Cinta Manis Sang Presdir

Cinta Manis Sang Presdir
Bab 7. Mars dan Ayana


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹 🌹🌹


Ayana masuk kedalam ruangan Mars. Pria itu tampak serius berbincang-bincang ditelinganya.


Ayana membolak-balik berkas ditangannya sambil menunggu Mars berbicara ditelpon.


"Baiklah setelah jam kantor aku akan menemuiku." Pria itu tersenyum simpul "Hem, benarkah? Kau rindu mengulang moment kita yang dulu?"


Ayan mengangkat pandangan nya dia penasaran pria itu berbicara dengan siapa. Ingin bertanya tapi tak enak hati dan juga bukan urusannya


"Aku titip telponnya. Sampai ketemu dinner nanti."


'Dinner? Dia mau dinner dengan siapa?' Batin Ayana penasaran.


Mars memutuskan sambungan nya lalu meletakkan ponsel itu diatas mejanya.


"Ada apa?" Dia melirik Ayan yang tampak terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Gadis aneh." Panggil Mars sekali lagi.


Ayana tersadar "Ehhh iya Tuan." Ayana cenggesan "Tuan, ini data proyek pembangunan hotel dan pariwisata di Palembang." Ayana memberikan berkas itu pada Mars "Total semuanya 10 M." Sambungnya kemudian.


"Oke baik nanti aku periksa." Mars mengambil berkas itu dan meletakkan nya diatas meja.


"Nanti kau makan sendiri saja. Aku akan makan diluar siang nanti." Ucap Mars.


Ayan tersenyum senang. Artinya dia bebas hari ini.


"Hem, baik Tuan terima kasih. Kalau begitu saya permisi."


Sejujurnya Ayana merasa ada yang kurang saat Mars tidak menganggunya seperti biasa. Biasanya pria itu akan mempersulit nya keluar dari ruangan. Tapi kenapa hari ini Mars terkesan tak peduli? Pria itu juga cuek tak seperti biasanya.


"Kenapa aku merasa ada yang kurang saat dia tidak menyebalkan seperti biasanya?" Gadis itu menghela nafas panjang.


"Sadar Ayana. Jangan berharap banyak. Tidak ada Pangeran yang jatuh cinta pada putri buruk rupa. Dari awal kau sudah memasang tembok antara dirimu dan dirinya untuk tidak berharap lebih." Ayana menepis segala perasaan anehnya.


Dia tidak tahu kenapa, mungkin karena terlalu sering bersama dan banyaknya hal yang dia lewati bersama Mars membuat nya merasa ada yang kurang saat Mars tak peduli padanya seperti tadi.


Sebenarnya tanpa sadar bahwa gadis ini jatuh cinta pada Boss nya sendiri. Hanya saja dia terlalu takut untuk membuka hatinya lebih dalam. Dia tidak mau terluka seperti Anara yang mencintai lelaki yang tak bisa menerima masa lalunya meski pada akhirnya Anara tetap bahagia bersama suaminya. Tapi tetap saja banyak hal yang dilewati untuk bisa menggapai cinta suaminya.


Ayana memfokuskan pikiran nya untuk bekerja meski dia penasaran Mars akan makan siang bersama.


Ayana melirik bekal diatas mejanya. Kenapa dia sedih melihat dua rantang nasi yang berjejer rapih diatas meja. Rantang nasi itu sengaja di beli Mars untuk mereka berdua agar bisa makan siang bersama setiap hari.


"Stop Ayana. Stop. Sadar diri lebih baik daripada berimajinasi tinggi." Ucap Ayana tegas pada dirinya sendiri.


"Hem." Mars melipat kedua tangannya didada sambil menatap Ayana yang berbicara sendiri.

__ADS_1


"Ehhh Tuan." Ayana memasang senyum ramah.


"Aku duluan. Jangan lupa makan siang."


Setelah berbicara pria itu melenggang pergi tanpa menunggu balasan Ayana. Meski terlihat cuek tapi dia cukup peduli.


"Hufffffh." Gadis itu bernafas panjang "Sudahlah Ayana. Kenapa memikirkan pria itu? Kau ini sadar Ayana. Sadar." Dia mengetuk-ngetuk keningnya beberapa kali.


Drt drt drt drt


Ayana mengambil ponselnya. Senyumnya mengembang saat melihat nama yang tertera dilayar ponsel nya.


