Cinta Manis Sang Presdir

Cinta Manis Sang Presdir
Diantara Twins A


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹 🌹🌹


"Tuan kami nanti tinggal dimana?". Ayana celingak-celinguk melirik keluar setelah mereka sudah sampai di kota.


"Ikut saja Nona. Nanti anda akan tahu". Jawab Aris


Anara hanya diam dengan tatapan kosongnya. Kepergian nya ke kota adalah agar dia tidak terjebak dengan masa lalunya. Agar dia bisa melupakan segala rasa sakit yang menghantam dadanya. Ternyata melupakan sesuatu yang pernah ada itu tak segampang omongan.


"Kak, kira-kira Tuan Nathan nanti akan memberi kita pekerjaan apa ya Kak? Aku tidak sabar untuk bekerja. Kalau aku sudah punya uang, aku bisa beli apa saja. Siapa tahu nasibku sama seperti Dira dinikahi pria kaya seperti Tuan Nathan". Celoteh Ayana. Dia dari tadi terus saja berbicara.


Aris sampai pusing sendiri. Seandainya saja Ayana itu radio dia akan mengecilkan volume suaranya. Suaranya cempreng dan juga tak beraturan. Apa gadis itu tidak bosan terus berbicara.


"Ikuti saja Ayana". Jawab Anara dingin. Gadis itu memang tidak banyak bicara seperti adiknya.


Aris kembali melanjutkan perjalanan nya. Sedangkan Ayana dari tadi selalu menemukan kata-kata. Apalagi gadis itu baru pertama kalinya menginjak kota, dia tak henti-henti nya berdecak kagum ketika melihat gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi itu.


"Ayana, apa kau tidak lelah berbicara terus? Diam lah Kakak ingin istirahat". Gerutu gadis itu pada adiknya sambil melipat kedua tangan didada dan bersender nyaman.


"Aishhh kau itu Kak. Aku kan sedang menganggumi keindahan kota Jakarta". Ketus Ayana yang kesal saat Kakak nya protes.


"Terserah padamu".


Anara memejamkan matanya sambil menikmati perjalanan yang cukup jauh itu. Dia hanya sedang berusaha untuk tak kembali bersedih. Mengingat masa lalu Depe menguak luka yang ingin dia sembuhkan.


"Tuan". Ayana mencolek bahu Aris


"Ada apa?". Ketus Aris tak suka.


"Tuan, aku duduk didepan saja yaaa? Kakak ku tidur takut menganggu". Ujar Ayana melirik Kakak nya yang sudah memejamkan mata dengan tangan yang terlipat didada.


Aris mencebik kesal. Gadis ini ada-ada saja menganggu pekerjaan nya.


Meski kesal namun Aris tetap menuruti perintah gadis itu.


"Kenapa berhenti Tuan?". Kening Ayana berkerut.


"Katanya mau pindah?". Ketus Aris.


"Saya menyelip saja Tuan". Gadis itu mebuelip diantara dua kursi didepan. Badannya yang kecil dengan mudah menyelip diantara kursi itu.


Aris geleng-geleng kepala. Gadis ini jika dilihat memang pemberani hanya saja sayang berisik tidak tertulung. Pasti Aris akan dibuat pusing nanti.


Pria itu kembali melajukan perjalanan nya. Wajahnya selalu datar.


"Tuan".

__ADS_1


"Kenapa?". Aris melirik Ayana yang senyam-senyum tidak jelas.


"Kau punya pacar tidak?". Sambil memperbaiki rambutnya yang berantakan.


Aris mendelik mendengar pertanyaan gadis itu. Dia menatap Ayana datar.


"Kenapa?". Dia tak melirik gadis itu.


"Ehem, begini Tuan. Bo-boleh tidak, aku daftar jadi pacarmu".


Uhuk Uhuk Uhuk Uhuk Uhuk


Aris terbatuk-batuk mendengar ucapan Ayana. Untung dia tidak menginjak rem dadakan.


"Tuan kau baik-baik saja?". Ayana panik. Gadis itu segera mengambil botol yang berisi air di dashboard mobil "Minum Tuan". Sambil membuka tutup botol.


Aris menurut dan meminum air didalam botol itu hingga tandas. Kerongkongan nya terasa gatal dan kering saat mendengar ucapan Ayana.


"Maaf Tuan, apa ucapanku membuatmu gugup yaa?". Ujarnya merasa bersalah.


Aris mendelik kearah gadis itu. Aris akui jika Ayana memang cantik tapi lebih cantik Nandira. Gadis-gadis kampung ini memang memiliki pesona yang tak kalah dari gadis-gadis kota.


"Kenapa kau bicara begitu?". Ketus Aris.


"Ya siapa tahu anda butuh pendamping Tuan. Saya bersedia mencalonkan diri". Sambil tersenyum malu-malu.


"Awwww, Tuan. Kau kejam sekali". Sambil mengelus jidatnya dengan manja.


