
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Mobil Mars memasuki pekarangan Mansion mewahnya. Seperti biasa para pengawal yang berjaga di Mansion itu akan menyambut kedatangan mereka.
Ayana turun duluan tanpa menunggu Mars membuka pintu untuknya. Dia sudah biasa mandiri, dan tidak nyaman saat diperlakukan seperti ratu.
"Ayo masuk." Mars menggandeng tangan Ayana.
"Tunggu." Ayana menahan tangan Mars.
"Kenapa?" Mars menatap Ayana.
"Bisa tidak jangan gandengan tangan. Aku tidak biasa Tuan." Bisik Ayana pelan.
"Tidak usah malu. Keluarga ku sudah tahu hubungan kita." Jawab Mars
"Tahu, maksudnya?"
Mars mendekat kearah telinga Ayana "Hem, aku sudah bercerita pada mereka bahwa kita pernah tidur berdua." Bisik Mars manja.
Mata Ayana membulat sempurna mendengar ucapan Mars.
"Kau...." Ayana mencubit pinggang Mars.
"Awww Sayang, kau kejam sekali." Rintih Mars.
"Makanya kalau bicara itu jangan suka bohong." Ketus Ayana mengusap pinggang Mars bekas cubitannya.
"Kan memang benar kita tidur berdua Sayang." Mars masih meringgis kesakitan. Seperti nya dia harus hati-hati dengan kekasihnya ini. Ayana seperti kepiting yang bisa menjepit kapan saja.
"Memang iya, tapi kita tidak berbuat aneh-aneh." Ayana rasanya ingin menenggelamkan kepala Mars karena hal itu membuatnya malu.
"Memangnya kau ingat kalau tidak terjadi sesuatu? Bagaimana jika aku sudah melihat semuanya?" Goda Mars.
"Tuannnnnnn." Wajah Ayana sudah merah merona.
Mars tertawa lebar suka sekali mengerjai gadis bar-bar ini. Menggemaskan wajah malunya, jadi ingin mengigit nya.
"Ayana."
"Ranti."
__ADS_1
Kedua wanita itu langsung berhambur saling memeluk erat. Ayana sudah lama tidak berkunjung dirumah Ranti.
"Bagaimana kandungan mu?" Sambil melepaskan pelukannya dan mengelus perut besar Ranti.
"Puji Tuhan dia sehat Na." Ranti tersenyum "Ayo masuk, kau sudah ditunggu Mommy dan Daddy." Ranti menggandeng tangan Ayana.
Mars menghentak-hentakkan kakinya kesal. Kalau Ayana datang kerumah dirinya pasti seperti makhluk tak kasat mata yang kehadirannya seperti tak disadari.
Pria itu menyusul masuk dengan muka ditekuk kesal. Dia merajuk seperti anak kecil. Apalagi Ayana sama sekali tidak melirik nya. Sungguh keterlaluan gadis itu, pada kekasihnya sendiri saja seperti kacang lupa kulitnya.
"Ayana." Syentia menyambut kedatangan calon menantunya ini.
"Mom." Ayana cepika-cepiki dengan Syentia "Apa kabarmu?"
"Mom sehat Sayang. Kau sendiri apa kabar, sudah lama tidak datang kesini?" Sambil mengusap rambut panjang Ayana. Syentia tak sabar Mars dan Ayana menikah, tapi kapan? Hubungan mereka seperti jalan ditempat saja.
"Ayana sehat Mom." Balas nya dengan senyuman manis.
"Syukurlah. Ayo makan, Mom sudah masak makanan enak untukmu." Syentia merangkul lengan Ayana.
Mars masih mencebik kesal. Tidak adik. Tidak Ibu. Sama saja. Suka merebut Ayana dari dirinya. Ini lah yang membuat Mars malas membaca Ayana ke Mansion nya pasti dirinya tidak dilirik sama sekali.
"Wajahmu kenapa Kak?" Ranti pura-pura bertanya "Terima kasih Suami." Dia tersenyum saat Ivan membantunya duduk dikursi meja makan.
"Kau kenapa Son? Wajahmu seperti kesal?" Syentia menutup mulutnya menahan tawa. Dia tahu jika putranya itu kesal.
"Tidak." Ketus Mars "Sayang ambilkan aku makanan?" Dia menyedorkan piring nya pada Ayana.
Mereka yang di meja makan sedikit terkejut dengan panggilan Mars pada Ayana. Sedangkan Ayana wajahnya sudah memerah, bukan karena dia salah tingkah tapi karena malu akibat ulah Mars. Padahal tadi dia dan Mars sudah berbincang didalam mobil agar tidak mempublikasikan hubungan mereka dulu. Tapi sepertinya Mars ini sudah tak sabar ingin semua orang tahu bahwa mereka memiliki hubungan yang spesial. Agar hama-hama pelakor dan pembinor tidak berkeliaran dihubungannya dan Ayana. Mars tidak mau kejadian di masa lalu terulang lagi, akibat dia lenggah tunangan nya malah direbut oleh orang lain.