"Hallo Mas Galvin. Iya Mas. Mau makan siang? Ohh boleh Mas? Siap Mas aku segera kesana."


Ayana seolah lupa dengan kesedihan nya melihat perubahan Mars tadi. Setidaknya hatinya terhibur saat bertemu pria setampan Galvin.


"Aku bawa ini untuk Mas Galvin saja." Dia mengambil dua rantang nasi itu.


Ayana menyambar tasnya dan berjalan menuju lift. Dia membawa dua rantang itu, dia ingin Galvin merasakan masakkan lezatnya.


"Neng Ayana."


Ayana memutar bola matanya dia mencebik kesal. Saat melihat Ferry berjalan sambil tersenyum-senyum kearah nya.


"Ada apa?"


"Jangan pegang-pegang." Hardiknya kesal sambil mengusap dagu nya.


"Tumben tidak bersama Boss? Lagi berantem ya?" Goda Ferry.


"Lagi break."


Ayana masuk kedalam lift dan tak mau peduli dengan godaan Ferry yang selalu membuatnya kesal.


Ferry menyusul masuk. Dia memang suka menggoda dan mengerjai Ayana.


"Neng katanya tadi mau makan siang dengan Aa?" Ucap Ferry sambil tersenyum menggoda dan menaik turunkan alisnya.


"Tidak jadi. Aku ingin makan dengan calon suami ku." Pintu lift terbuka, gadis itu keluar dari lift.


Ferry menyusul "Siapa Neng? Tuan Mars bukan?" Tanya Ferry sambil mengejar gadis itu "Siapa Neng?" Dia mensejajarkan langkah kakinya dengan Ayana "Tuan Mars?"


"Mas Dokter Tampan." Jawab Ayana asal


Ayana masuk kedalam mobilnya. Sedangkan Ferry melambaikan tangannya.


"Semoga Neng Ayana dan Tuan Mars jadian. Bisa dapat bonus aku dari Ranti." Ferry cekikikan sendiri. Dia minta Ranti untuk mengawasi dua orang itu.

__ADS_1


"Lagi kejar Nona Ayana?" Viana berdiri disamping pria itu sambil menatap Ferry tajam dengan tangan yang terlipat didada.


"Ehhh Ayang." Ferry cenggesan "Jangan salah paham Ayang, kau tau kan misi ku untuk menyatukan Tuan Mars dan Neng Ayana?" Ujar Ferry.


"Ehem." Viana berdehem.


"Jangan cemberut begitu! Ayo kita makan siang Ayana." Ferry langsung menggandeng tangan wanita itu dan mencubit pipi Viana dangan gemes.


"Sakit Ayang." Gadis itu mencebik kesal sambil mengusap pipinya.


.


.


.


.


Mobil Ayana terparkir didepan restourant milik Nathan. Dia keluar sambil menenteng dua rantang nasi ditangannya.


Mobil itu pentaris kantor yang wajib dibawa untuk sekretaris seperti Ayana.


"Semoga Mas Galvin suka masakkanku." Gumamnya "Kapan lagi coba bisa sebebas ini? Jadi aku tidak boleh sia-sia kan kesempatan emas ini." Gadis itu cekikikan sendiri.


Dia berjalan masuk kedalam sana. Memang setiap makan siang kalau tidak membawa bekal dia dan Mars akan makan siang disini.


"Selamat siang Nona Ayana." Sapa para waiters pada gadis cantik itu.


"Selamat siang semua." Balasnya.


Ayana tersenyum ketika melihat Galvin yang sudah duduk dengan nyaman disana.


"Mas Galvin." Serunya


"Ayana." Dokter itu langsung berdiri menyambut gadis pujaan hatinya.


"Hai Mas." Ayana menghampiri meja Galvin "Mas ini makan siang untuk Mas. Kita makan ini saja ya? Ini masakkan ku Mas." Gadis itu meletakan rantang nasi diatas meja.


"Wahhh, spesial for me?" Galvin tentu dengan senang hati menerima makanan dari Ayana.


"Of course Mas."


Padahal makanan itu untuk Mars. Tapi karena hari ini Boss nya sedang berbaik hati dan membiarkan dia makan sendiri ya sudah nikmati saja sesuka hati.


"Masakkan mu pasti enak." Puji Galvin membuka rantang nasi yang diberikan Ayana.


"Tentu." Ayana tersenyum sumringah.

__ADS_1


Bersambung.......


__ADS_2