Cinta Manis Sang Presdir

Cinta Manis Sang Presdir
Bab 16. Mars & Ayana


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Pantulan cahaya matahari tampak memanas. Memancarkan cahaya nya seolah dia sedang marah. Panasnya membakar kulit. Hingga menciptakan kemerahan bila tak memakai jacket tebal.


Dipemakaman terdengar tangisan dan rintihan yang saling menggema. Teriakkan Aris jelas terdengar sambil memanggil nama istrinya.


Sedangkan Nandira tak kalah sedih. Anara adalah Kakak sepupu yang begitu dia sayangi. Sudah dianggap seperti Kakak kandung nya juga.


Ayana menggendong bayi perempuan nan cantik dan terus menangis seolah turut mengeluarkan air mata saat sang Ibu dimasukkan kedalam tanah bersamaan dengan tangis sang Ayah yang juga menggema disana.


"ANARA."


"ANARA."


Terikan Aris terdengar menyayat hati. Rintihannya seolah menandakan bahwa ini adalah tangisan terhebat dalam hidupnya.


Sambil memeluk batu nisan sang istri. Aris tersungkur ditanah. Pakaian nya kotor karena tanah basah itu


"Anara, kumohon jangan pergi Anara. Jangan tinggalkan aku, Anara, hiks hiks hiks hiks."


Kau tahu bagian paling mana yang paling menyakitkan dari perpisahan? Berpisah karena kematian! Tak peduli seberapa hebat kau menangis. Tak peduli seberapa hebat kau menolak takdir. Tak peduli seberapa sakit hati yang kau rasakan. Dia takkan kembali lagi kedunia yang telah dia tinggalkan ini.


Dia telah pergi. Hilang dari bumi. Takkan kembali lagi. Takkan datang lagi walau hanya dan mimpi. Dia takkan menampakkan diri hanya untuk sekedar bertanya kabar.


"ANARA."


Aris sudah seperti orang gila. Tak peduli jika banyak orang yang melihat nya. Dia hanya ingin menangis. Ingin mengeluarkan semua rasa sakit yang menghantam dada dan jiwanya.


Nathan turut prihatin melihat Aris. Dia tidak bisa bayangkan jika itu terjadi pada diri nya. Mungkin Nathan akan ikut pergi menyusul dari pada harus hidup tanpa Nandira. Takkan sanggup. Takkan pernah bisa. Jika bisa meminta, Nathan ingin dia yang pergi duluan meninggalkan dunia ini mendahului istrinya.


"Kak Nara."


Nathan merengkuh tubuh istrinya. Berusaha menyalurkan kekuatan pada istrinya itu. Nathan tahu betapa dekatnya Nandira dan Anara, apalagi sejak menikah dengan Aris. Kedekatan Nandira dan Anara semakin akrab dan dekat. Tak jarang keduanya menghabiskan waktu disela-sela kesibukan Nandira sebagai Ibu dan mahasiswa kedokteran.

__ADS_1


"Kakak."


"Kau pasti bisa Sayang." Mars menyenderkan kepala Ayana dibahunya "Semua akan kembali pada tempat dimana dia berasal. Termasuk kita. Kita hanya menunggu waktu dan tempat yang berbeda."


"Kakak." Sambil menggendong Anaya gadis itu menangis terisak.


Galvin menatap sendu Ayana yang menangis dipelukkan Mars. Sampai saat ini dia masih mencintai gadis itu. Tapi nyatanya hati Ayana bukan miliknya. Dia harus sadar diri untuk tidak menganggu Ayana lagi.


'Ayana aku ingin memelukmu dalam keadaan rapuh seperti ini. Tapi aku sadar cintaku tak mampu menggapaimu. Semoga kau bahagia bersama Kak Mars. Aku ikhlas melepasmu demi kebahagiaan mu sendiri.' Batin Galvin


"ANARA."


Semua hanya melihat Aris yang masih terus menangis. Kesedihan yang Aris rasakan menular kepada yang lainnya. Termasuk Nathan dan Ivan, Mars dan Galvin serta yang lainnya.


Namsin dan Hellena juga terpukul atas kepergian Anara. Bagaimana pun Anara pernah tinggal dengan mereka dari kecil hingga dewasa. Anara adalah wanita yang baik dan penurut. Tidak banyak bicara. Tidak banyak menuntut. Selalu lemah lembut terhadap orang lain.


.


.


.


.


Ayana dan Mars yang tengah duduk disoffa. Dengan Mars yang memangku Anaya dan Ayana yang memegang botol dot, agar bayi munggil itu bisa makan dan minum susu.


