Cinta Manis Sang Presdir

Cinta Manis Sang Presdir
Persiapan


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


“Ranti kau ingin membawaku kemana sih?” Protes Ayana mencebik kesal saat Ranti menarik tangannya keluar dari gedung perusahaan


“Kau harus menemaniku untuk menyiapkan pernikahanku dengan Kak Ivan.” Seru Ranti masuk kedalam mobil.


“Ck, yang mau menikah itu kau dan Kak Ivan kenapa harus aku yang repot.” Gerutu Ayana “Pekerjaanku belum selesai Ranti. Kau tahu kan Tuan Planet menyebalkan itu pasti akan mengomeliku lagi nanti.” Ucap Ayana masih kesal.


“Kau menamai Kakakku Tuan Planet?” Ranti memincingkan matanya tidak terima


“Ck, dia memang planet. Planet Mars, kau lupa dia masuk dalam tata surya.” Celetuk Ayana “Lagian aku heran yang menikah kau dan Kak Ivan kenapa aku yang repot?” Ujar Ayana tak habis pikir.


“Jangan mengomel terus Na. ini sekalian kau belajar. Nanti kalau kau dan Kak Mars mau menikah kan sudah ada pengalaman.” Goda Ranti tersenyum jahil. Dia heran kenapa Mars dan Ayana tidak jadi-jadian padahal terlihat keduanya saling memiliki perasaan satu sama lain.


“Cihhh, jangan mimpi aku mau menikah dengan kulkas itu. Dia pria paling menyebalkan yang pernah aku temui diperadaban dunia terakhir.” Ucap Ayana menggebu-gebu. Pokoknya kemana pun dia bertemu dengan Mars selalu dibumbui dengan perdebatan.


“Hem, jangan menyebalkan-menyebalkan nanti bisa jatuh cinta lho. Dari perdebatan jadi ungkapan dari benci bisa jadi cinta.” Lalu gadis itu ngakak sambil menyetir mobil seperti orang gila.


Ayana komat-kamit mendengar omongan Ranti yang tak berfaedah itu. Sama sekali dia tidak tertarik dengan Mars. Mars itu adalah Boss pemaksa dan paling menyebalkan yang pernah ada. Hobbynya marah-marah dan mengomel setiap hari. Mau pekerjaan benar dan salah tetap saja dia marah. Entah dulu mengidam apa Ibu nya waktu mengandung laki-laki itu.


“Kau ingin apa disini Ranti?” Ayana ikut turun dari mobil.


“Memilih dekor.” Sahut Ranti “Ayo.”


Ayana benar-benar kesal dengan Ranti, seharian dia hanya menemani gadis itu berkeliling kota Jakarta untuk mengurus persiapan pernikahan Ivan dan Ranti yang akan digelar minggu depan. Mulai dari gaun penggantin dan ketring. Sedangkan gedung, Ranti memilih Mansion kediaman nya untuk mengadakan resepsi dan pemberkatan.

__ADS_1


“Nahhh setelah ini kita gereja, aku mau daftar pranikah dulu baru bisa katekisasi.” Jelas Ranti.


“Bukannya katekisasi itu berbulan-bulan? Bahkan sebelum hari H sudah harus persiapan?” Tanya Ayana heran.


“Hem, harusnya, tapi karena aku dan Kak Ivan sama-sama sibuk jadi ya aku buat singkat saja.” Horang kaya bebas, semua semudah menjentikkan jari.


Setelah semuanya selesai Ranti mengajak Ayana makan siang disana sudah ada Mars dan Ivan yang menunggu.


Ayana terus menggerutu kesal. Gadis ini memang suka sekali mengomel. Memang cocok dengan Mars yang juga suka mengomel sejak mengenal Ayana.


“Hem, Na setelah aku pikir-pikir kau memang cocok dengan Kak Mars, kalian itu pasangan serasi yang hobby nya marah-marah dan mengomel.” Ranti ngakak.


“Huweek.” Ayana pura-pura muntah mendengar kata-kata Ranti “Jangan aneh-aneh Ranti. Ini bukan dunia novel gadis miskin dinikahi pria kaya lalu hidup mereka bahagia. Aku tidak tertarik dengan Kakak mu yang menyebalkan itu, resiko patah hati terlalu tinggi.” Ayana melipat kedua tangannya didada kesal.