"Kau itu masih kecil. Tujuanmu datang ke Jakarta untuk bekerja bukan cari pacar". Omel Aris. Dia tidak tahu kenapa dia bisa mengomeli Ayana.


"Usiaku 23 tahun, Tuan. Bukan anak kecil lagi. Ya siapa tahu nasibku sama seperti Dira, niat hati datang ke Jakarta untuk mencari pekerjaan ehhh malah di dilamar oleh pria sultan". Celetuk nya masih mengusap keningnya bekas toyoran Aris.


Aris geleng-geleng kepala "Jangan samakan diri anda dengan orang lain Nona. Nasib setiap orang berbeda. Jalan cinta setiap orang berbeda. Itu sudah takdir Nona Nandira, anda tidak bisa menyamakan nya dengan anda". Jelas Aris.


Ayana mengerecutkan bibirnya kesal. Gadis itu mencebik kearah Aris yang mengomel. Dia menganggumi ketampanan Aris. Sudah tampan. Pintar. Kaya dan yang pasti Aris adalah tipe kepribadian yang tenang adem.


"Ya siapa tahu ada pria lajang yang mau menikah dengan ku. Aku takkan menolak". Sambil senyum-senyum tidak jelas membayangkan dirinya dilamar.


Aris tak lagi menanggapi celotehan gadis itu dia kembali fokus menyetir. Sedangkan Ayana masih saja berceloteh seperti tadi. Aris salut sendiri dengan gadis yang disampingnya ini, ada-ada saja dia menemukan kosa kata untuk menghidupkan suasana.


Tanpa Aris sadari pria itu tertawa ketika mendengar celotehan lucu Ayana. Apalagi Ayana yang menceritakan kehidupan dikampung nya membuat Aris teringat dengan Nona Muda-nya, Nandira.


Tidak sengaja Aris melihat wajah Anara yang tertidur nyaman dibelakang bangku penumpang. Dari pertama bertemu gadis ini memang tidak banyak bicara. Terkesan cuek dan dingin. Tatapan matanya juga sendu seperti menyimpan banyak beban.


"Nona".

__ADS_1


"Iya Tuan kenapa? Rindu?". Ledeknya sambil menunjuk Aris.


Lagi-lagi Aris mendelik. Gadis ini percaya diri terlalu tinggi.


"Apa Kakak mu itu memang tidak banyak bicara?". Aris penasaran sendiri. Mereka kembar, tapi kepribadian nya bagaikan langit dan bumi.


"Oh Kak Nara?". Aris mengangguk "Kakak memang begitu orang nya Tuan. Kalau tidak kenal dia pasti mengira dia sombong tapi sebenarnya dia orang baik dan hangat meski jarang bicara". Jelas Ayana "Dulu Kakak tidak seperti itu, tapi saat calon suaminya meninggal dunia Kakak jadi dingin". Tutur nya melirik ke belakang.


"Meninggal dunia? Karena apa?". Kenapa Aris jadi tertarik.


"Sakit kanker Tuan. Padahal mereka sudah mau tunangan. Kakak menerima pria itu apa adanya, ehhh malah takdir berkata lain. Itu juga sebabnya kenapa Kakak ingin bekerja di kota agar bisa melupakan almarhum calon suaminya. Apalagi kami sudah tidak memiliki orangtua". Jelas gadis itu sendu.


"Orangtua kalian kemana?". Tanya Aris masih penasaran.


"Meninggal Kak. Sejak kecil kami dirawat oleh Paman Namsin dan Bibi Hellena. Tapi saat sudah dewasa kami memutuskan hidup sendiri dirumah peninggalan Ayah dan Ibu". Jelasnya.


Aris kembali melirik Anara. Pantas saja gadis itu seperti tidak memiliki gairah. Tatapannya juga kosong.


Sampai di Apartement mewah Nathan. Aris dan Ayana langsung turun. Sedangkan Anara masih belum bangun.


"Kak, bangun....". Ayana mencolek lengan Anara agar bangun.


Namun gadis itu sama sekali tak terusik. Seperti nya dia kelelahan.


"Aduh bagaimana ini? Kakak kalau tidur memang susah bangun". Desah Ayana.


"Biar saya gendong saja Nona". Tawar Aris.


"Apa tidak merepotkan, Tuan?". Ayana tak enak hati


Aris tak menjawab pria itu langsung mengangkat tubuh Anara dan menggendongnya masuk kedalam Apartement Nathan.


Bersambung......


Ehem....


Cieeeeeee Aris........


Siapakah nanti yang akan menghuni kekosongan hati Aris???


Yuk simak kisah mereka.


Jangan lupa like, komen dan vote nya guys...


Yuk mampir ke karya sebelah author...

__ADS_1


Dinikahi Crazy Rich


Love Me Please (Penyesalan suami kejam)


__ADS_2