
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Nandira mengupas mangga muda itu dengan tak sabar.
"Sayang biarkan aku saja ya. Nanti tanganmu terluka." Nathan takut melihat Nandira memegang pisau itu. Padahal istrinya sudah sering memegang benda ini. Hanya saja dia khawatir dan takut istrinya terluka.
"Tidak mau Mas. Biar aku sendiri yang buka. Mas diamlah. Dari tadi Mas mengomel terus." Celetuk Nandira kesal.
Nathan hanya bisa menghela nafas panjang. Istrinya penurut. Tapi kenapa kali ini Nandira tidak mau dengar sama sekali apa yang dia ucapkan. Istrinya itu malah melawan.
"Sayang pelan-pelan." Tegur Nathan "Sambal nya suruh Bik Yam saja yang blender." Ujar Nathan.
"Tidak mau Mas. Sambalnya mau aku ulek, itu lebih enak dari pada di blender." Ujar Nandira.
Nathan mendelik. Dari mana enaknya sambal itu? Dia bahkan tak pernah memakan jenis makanan itu sejak dia berusia dewasa.
"Tapi sayang_."
"Diam Mas. Aku sedang konsentrasi. Nanti kalau Mas terus bicara rasa rujakku bisa-bisa tidak enak." Ketus Nandira
Nathan mengalah. Hari ini dia dibuat kelimpungan oleh sikap istrinya yang temperamental aneh ini. Entah apa yang terjadi pada Nandira, aneh sekali. Mulai dari ingin makan es cream dan Bobba hingga mau mangga muda dan harus dia sendiri yang membuatnya rujak.
Rujak mangga buatan Nandira akhirnya jadi. Air liur wanita itu seakan ingin menetes saat melihat mangga segar yang sudah dia kupas dan potong-potong kecil. Lalu dicampur dengan sambal terasi dan tumbukkan kacang tanah didalam ulekkan.
"Sayang kenapa sambil nya banyak sekali?" Ahh rasanya Nathan ingin membuang makanan aneh itu.
"Sedikit ini Mas. Tidak pedas kok."
Wanita itu mengambil potongan mangga lalu mencelupkannya pada sambal didalam ulekkan.
"Sayang."
Krukkkkkkkkkk
Suara gigitan mangga dimulut Nandira begitu renyah. Nathan sampai mendelik. Pria itu ingin menangis melihat istrinya makan benda aneh itu.
"Sayang. Jangan banyak-banyak."
"Ini enak sekali Mas. Segar." Serunya sambil mengunyah mangga itu. Bahkan dia sama sekali tak merasakan pedas dimulutnya.
"Tidak sayang." Tolak Nathan.
"Sudahlah sayang kau ini sudah banyak sekali makannya." Nathan mulai panik saat istrinya tak mau berhenti makan mangga itu.
"Banyak dari mana sih Mas? Ini masih tersisa belum habis."
"Tolong sayang jangan dihabiskan, ini benar-benar bisa membuatmu sakit perut." Ucap Nathan memohon sambil menangkupkan kedua tangannya didada.
"Iya Mas lagian aku sudah kenyang." Dia meletakkan begitu saja sisa mangga dipiringnya.
__ADS_1
Nathan bernagas lega. Untung Nandira sudah kenyang. Kalau tidak. Roh nya bisa terlepas dari tubuhnya akibat melihat istrinya makan mangga.
"Minum sayang." Nathan memberikan segelas air putih "Pedas tidak?" Nathan bergidik ngeri saat melihat sisa sambal didalam ulekkan istrinya.
"Sedikit pedas Mas." Wanita itu menyenderkan punggungnya dikursi meja makan.
"Ya sudah ayo mandi dulu. Seharian kita jalan pasti kau gerah. Mandi bersama saja ayo." Nathan tersenyum devil. Dia sudah membayangkan mandi berdua sambil berolah raga ranjang.
"Tidak mau." Tolak Nandira.
Seketika senyum Nathan berubah masam. Padahal pikiran nya sudah traveling kemana-mana.
"Aku mau tidur." Nandira menguap beberapa kali.
"Tapi sayang_."
Nandira berdiri dari duduknya lalu berjalan meninggalkan meja makan.
Sedangkan Nathan tercengang, ini pertama kalinya Nandira menolak mandi bersamanya. Biasanya istrinya itu akan sangat antusias mandi bersama dengannya. Kenapa sekarang malah terkesan tak peduli?
