dan malah membuat istri dan anaknya nanti tidak aman.
"Ayo sayang." Nathan membuka pintu dan mengulurkan tangannya pada Nandira.
Nandira menyambut uluran tangan suaminya dan satu tangannya melindungi perut besarnya. Nandira sempat berpikir jika manusia yang ada didalam perutnya itu lebih dari satu karena dia merasakan perut nya sangat berat.
__ADS_1
"Pelan-pelan sayang." Nathan membantu Nandira duduk dikursi roda.
Aris geleng-geleng kepala salut. Suami Nandira itu posessif nya tidak tertolong. Padahal Nandira masih mampu berjalan tapi Nathan malah ingin istrinya duduk dikursi roda saja.
Nathan mendorong kursi roda sang istri dengan pelan sambil masuk. Orang kaya seperti nya tentu tidak ada yang rumit. Ke dokter saja tidak perlu mengantri karena dirinya sudah masuk akan dilayani dengan sepenuh hati.
Mereka masuk kedalam ruangan dokter kandungan. Disana mereka sudah ditunggu oleh seorang dokter paruh baya yang tidak lain adalah dokter spesialis kandungan.
"Selamat siang Tuan Muda dan Nona Muda." Sapa sang dokter.
"Siang juga dokter." Balas Nandira tersenyum hangat.
"Ayo Tuan silahkan bantu Nona untuk berbaring diranjang."
Nathan mengangguk dan dia mengangkat tubuh wanita hamil itu berbaring diatas ranjang.
"Pelan-pelan sayang."
Nandira berbaring pelan. Nathan bahkan menyangga tangannya dipunggung Nandira takut jika terbentur sedikit saja maka akan pecah dan hancur.
"Biar aku saja sayang tanganmu tidak boleh lelah." Cegah Nathan.
"Iya Mas." Wanita polos itu mengiyakan saja. Padahal itu akal-akalan sang suaminya.
Sedangkan sang dokter hanya tersimpul saja. Maklumin saja pasangan yang baru sama-sama merasakan akan jadi orang tua. Kalau sedikit aneh jangan heran.
"Permisi Nona saya akan menuangkan gel diatas perut anda."
Nandira mengangguk. Lalu dokter menuangkan cairan berbentuk gel keatas perut Nandira. Lalu dia mengarahkan benda yang seperti kursor diperut Nandira untuk menyambungkan dengan layar monitor disampingnya.
"Tuan, Nona. Lihatlah bayi anda lebih dari satu." Ucap dokter sambil terus mengarahkan benda itu ke bagian perut Nandira
"Lebih dari satu?" Beo keduanya serentak.
"Maksud dokter kembar begitu?" Ulang Nathan memastikan.
"Iya Tuan, bayi anda kembar. Dan bukan hanya kembar dua." Sahutnya sambil tersenyum lalu membersihkan bekas gel diperut Nandira dengan tissue.
__ADS_1
"Maksudnya Dok?" Tanya Nathan dan Nandira bersamaan.
"Bayi anda kembar empat Tuan. Nona. Mari bawa Nona turun dari ranjang Tuan. Saya akan resepkan vitamin untuk Nona."
Nathan membantu istrinya kembali duduk dikursi roda. Jantung nya berdegup hebat saat mendengar bayinya kembar dan bukan hanya kembar dua tapi kembar empat.
"Dokter maksudnya anak saya kembar empat bagaimana Dok? Apakah bayi saya memang empat dok?" Tanya Nandira memastikan dia mengenggam tangan Nathan untuk menahan diri agar tak menangis bahagia.
"Iya Nona. Bayi anda kembar empat." Seru sang dokter tersenyum lembut.
"Dok bagaimana dengan jenis kelaminnya?" Tanya Nathan dia menatap istrinya dengan penuh cinta. Hebat sekali keluar bisa empat. Bagaimana kalau istrinya hamil lagi nanti dan mengandung bayi kembar lagi? Pasti Nathan akan begitu bahagia.
"Menurut hasil USG tiga laki-laki dan satu perempuan, Tuan."
Bersambung......
Hem.....
Malam guys....
Apa kabar hari ini???
Makasih buat yang masih setia nungguin kisah Nathan dan Nandira...
Oh ya jangan heran kalau Mas Mars dan Neng Ayana serta babang Galvin gak author tampilin dulu ya dibeberapa part Nathan dan Nandira. Setelah ini nanti author bakal pisahin kisah mereka diseason daunnya dengan judul yang beda.....
Jangan lupa buat slalu support karya-karya author ya guys agar selalu bisa buat karya Untuk kalian semua...
Jika ada saran dan masukkan kalian boleh coret-coret dibawah....
Follow juga akun author biar selalu dapat notif terbaru dari karya-karya author dan masukkin cerita ini ke rak favorite kalian agar selalu bisa dapat pemberitahuan setiap kali author update...
Sekali lagi makasih kalian...
FB : Fitriani Yuri (Pipit)
IG : fitrianiyurikwon_
__ADS_1