"Ada apa Mas?" Ayana menatap Aris.


Aris duduk di soffa bergabung dengan kedua orang itu.


Aris menatap Ayana. Dilihat dari sisi mana pun, Ayana benar-benar mirip dengan almarhum istrinya. Dan Aris tak bisa memungkiri hal tersebut.


Sementara Mars perasaan nya mulai ketar-ketir. Dia mengingat pesan Anara terakhir kali agar Ayana menikah dengan Aris. Mars takkan sanggup kehilangan Ayana apalagi mengikhlaskan wanita-nya itu menjadi milik orang lain. Tapi apakah Mars harus menolak permintaan Anara itu?

__ADS_1


Aris tampak menghela nafas panjang "Apa kau masih ingat pesan terakhir Nara?"


Ayana tampak terdiam. Tentu saja dia ingat pesan terakhir Kakak nya itu. Tapi harusnya dia menikahi Kakak iparnya sendiri? Bagaimana dengan kekasihnya Mars? Ayana juga sudah tak memiliki perasaan apapun pada Aris. Perasaan nya sudah lama hilang sejak Mars masuk kedalam hidupnya.


Dan Mars, adalah pria yang dia cintai. Rasanya Ayana tak mau menikah dengan lelaki lain selain Mars. Mars adalah pria yang sudah membuatnya berani untuk jatuh cinta.


"Mas, aku_."


"Aku tahu ini berat Ayana. Kau juga mencintai Tuan Mars. Tapi apakah kita harus mengabaikan permintaan terakhir Nara? Dia sangat ingin kau mencari Bunda dari Anaya." Jelas Aris.


Aris menatap putri kecilnya dengan kasihan. Kasihan sekali bayi perempuan itu. Belum sempat mengenal sang Ibu. Belum sempat dirawat oleh sang Ibu, tapi dia justru harus kehilangan Ibu nya diusia kelahiran nya.


"Mas, haruskah kita menikah? Aku tidak mencintaimu. Aku mencintai Mas Mars, aku mencintainya Mas. Aku tidak bisa." Ucap Ayana. Dia memang tak bisa takkan pernah bisa menikah dengan Kakak iparnya itu.


Mars menatap Ayana. Jantungnya berdegup kencang ketika Ayana mengatakan mencintainya. Ini pertama kalinya Ayana mengatakan cinta padanya. Tapi keadaan justru seolah tak berpihak padanya. Kekasihnya diminta menikah dengan calon Kakak iparnya.


"Aku tahu Ayana. Aku juga berat menerima ini. Tapi demi putri kecilku, menikahlah dengan ku. Kau tidak harus menjadi istriku. Kau hanya cukup mengambil peran seorang Ibu untuk Anaya."


Deg


Tangan Mars terkepal kuat. Bagaimana bisa kekasihnya dilamar didepan matanya sendiri. Apakah Aris tak memiliki perasaan nya?


"Tuan Mars, aku mengerti perasaan mu. Tapi mengerti lah dengan posisi ku. Aku akan menikahi Ayana hanya demi Anaya dan permintaan Antara. Aku tidak akan mengambil nya darimu. Aku juga tidak mencintainya. Aku hanya ingin mengabulkan permintaan terakhir istriku. Itu saja."


"Kau tak perlu takut kalau aku akan mengambil hatinya. Dia tetap milikmu. Meski dia istriku."


Ayana menggeleng. Dia tidak bisa. Pernikahan bukanlah permainan hanya demi permintaan. Dia tahu ini permintaan terakhir Kakaknya tapi dia begitu berat untuk mengabulkan permintaan terakhir Anara.


"Apa maksud mu?" Wajah Mars sudah memerah menahan amarah.


"Aku akan menikah dengan Ayana. Tapi aku tidak melarang hubungan kalian. Ini hanya status saja. Aku bahkan takkan melirik dan menyentuh nya." Sahut Aris


Mars berdecih "Kau yakin? Kekasihku mirip istri mu. Apa kau yakin takkan melirik nya Tuan Aris? Ini permintaan konyol, aku tidak bisa mengabulkan nya. Ayana adalah milik ku." Tegas Mars

__ADS_1


"Tuan Mars mengertilah posisiku. Aku juga tidak mau. Tapi ini demi permintaan Antara. Kumohon untuk kali saja. Demi Antara dan demi putriku." Aris sampai menangkup tangan didada benar-benar memohon agar Mars mengabulkan permintaan nya.


Bersambung...........


__ADS_2