
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
"Ra, apa kau sedang tidak sibuk?." Aris menatap gadis yang masih asyik dengan buku ditangannya sambil mencoret-coret isinya.
"Tidak. Sebentar lagi selesai Ris. Tunggu ya." Anara tersenyum manis pada pria yang dengan setia menunggu perasaan nya itu.
"Iya."
Aris duduk diruangan kerja Anara. Seperti biasa jam makan siang dia akan datang kesini, tidak perlu repot-repot lagi seperti dulu. Sedangkan Nathan akan kembali kerumah karena dia hanya mau makan masakkan istrinya itu. Maklum sedang kasmaran segalanya pasti ingin bersama. Apalagi sebentar lagi Nandira akan masuk kuliah, jangan-jangan nanti pria itu dikampus malah menemani istrinya lagi, Aris sudah curiga.
"Sudah selesai." Anara menutup bukunya. Setiap hari gadis itu akan mencatat pendapatan dari restourant milik Nathan.
"Ehem, aku ingin mengajakmu makan dipinggir jalan. Bagaimana apa kau mau? Sekalian kita jalan-jalan. Kebetulan hari ini aku free Tuan Nathan juga tidak ada jadwal meeting!." Ajak Aris penuh harap. Anara ini jauh berbeda dari yang lainnya, dia harus dikenali lebih jauh.
"Boleh Ris. Nanti aku titip sama Ayana restourant." Jawab gadis itu tersenyum sebenarnya dia ingin menolak ajakkan Aris. Tapi kasihan pria itu yang sudah menunggunya.
"Ya sudah ayo." Ajak Aris berdiri.
Mereka berdua keluar dari ruangan Anara. Kebetulan Ayana sedang makan siang bersama Ranti, Mars dan Ivan. Anara senang melihat adiknya tidak lagi mengejar Aris, bukan karena Anara menyukai Aris tapi karena Anara tahu jika Aris sama sekali tidak menyukai adiknya. Anara tidak mau jika adiknya itu sakit nantinya. Karena mencintai orang yang tidak mencintai kita lebih sakit dari patah hati terdalam.
"Ris tunggu sebentar aku ingin menemui Ayana." Ujar Anara pada Aris.
"Iya. Aku ikut." Aris membalas dengan senyum.
Gadis itu berjalan menuju meja Ayana dan Ranti serta Mars dan Ivan yang tengah asyik menikmati makan siang mereka.
"Kakak." Gumam Ayana melihat Kakak nya dan Aris berjalan kearah meja nya.
Sontak yang lain juga melihat. Mars suka terkecoh saat melihat Anara dan Ayana suka tertukar karena kedua gadis ini tidak hanya mirip tapi pakaian yang mereka pakai pun kadang memiliki warna yang sama.
"Ayana."
"Iya Kak?." Ayana berdiri. Dia sudah melupakan pertengkaran mereka kemarin.
"Kakak titip resto ya, Kakak mau keluar sebentar."
Ayana melirik Aris yang berdiri disamping Kakaknya. Jujur saja pesona assisten Nathan itu tak bisa beralih dari pandangan nya.
"Iya Kak." Sahut Ayana kemudian.
Dan tatapan mata Ayana tak lepas dari pengawasan Mars. Kenapa Mars kesal dan tidak suka saat Ayana menatap Aris seperti itu? Cemburukah? Mars juga tidak tahu dan tidak mau tahu.
__ADS_1
"Mari Tuan." Aris membungkuk hormat kepada Mars.
Mars merespon dengan anggukan begitu juga dengan Ivan dan Ranti.
"Ayo." Aris merangkul bahu Anara. Dia yakin bisa meluluhkan hati gadis es ini.
"Kami permisi." Pamit Anara.
Ayana menatap punggung Aris dan Anara. Terlihat sekali jika gadis itu cemburu. Apalagi tangan Aris yang merangkul bahu Ayana seperti berpelukan, kenapa hatinya sakit sekali? Apalagi mengingat kata-kata Aris. Bahwa pria itu sama sekali tidak tertarik dan menyukai nya membuat hati Ayana semakin sakit.
"Haiii kau kenapa???." Ranti melambaikan tangan nya di wajah Ayana.
"Ehhh iya tidak apa-apa." Ayana tersadar dan senyum kikuk.
"Ayo lanjut makan." Ajak Ranti.
Ayana makan dalam diam sambil menunduk. Wajah cantik nya hari ini sama sekali tak membuat Aris tertarik padanya. Padahal dia berharap Aris meliriknya namun nyatanya pria itu malah merangkul bahu Kakak kembarnya.