"Sayang." Nathan merenggek sambil menyusul wanita itu.
Nandira masuk kedalam kamarnya. Dia langsung merebahkan tubuhnya. Akhir-akhir ini dia mudah lelah jadi ingin rebahan saja.
"Sayang, ayolah mandi dulu." Renggek Nathan manja.
Nathan merenggut kesal. Kenapa istrinya ini? Dan kenapa rasanya sakit sekali saat ditolak.
Pria itu masuk kedalam kamar mandi membersihkan tubuhnya dan mengguyur dirinya dibawah tetesan air yang keluar dari shower.
Nathan keluar dari kamar mandi dengan handuk yang terlilit dipinggang nya. Pria itu tersenyum ketika melihat wajah sang istri yang terlelap dengan nyaman diatas kasur king size mereka. Kembali Nathan mengenang pertemuan pertama mereka hingga membuat keduanya terikat dalam pernikahan kontrak.
Nathan berjalan menghampiri Nandira yang terlelap dengan nyaman bahkan dengkuran halus terdengar dari mulut wanita cantik itu.
Nathan berjongkok menatap wajah istrinya. Dia menyingkirkan anak rambut yang anak rambut yang menutupi wajah istrinya.
"Apa yang terjadi dengan mu hari? Jujur aku merasa panik sekali melihatmu yang berubah. Aku mohon sayang jangan begini. Aku bisa mati cepat jika terus kau abaikan." Lirihnya menatap wajah sang istri.
"Jangan pernah berubah apapun yang terjadi. Kau itu jantung hatiku. Jangankan membiarkan mu pergi, melihatmu cuek padaku saja aku bisa terluka. Aku mencintaimu istriku." Dia mendaratkan kecupan singkat dikening wanita yang tengah terlelap dengan nyaman itu.
Nathan menuju walk in closet mencari piyama tidurnya. Setelah ini dia akan keruangan kerja. Mengerjakan beberapa pekerjaan yang belum selesai.
Nathan keluar dari kamar dan mengunci pintu pelan takut Nandira akan terbangun dengan suara pintu itu.
"Selamat malam Tuan." Sapa Aris membungkuk hormat.
"Ris keruanganku." Nathan berjalan melewati Aris.
"Baik Tuan." Aris mengekor Nathan.
__ADS_1
Nathan masuk kedalam ruang kerja nya dan langsung mendudukan tubuhnya disana. Hari ini dia kelelahan menghadapi sifat Nandira yang berubah hari ini.
"Ris, aku ingin bertanya padamu." Terdengar helaan nafas berat dari mulut pria itu.
"Bertanya apa Tuan? Saya kan jawab sebisa saya!" Sahut Aris tak lupa dia membungkuk hormat.
"Hari ini istriku aneh sekali Ris." Ucap Nathan frustasi.
Kening Aris berkerut bingung "Aneh bagaimana Tuan?" Tanya Aris penasaran.
"Dia_."
Tok tok tok tok
"Buka Ris."
Aris mengangguk dan membuka pintu ruang kerja Nathan. Tampak Bik Yum dengan nafas tersengal-sengal.
"Ada apa Bik?" Tanya Aris "Kenapa kau seperti dikejar anjing?" Sambungnya.
"Tuan itu_." Nafas Bik Yum masih belum beraturan tangannya menunjuk kearah kamar Nathan dan Nandira.
"Ada apa Bik?" Nathan ikut menghampiri Bik Yum.
"Nona Tuan_."
"Ada apa dengan istriku?" Wajah Nathan berubah panik "Cepat katakan Bik." Dia menguncang bahu wanita paruh baya itu.
"No-na berteriak didalam kamarnya sambil menangis Tu-tuan." Saking paniknya suara Bik Yum sampai tidak tembus.
"Apa?" Pekik Nathan
Pria itu langsung berlari kearah kamarnya. Apa yang terjadi? Kenapa istrinya berteriak? Apa baik-baik saja? Atau terjadi sesuatu! Pikirannya sudah berkelana kemana-mana.
"Sayang."
Tampak Nandira berseloyoran di lantai menangis seperti anak kecil.
"Sayang kenapa? Kenapa menangis?" Wajah Nathan sudah pucat fasih karena panik.
Bersambung......
Hai makasih masih ikutin kisah Nathan dan Nandira......
Penasaran Nandira kenapa????
Yuk ikutin terus kisah mereka.....
LoveUall......
__ADS_1