Tawa Ranti terhenti dia menatap kearah Ayana “Hem, sebenarnya kau bisa mewujudkan dunia novel itu. Bukankah Kak Mars sungguh-sungguh menyukaimu jadi aku yakin jika kalian itu cocok dan serasi jika jadi pasangan.” Seru Ranti, tak lupa dia yang tersenyum menggoda kearah Ayana. Suka sekali memcombalingi Mars dan Ayana, apalagi Mars yang suka salah tingkah menjadi kesenangan tersendiri bagi Ranti.


“Ran, kau duluan saja. Aku ingin bertemu Kakak ku diruangannya.” Ucap Ayana.


“Iya. Jangan lama-lama, Kak Mars sudah rindu.” Sambil mengedipkan matanya pada Ayana.


Ayana tak menanggapi dia masuk kedalam ruangan Anara. Sejak Anara menikah dia jarang bertemu dengan Kakaknya itu. Apalagi Anara sudah pindah rumah bersama suaminya jadi Ayana semakin tak ada waktu untuk bertemu dengan Kakaknya itu selain itu juga kesibukkan menjadi penghalang utama.


“Kakak.”


Ayana yang tengah sibuk dengan berkas ditangannya sontak menoleh kearah pintu masuk dimana disana ada sang adik yang sudah menyetor senyum manis.

__ADS_1


“Na.”


Anara berdiri dari duduknya dan berhambur memeluk sang adik. Jujur ada banyak hal yang ingin dia ceritakan pada adiknya. Dari dulu dia selalu tak bisa menyembunyikan kesedihannya dari Ayana


“Kakak.” Ayana terkejut ketika sang Kakak memeluknya.


“Na, hiks hiks.” Dan lagi Anara tak bisa menahan tangisnya.


Ayana memeluk sang Kakak yang menangis didalam pelukannya. Sebagai saudara kembar tentu dia memahami perasaan sang Kakak. Pasti Kakak nya ini ada masalah. Anara gadis yang mandiri dia selalu bisa menghadapi masalahnya sendiri, tapi jika sudah begini pasti ada sesuatu yang terjadi sehingga membuat hati Kakaknya begitu rapuh.


“Menangislah Kak.” Ayana mengusap punggung Anara.


Anara menangis dengan hebat. Dia lelah dengan pernikahannya. Sang suami tak menganggapnya ada bahkan tak melihatnya sama sekali. Apalagi sekarang mereka tinggal berdua.


Jam makan siang biasanya Aris selalu datang dan menjemputnya untuk makan diluar ditempat favorite dengan menu yang sama. Tapi sekarang, jangankan makan siang, sarapan pagi saja mereka tidak pernah berdua. Aris selalu berangkat kerja pagi sebelum Anara bangun tidur.


Ayana melepaskan pelukannya “Kak.” Gadis itu menyeka air mata sang Kakak “Ada apa? Ayo katakan padaku ada apa?” Ucap Ayana lembut sambil mengusap pipi Kakaknya “Kakak terlihat kurusan apa Kakak mengidam?” Tanya Ayana penuh harap, dia akan senang jika Kakaknya mengidam berarti sebentar lagi dia akan memiliki keponakkan dari saudara kembarnya itu.


Anara menggeleng sambil menarik nafas dalam. Sebenarnya dia tidak ingin menceritakan keburukkan rumah tangganya pada sang adik. Tapi Anara tidak tahu harus bercerita pada siapa lagi.


“Kak.” Ayana mengenggam tangan Kakaknya “Ayo ceritakan padaku Kak. Aku memang tidak bisa membantu banyak. Tapi setidaknya kau sudah berbagi beban dengannku.” Ucapnya lembut.


Anara mengangguk. Lalu dia menceritakan masalah rumah tangganya. Menceritakan bagaimana penolakkan sang suami ketika Anara ingin meminta nafkah batin sebagai seorang wanita. Menceritakan bagaimana sikap Aris padanya selama menikah.


Wanita itu bercerita sambil menangis. Ini lebih sakit dari pada dikhianati. Mungkin kita bisa memiliki raganya tapi tidak dengan jiwanya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2