"Iya." Ketus Ayana "Kau mau yang mana?"
"Aku mau semuanya Sayang. Termasuk dirimu." Mars tersenyum tanpa dosa. Sedangkan yang lain geleng-geleng kepala saja.
Mereka makan sesekali di selingi dengan obrolan singkat. Suara yang paling terdengar dimeja makan adalah suara ketika wanita itu, apalagi kalau sudah membahas skincare, Ranti bisa bicara tanpa henti.
.
.
.
__ADS_1
.
Ayana sepanjang jalan mendengus kesal. Mars ingin mengantarnya pulang. Sudah pasti pria itu ada mau nya lagi nanti. Dan Mars dengan terang-terangan mengakui hubungan mereka didepan kedua orangtuanya Mars, alhasil keduanya didesak untuk segera menikah.
"Berhenti mengerutu Sayang." Mars geleng-geleng kepala.
"Ck, bagaimana aku tidak protes Tuan? Kau mengatakan tentang hubungan kita pada kedua orangtuamu dan sekarang mereka malah mendesak kita menikah." Omel Ayana kesal
Mars terkekeh "Memangnya kenapa? Lagian kita saling mencintai! Bukankah harusnya kalau saling cinta ya diputuskan untuk menikah saja?" Ujar Mars
Ayana menggeleng "Kita baru memulai Tuan. Ada banyak hal yang harus kita kenali dulu. Menikah itu perkara sekali seumur hidup. Kau harus menemukan seseorang yang benar-benar memahami duniamu baru kau paham arti cinta sejati. Kita akan bersama seumur hidup. Jadi semua itu perlu persiapan tidak semudah membalikan telapak tangan."
Mars tersenyum gemes "Tapi Tuan Nathan dan Dira menikah tanpa cinta. Bahkan mereka tidak saling kenal dan sekarang mereka bahagia." Ucap Mars, seperti nya dia suka sekali mengerjai gadisnya ini.
"Konteks nya beda Tuan. Lihat dulu jalan cerita nya seperti apa? Mereka sama-sama polos dan belum pernah jatuh cinta. Sedangkan kita, kita memiliki orang-orang dimasa lalu. Jangan sampai kita menjadi pelampiasan hanya demi melupakan orang-orang itu." Jelas Ayana.
Mars terdiam. Memang benar apa yang dikatakan Ayana. Meski keduanya saat ini sudah saling jatuh cinta tetap saja untuk ke jenjang pernikahan harus banyak yang dipersiapkan. Baik fisik. Mental. Mau pun finansial.
Tangan kanan Mars menggenggam tangan Ayana, sedangkan tangannya yang satu memegang setir mobil.
"Aku bangga memiliki mu. Walau menyebalkan kau ternyata dewasa juga." Celetuk Mars.
Ayana mencubit lagi pinggang kekasihnya itu
"Awww Sayang, sakit." Rintihnya.
"Hei mengatakan aku menyebalkan? Kau juga menyebalkan. Sangat malah. Tuan Planet." Ayana memincingkan matanya kesal.
Mars lagi-lagi ngakak. Seharian ini dia suka melihat gadis itu mengomel. Menjadi hiburan sendiri. Meski pun jurus baru Ayana adalah mencubit pinggang nya. Tapi ya sudahlah namanya juga kekasih bar-bar.
Sampai di Apartement Ayana, Mars memarkir mobilnya di basement
"Lho kenapa diparkir? Kan Tuan mau pulang?" Tanya Ayana heran.
"Aku menginap disini saja." Mars tersenyum devil.
"Jangan." Tolak Ayana.
"Jangan menolak Sayang. Kita latihan menjadi suami istri, biar nanti kalau sudah menikah tidak canggung lagi." Bisik Mars dengan suara ******* dan menggoda gadis itu.
"Jangan macam-macam." Ayana sontak mendorong Mars "Saya bisa laporkan anda ke polres atas pemaksaan terhadap anak orang lain." Ancam nya.
__ADS_1
Mars geleng-geleng kepala. Ada-ada saja wanita ini. Meski Ayana terus mengomel tapi Mars tak peduli dia masih menginap disana. Sesungguhnya dia sedikit khawatir membiarkan Ayana tinggal sendirian. Ayana menolak untuk memperkerjakan asisten rumah tangga. Dia sudah merasa nyaman dengan tinggal sendirian.
Bersambung.....