"Kenapa tidak dikejar?." Tanya Mars sinis dan tak suka.
"Kejar apa Kak?." Tanya Ranti heran tiba-tiba Kakaknya bertanya. Begitu juga dengan Ivan.
Ranti dan Ivan tidak bisa membaca situasi dan keadaan.
Sedangkan Ayana hanya makan dalam diam. Gadis itu bahkan menunduk dan tidak peduli dengan sindiran Mars. Dia sedang tidak ingin berdebat dan bertengkar dengan kulkas itu.
"Bagaimana dengan Ayana?." Aris melirik kearah gadis disampingnya.
"Seperti nya Ayana mulai paham." Sahut Anara "Yang aku dengar dari percakapan dengannya dengan Nona Ranti, kalau Nona Ranti ingin mendekatkannya dengan Tuan Mars." Jelas Anara.
"Bagus dong. Lalu tanggapan Ayana bagaimana?." Aris malah senang jika Ayana bisa move on dari nya.
"Ya semoga saja Ayana bisa menerima Tuan Mars. Aku lihat mereka cocok." Ucap Anara "Tapi seperti nya Ayana masih menyukaimu Ris dan aku merasa tidak nyaman." Anara bernafas panjang sambil menghadap pria itu.
Aris tersenyum simpul "Sudah jangan dipikirkan. Bukankah katamu Ayana sudah paham? Biarkan nanti dia akan mengerti sendiri bahwa cinta itu tidak bisa dipaksa." Jelas Aris "Jadi bagaimana Nona Anara apakah anda sudah merasa nyaman dengan Tuan Tampan ini?." Aris mengedipkan matanya jahil kearah Anara. Sampai hari ini Anara belum juga menjawab perasaannya.
"Menurut anda bagaimana?." Ucap Ayana terkekeh "Tidak perlu kujawab Aris. Kau pasti sudah tahu jawabannya. Tapi ajarkan aku mencintaimu yaaa, jujur aku belum mencintaimu tapi aku merasa nyaman berada didekat mu. Aku merasa terlindungi."
Aris tersenyum dia tidak keberatan sama sekali mengajari Anara mencintainya dia sangat mau dan apapun akan dia lakukan agar Anara juga mencintainya.
"Terima kasih Ra. Aku akan membuat mu jatuh padaku." Aris mengenggam tangan wanita itu lalu mengecup punggung tangan nya.
__ADS_1
Mobil Aris terparkir didepan sebuah warung bakso. Dia sudah lama tidak menikmati segar nya makan bakso disiang hari.
"Mau bakso?." Aris membuka sealbeat nya.
"Mau sekali Ris. Aku suka bakso." Dengan senyum sumringah Anara ikut membuka sealbeat nya dan turun dari mobil.
"Ayo."
Mereka berdua masuk kedalam warung bakso, tampak orang begitu ramai. Seperti nya warung bakso ini selalu ramai pengunjung setiap hari.
"Kau pesan bakso apa Ra?." Tanya Aris menatap menu-menu bakso yang terpampang jelas disampingnya.
"Aku mie ayam bakso, sayurnya agak banyak, air nya dikurangi terus tidak pakai bihun dan jangan pakai telur." Anara cenggesan ketika Aris menatapnya sambil tersenyum.
"Kau ternyata cerewet juga ya..?" Aris geleng-geleng kepala sambil tersenyum gemes.
"Ris." Anara tersenyum malu. Aslinya dia memang bar-bar hanya saja karena terlalu banyaknya kejadian dalam hidupnya membuat gadis ini pendiam.
Aris terkejut pelan dan memesan bakso untuk mereka berdua. Dia bersyukur Nathan yang pengertian memberinya waktu untuk berdua bersama Anara.
Pesanan mereka datang. Tampak Anara tak sabar menyeruput kuah bakso bercampur mie ayam apalagi ditambah dengan racikan cabe, jeruk sambal dan saos tomat serta kecap manis pasti segar sekali dilidah.
"Eitts, jangan makan cabe." Aris merebut botol cabe ditangan Anara.
"Ris." Anara mencebik kesal.
"Tidak boleh sayang. Cukup saos saja." Tegas Aris.
Bersambung....
Cie cie cie cie cie Mas ariss... Udah panggil sayang aja Mas...ciee....
Jangan lupa tanda cinta buat author ya guyss.....
Mampir ke karya baru author...
Dinikahi Crazy Rich
Love Me Please
Benang kusut di pernikahan ku.
__ADS_1